HomeArtikelDi Manakah Perdamaian?

Di Manakah Perdamaian?

0 0 likes 683 views share

Oleh: Radhi Rodliyuddin

Sungguh amat celaka bila semua nurani manusia seolah telah tersingkir dan ditinggalkan oleh nilai-nilai kasih sayang. Hawa nafsu yang bermuara pada kekejaman dan kebiadaban di muka bumi ini kian menggejala. Kesepakatan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan semakin luntur. Sementara itu, kemajuan teknologi yang merupakan prestasi prima karsa manusia ternyata mempunyai sifat ambivalen (bertentangan). Di satu sisi, membuahkan manfaat dan perdamaian, tapi di sisi lainnya menimbulkan banyak kerusakan, perpecahan, dan peperangan.

Sehingga tak dipungkiri nantinya akan menimbulkan semakin hilangnya fungsi moral keagamaan yang selanjutnya akan membias pada segi-segi kehidupan lainnya. Sebab, kenyataan yang tampak di tengah-tengah masyarakat era transisional sekarang ini, menunjukkan gejala yang sangat jauh dari harapan bersama. Masyarakat senantiasa dihadapkan oleh berbagai masalah yang terus timbul. Munculnya peperangan, kerusuhan, kenakalan remaja, pergaulan bebas, pengangguran, dan yang lebih memprihatikan lagi dampak akibat dari pengaruh budaya asing yang sangat negatif, yang dalam hal ini merupakan realita yang harus dipikirkan dan diatasi bersama.

Teknologi yang awaInya dipandang sebagai perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan, lama kelamaan dipandang sebagai roh jahat yang sarat dengan pertanda bencana dan penghancuran moral agama. Tidak ada jalan yang dapat ditempuh, selain mengembalikan agama sebagai satu-satunya jalan keluar guna memberikan kekuatan moral sebagai inspirator menuju tekad perdamaian dan penyejuk kehidupan. Di mana penyebab utamanya adalah moral, keimanan, dan ketakwaan yang dimiliki masyarakat kurang memadai dan menyentuh seluruh hati sanubari masyarakat. Sebagai pengakuannya, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengatakan: “Tiadanya perdamaian di kalangan umat beragama lantaran mereka tidak menganut ajaran-ajaran agama secara benar.”

Persoalannya adalah karena banyak sekali aliran-aliran yang dengan lantangnya mengibarkan bendera agama, akan tetapi -sayang- kelantangannya hanya sekedar atas nama atau bahkan hanya sebagai tempat melindungkan diri agar kebobrokan dan keculasan mereka tidak terlacak oleh masyarakat luar. Mengadakan seminar-seminar keagamaan atau apapun bentuknya semata-mata bukan untuk mengurai kekusutan dunia atau menyelesaikan problema masyarakat, melainkan untuk mencari kepuasan batin, sehingga aktivitas agama justru akan semakin memperbesar egoisme dan hedonisme terselubung. Malahan primordialisme akan bermunculan dibawah payung keagamaan yang tidak menutup kemungkinan friksi-friksi (perpecahan) bakal muncul kembali jika tidak dibenahi semenjak dini.

Semua pemeluk agama harus selalu mengingat bahwa Tuhan menurunkan agama bukan untuk memecah belah manusia dalam perkubangan darah yang mengerikan. Sebab, tak ada manusia yang menginginkan kekacauan dan kekerasan di muka bumi ini, melainkan kesejahteraan dan kebaikan adalah kehendak yang selalu diharapkan setiap insan. Dalam kaitan itu, agama Islam yang tampil dengan salam dan damai, senada dengan fitrah, ketika kesepakatan untuk menjunjung tinggi perdamaian bertambah pudar. Maka alangkah indahnya ajaran yang damai dan sejuk apabila diterapkan dan menjadi pedoman seluruh manusia pada zaman sekarang.

Namun apabila kesucian perdamain itu sendiri telah dikotori oleh kepentingan-kepentingan individualis ataupun kelompok, bahkan kecurigaan dan saling tuding dengan berbagai macam tuduhan kesesatan atau murtad, hanya dengan berbeda aliran yang tidak sepaham dan sejalan, maka keluarlah putusan “Kafir kamu! Neraka kamu!” Di situlah tujuan aliran yang semula dianggap benar sesuai tuntutan yang diemban Rasul akan tumbuh kebingungan, kerancuan, kegelisahan, dan keserakahan yang akan menghantui di setiap umat dimanapun. Karena di setiap sudut perbedaan pendapat, tertanam setan dan bala tentaranya.

Pertentangan yang menghinggapi dari berbagai aspek kehidupan di antara negara yang maju sama halnya dengan negara yang biadab. Bangsa yang memelopori dan acapkali mendewakan slogan hak-hak asasi, terbukti di dalamnya justru penuh dengan kekejian dan nafsu busuk belaka. Untuk itu, Islam harus difungsikan kembali sebagai kekuatan moral yang mampu menyuburkan aspirasi perdamaian dan penyejuk kehidupan. Islam harus tampil dengan misinya, yaitu salam dan damai sebagaimana yang telah diteladankan oleh Nabi, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang pemuka agama Hindu ternama di India, Munshi Promchand: “Tidak benar jika Islam disebarkan dengan pedang. Kalau memang ada cara-cara semacam itu dipakai untuk menyebarkan agama, maka itu tak akan hidup lama. Sebab, yang sebenarnya mengapa Islam tersiar di India, adalah lantaran sikap sewenang-wenang kaum berkasta Hindu terhadap Kaum Sudra yang tidak berkasta.” Agama Hindu, Budha, Nasrani, Islam dan agama-agama besar di dunia ini semuanya menganjurkan perdamaian, minimal atas dirinya.

Dalam Surat al Anfal ayat 16 Allah SWT. berfirman: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kalian kepadanya, dan bertakwalah kepada Tuhan. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Akan tetapi, dalam sejarah tercatat, atas nama agama kerap kali manusia mengesahkan peperangan dan tindakan-tindakan kebiadaban. Dan ironisnya, itupun sering terjadi disemua agama. Mungkinkah disamping menganjurkan perdamaian, terdapat pula ayat yang mengandung perintah perang? Sebagaimana dalam Surat al Baqarah ayat 190 yang sering dijagokan sebagai ayat jihad: “Dan perangilah dijalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampuai batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Akan tetapi, dalam ayat tersebut jelas sekali motivasi utamanya adalah untuk membela diri atau pempertahankan perdamaian.

Islam adalah agama yang damai, namun terkadang kaum muslim harus melindungi perdamaian itu dengan perang dan pedang. Maka dari itu, perdamaian dunia merupakan tugas yang amat besar dihadapi umat Islam pada zaman mutakhir ini, harus benar-benar dipikirkan dan dihayati kembali keseluruhan sistem Islam. Sebab dimungkinkan kemerosotan Islam itu sendiri akan dimanfaatkan oleh negara-negara adi kuasa yang berkepentingan, dan seakan-akan memelihara peperangan terus berkecambuk dan perdamaian terkoyak-koyak. Sebab dengan demikian, mereka akan muncul sebagai juru selamat dan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan memasarkan produksi persenjataan mereka, sekaligus sebagai uji coba.

Karena itulah, sepatutnya setiap umat manusia menyadari, terutama bagi umat Islam, bahwa jihad untuk menegakan kebenaran tidak selamanya senapan yang harus berbicara. Bahkan secara sayup-sayup namun pasti, Rasulullah SAW. mangajak segenap umat manusia untuk mengupayakan perdamaian sesuai dengan sabdanya: “Wahai segenap umat manusia, janganlah kalian berharap untuk bertemu dengan musuh. Bermohonlah kepada Allah akan kehidupan yang sejahtera.” (*)