461 views

Imam Nafi’ Al-Madani (Ahli Qira’at yang Memiliki Banyak Keistimewaan)

Pusat peradaban dan ilmu pengetahuan ketika masa Nabi berada di Madinah. Tidak terkecuali pengajaran al-Qur’an dan qiro’atnya kepada para sahabat. Dari kota Madinah ini, lahir pakar qira’at dari kalangan sahabat seperti; Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit.

Dari para sahabat ini, para tabi’in mempelajari ilmu dan bacaan al-Qur’an secara mutawatir yang bersambung dengan Nabi. Dari sebagian tabi’in yang belajar kepada para sahabat ini memiliki perhatian yang sangat besar terhadap al-Qur’an dan qira’atnya, hingga kemudian dikenal sebagai ahli qira’at, salah satunya adalah Imam Nafi’ (salah satu ahli qira’at dari tujuh imam qira’at mutawatirah yang memiliki kredibilitas dan kapabelitas yang sangat tinggi).

Nama lengkapnya Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu‘aim al-Madani atau biasa dikenal dengan julukan Abu Ruwaim. Lahir di masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (salah satu khalifah dari Dinasti Umayyah), pada tahun 70 H.

Keluarga besar Imam Nafi’ berasal dari daerah Asbahan (Esfahan), beberapa ratus kilometer dari Teheran, ibukota Iran sekarang. Akan tetapi Imam Nafi’ tumbuh besar dan menetap di Madinah hingga ajal menjemput. Dari segi fisik, beliau memiliki tipikal kulit hitam legam, namun wajah  Imam Nafi’ memancarkan aura menawan serta budi pekerti yang luhur penuh wibawa dan tutur kata yang sangat halus.

Dalam perjalanannya, Imam Nafi’ merupakan salah satu dari sekian banyak ulama yang mencurahkan waktunya untuk berkhidmah kepada Al-Qur’an dan qira’atnya. Beliau mengajarkan a l-Qur’an beserta qira’atnya dalam kurun waktu lebih dari tujuh puluh tahun dan menjadi rujukan utama dalam bidang qira’at di Madinah setelah kepulangan salah satu gurunya, Imam Ja’far bin al-Qa’qa’.

Perjalanan Intelektual Imam Nafi’

Abu Qurrat Musa bin Thariq menceritakan bahwa Imam Nafi’ berguru kepada tujuh puluh tabi’in, di antaranya adalah Imam Abu Ja’far (imam qira’at ke delapan) (w. 132 H), Syaibah bin Nashah (w. 130 H), Muslim bin Jundub (w. 106 H), Yazid bin Ruman (w. 130 H), Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhri, Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj (w. 117 H), dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak gurunya inilah Imam Nafi’ melakukan seleksi bacaan, yaitu mengambil bacaan yang sama di antara guru-gurunya, dan meninggalkan bacaan yang berbeda. Hasil dari penyeleksian inilah kemudian dijadikan kaidah tersendiri oleh Imam Nafi’, yang kemudian dikenal luas oleh para generasi berikutnya sebagai qira’at Imam Nafi’.

Imam Nafi’ tidak menaruh konsentrasi pada ilmu hadits, akan tetapi hal ini tidak lantas mengurangi kualitas Beliau sebagai ahli qira’ah. Justru dengan tidak dibebankan dengan ilmu lain, menunjukkan bahwa konsistensi Imam Nafi’ dalam mengabdikan hidupnya untuk menyelami dan mengajarkan lautan ilmu qira’ah memang sangat besar. Meski begitu, beliau sempat menulis seratus hadits Nabawi yang disepakati keshahihannya dalam seluruh Kutubus Sittah.

Sebagai ulama yang hampir seumur hidupnya dihabiskan untuk mendalami ilmu al-Quran, Beliau kerap kali mendapat perlakuan istimewa dari Rasulullah saw. Kerap kali Rasulullah hadir dalam mimpi Beliau. Dan mimpi itu membekas, menyisakan keistimewaan tersendiri di dalam kehidupan Beliau.

Keistimewaan Imam Nafi’

Imam Nafi’ merupakan ahli al-Qur’an yang memiliki beberapa keistimewaan, di antaranya: beliau memiliki bau harum yang keluar dari lisannya.

Diceritakan bahwa jika beliau berbicara, maka terciumlah aroma harum minyak misk yang keluar dari lisannya. Ketika ditanya oleh salah seorang muridnya, “Apakah Guru memakai minyak wangi jika hendak mengajar?” Beliau menjawab, “Aku tidak pernah mendekati minyak wangi apalagi menyentuhnya. Suatu saat aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan beliau membaca Al-Qur’an persis di depan lisanku. Sejak saat itulah keluar bau harum dari lisanku.”

Selain kelebihan tersebut, Imam Nafi’ juga memiliki kelebihan yang lain, yaitu wajah yang selalu berseri-seri dan budi pekerti yang luhur. Imam al-Musayyibi berkata, ketika ditanyakan kepada Imam Nafi’ tentang hal tersebut (wajahnya yang selalu berseri-seri), beliau menajawab: “Bagaimana aku tidak bahagia, sementara Rasul menyalamiku dalam mimpi dan aku membacakan al-Qur’an di hadapan Beliau”.

Murid-murid Imam Nafi’

Kealiman dan keistiqamahan yang dimiliki Imam Nafi’, mengantarkan beliau menjadi seorang maha guru yang disenangi oleh para murid-muridnya. Hal ini tandai oleh banyaknya murid beliau dari berbagai Negara seperti Mesir, Sham, Madinah dan lainnya.

Di antara murid beliau yang terkenal adalah: Imam Malik bin Anas, Imam Laits bin Sa’ad, Abi Amr bin al-Ala’, Isa bin Wardan, Sulaiman bin Muslim bin Jammaz dan kedua putra gurunya (Imam Ja’far), yaitu Ismail dan Ya’qub. Namun, di antara sekian banyak murid beliau, yang paling terkenal dan kemudian menjadi perawi Imam Nafi’ adalah Imam Qalun dan Imam Warsy.

Tidak hanya sanad al-Qur’an, murid-murid Imam Nafi’ juga banyak yang mengambil sanad hadits, di antaranya seperti Kharijah bin Mus’ib, Marwan bin Muhammad ath Thathiri, Mu’alla bin Dihyah, al Ghaz bin Qais, Khalid bin Makhlad al Qathwani, Abdullah bin Maslamah al Qa’nabi, Ubaid bin Maimun al Madani dan masih banyak lagi.

Dipanggil menghadap Tuhan

Beberapa waktu menjelang wafat, keluarga Imam Nafi’ berkumpul dikediamannya. Saat itu, Imam Nafi’ berwasiat kepada keluarganya dengan membaca ayat;

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَصْلِحُوْا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖوَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗٓ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anfal: 01)

Selain itu, Imam Nafi’ juga berwasiat: “Sungguh al-Qur’an yang agung ini diwahyukan dari Allah dzat yang Maha Agung. Janganlah kalian sibuk dengan perkara lain di saat kalian membacanya. Jangan kalian bosan membaca al-Qur’an atau kalian akan cenderung meninggalkannya. Sungguh, dahulu aku tak bosan-bosannya berulang-ulang membaca al-Quran di hadapan guruku, Abdurrahman bin Hurmuz al ‘Araj. Aku terus membaca di hadapannya sampai aku mengatakan kepadanya ‘aku cukupkan bacaanku kepadamu wahai guruku”.

Setelah mengabdikan jiwa dan raganya berkhidmah untuk Al-Qur’an, Imam Nafi’ dipanggil untuk menghadap Tuhannya pada tahun 169 H di Madinah. Imam Nafi’ wafat di usia 99 tahun dan disemayamkan di Kota Madinah.

Keterangan

Disadur dari kitab “Siyar ‘A’lam al-Nubala’” karya Imam Al-Dzhabi, juz II, hal 336; dan kitab “Makrifat al-Qurra’ al-Kibar ‘Ala Al-Tabaqat wa al-A’shar” karya Imam Al-Dzhabi juz II, hal. 64.

4