Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Aksi demo warga di depan Gedung DPR RI berujung tragis, seorang ojek online meninggal dunia setelah “ditabrak” oleh situasi yang semestinya tidak perlu terjadi. Di jalanan, rakyat kecil menjadi korban; sementara di kursi kekuasaan, perdebatan politik hanya berputar pada siapa yang berhak, bukan apa yang benar. Inilah wajah bangsa ketika relasi pemimpin dan rakyat retak: suara rakyat seolah tak lagi menjadi amanat, dan keadilan terasa semakin jauh dari kenyataan.
Dalam pandangan Islam, relasi antara pemimpin dan rakyat bukan sekadar urusan administratif atau politik, melainkan hubungan timbal balik yang sarat dengan dimensi moral dan spiritual. Rasulullah ﷺ memberikan gambaran tentang kualitas seorang pemimpin melalui sabdanya:
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ (رواه مسلم)
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan adanya hubungan timbal balik yang harmonis antara pemimpin dan rakyat. Kepemimpinan yang ideal tidak hanya ditentukan oleh kualitas personal pemimpin, tetapi juga oleh sikap dan penerimaan rakyat terhadapnya.
Baca juga: Doa Memohon Negeri yang Aman dan Pemimpin yang Adil
Peringatan dari Nabi Kepada Rakyat Dan Pemimpin
Rasulullah ﷺ pernah memberi peringatan bahwa akan datang pemimpin yang jauh dari sunnah beliau, bahkan berperilaku zalim. Hudzaifah bin al-Yaman meriwayatkan sabda Nabi ﷺ:
يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ
“Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak berpedoman dengan petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul di tengah-tengah kalian orang-orang yang hatinya hati setan dalam wujud manusia.” (HR. Muslim)
Meski demikian, Rasulullah ﷺ tetap menekankan agar kaum Muslimin menjaga ketaatan selama pemimpin itu masih menegakkan syiar Islam, terutama salat. Perintah ini bukanlah bentuk pengabaian terhadap kezaliman, melainkan menjaga stabilitas umat agar tidak terpecah belah dalam fitnah yang lebih besar.
Baca juga: Sumbangsih Santri Terhadap Bangsa Indonesia
Kejadian Indonesia Kini Adalah Nostalgia Zaman Sayyidina Ali
Menariknya, persoalan-persoalan yang kurang harmoni antara pemimpin dan rakyat bukan hanya milik era modern dan di negeri kita saja. Abu Bakar al-Tharthusy dalam Sirāj al-Mulūk meriwayatkan dialog antara Ubaidah as-Salmani dengan Sayyidina Ali krw. Ia bertanya mengapa rakyat begitu tunduk kepada Abu Bakar dan Umar, tetapi tidak sama halnya kepada Ali dan Utsman. Ali menjawab:
لأن رعية أبي بكر وعمر كانوا مثلي ومثل عثمان، ورعيتي أنا اليوم مثلك وشبهك
“Karena rakyat Abu Bakar dan Umar seperti aku dan Utsman, sementara rakyatku hari ini seperti engkau dan orang-orang sepertimu.” [Abū Bakr Muḥammad bin Muḥammad bin al-Walīd al-Fihrī al-Ṭarṭūshī al-Mālikī, Sirāj al-Mulūk, (Mesir: Min Awāʾil al-Maṭbūʿāt al-ʿArabiyyah, t.t.), h. 166.]
Jawaban ini sarat makna: kualitas rakyat sangat berpengaruh pada kualitas kepemimpinan.
Kualitas Pemimpin Sesuai Keadaan Hati Rakyatnya
Hal senada ditegaskan oleh Ka‘b al-Ahbar dalam riwayat Abu Nu‘aim al-Ashbahani:
إِنَّ لِكُلِّ زَمَانٍ مَلِكًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى نَحْوِ قُلُوبِ أَهْلِهِ، فَإِذَا أَرَادَ صَلَاحَهُمْ بَعَثَ عَلَيْهِمْ مُصْلِحًا، وَإِذَا أَرَادَ هَلَكَتَهُمْ بَعَثَ فِيهِمْ مُتْرَفِيهِمْ
“Sesungguhnya di setiap zaman ada pemimpin yang Allah tunjuk sesuai dengan keadaan hati masyarakatnya. Jika Allah hendak memperbaiki mereka, Allah angkat pemimpin yang baik. Jika Allah hendak membinasakan mereka, Allah angkat pemimpin yang zalim.” [Abū Nuʿaym Aḥmad bin ʿAbd Allāh al-Iṣfahānī, Ḥilyat al-Awliyāʾ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyāʾ, (Kairo: Maṭbaʿat al-Saʿādah, 1394 H/1974 M), jld. 6, h. 30.]
Ibn Qayyim al-Jauziyyah menambahkan dalam Miftāḥ Dār al-Sa‘ādah:
وتأمل حكمته تعالى في ان جعل ملوك العباد وأمراءهم وولاتهم من جنس اعمالهم بل كأن أعمالهم ظهرت في صور ولاتهم وملوكهم فإن ساتقاموا استقامت ملوكهم وإن عدلوا عدلت عليهم
“Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka.” [Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Miftāḥ Dār al-Saʿādah wa Manshūr Wilāyat al-ʿIlm wa al-Irādah, (Riyāḍ: Dār ʿAṭāʾāt al-ʿIlm; Beirut: Dār Ibn Ḥazm, t.t.), jld. 2, h. 721.]
Dari untaian hikmah ini, jelas bahwa pemimpin dan rakyat ibarat dua sisi mata uang: saling mencerminkan satu sama lain. Rakyat yang jujur, adil, dan amanah akan melahirkan pemimpin yang membawa keadilan. Sebaliknya, ketika masyarakat condong kepada kelalaian dan hawa nafsu, Allah pun memberi mereka pemimpin yang menjadi cerminan kelemahan itu.
Ayo Berubah!
Fenomena politik kontemporer bisa kita baca dengan kaca mata hikmah klasik ini. Alih-alih sekadar menyalahkan pemimpin, umat juga perlu bercermin pada kondisi moral dirinya. Sebab, perubahan besar dalam kepemimpinan hanya mungkin terjadi jika dimulai dari perbaikan kolektif masyarakat.
Kuncinya ada pada nasihat agung Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. al-Ra‘d: 11)
Dengan demikian, menjaga kejujuran, menunaikan hak-hak Allah, menjauhi maksiat seperti judi, minuman keras dan zina serta mengutamakan keadilan bukan hanya tanggung jawab pemimpin, tetapi juga rakyat. Ketika rakyat memperbaiki diri, Allah akan menganugerahkan pemimpin yang baik, sehingga terwujud kepemimpinan yang membawa rahmat dan keberkahan.
Baca juga: Abdul Hamid Sa’ad; Pemimpin yang Menanggung Kebutuhan Rakyat
Semangat Maulid Untuk Indonesia Tercinta.
Peringatan Maulid Nabi ﷺ tidak hanya menjadi tradisi keagamaan, tetapi juga sumber inspirasi moral bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Imam al-Sakhawi menegaskan bahwa meski Maulid baru diperingati setelah generasi tiga abad pertama, kaum Muslimin di berbagai negeri tetap merayakannya dengan penuh semangat. Mereka bersedekah, membaca kisah kelahiran Nabi ﷺ, dan merasakan limpahan keberkahan darinya.
Ibn al-Jauzi yang tergambar dalam I’anah at-Thalibin pernah menyebutkan bahwa;
وقال ابن الجوزي: من خواصه أنه أمان في ذلك العام، وبشرى عاجلة بنيل البغية والمرام
Salah satu keistimewaan Maulid adalah menjadikan aman tahun itu, serta membawa kabar gembira akan tercapainya cita-cita. [Abū Bakr ʿUthmān bin Muḥammad Shaṭṭā al-Dimyāṭī al-Syāfiʿī, Iʿānat al-Ṭālibīn ʿalā Ḥall Alfāẓ Fatḥ al-Muʿīn (Beirut: Dār al-Fikr li al-Ṭibāʿah wa al-Nasyr wa al-Tawzīʿ, cet. I, 1418 H/1997 M), jld. 3, h. 414.]
Nilai inilah yang semestinya dihidupkan dalam kehidupan sosial dan politik kita.
Bagi Indonesia tercinta, semangat Maulid dapat menjadi pengingat bahwa kualitas pemimpin sangat bergantung pada kualitas rakyatnya. Jika rakyat meneladani akhlak Nabi ﷺ dengan kejujuran, kasih sayang, dan kepedulian sosial, maka Allah akan anugerahkan pemimpin yang baik sebagai cerminan mereka. Maulid mengajarkan optimisme dan persatuan, agar rakyat tidak hanya sibuk menuntut pemimpin yang ideal, tetapi juga memperbaiki diri, memperkuat ukhuwah, dan menanamkan nilai kasih sayang dalam kehidupan bersama. Dengan demikian, Maulid Nabi ﷺ bukan hanya perayaan sejarah, tetapi juga momentum spiritual untuk membangun relasi sehat antara pemimpin dan rakyat di negeri ini.
Kata Gus Baha’ Rakyat Indonesia Adalah Aset Berharga
Dari sini tiba-tiba penulis teringat satu dawuh dari KH. Baha’uddin Nur Salim. Beliau dalam ceramahnya menjelaskan “Ketika rakyat kita (Indonesia), tetangga kita, masyarakat kita tidak melakukan kejahatan (maksiat), itulah ketertiban yang sejati. Maka ketika rakyat tidak melakukan tindak kriminal, di situlah awal mula aset bangsa kita (Indonesia).”
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





