Tag Archives: Indonesia

Yang Aku Tahu

Yang aku tahu

Aku Ridlo Allah Tuhanku

Aku Bangga Indonesia Ibu Pertiwiku

Berbagai macam Bahasa ras dan suku

Berbagi bersama dalam bangsa yang satu

Sebagai bukti kedahsyatan citaanMu

Bentangan laut hamparan pulau

Bumi yang harum serta dedaunan hijau

Menjadi simbol keindahan sifat-Mu

 

Yang aku tahu

Aku Ridlo Islam Agamaku

Aku Kagum Indonesai Negaraku

Sopan santun tutur kata bangsaku

Lembut mengurai makna direlung kalbu

Aku diajarkan untuk selalu menjagamu

Lantunan merdu dalam celoteh alammu

Bak syair merdu titipan pewujudku

Aku terpanggil oleh-Nya untuk setia padamu

 

Yang aku ahu

Aku Ridlo Muhammad Nabiku

Aku takjub padamu Indonesia tanah airku

Lantunan takbir menjaga setiap jengkal tanahmu

Puja bangsamu seakan enggan melepasmu

Ibarat buah hati yang terselimuti pelukan ibu

Bila kau ada disini jaga warisan moyangmu

Indahnya tradisi dan kalam ilahi bersatu

Ibarat pelangi beda warna indahnya berpadu

 

Oleh : KH. Reza Ahmad Zahid

 

Kontributor, Majalah El Mahrusy

Ikrar Santri Lirboyo Untuk Indonesia

Dengan mengharap ridlo dan hidayah dari Allah SWT, kami, santri-santri Lirboyo, berikrar:

1. senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas anugerah kemerdekaan Indonesia;

2. senantiasa berterimakasih kepada para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia;

3. senantiasa berdoa agar semua pengorbanan para pahlawan untuk Indonesia diterima oleh Allah SWT;

4. senantiasa siap untuk meneruskan perjuangan para pahlawan dalam mengisi kemerdekaan Indonesia;

5. senantiasa membumikan cinta tanah air dalam hati dan jiwa kami;

6. senantiasa siap menjaga keutuhan, kedaulatan, kewibawaan, persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

7. senantiasa memohon kepada Allah SWT agar Indonesia dijadikan sebagai negara yang Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur.

Transformasi Masyarakat Transisional Menuju Masyarakat Madani

Al Insanu Madaniyyun bi at Thab’i.” Manusia adalah makhluk berperadaban secara instingtif, demikian Ibnu Khaldun dalam karya fenomenalnya. Jika manusia disebut sebagai makhluk berperadaban, kita tidak dapat memisahkankannya dari definisi lain manusia, yang dikatakan para pakar sebagai “Hewan yang bisa berpikir.”

Kemampuan untuk berpikir ini bersumber dari anugerah yang diberikan Allah Swt pada manusia, yaitu akal. Sebuah potensi yang tidak diberikan pada makhluk-Nya dari jenis hewan yang lain di persada bumi. Dengan potensi ini, manusia mengalami beberapa fase, mulai dari zaman batu dengan pola hidup nomaden, hingga era satelit seperti saat ini.

Ada ragam teori yang berupaya menggambarkan tahapan-tahapan kebudayaan manusia. Teori evolusi adalah teori yang populer pada abad IX. Teori ini menyatakan, perkembangan kebudayaan mengalami tahapan-tahapan yang ajeg, pasti. Tahapan itu adalah, keliaran, kebiadaban dan peradaban. Sementara teori lain yang disebut toeri degradasi menyatakan, semua kebudayan berasal dari satu kebudayaan tunggal, yaitu kebudayaan kuno yang tinggi. Teori ini beranggapan, tiga tahapan kebudayaan yang dinyatakan dalam teori evolusi, disebabkan proses degradasi atau degenerasi. Pada permulaan abad XX, teori evolusi menghadapi tantangan, berupa kesulitan dalam menjabarkan gagasan tahapan perkembangan yang tetap. Fakta itu akhirnya memunculkan teori baru yang disebut sebagai neo-evolusiesme yang digagas oleh Ralp Linton. Teori ini meyakini manusia melalui beberapa tahapan kebudayaan, akan tetapi tidak pasti menjalani semua fase yang telah ditetapkan.

Dalam perkembangnnya, umat manusia mengalami tiga perubahan teknologi yang sangat mendasar. Ketiga perubahan itu dapat mengantarkan manusia pada perkembangan baru dalam aspek-aspek kehidupan manusia. Tiga tahapan itu disebut Ralp Linton sebagai “mutasi teknologi.” Mutasi teknologi pertama ditandai oleh adanya penggunaan alat dan api dalam masyarakat. Pada fase ini, masyarakat disebut sebagai masyarakat primitif. Mutasi teknologi kedua ditandai dengan adanya domestikasi hewan dan tanaman, yang merupakan pengganti dari mengumpulkan makanan dan berburu dalam memproduksi makanan. Pada mutasi kedua ini, mulai berkembang pusat perkotaan pra-industri. Mutasi kedua telah dimulai sejak 5.000 tahun silam di Timur Tengah dan menyebar ke dunia lama. Mutasi teknologi ketiga ditandai dengan produksi energi dan penerapan metode ilmiah. Fase ini menjadi landasan bagi masayrakat industri modern. Meski demikian, Linton tidak memahami tahapan itu sebagai deterministik (satu sama lain yang saling mempengaruhi) dan metrealistik (sejarah berdiri dipengaruhi adanya andil benda-benda).

Dari uraian di atas, tampak jelas bahwa manusia mengalami tahapan-tahapan menuju masyarakat yang lebih berperadaban. Sungguh banyak spesies yang memiliki struktur dan pola hidup komunitas teratur, seperti semut, lebah dan spesies hewan lainnya, tapi populasi spesies itu tidak mengalami perkembangan karena keteraturannya tidak berdasarkan akal melainkan berdasar insting. Manusia memiliki gerak sejarah, kisah dan harmoni kehidupan yang begitu kompleks. Tak berlebihan jika permintaan raja Rusia kuno pada para pakar negerinya untuk menuliskan tentang “Apa, siapa dan bagaimana manusia?” baru bisa dirampungkan setelah berpuluh-puluh tahun dengan ratusan jilid buku.

Kebudayaan-Peradaban

Penyair Prancis, Rene Char, sebagaimana dikutip DR. Dadang Kahmad mengatakan “Kebudayaan adalah warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat.” (Notre heritage n’es precede d’aucun testament). Ungkapan itu menggambarkan kebudayaan sebagai sebuah nasib yang diwariskan. Kita menerima yang sudah ada, kita alami kemudian kita kembangkan. Singkat kata, kutipan itu menggambarkan, satu sisi kebudayaan sebagai satu produk masa lalu, yang bisa berkembang di tangan generasi penerusnya. Sementara, para ilmuan sosial melihat kebudayaan sebagai realitas, sesuatu yang diciptakan, dihasilkan, dan dibentuk atau sudah dilembagakan. Kuntjaraningrat, seorang pakar Antropologi memandang kebudayaan sebagai tiga wujud, yaitu sebagai sistem ide-ide, tingkah laku dan sebagai perwujudan benda-benda budaya. Secara spesifik dapat dikatakan budaya adalah kesatuan nilai, politik, sosial, ekonomi, seni, keyakinan, idiologi, dan segala fasilitas indrawi.

Jika kita menerima itu sebagai definisi kebudayaan dan kita mengetahui budaya akan terus berkembang, berubah, disebabkan daya cipta, rasa dan karsa yang dimiliki manusia, maka dapat kita katakan peradaban adalah satu keadaan yang lebih mapan, lebih maju dari satu kebudayaan.

Realitas Masyarakat Indonesia

Bangsa Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejumlah kepulauan dan segudang kekayaan, yang memiliki ragam budaya, tradisi yang sangat kaya, keyakinan yang plural, ras dan suku bangsa yang homogen, diikat dengan satu kesadaran sejarah yang sama, kemudian dikokohkan dengan satu komitmen dan ideologi yang sama, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan falsafah Pancasila.

Suku-suku bangsa yang terdapat di Nusantara, memiliki tradisi-tradisi sebagai kekayaan kultural; lagu daerah, tarian, pakaian, arsitektur, bahasa, letak geografis, kekayaan alam, dan kepercayaan sebagai jati diri bangsa. Kekayaan kultural itu adalah satu tumpuan untuk merajut kehidupan yang lebih maju. Kemerdekaan yang diproklamirkan 1945 silam, terlampau singkat untuk membawa anak bangsa menuju proses pendewasaan. Sementara tantangan modernitas telah menjalar dalam segala segi kehidupan, menghempas segala sekat dan batas, hingga dunia yang luas seumpama desa buana yang sempit (global village).

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Masyarakat Transisional

Indonesia adalah Negara berkembang (untuk tidak mengatakan Negara tertinggal), dengan masyarakat tradisional yang dicirikan dengan pola kehidupan agraris; bertani, bercocok tanam, beternak dan kegiatan agraria lainnya. Di satu sisi, modernitas yang dicirikan dengan penggunaan alat-alat teknologi dalam dunia produksi, penggunaan fasilitas elektronik dalam segala lini kehidupan, serta gaya dan pola hidup hedonisnya yang mulai membudaya. Pada kondisi ini, masyarakat mengalami fluiditas. Yaitu pelenturan suatu budaya ketika ia masuk pada wilayah kebudayaan lain. Pelenturan itu memetamorfosis dalam maknanya yang baru, sekaligus simbol yang lama memiliki ketidakjelasan dibandingkan dengan simbol asalnya. Sementara manusianya mengalami kondisi transisi (liminality) atau juga disebut masyarakat transisional.

Profesor Sjafri Sairin, dalam makalahnya yang disampaikan dalam Widyakarkya Nasional Antropologi dan Pembangunan, dan Kongres Asosiasi Antropologi Indonesia, mencontohkan dengan fenomena perhelatan resepsi pernikahan yang memuat nilai-nilai konvesional-tradisional dengan kebudayaan masyarakat modern. Nilai-nilai lama itu berupa pemasangan tarup, lengkap dengan janur kelapa muda dan pisang. Pada sore hari, diadakan kenduren yang dilanjutkan dengan pengajian. Kemudian, keesokan harinya ritual siraman dilaksanakan. Pada malam harinya, dilanjutkan dengan kegiatan midodareni. Pagi hari, diadakan upacara panggih. Malam harinya, resepsi diadakan digedung yang cukup megah dengan dihadiri oleh ratusan pasangan undangan. Dengan memakai pakaian adat jawa, kedua mempelai dan keluarganya menerima ucapan selamat dari para undangan. Setelah berjabat tangan, para undangan lalu menuju hidangan yang telah disediakan yang ditata di sekeliling arena resepsi dengan pola standing party. Di bagian-bagian tertentu, disediakan tempat celengan sebagai simbol harapan pihak penyelenggara agar ucapan selamat tidak diwujudkan karangan bunga atau yang lain, tapi dengan uang.

Dalam acara pernikahan di atas, terdapat pencampuran antara budaya modern dengan tradisi masyarakat agraris. Upacara adat, kenduren, pengajian dan hadirnya banyak tamu undangan, adalah ciri masyarakat agraris. Sementara uang yang diharapkan dari tamu undangan, prasmanan, standing party adalah sebagai simbol masyarakat indutsri (modern). Kegiatan tersebut bersifat ambiguistik, tidak tradisional tidak pula modern. Fenomena di atas menunjukan adanya peralihan budaya masyarakat dari satu bentuk ke pola yang lain, akan tetapi belum menemukan bentuknya yang pas. Kenyataan ini disebabkan masih mengakarnya budaya lama, sementara persentuhan budaya modern telah begitu kuat. Prof. Sjafri Sairin menggambarkan fenomena ini dengan ungkapannya, “Sebelah kaki masyarakat telah berpijak pada gagasan kehidupan baru, sebelah kakinya masih berpijak pada gagasan budaya lama yang mereka miliki.”

Modernitas akan membawa perubahan masyarakat Indonesia pada tiga kondisi. Yang pertama, masyarakat Indonesia berubah dari masyarakat agraris menjadi industri. Kedua, globalisasi informasi. Ketiga, semakin tingginya intelektualitas di kalangan muda. Demikian H. Zulfi Mubarak, M.Ag. menuturkan dalam bukunya, Sosiologi Agama: Tafsir Sosial Fenomena Multi-Religius Kontemporer. Tiga faktor itu akan menimbulkan implikasi sebagai berikut:

Pertama, masyarakat jauh dari agama. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa masyarakat agraris masih sangat menggantungkan kehidupannya pada alam. Faktor-faktor yang di luar kemampuan mereka untuk mengatasinya, seperti kemarau panjang, banjir besar secara psikologis membuat masyarakat agraris cenderung taat pada agama. Disebabkan kesadarannya yang kuat akan fenomena-fenomena alam di luar kemampuannya. Sebaliknya, dengan masyarakat industri yang tidak menggantungkan lagi hasil produksinya pada alam, melainkan pada perhitungan matematis dan manajerial yang cermat. Mereka cenderung merasa kurang perlu akan agama. Atas dasar ini, terbuka lebar masyarakat untuk berperilaku tidak sesuai ajaran agama.

Kedua, masyarakat berperilaku tidak sopan. Kecenderungan ini antara lain disebabkan derasnya globalisasi informasi, baik media cetak maupun media elektronik. Dimungkinkan budaya lain yang negatif sulit disensor, sementara secara merata dapat diakses oleh setiap individu masyarakat.

Ketiga, masyarakat tidak mudah menerima pendapat orang lain, guru agama sekalipun, kecuali jika suatu pendapat diberikan dengan argumentasi yang rasional yang dapat diterima oleh pikirannya. Hal semacam ini antara lain diakibatkan oleh semakin luasnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang hakikatnya lebih banyak untuk dikonsumsi rasio akan semakin digandrungi kaum muda yang mencari jati diri. Mereka mengukur segala sesuatu dengan rasionya.

Indikasi lain dari pola perilaku masyarakat transisional adalah pola meterialistik-konsumtif yang tinggi. Dengan mendapatkan simbol-simbol dalam benda-benda (pakaian produk Amerika, motor keluaran Jepang, makanan ala Eropa) masyarakat transisional (liminality) sudah merasa menjadi bagian masyarakat modern. Yang lebih memprihatinkan, seperti sudah disinggung H. Zulfi di atas adalah melemahnya kehidupan beragama, degradasi moral, dan kegalauan mental. Max Weber dalam teorinya yang terkenal, menamai kondisi masyarakat seperti ini dengan istilah “Anomi”, yakni kondisi masyarakat tanpa nilai. Nilai lama memudar nilai baru belum menemukan bentuknya yang ideal. Sebab hal-hal baru yang diimpor dari luar tidak berarti akan membawa kemajuan sebagaimana nilai itu berhasil diterapkan di daerah asalnya. Tergantung sejauh mana kesesuaian sejarah, nilai-nilai lama dan konteks kekinian dan kedisinian suatu bangsa.

Walhasil, modernitas telah membawa masyarakat pada satu peradaban baru. Sementara mereka masih memiliki keterikatan erat secara emosional dan mendarah daging dengan budaya lama, meski hanya sekedar simbol-simbol yang tidak dihayati atau diketahui apa maknanya.

Masyarakat Madani

Masyarakat transisional adalah masyarakat yang tidak memiliki karakter atau disebut juga masyarakat tanpa struktur. Demi kemajuan bangsa, masyarakat tanpa struktur ini harus segera mendapatkan bentuknya yang ideal di ranah modernitas. Sebagai acuan, apa yang dikatakan DR. Ali Syari’ati pantas menjadi pertimbangan. Ali Syari’ati mengatakan: “Masa lalu yang tidak melihat masa depan adalah stagnasi dan masa depan yang tidak berpijak masa lalu adalah kebodohan.” Singkat kata, pencarian bentuk baru itu harus mengakomodir nilai-nilai lama. Dalam ungkapan lain dikatakan, “Al Muhafdzah ala Qadimi Shalih, Wa al Ahkdzu bil Jadid al Ashlah”(menjaga nilai-nilai lama yang baik dan mengadopsi hal-hal baru yang bermanfaat). Konsep masyarakat madani dapat menjadi satu tawaran bagi pengentasan masyarakat transisional di Negara-negara maju pada umumnya, dan bangsa Indonesia khusunya.

Banyak pakar yang berbicara masalah ini. Hanya saja, definisi yang diberikan bersifat subyektif. Frans Magnes suseno, seorang Profesor filsafat, mengartikan masyarakat madani sebagai “Wilayah-wilayah kehidupan sosial terorganisasi yang bercirikan antara lain: kesukarelaan (voluntary), keswasembadaan (self generating), dan kewaspadaan (self supporting), kemandirian yang tinggi berhadapan dengan Negara dan keterkaitan dengan norma-norma dan nilai-nilai hukum yang diakui warganya. Sebagai sebuah ruang publik, ia harus menjamin berlangsungnya perilaku, tindakan dan refleksi mandiri, tidak terkungkung kondisi kehidupan metrial dan tidak terserap jaringan-jaringan kelembagaan politik resmi. Di dalamnya tersirat pentingnya suatu ruang publik yang bebas, dimana proses komunikasi yang bebas bisa dilakukan masyarakat.”

Dari sekian definisi, hemat kami definisi inilah yang paling tepat dalam mendefinisikan masyarakat madani. Sementara para pakar berpendapat masyarakat madani bersumber dari tradisi Barat, dimana konsepnya lahir dari sejarah Yunani kuno. Aristoteles mengungkapakan istilah “Politike Kononia” yang dalam bahasa latin disebut “Societas Civilis” yang berarti masyarakat politik. Politike kononia yang dikehedaki oleh Aristoteles adalah satu masyarakat politik dan etis dimana warga negara berkedudukan sama di depan hukum. Menurut pendapat ini, konsep masyarakat madani mendapatkan perubahan makna terutama pada masa Renaissance. Berbeda dengan Adam B. Seligman dalam bukunya, The Idea of Civil Society. Menurutnya, masyarakat madani adalah akibat pemacetan pemikiran sosial politik Barat sekitar abad ke XVII sampai XVIII.

Demikian pendapat sementara pakar. Akan tetapi, jika kita mengacu pada kata “Madani”, yang berasal dari bahasa Arab, kita akan menemukan apa yang dinyatakan pakar, bahwa teori masyarakat madani bersumber dari tradisi Yunani kuno tidaklah tepat. Sebab, madani dalam bahasa Arab mempunyai banyak makna. Madani dapat diartikan sebagai orang beradab, yang berbudaya kota, bisa juga bermakna berkenaan dengan masalah sipil dan sekuler. Yang lebih tepat adalah pendapat yang menyatakan masyarakat madani adalah bentuk negara ideal yang terinspirasi negara yang pernah berdiri di Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah Muhammad Saw. Menurut Profesor Jamal al Bana dalam bukunya, “Agama dan Negara”, negara Madinah adalah negara ideal yang pernah ada di muka bumi dan tak mungkin terulang kembali. Jamal al Bana mendasarkan pendapatnya pada; pertama, negara Madinah adalah negara yang berjalan langsung dibimbing oleh wahyu. Kedua, negara Madinah tidak memiliki perangkat yang dibutuhkan oleh sebuah negara pada umumnya, seperti penjara, tentara, polisi, dan lembaga-lembaga negara lainnya. Ini tidak mungkin terjadi di negara manapun. ketiga, negara Madinah didirikan dengan satu komitmen hidup bersama antar etnis agama dan budaya, tidak didirikan dengan agitasi politik (perlawanan), apalagi pertumpahan darah. Butir-butir perjanjian kesepahaman yang dibuat oleh Rasulullah Saw bersama seluruh komponen masyarakat Yatsrib (kemudia disebut Madinah) dinamakan Piagam Madinah.

Negara makmur sejahtera itulah yang menjadi inspirasi teori “masyarakat madani”. Sebab, seperti dikatakan di atas, gambaran yang diberikan sementara kalangan yang menyatakan teori masyarkat madani berasal dari Yunani dengan makna “Societas Civilis” tidak mampu mewakili makna yang terdapat dalam kata “madani itu sendiri”.

Asas- Asas Masyarakat Madani

Imam al Mawardi, dalam bukunya yang berjudul “Adab ad Dunya wa Din”, mengatakan “Terciptanya masyarakat madani meniscayakan dua syarat; pertama, teratur dan terorganisirnya masalah publik. Kedua, kesejahteraan yang dapat dinikmati setiap warga negara.” Dua poin itu terkait satu dengan lainnya. Untuk tercapainya poin yang pertama, ada enam syarat yang harus dipenuhi.

Pertama, adanya agama yang ditaati. Sebab keyakinan setiap individu terhadap agama akan menjadi kontrol dalam diri setiap individu.

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ (الأعراف 3)

Artinya: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.”

Kedua, pemerintarah yang kuat. Yang dapat mengendalikan komponen-komponen bangsa. Ketiga, keadilan sosial bagi seluruh anak bangsa. Menurut Imam al Mawardi, tidak ada sebab yang dapat menghancurkan suatu bangsa yang lebih berbahaya daripada korupsi, dan tindakan sewenang-wenang. Keempat, keamanan, ketertiban dan stabilitas sosial. Orang-orang yang kuat merasa tentram, kaum lemah merasa tenang. Kelima, stabilitas ekonomi dan swasembada pangan. Keenam, cita-cita bersama komponen bangsa, sehingga menjadi bangsa yang dinamis. Berkenaan dengan ini, Rasulullah Saw bersabda: “Cita-cita adalah rahmat dari Allah bagi umatku. Seandainya tidak ada cita-cita, seorang petani tidak akan pernah menanam pohon, seorang ibu enggan menyusui sang anak.”

Itulah syarat-syarat untuk terpenuhinya poin pertama. Semantara untuk terealisasinya poin kedua, yaitu kesejahteraan setiap individu masyarakat, diperlukan tiga hal. Pertama, ketaatan kepada pemimpin, dimulai dari tiap individu. Kedua, kasih sayang antar sesama. Ketiga, kebutuhan pokok masyarakat yang tercukupi. Demikian dengan panjang lebar pengarang karya fenomenal “al Ahkam Sulthaniah” itu menjelaskan bagaimana masyarakat madani berdiri. Semua syarat itu mengakomodir pluralisme, egalitarianisme, terutama bagi daerah yang memiliki agama dan kepercayaan yang tidak tunggal.

Setelah kita mengetahui syarat-syarat untuk bedirinya masyarkat madani, muncul sebuah pertanyaan, “Dari mana kita memulai?” Para Ulama, seperti Imam Hasan al Bana, demikian juga ulama kontemporer dan pakar tafsir Indonesia, Quraish Shihab sepakat bahwa untuk terciptanya tatanan masyarakat ideal harus dimulai dari komponen terkecil sebuah bangsa, yaitu keluarga. Satuan terkecil ini dibina baik segi pendidikan, mental kejiwaan, agama dan tanggungjawab sosial. Jika satuan masyarakat ini telah terbina, maka akan tercipta masyarakat madani.

Yang signifikan, selain beberapa poin tersebut di atas adalah adanya seorang pemimpin yang mempunyai moralitas tinggi, yang sikap, gerak, dan segala kebijakannya bisa menjadi referensi bawahan. Sosok ini di gambarkan oleh Ali Syari’ati sebagai sosok yang memiliki karakter; ilmuan; seorang pembelajar sejati, intelektual; seorang yang berupaya memahami realitas zaman dan bangsanya, idiolog; berpandangan jauh yang tidak terperangkap kepentingan politik sesaat, dan terakhir pemimpin itu harus mempunyai karakter ulama, orang yang bukan hanya mengajarkan wudhu, tapi juga berupaya mengetahui orang yang diajari wudhu bisa makan apa tidak, jiwanya terzalimi apa tidak, dan seterusnya. Menurut Ali Syari’ati, keempat komponen itu harus ada dalam diri seorang pemimpin yang akan membawa masyarakat pada pencerahan. Atau dalam konteks ini, pemimpin yang akan mengentaskan masyarakat dari kondisi trasnsisi (liminality) ke kondisi modern religi.[]

Penulis, Ahmad Tsauri

AL-DIFA’ ‘ANIL WATHAN: Kitab Cinta Tanah Air Karya Kyai Muda Lirboyo

Kitab bernama asli AlDifa’ ‘An Al-Wathan Min Ahammi Al-Wâjibâti ‘Alâ Kulli Wâhidin Minnâ (Membela tanah air: Sebagaian diantara kewajiban setiap individu) ini alhamdulillah telah diterbitkan kembali dalam edisi cetak. Kitab karya asli Agus HM. Sa’id Ridhwan, salah satu dzuriyyah Pondok Pesantren Lirboyo ini sebelumnya memang pernah terbit dalam edisi terbatas untuk digunakan mengaji bandongan. Itupun hanya dengan cara difotokopi. Namun sekarang, kitab ini bisa didapatkan kembali di toko-toko dengan format yang lebih bagus.

Kitab ini membahas tentang seberapa pentingnya mencintai tanah air dan seberapa penting artinya bagi kita. Disertai dengan referensi dan beberapa kutipan dari maqolah-maqolah, dan pendapat-pendapat ulama kontemporer, kitab ini semakin menarik. Dalam muqadimahnya, beliau mengutip firman Allah SWT, Surat Al-Taubah: 41. “Berangkatlah (berperang) kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” Beliau menegaskan bahwa hari ini salah satu yang paling kita butuhkan adalah perihal membela tanah air dari segala macam upaya yang merusak persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Kita juga harus punya upaya untuk menjadikan bangsa kita bangsa yang mandiri dan berkembang tanpa membutuhkan bangsa lain. Banyak dari kita yang telah membuat kesalahan pemahaman, bahwa kewajiban seorang mukmin (baca: muslim) hanyalah memperbaiki dan peduli terhadap aspek keagamaan saja. “Ini adalah keliru pemahaman yang salah dan merugikan” tulis beliau. Kewajiban kita seharusnya adalah, selian tetap memperhatikan aspek keagamaan, kita harus memperhatikan masalah kecintaan dan upaya kita membela tanah air. Beliau menyebut, jika salah faham ini adalah salah satu penyebab kemerosotan kaum muslilim. Beliau mempertegas dengan kutipan hadis nabi, “Barang siapa tidak memperhatikan perkara umat muslim, maka bukan termasuk umat muslim.” Dan karena membela tanah air adalah salah satu upaya mempertahankan kelangsungan umat muslim, maka sejatinya dengan upaya kita membela tanah air juga adalah upaya kita membela agama.

Pentingnya ngaji (kitab) ini, (tentang) perhatian ulama terhadap ancaman perpecahan Indonesia, ancaman radikalisme, mempertahankan perbedaan, mengikis bela negara. Boleh saja benci dengan orang pemerintahan yang korup dan lain sebagainya, tapi jangan benci dengan lembaganya. Bahkan penting untuk mempertahankannya.” Kata beliau pada saat membacakan kitab ini dihadapan santri-santri.

Beliau mengupas habis makna cinta tanah air yang sejati dalam kitabnya. Makna cinta tanah air yang beliau bagi dalam beberapa tingkatan. Bagaimana rakyat biasa mencintai tanah airnya, bagaimana para pebisnis dan pedagang mencintai tanah airnya, dan bagaimana cara setiap insan lain dari berbagai asal usul mencintai tanah airnya dengan benar. Beliau mencontohkan, seorang pedagang bisa dikatakan mencintaitanah airnya jikalau apa yang dia usahakan dalam jual beli bukan hanya untuk kepentingan pribadi belaka. Tapi seorang pedagang bisa dikatakan mencintai tanah airnya apabila dia juga punya tujuan untuk memberikan sumbangsih dengan memperkuat negrinya lewat apa yang ia jual belikan. Sejatinya setiap orang bisa mencintai tanah air dengan caranya masing-masing.

Maka hal terpenting dari membela tanah air untuk masa sekarang ini, bukan diartikan dengan jihad ala mengangkat senjata dan perang. Akan tetapi jihad dengan memerangi kebodohan dan kebobrokan akhlak, jihad menumpas perpecahan dan menolak untuk saling bahu membahu dan bersaudara, jihad memberantas kelaliman, ketidak adilan, sifat ketergantungan terhadap bangsa lain, jihad menghilangkan kemiskinan, lemah, penyakit, dan kemunduran-kemunduran lain guna meraih kebahagiaan dan maslahat dalam kehidupan keduniaan dan keagamaan.” Tulis beliau diakhir kitab sebagai kesimpulan. []

 

Kontruksi Nalar dan Perkembangan Ahlus Sunnah wal Jamaah

Menilik sejarah umat Islam di masa akhir khilafah dan masa-masa setelahnya, Ahlus Sunnah Wal Jamaah merupakan kekuatan riil yang berkembang dan mengakar melalui perjuangan di luar lingkaran pertikaian. Saat konflik mulai merusak berbagai sendi kehidupan umat, sekelompok sahabat dan generasi sesudahnya selalu bersikap tawasuth; mengambil jalan tengah, dan tawazun; seimbang di dalam menyikapi setiap persoalan, dan bersikap tasamuh; toleran, adil dan netral di dalam menghadapi perselisihan.

Pada saat terjadi perselisihan politik antara sahabat Ali Ibn Abi Thalib dengan Muawiyah Ibn Abi Sufyan, terdapat beberapa sahabat yang bersikap netral dan menekuni bidang keilmuan. Sikap netral seperti itu juga dilanjutkan oleh beberapa tokoh tabi’in dan tabi’ al-tabi’in. Dalam kondisi seperti ini, terdapat sejumlah sahabat antara lain: Ibn Umar, Ibn Abbas, Ibn Mas’ud dan lain-lain, yang menghindarkan diri dari konflik dan menekuni bidang keilmuan dan keagamaan. Dari kegiatan mereka inilah kemudian lahir sekelompok ilmuan sahabat, yang mewariskan tradisi keilmuan itu kepada generasi berikutnya. Selanjutnya melahirkan para muhadditsin (ahli hadis), fuqaha (para ahli fikih), mufassirin (para ahli tafsir), dan mutakallimin; para ahli ilmu kalam. Kelompok ini selalu berusaha untuk mengakomodir semua kekuatan, model pemikiran yang sederhana, sehingga mudah diterima oleh mayoritas umat Islam dan mengakar kuat sebagai kekuatan riil dalam ideologi, syariat, maupun bidang-bidang yang lain.

Pada kurun berikutnya, potret “perjuangan tradisional” serupa dikembangkan oleh Al-Asy’ariy dalam menegakkan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah. Sebagaimana telah terdahulu, awalnya Al-Asy’ariy belajar kepada Al-Jubba’i, seorang tokoh Mu’tazilah dan sementara waktu Al-Asy’ariy menjadi penganut Mu’tazilah, sampai tahun 300 H. Dan setelah beliau mendalami paham Mu’tazilah hingga berusia 40 tahun, terjadilah debat panjang antara beliau dengan gurunya, Al-Jubba’i dalam berbagai masalah, terutama masalah Kalam. Perdebatan itu membuat Al-Asy’ariy meragukan konsep akidah Mu’tazilah, dan pada masa berikutnya mengikrarkan dirinya keluar dari Mu’tazilah, dan  berjuang memantabkan Ahli Sunnah wal Jamaah.

Al-Asy’ariy membuat sistem hujjah yang dibangun berdasarkan perpaduan antara dalil nash (naql) dan dalil logika (‘aql). Dengan ini beliau berhasil memukul telak hujjah para pendukung Mu’tazilah yang selama ini mengacak-acak eksistensi Ahli Sunnah Wal Jamaah. Bisa dikatakan, sejak berdirinya aliran Asy’ariyah inilah Mu’tazilah berhasil dilemahkan dan dijauhkan dari kekuasaan. Setelah sebelumnya sangat berkuasa dan melakukan penindasan terhadap lawan-lawan debatnya, termasuk di dalamnya Imam Ahmad bin Hanbal.

Kemampuan Al-Asy’ari dalam melemahkan Mu’tazilah bisa dimaklumi, karena sebelumnya Al-Asy’ariy pernah berguru kepada mereka. Beliau paham betul seluk beluk logika Mu’tazilah dan dengan mudah menguasai sisi dan titik lemahnya. Meski awalnya kalangan Ahlus Sunnah sempat menaruh curiga kepada beliau dan pahamnya, namun eksistensinya mulai diakui setelah keberhasilannya memukul Mu’tazilah dan komitmennya kepada akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Di masa pemerintahan Islam dikuasai Bani Abbasiyah, terjadi perdebatan sengit antara para ulama dan tokoh-tokoh teologi yang ditimbulkan akibat masuknya nilai-nilai filsafat non-Islam terutama dari barat (Yunani). Karena akar filsafat dan teologi mereka berangkat dari mitos tanpa dasar agama samawi yang kuat. Hal ini menimbulkan gejolak di dunia Islam dan berubah menjadi pertentangan tajam. Dalam tubuh umat Islam, pertentangan ini terkonsentrasi pada tarik menarik antara dua kutub utama yaitu Ahlus Sunnah yang mempertahankan paham berdasarkan nash (naql) dan Mu’tazilah yang cenderung menafikan nash (naql) dan bertumpu kepada akal semata. Karena inilah mereka disebut dengan kelompok rasionalis.

Memanfaatkan pemerintahan yang didominasi oleh pengagum filsafat, Mu’tazilah pada akhirnya berhasil mempengaruhi penguasa saat itu untuk memaklumat faham Mu’tazilah sebagai akidah resmi negara. Mu’tazilah berhasil memboncengi kekuasaan khilafah Abbasiyah semenjak khalifah al-Ma’mun hingga kepemimpinan al-Mutawakkil. Mu’tazilah yang memegang kendali kekuasaan mencoba melakukan upaya pembatasan gerak dan pencekalan terhadap lawan-lawan mereka. Memanfaatkan isu-isu akidah, mereka berupaya melikuidasi dan melenyapkan tokoh lawannya. Perlawanan “Islam tradisional” berbasis Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak bisa terelakkan, dan mulai menghebat pada saat barisan Ahlus Sunnah dikomandani oleh dua tokoh ulama yang cukup berpengaruh, Al-Asya’ri dan Al-Maturidi. Mereka dalam hal ini menjadi kutub kekuatan madzhab akidah yang sedang mengalami gempuran hebat dari kelompok rasionalis yang saat itu memang sedang di atas angin.

Al-Asy’ari dan Al-Maturidi mencoba menangkis semua argumen kelompok rasionalis dengan menggunakan bahasa dan logika lawannya. Argumentasi dalil nash (naql) tidak begitu efektif digunakan sebagai alat penangkal argumen, karena lawan sejak semula sudah mengesampingkan dan menafikan dalil nash. Dapat kita saksikan sistematika hujjah Al-Asy’ary dan Al-Maturidi menyajikan kombinasi antara dalil aqli dan naqli. Pada masanya, metode ini sangat efektif untuk meredam argumen lawan.

Tentu tidak tepat membandingkannya dengan zaman yang berbeda. Karena kebutuhan dan bahasa umat tiap masa selalu berkembang dinamis. Mereka yang tidak memahami sejarah, atau bahkan tidak memahami konstruksi pemikiran Al-Asy’ary dan Al-Maturidi hanya memotret sisi rasionalisasi dalam kitab-kitab Al-Asy’ary dan Al-Maturidi maupun pengikutnya. Mereka yang tidak memahami duduk permasalahan, tergesa-gesa menuduh bahwa madzhab teologi ini sesat. Padahal di masanya, mayoritas ulama berada di pihak Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, karena mereka menyaksikan pertarungan dan pergulatan pemikiran antara Ahli Sunnah dan kelompok rasionalis.

Dan secara de facto, mazhab akidah Asy’ariyah dan Al-Maturidi memang madzhab yang paling banyak dianut umat Islam secara tradisional dan turun temurun di dunia Islam. Di dalamnya terdapat banyak ulama, fuqaha, imam dan sebagainya. Meski bila masing-masing imam itu dikonfrontir satu persatu dengan detail pemikiran Asy’ari, belum tentu semuanya menyepakati.

Sejarah mencatat bahwa hampir semua imam besar dan fuqaha dalam Islam adalah pemeluk madzhab akidah al-Asy’ari dan Al-Maturidi. Antara lain Al-Baqilani, Imam Haramain Al-Juwaini, Al-Ghazali, Ibnu Abdis Salam, Ibnu Daqiq Al-‘Id, Al-Fakhrur Razi, AI-Baidhawi, Al-Amidi, Asy-Syahrastani, Al-Baghdadi, Ibnu Sayyidinnas, Al-Balqini, al-Iraqi, An-Nawawi, Ar-Raffi, Ibnu Hajar Al-‘Asqallani, As-Suyuti dan lain sebagainya. Dari kalangan mufassirin mutaqaddimin, ada Al-Qurthubi, Ibn Katsir, Ibn ‘Athiyah, Abu Hayyan, Fahr Ad-Din Ar-Razi, Al-Baghawi, Abu Laits, Al-Wahidi, Al-Alusi, Al-Halabi, Al-Khathib As-Sarbini. Mufassirin muta’akkhirin diwakili, Syekh Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Ibn ‘Asur dan lain-Iain. Sedangkan dari wilayah barat, khilafah Islamiyah ada Ath-Tharthusi, Al-Maziri, Al-Baji, Ibnu Rusyd (al-Jad), Ibnul Arabi, Al- Qadhi ‘lyyadh, Al-Qurthubi dan Asy- Syatibi.

Para ulama pengikut mazhab Hanafiyah secara teologis umumnya adalah penganut paham Al-Maturidiyah. Sedangkan mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyyah secara teologis umumnya adalah penganut paham Asy’ariyah. Mayoritas universitas Islam terkemuka di dunia menganut paham Al-Asy’ariah dan Maturidiyah seperti Al-Azhar di Mesir, Az-Zaitun di Tunis, Al-Qayruwan di Maroko, Deoban di India, dan masih banyak lagi universitas lainnya.

Sehingga tentunya mereka yang menilai Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiah sesat perlu berpikir ulang, karena dengan menganggap sesat mereka, tentu saja kita perlu mengeluarkan para ulama di atas dari garis Islam, begitu juga universitas Islam dan para pemimpinnya. Bahkan semestinya mayoritas umat Islam sepanjang masa pun harus dianggap sesat dan keluar dari garis Islam. Tentu saja ini tidak sederhana dan bukan persoalan mudah. Kesimpulan obyektifnya, tidak mungkin dipungkiri bahwa Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiah adalah bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karena fakta sejarah membuktikan bahwa akidah ini telah disepakati oleh mayoritas ulama dan diamini serta diterima dengan sukarela oleh mayoritas umat Islam secara turun temurun.][

Penulis : Darul Azka