211 views

Keindahan Islam dalam Bertetangga

Keindahan Islam dalam Bertetangga | Islam datang sebagai agama yang rahmatal lil alamin, membentuk karakteristik manusia menjadi pribadi yang mulia. Islam tidak hanya memperhatikan ritual dan spiritual saja, melainkan juga membahas urusan sosial.

Manusia tidak bisa lepas dari urusan dunianya yang mengharuskan agar memiliki relasi antara sesame. Maka Islam memberi batasan-batasan agar kemanusiaan dapat terjalin baik antara sesama. Imam Al-Ghozali dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin membagi tentang hak-hak yang berkaitan dengan orang lain. Adakalanya hak bertetangga, hak kerabat, dan hak sesama Muslim.

Hak-hak kepada tetangga

Imam Ghazali membagi menjadi tiga macam tentang hak ini. Pertama, tetangga Muslim yang masih terdapat hubungan kekerabatan, maka ia mempunyai tiga hak. Kedua, tetangga yang beragama Islam, maka ia mempunyai dua hak. Dan ketiga, tetangga non-Muslim, maka ia mempunyai satu hak saja.

Rasululloh SAW. bersabda:

أَحْسِنْ مُجَاوَرَةَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا

“Berbuat baiklah kepada tetanggamu, maka engkau menjadi muslim (sempurna)” (HR. At-Tahbrani: 1057)

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Seseorang yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Imam Malik: 3434)

Rasulullah pernah ditanya tentang seseorang yang pada siang harinya berpuasa, pada malamnya sholat tahajjud, akan tetapi ia menyakiti tetangganya. Beliau menjawab bahwa orang itu masuk neraka. Ini memberikan kesimpulan bahwa tetangga menjadi jalan untuk masuk surga, begitu juga sebaliknya yakni jalan menuju neraka.

Yang Dikehendaki dengan Tetangga dan Hak-haknya

Tetangga ialah orang yang tinggal di dalam 40 rumah dari sekitar kita, yakni dari sebelah kanan, kiri, depan, dan belakang dari arah rumah kita.

Termasuk dari hak bertetangga adalah tidak menyakiti mereka, juga bersabar dan menahan etika ia berbuat keburukan kepada kita. Ramah serta berbuat baik kepadanya. Hal ini telah dicontohkan oleh Ibnul Muqoffi’ (orang Persia yang dulunya beragama Majusi kemudian masuk Islam melalui perantara Isa Bin ‘Ali), beliau memiliki tetangga yang akan menjual rumahnya disebabkan banyaknya hutang yang melilitnya, sedangkan rumah itu dimanfaatkan oleh Ibnu Muqoffi’ untuk berteduh di bawah rumah tetangganya tersebut. Beliau berkata: “Dengan kemuliaan bayang-bayang teduhan rumah ini, tidak akan saya biarkan pula rumahnya dijual hanya karena tidak punya uang untuk melunasi hutangnya.” Kemudian beliau memberi uang kepada tetangganya tersebut senilai harga rumah itu seraya berkata: “Janganlah engkau menjual rumah ini.” Begitulah sikap kepedulian orang dahulu terhadap orang disekitarnya.

Berbagai aneka ragam karakter dan sifat yang terdapat pada diri manusia dalam bergaul, tidak lepas dari orang egois, tidak bertanggung jawab dan orang-orang yang ditakuti akan keburukannya. Dalam masalah ini Imam Al-Ghazali menyampaikan:

إِذَا بُلِيَ بِذِي شَرٍّ فَيَنْبَغِي أَنْ يُجَامِلَهُ

“Ketika seseorang diuji akan keburukan orang lain, maka hendaknya ia berbuat baik kepadanya.”

Dalam al-Qur’an juga disebutkan:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ

“Balaslah keburukan orang lain dengan akhlak yang paling baik (yakni menghalusi).” (QS. Al-Mukmunun: 96)

Sumber:

Imam Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin hal. 207 juz. 02 Al-Haramain.
Muhammad Jalaluddin Al-Qosimiy, mauidhotul mu’minin, hal. 124 Al-Haramain.

Oleh: Ahmad Riza Taufiq Bag. C.02

Baca juga: Khutbah Jumat: Etika Kepada Tetangga
Tonton juga: KULIAH UMUM MA’HAD ALY bersama Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi

Keindahan Islam dalam Bertetangga

1