Tahukah Anda? Dalam sebuah kitab an-Nawadir diceritakan bahwa ada seorang Nasrani yang memperoleh kemuliaan luar biasa hanya karena memuliakan hari Asyura. Bahkan, sebuah ganjaran yang semula disiapkan untuk seorang pejabat muslim justru beralih kepadanya. Bagaimana kisahnya?
Baca juga: Kisah Qanaah yang Berujung Harta Tak Terduga
Janji Palsu dari Qadi
Ada sebuah cerita dalam kitab an-Nawadir bahwa suatu ketika pada hari Asyura, seorang fakir datang menemui Qadi (sejenis pejabat tingkat provinsi/kota). Orang fakir tersebut menjelaskan maksud kedatangannya:
“Semoga Allah memuliakanmu wahai Qadi, sungguh, aku adalah lelaki fakir yang mempunyai keluarga. Aku datang menemuimu berharap dikasihani dengan wasilah hari (Asyura’) ini—agar engkau berkenan memberikan sepuluh potong roti, sepuluh potongan daging dan uang dua dirham untuk diberikan kepada anak-anakku agar tidak kelaparan pada hari ini. Dan semoga Allah membalas perbuatan baikmu”. Ucap orang fakir tersebut memohon.
Sang Qadi tidak langsung mengabulkan permohonan tersebut, ia hanya berjanji kepada orang fakir itu untuk datang menemuinya kembali tatkala dzuhur tiba. Orang fakir tersebut pulang dengan tangan hampa dan mengunjungi kediaman Qadi kembali tatkala waktu dzuhur telah tiba.
Namun, kenaifan kembali menyelimuti relung hatinya. Qadi kembali menjanjikan akan mengabulkan permintaan fakir ketika waktu ashar, begitu pun seterusnya hingga waktu Maghrib—sedangkan di sisi lain, anak-anak orang fakir tersebut di sebuah rumah kecil sedang menahan lapar yang melilit perut-perut mereka.
Tatkala kembali pada waktu Maghrib, kali ini, ada sebuah jawaban berbeda dari sang Qadi, namun membuat orang fakir sakit hati.
“Aku tidak mempunyai apapun untuk diberikan kepadamu” jawaban itu seakan dentuman perang yang menari di atas penderitaan fakir.
Baca juga: Di Balik Surat al-Kautsar
Kepatahan Hati Seorang Rakyat Kecil
Hatinya patah, sepatah harapan seorang ayah yang tidak mampu memberikan kenyang atas kelaparan anak-anaknya. Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihan itu, air matanya tumpah, setumpah kebingungan yang menghinggapi akan jawaban apa yang elok diberikan kepada anak-anaknya?
Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan dengan seorang Nasrani—yang sedang duduk di teras rumahnya—yang tak sengaja melihat ia menangis. Nasrani itu prihatin, lalu bertanya:
“Apa yang membuatmu menangis seperti ini?”
“Jangan bertanya tentang keadaanku” orang fakir itu menjawab
“Sungguh, beritahulah kepadaku tentang keadanmu” Akhirnya, orang fakir tersebut menceritakan kejadian yang dialaminya dengan Qadi namun dengan versi yang membaik-baikkan Qadi.
“Emangnya hari ini menurut kalian hari apa?” tanya Nasrani itu penasaran.
“Hari ini hari Asyura…” sang fakir menjelaskan keistimewan yang berada pada hari Asyura.
Baca juga: Beginilah Reaksi Rasulullah Saat Melihat Hewan Tersiksa
Seorang Nasrani Dermawan
Siapa sangka, seakan tahu kejadian yang dialami fakir dengan Qadi, orang Nasrani tersebut memberikan lebih apa yang dimohonkan oleh orang fakir kepada Qadi. Ia memberi beberapa potong roti, daging dan duapuluh dirham untuk orang fakir.
“Ambillah ini semua untukmu dan keluargamu untuk beberapa bulan ke depan. (aku memberi ini semua) karena memuliakan hari yang telah dimuliakan oleh Tuhanmu” ucap Nashrani.
Si Fakir menerima dengan riang gembira dan membawakannya untuk anak-anaknya. Mereka pun sama gembiranya, dan kemudian anak-anaknya berdoa dengan suara lantang:
“Ya Allah, barangsiapa yang telah memberikan kebahagian ini kepada kami, semoga Engkau balas ia dengan kebahagian secepatnya”
Baca juga: Ketika Suami Tak Tampan, Istri Pilih Jalan Surga
Mimpi Buruk Sang Qadi
Pada suatu malam, dalam mimpinya sang Qadi bermimpi mendengar suara hatif (suara tanpa rupa).
“Angkatlah kepalamu” Qadi pun menuruti perkataan hatif itu. Setelah itu, ia melihat dua bangunan yang berbeda: yang satu terbuat dari emas, yang lainnya dari perak.
“Wahai Tuhanku, kedua bangunan ini untuk siapa?”
Suara itu kemudian kembali menggema namun membuat Qadi merenung. Karena awalnya, kedua bangunan itu untuk Qadi—dengan catatan ketika memenuhi kebutuhan orang fakir—tetapi kemudian beralih dan diperuntukkan bagi seorang Nasrani.
Qadi tersebut diselimuti ketakutan setelah mendengar suara itu, ia terbangun dan bergegas mengunjungi orang Nashrani. Setelah sampai, kemudian ia bertanya kepada Nasrani:
“Kebaikan apa yang engkau perbuat kemarin?”
“Kenapa engkau bertanya semacam itu?” bukannya menjawab, Nasrani itu bertanya kembali. Akhirnya Qadi itu menceritakan mimpinya.
“Jual-lah kebaikan yang engkau lakukan kemarin dengan orang fakir, maka aku akan memberikanmu seratus ribu dirham”
“Sesungguhnya aku tak akan menjualnya, walaupun kau memberiku seluruh emas yang ada di muka bumi ini. Tetapi aku bersaksi kepadamu, wahai Qadi, bahwa sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Nashrani itu kemudian memeluk Islam sampai akhir hayatnya. Dan Allah mengasihinya dengan menjadikan surga sebagai tempat kembalinya. Wallahu a’lam.
Referensi: Al-Qulyubi, an-Nawadir, hal. 66-67
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo






One thought on “Ketika Seorang Nasrani Memuliakan Hari Asyura”