Dimensi Sosial dalam Sholat Berjamaah

https://unsplash.com/

Dimensi Sosial dalam Sholat Berjamaah | Agama Islam adalah agama yang dilaksanakan dengan kemaslahatan pemeluknya. Kemaslahatan yang bersifat individu yang berarti berorientasi pada tauhid, sedangkan kemaslahatan yang bersifat umum mencakup syari’at yang membina kesejahteraan penganutnya.

Hal ini senada dengan yang dipaparkan dalam Kitab Hikmah At-Tasri’ bahwa “Prioritas agama Islam setelah menyampaikan cara bertauhid hablum minallah adalah mengatur bagaimana cara mencapai keadilan dan kesejahteraan pemeluknya, dengan cara melakukan ajaran-ajaran syari’at yang diperintahkan.”

Segala bentuk kemaslahatan-kemaslahatan yang berkaitan—baik kepentingan individu maupun kepentingan orang banyak—sudah tercakup dalam syari’at Islam yang tidak hanya ditempuh dengan cara muamalah, tetapi juga dapat dilakukan dengan konsep ubudiyyah, salah satunya adalah sholat.

Ajaran sholat adalah salah satu ibadah yang istimewa. Sehingga banyak pendapat ulama tasawuf mengatakan bahwa ibadah sholat adalah ibadah yang pertama dihisab kelak. Sedangkan kalau dilihat dari tujuannya, ibadah sholat adalah ibadah yang orientasinya bersifat ukhrowi, seperti yang tercantum dalam Kitab Qowaid al-Ahkam fi Masholih al-Anam.

Akan tetapi, pada realisasinya, ibadah sholat yang sifatnya berjamaah mengandung nilai-nilai sosial bermasyarakat.

Dalam disiplin ilmu fiqih disampaikan beberapa konsep-konsep sholat berjamaah yang mana secara teori tidak terlihat nilai-nilai sosial. Namun, ketika dipraktekkan dalam ruang lingkup masyarakat banyak nilai-nilai sosial yang tersirat di dalamnya.Di antara konsep-konsepnya:

baca juga: Bolehkah Berjamaah dengan Imam Berbeda Aliran?

Kebolehan orang merdeka makmum kepada budak

Hal ini mengindikasikan dan mengajarkan bahwa strata sosial tidak dipandang sama sekali dalam ibadah sholat berjamaah. Semua elemen masyarakat dianggap sama oleh syari’at karena yang dipandang adalah keadaan qolbu setiap insan.

Konsep ini sama dengan pemaparan dalam kitab Hikmah At-Tasri’ wa Falsafatuhu, bahwa perlakuan sama rata atau musawah menjadi prioritas dalam sholat berjamaah. Tidak ada perlakuan khusus terhadap orang kaya harus berada di shof awal atau menjadi imam, juga tidak ada diskriminasi kaum faqir miskin harus berada di shof yang paling belakang.

Menganjurkan untuk melakukannya di masjid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.