Badan otonom Badan Pengelola Ekstrakurikuler Madrasah Hidayatul Mubtadiin, Mading Hidayah Lirboyo, kembali menunjukkan komitmennya dalam mengawal kreativitas santri. Ruang pembelajaran tersebut tersaji dalam bentuk Seminar Kepenulisan yang mengusung tema besar “Pengembangan Literasi Pesantren Berbasis Media Informasi Masa Kini”. Kali ini, pembicara seminarnya adalah Bapak Mohamad Syafi’ Alielha atau biasa orang NU kenal dengan Bapak Savic Ali.
Jajaran Mudir Madrasah dan Badan Pengelola Ekstrakurikuler Madrasah Hidayatul Mubtadiin banyak hadir di acara yang berlangsung seru ini. di antara yang hadir adalah Agus H. Aminullah Mahin, Bapak Muhammad Rifai Bahrun, Bapak Syarif Subhan Arbani serta Bapak Ahmad Hafi Yasir. Kehadiran para beliau menjadi bukti nyata dukungan penuh pesantren Lirboyo terhadap masa depan literasi santri.
Baca juga: Bedah Buku Trilogi Musik: Perdebatan Hukum Musik
Bentuk Keseriusan Madrasah dalam Dunia Tulis-Menulis
Sebelum memasuki acara inti, antusiasme ratusan santri tergugah melalui sambutan-sambutan penuh motivasi. Sambutan pertama disampaikan oleh Dewan Harian Badan Pengelola Ekstrakurikuler Madrasah Hidayatul Mubtadiin, Bapak M. Ali Irham.
“Acara ini bentuk keseriusan madrasah dan Pondok Pesantren Lirboyo dalam meningkatkan literasi atau tulis-menulis,” tegas beliau di hadapan para santri. Beliau juga mengajak seluruh hadirin untuk khusyuk menyerap ilmu dari narasumber, “Monggo sareng-sareng kita catat tips-tips dari beliau (red: Bpk. Savic Ali).”
Senada dengan hal itu, Mudir Madrasah, yakni Bapak Ahmad Hafi Yasir dalam sambutannya turut memetakan potensi santri Lirboyo. Menurut beliau, modal intelektual santri sebenarnya sudah lebih dari cukup berkat tempaan mengaji sehari-hari.
“Terkait keilmuan kita sudah sangat terlatih sejak dini, yang harus kita tingkatkan adalah ide kepenulisan. Apa yang menjadi bakat kalian silakan kalian gali.” dawuh Bapak Hafi Yasir menyemangati.
Paparan Materi dari Bapak Savic Ali
Memasuki acara inti, suasana aula semakin hidup saat ruang panggung dilimpahkan kepada Bapak Mohamad Syafi’ Alielha—atau yang akrab disapa Bapak Savic Ali. Tokoh media yang berafiliasi kuat di naungan NU ini mengaku takjub dengan atmosfer literasi di Lirboyo.
“Saya senang karena pesertanya banyak sekali, padahal biasanya acara kepenulisan pesertanya sedikit. Dari 400 orang yang hadir, 40 orang jadi penulis saja ini sudah bagus sekali,” ujar beliau mengapresiasi kehadiran kisaran empat ratusan santri yang memadati lokasi.
Dalam pemaparannya, beliau menggarisbawahi peran historis pesantren yang sangat vital bagi bangsa Indonesia. “Pesantren adalah NU kecil dan NU adalah pesantren besar. Tanpa pesantren, bayangkan saja berapa juta orang buta huruf. Hal ini bisa kita lihat dari sejarah,” kenang beliau.
Sembari berkelakar khas santri, beliau menyentil fenomena digital yang kerap terjadi di tengah masyarakat saat bulan suci.
“Di bulan puasa itu ada puluhan ribu orang yang mencari di google ‘bagaimana hukum menangis di bulan puasa’.” ujar beliau.
Itu membuktikan bahwa santri harus menulis apa yang dibutuhkan masyarakat. Jangan gengsi dengan ilmu yang menurut kita mudah.
Pesan Bapak Savic Perihal Ilmu Pesantren yang Tidak Ada Habisnya
Hampir di akhir sesi seminar, Bapak Savic Ali memberikan wejangan berharga mengenai betapa kayanya khazanah keilmuan yang kaum sarungan miliki. Beliau meyakinkan bahwa santri tidak akan pernah kehabisan bahan untuk menyuarakan dakwah di jagat maya. “Tradisi pesantren, turats, kitab kuning, jika kita bawa ke media sosial tidak akan ada habisnya,” pungkas beliau.
Penutup
Agus HM. Aminullah Mahin menutup acara Seminar Kepenulisan ini dengan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada Bapak Savic Ali yang telah berkenan hadir menyempatkan waktu beliau yang amat sibuk itu. Di akhir acara itu, Agus HM. Aminullah Mahin juga memanjatkan doa dan menyampaikan harapan kepada semua hadirin yang hadir untuk selalu eksis dalam bidang literasi pondok pesantren.





