Tag Archives: nadzam

Ramainya Festival Seribu Nadzam

LirboyoNet, Kediri – KH. Abdul Karim pernah dawuh, “mahare wong belajar alfiyah iku kudu apal.” Dengan berpedoman pada maqolah ini, para santri pun berlomba-lomba dalam menghafal bait-bait nadzam pelajaran mereka. Di pekan-pekan ini, ada beberapa kegiatan menarik dari para santri, yang berkaitan dengan hafalan nadzam.

1002 Bait Alfiyah

Pertama, diadakannya festival seribu nadzam alfiyah. Pesertanya khusus para siswa kelas dua tsanawiyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM). Berlangsung sejak Jumat malam Sabtu (24/02) kemarin, tercatat tidak kurang dari 400-an siswa yang mendaftar. Jumlah itu kurang lebih separuh dari jumlah keseluruhan siswa dua tsanawiyah, yakni sekitar 790-an. Sebagian dari mereka telah khatam menghafal 1.002 bait nadzam Alfiyah sebelum mereka naik tingkatan ke Tsanawiyah. Sebagian lagi baru mempersiapkan diri untuk ikut festival di detik-detik akhir menjelang pelaksanaan festival. “Saya bersyukur dapat ikut meramaikan festival ini. Padahal, sebelumnya saya ragu. Lah wong satu minggu sebelum hari H, nadzam saya masih kurang 100 bait lagi,” tukas Sholehudin, santri asal Pekalongan.

Dalam rangkaian pelaksanaannya, mereka harus melewati tiga tahap ujian. Pertama, mereka harus menyetorkan tiga ratus nadzam pertama kepada satu penguji. Setelah dirasa lancar, mereka kemudian beralih ke penguji ke dua. Di sini, mereka harus mampu membacakan tiga ratus nadzam selanjutnya dengan baik. Dan di tahap ketiga, mereka wajib menyetorkan empat ratus nadzam terakhir dari nadzam yang digubah oleh as-Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Andalusy ini.

Tidak berhenti di situ. Bagi yang berminat, mereka dapat melanjutkan ujian ke tahap VIP, atau hafalan nadzam beserta murad (penjelasan singkat) dari nadzam itu. Tentunya, tahap ini lebih sulit karena mereka tidak hanya mempersiap nadzam saja, tetapi juga perlu mempelajari kembali makna-makna yang telah didapat, sehingga teks-teks Alfiyah bisa mereka pahami dengan benar. Dengan memahami teks Alfiyah, mereka telah mendapatkan bekal sangat penting dalam memahami kosakata arab, yakni ilmu nahwu dan ilmu sharaf.

1005 Bait Uqudul Juman

Festival ini dikhususkan bagi para siswa yang telah menginjakkan kaki di tahap akhir sekolah, yakni kelas tiga aliyah MHM. Dari total 460-an siswa, tidak kurang dari 180 siswa yang mengikuti festival ini. Bertempat di gedung Al-Ikhlas II, mereka dibagi menjadi dua gelombang pelaksanaan. Pertama, hari Ahad malam Senin diperuntukkan bagi siswa bagian C dan D. Di hari berikutnya, giliran siswa bagian A dan B untuk menyetorkan bait nadzam milik as-Syaikh Abdurrahman Jalaludin as-Suyuthi ini.

Tidak semua siswa sukses dalam festival ini. Salah satunya Farhan, siswa asal Mojokerto. “Saat saya setor ke teman-teman, saya rasa (nadzam saya) sudah lancar. Tapi saat berada di depan penguji, hafalan saya kacau.” Meskipun ia gagal dalam tahap ini, ia masih memiliki harapan lagi. Karena, akan ada ujian her bagi mereka yang dirasa kurang memenuhi syarat untuk dianggap lulus dalam menghafal keseluruhan 1005 bait nadzam ini.

Perlu diketahui, nadzam Uqudul Juman memuat pelajaran balaghah, atau seni sastra bahasa arab. Ada tiga unsur penting yang dipelajari dalam nadzam ini: ilmu ma’ani (keselarasan makna), ilmu bayan (keselarasan penjelas), dan ilmu badi’ (keindahan ungkapan). Tiga unsur inilah yang dipelajari para santri sejak kelas satu hingga tiga Aliyah.

Bagi semua siswa, hafalan nadzam sebenarnya bukan hanya sebatas untuk dihargai dalam festival saja. Lebih dari itu, hafalan adalah sebuah sistem yang dibangun oleh MHM untuk mempermudah pemahaman pelajaran bagi para siswa. Terbukti, di semua tingkatan lain, juga diberlakukan sistem hafalan ini. Tidak hanya nadzam, tetapi juga keterangan-keterangan penting dan beberapa catatan terkait pelajaran, harus mereka hafalkan setiap hari. Dengan begitu, mereka akan menguasai dua sistem pembelajaran paling efektif yang telah dirumuskan oleh ulama terdahulu, yakni hafal dan faham dalam materi pelajaran.][

Bersua Juga dengan Muhafadzoh Akhirussanah

LirboyoNet, Kediri – Malam ini, (11/04) Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) akan mengawali salah satu hajat besarnya. Kemampuan hafalan santri akan diuji dalam even Muhafadzoh Akhirussanah.

Para santri masing-masing akan menghadap penguji. Mereka secara bergilir harus mempertanggungjawabkan usahanya dalam menghafalkan nadzam. Rifki misalnya. Dia adalah siswa kelas empat Ibtidaiyah. Dia, dan juga teman-teman seangkatannya, berkewajiban untuk menghafalkan nadzam qa’idah sharfiyyah. Dan malam ini, tepat pukul 19.00 Wis, mereka harus sudah berada di lokal gedung An-Nahdloh. Ada hal yang mereka pertaruhkan: apakah akan mendapatkan nilai jayyid (bagus) atau mutawasith (sedang). Yang paling ingin mereka hindari adalah nilai rodi’ (rendah). karena jika demikian, mereka harus mengikuti ujian her (ulangan).

Agenda Muhafadzoh Akhirussanah ini akan berlangsung mulai Senin malam Selasa hingga Senin malam Selasa lagi, atau tanggal 11 sampai 18 April 2016. Para pesertanya adalah seluruh siswa (MHM), mulai kelas III Ibtida’iyah hingga kelas III Aliyah. Dan yang bertugas sebagai penguji adalah para pengajar MHM.

Dan di setiap malam setelah ujian muhafadzah selesai, para masyayikh menyempatkan diri untuk memberikan nasehat kepada para santri. Adapun urutan masyayikh yang akan menyampaikan mauidhoh adalah sebagai berikut:

Senin malam Selasa, 11 April 2016

KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Selasa malam rabu, 12 April 2016

KH. Nurul Huda Ahmad

Rabu malam Kamis, 13 April 2016

KH. A. Habibulloh Zaini

Jum’at malam Sabtu, 15 April 2016

KH. An’im Falahuddin Mahrus

Sabtu malam Ahad, 16 April 2016

KH. Nurul Huda Ahmad

Ahad malam Senin, 17 April 2016

KH. A. Habibulloh Zaini

Senin malam Selasa, 18 April 2016

KH. M. Anwar Manshur

KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus