HomeSantri MenulisCangcut Tali Wondo

Cangcut Tali Wondo

0 1 likes 778 views share

Udara pagi masih seperti biasa. Sedikit lebih dingin, karena selain musim penghujan, daerahku termasuk perbukitan. Jika kalian main ke daerahku, ku jamin, kalian betah berminggu-minggu. Mungkin sampai berbulan-bulan. Coba saja kalian bayangkan. Di saat keadaan kota sudah tidak ‘kondusif’, di desaku tetap aman. Belum lagi udaranya yang sesak dengan kepulan asap. Tidak perlu berpikir ribuan kali untuk menancapkan kepercayaan. Jangankan hanya menitipkan kunci rumah, jabang bayi yang masih imut saja, belum pernah tuh ada kejadian dibawa kabur saat dititipkan. Keadaan di kota berbalik sekian derajat dibandingkan daerahku. Keadaan kota sudah tidak ‘aman’, mungkin ini hanya persepsiku. Tapi, begitulah yang diberitakan salah satu koran harian kota, bungkus gorengan yang tiap sore ku baca dikebun.

Meskipun desa, fasilitas desaku tidak kalah saing. Sama seperti di kota. Ada air, udara, dan tanah, sebuah ketentuan dari-Nya demi kelangsungan hidup manusia. Belum lagi mentarinya. Yang kala pagi dengan indahnya menyembul dari balik kebun ketela orang tuaku. Dan taukah kalian, saat petang datang, dia seakan berkata dari balik kolam lele di belakang rumah, “Selamat tinggal Shalehah. Sampai berjumpa besok. Karena sebentar lagi giliran bulan menemani waktu istirahat bani adam dan menyahdukan mereka yang bermunajat pada Tuhan Sang Pencipta kita.”

Hemm… Tapi harus ku akui, mungkin keindahan itu sudah tak berarti bagi penduduk kota. Mungkin juga keindahan diartikan lain oleh mereka. Karena masih menurut koran yang ku baca, pemandangan kota adalah kaki semampai tak berbungkus, pusar tersenyum dibawah t-shirt yang dipaksakan menempel badan, atau juga kemilau rambut rebonding-an. Aku tidak bisa membayangkan semua itu. Karena terus terang, sampai sekarang, saat aku yang semestinya sudah duduk dibangku kelas sembilan, jangankan pusar, rambut yang menari ke sana-kemari saja belum pernah ku perlihatkan. Meskipun jujur, masyarakat sini, termasuk aku sendiri tidak tahu apakah berjilbab sebuah tradisi orang Arab atau tidak, seperti kabar dari koran. Rasanya tidak sreg saja kalau tidak menutup kepala.

“Leha, udah sore. Pulang yuk. Bacanya dilanjutin di rumah saja.”

“Iya Kak. Kakak duluan aja. Nanggung nih…”

“Ye… Dibilangin ngeyel. Ayo… Ntar ada memedi, baru tau rasa.”

Tanpa berpikir lagi, akupun langsung jalan di belakang kakak tercintaku. Entahlah, apa maksud memedi yang tiap hari Mas Arsal bicarakan kalau aku sedikit membandel. Kalau di kota, mungkin memedi hanya jadi bahan banyolan.

Seperti biasanya, sehabis tidur siang, tepatnya setelah bayangan matahari melewati objeknya, saat di mana salat ashar masuk, aku menyusul kakak dikebun. Aku salat ashar berjamaah dengan ibu, hanya berdua. Karena ayah jamaahnya dengan kakak, di kebun. Sedang ibu memasak setelah salat, aku kebagian memanen sayuran di kebun buat esok harinya. Kebetulan tadi aku di suruh metik bayam. Setelah tugas selesai, seperti biasa, aku membaca koran bekas bungkus gorengan yang dibeli ibu tadi pagi di pasar.

Pernah aku bertanya pada ibu kenapa kalau salat keluargaku selalu berjamaah. Ibu malah menjawab, “Jadi anak muda tuh jangan banyak tanya, tidak baik. Dari dulu, orang tua ibu juga selalu berjamaah. Ibu yakin, itu lebih baik daripada salat sendirian.” Waktu itu aku langsung berpikir, kok jawaban ibu tidak nyambung.

Dan ternyata benar apa yang dikatakan ibu. Hal itu terbukti sekitar setahun yang lalu. Ketika ada kegiatan safari daerah di desa sebelah. Aku masih ingat waktu itu. Sore itu langit sedikit mendung. Kira-kira sekitar jam lima. Waktu maghrib masih lumayan lama. Sedang asyik-asyiknya baca koran, aku dikejutkan pemuda yang datang dari ujung kebun ketela. Sempat aku merinding. Karena selain wajahnya asing, tampangnya bikin hati gregetan.

“Mas, dari mana?” Mas Arsal yang ternyata juga tahu kedatangannya lebih dulu menghentikan langkah si pemuda.

Sedikit terbata-bata si pemuda menjawab pertanyaan Mas Arsal. Ku hentikan bacaanku. Karena jujur saja, aku juga penasaran dengan si pemuda. Sembari pura-pura membaca, aku fokuskan telingaku mendengar percakapan mereka.

Kalau tidak salah dengar, namanya Hasan. Meskipun masih terbilang muda, mungkin baru kelas dua belas, dia ternyata seorang ustadz. Dia berdomisili di desa sebelah, di rumah warga yang dekat dengan musholla. Katanya sih, dia diutus pondok pesantrennya menyebarkan apa yang telah dia dapatkan di pesantren. Namanya program safari ramadhan. Tidak begitu lama dia ngobrol dengan kakak. Tapi obrolan sesaat itu sangat bermanfaat bagiku. Remaja yang sedang dibakar keingintahuan dan penasaran.

Sesaat kemudian, rimbunan kebun pisang menutup punggung Kang Hasan yang sore itu terbungkus kemeja putih. Barisan pisang yang baru mulai berbuah itu terus aku pandang. Berharap kang Hasan kembali. Bukan maksud apa-apa, sekedar ingin tahu kenapa kita harus salat berjamaah.

Sudah tiga hari aku tidak keluar rumah karena hujan terus turun. Jenuh rasanya bila cuaca seperti itu. Pekerjaanku diambil alih oleh kakak. Selama tiga hari dia menggantikanku memetik sayuran. Bukannya aku malas, tapi kata ibu, daripada nanti sakit. Mending yang belanja ke pasar ayah dan yang mengambil sayuran di kebun kakak. Ah… mendengar ibu berkata seperti itu, aku jadi malu pada diriku sendiri. Karena aku masih ingat, betapa dulu aku menyangka kedua orang tuaku tidak lagi sayang sama anak gadisnya ketika mereka suruh aku memetik sayur. Ternyata benar kata seorang psikolog, yang kemarin pagi aku baca dikoran: ‘remaja cenderung semaunya, tidak berpikir dua-tiga kali sebelum bertindak.’

Kejenuhanku sebenarnya bukan karena hujan yang mengakibatkan aku tidak bisa menikmati petang dengan membaca koran di kebun. Bukan pula karena sudah tiga hari ini menjalankan puasa Ramadhan. Tapi rasanya, kejenuhanku karena satu hal. Aku ingin segera ke kampung sebelah, mengikuti kegiatan santri yang sedang safari Ramadhan.

Tuhan selalu mendengar doa hamba-Nya. Ya, aku yakin. Karena tanpa disengaja, aku bisa mengikuti ceramahnya kang Hasan. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Setelah acara selesai, ditemani Mas Arsal, kami bertiga berbincang-bincang. Dan setelah Mas Arsal menyampaikan kegelisahanku, kang Hasan memberikan jawaban yang sungguh sangat memuaskan. Tidak dapat aku rangkum kalimat darinya, terlalu panjang. Yang jelas pada intinya, serahkanlah permasalahan pada ahlinya. Tidak usah neko-neko atau banyak bertanya. Kalau tidak salah, di pesantrennya dikenal dengan istilah taklid atau mengikuti apa yang telah digariskan ulama-ulama terdahulu. Karena sungguh sangat mustahil jika harus menggali hukum langsung pada sumbernya: Alquran dan sabda Nabi Muhammad Saw.

“Tuh kan, dik… Kata kakak juga apa. Kita tinggal nurut saja dengan apa yang dilakukan ibu dan bapak. Tidak perlu tau dalil Alquran dan hadisnya. Yang penting segala aktifitas ibadah kita mengikuti ulama-ulama yang telah diakui kebenarannya, tanpa harus tahu dalilnya,” kata Mas Arsal waktu pulang dari pengajian.

*****

Kira-kira sebulan sudah udara dingin tidak kurasakan. Disamping pesantrenku bukan kawasan pegunungan, kamarku yang tidak terlalu lebar dihuni 20 orang. Kalau tidur, semuanya harus berjejer rapi. Karena kalau tidak, pasti ada yang tertindih. Dan ternyata, menurut penilaian sementaraku, tidak semuanya teman-teman disini murni ingin mencari ilmu pengetahuan, beragam niat. Malahan ada yang memilih nyantri daripada harus dinikahkan dengan orang yang tidak disukainya. “Ah, dasar orang kota!” batinku mengumpat.

Dengan suasana seperti tni, aku tidak tahu sampai berapa lama bertahan. Iya sih, sangat menentramkan jika berkumpul bareng Bu Nyai. Jangankan waktu berbincang, memandangnya saja ada rasa yang tak bisa aku lukiskan. Belum lagi ilmu yang aku terima. Baru sebulan saja, aku sudah banyak kemajuan. Sayang jika semua ini harus aku tinggalkan.

Ah, ternyata benar apa santri yang mampu menginspirasiku untuk pergi menuntut ilmu, tiga bulan lalu. “Satu hal yang harus kamu ingat jika kelak menjadi santri. Kamu harus siap ‘menderita’.”

Entahlah, apa arti menderita yang dimaksud kang Hasan. Yang jelas, aku harus siap-siap. Di samping katanya kegiatan pesantren semakin hari makin banyak, aku harus selalu siaga jika Bu Nyai sewaktu-waktu memanggilku untuk setor hafalan. Karena tahukah kalian, ternyata membaca Alquran ditemani rembulan jauh lebih nikmat daripada membaca koran bekas bungkus gorengan di kebun belakang rumahku. Pujiku hanya pada-Mu, Tuhan sang pemberi hidayah lewat perantara kang Hasan.

Penulis: Alfa RS