Bijak Memilih Bestie

Voice of Sky on Unsplash

Pada belakangan ini kerap kita mendengar “hai bestie” atau “ok bestie”, yang mana dilontarkan oleh sebagian orang pada orang lain.

Lantas sebenarnya apa itu Bestie?

Kalau coba kita teliti sebenarnya kata Bestie merupakan pengembangan dari asal kata Best friend yang memiliki arti sahabat karib, atau secara definitif adalah seseorang yang secara memiliki hubungan emosional dengan kita, dimana saat senang dan duka kita ia akan ikut merasakannya.

Dalam agama Islam memiliki bestie sangatlah dianjurkan bagi tiap muslim. Karena dengannya seseorang akan mendapat support dalam setiap aktivitas yang akan dilakukan. Lebih memiliki keberanian menghadapi realita kehidupan. Juga mendapat banyak jalan keluar dari setiap problematika kehidupan yang ia alami.

Oleh karenanya ada ungkapan (kategori yang pertama)


أَخَاكَ أَخَاكَ إِنَّ مَنْ لَا أَخَا لَهُ # كَسَاعٍ إِلَى الهَيْجَا بِغَيْرِ سِلَاحِ
Artinya: “Bestie, jagalah bestiemu karena sesungguhnya seorang tanpa bestie bagai ia yang menerjang medan perang tanpa membawa weapon (senjata)”


Selanjutnya Islam mengajarkan untuk memilih teman yang baik. Bagaimana tidak, adanya lingkungan tertentu secara spontanitas dan berkala memang mampu mempengaruhi ekosistem yang ada dilingkungan tersebut. Sebagai contoh bila seekor sapi ganas dikumpulkan bersama kerumunan sapi jinak, maka yang ganas akan berubah menjadi jinak.

Sehingga penting bagi seseorang untuk pandai dalam memilih circle pergaulan agar ia terhindar dari pergaulan toxic atau pergaulan yang negatif. Terlebih di era digitalisasi sekarang ini hendaknya pihak orang tua juga bijak dalam mengawasi serta memilih lingkungan dimana anaknya bermain.

Dalam hal ini lingkungan yang paling positif menurut kami adalah lingkungan pesantren. Karena di pesantren selain setiap harinya akan diberi pelajaran nilai-nilai agama, segala aktivitas di pesantren juga pastinya sangat positif serta dikelilingi oleh lingkungan yang positif pula. Sehingga dengan demikian karakter anak akan menjadi karakter yang saleh spiritual juga saleh sosial.

Senada dengan ungkapan Al-Ghazali dalam memilih teman
فإذا طلبت رفيقا ليكون شريكك في التعلم، وصاحبك في أمر دينك ودنيا فراع فيه خمس خصال: الأولى: العقل: فلا خير في صحبة الأحمق، فإلى الوحشة والقطيعة يرجع آخرها، وأحسن أحواله أن يضرك وهو يريد أن ينفعك، والعدو العاقل خير من الصديق الأحمق

Artinya, “Bila kau ingin mencari sahabat yang menemanimu dalam belajar, atau mencari sahabat dalam urusan agama dan dunia, maka perhatikanlah lima hal ini. Pertama, akalnya. Tiada mengandung kebaikan persahabatan dengan orang dungu. Biasanya berakhir dengan keengganan dan perpisahan. Perilaku terbaiknya menyebabkan kemudaratan untukmu, padahal dengan perilakunya dia bermaksud agar dirinya berarti untukmu. Peribahasa mengatakan, ‘Musuh yang cerdik lebih baik daripada sahabat yang dungu,’”
Yang kedua adalah etika yang baik.

الثانية: حسن الخلق: فلا تصحب من ساء خلقه، وهو الذي لا يملك نفسه عند الغضب والشهوة

Artinya, “Kedua, akhlak yang baik. Jangan bersahabat dengan orang yang berakhlak buruk, yaitu orang yang tidak sanggup menguasai diri ketika sedang marah atau berkeinginan,”

Ketiga, kesalehan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.