Isra’ Mi’raj: Memahami dan Mengerti Kewajiban Shalat yang Diperintahkan Secara Langsung

Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah spiritual yang agung, melainkan sebuah titik balik fundamental dalam syariat Islam. Di antara sekian banyak perintah agama, shalat memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena Allah SWT mewajibkannya secara langsung kepada Rasulullah ﷺ, tanpa perantara wahyu atau malaikat Jibril di bumi.

Peristiwa ini menegaskan dengan sangat jelas bahwa shalat bukan sekadar ritual, melainkan poros utama hubungan antara hamba dan Tuhannya.

Baca Juga: Menjadikan Teman sebagai Penuntun Menuju Kebaikan dan Mendekatkan Diri kepada Tuhan

Makna Isra’ dan Mi’raj

Isra’ adalah perjalanan Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam satu malam.

Sedangkan Mi’raj adalah kenaikan Rasulullah ﷺ dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha. Perjalanan yang menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai maqam yang makhluk lain tidak bisa capai .

Allah SWT berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١

Artinya :“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS. Al-Isra’: 10)

Ayat ini menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa nyata, bukan mimpi atau alegori. Tapi sebuah ke niscayaan yang perintahkan dan terabadikan di dalam Al-Qur’an sebagai bukti.

Baca Juga: Istighfar dan Taubat Nasuha: Kembali kepada Allah dengan Kesungguhan Hati

Shalat: Perintah Langsung dari Allah

Berbeda dengan kewajiban syariat lainnya yang datang melalui perantara malaikat Jibril, Perintah shalat datang langsung kepada Rasulullah ﷺ di langit, tanpa perantara.

Dalam salah satu hadits sahih mencatat:

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: فَفَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ خَمْسِين صَلَاةً، فَرَجَعْتُ بِذَلِكَ

Artinya :“Nabi ﷺ bersabda: “Maka Allah mewajibkan kepadaku lima puluh shalat, lalu aku kembali dengan ketentuan tersebut …”[¹ Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī al-Ju‘fī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, ditahkik oleh Muṣṭafā Dīb al-Bughā. hal. 1217 juz. 3]

Hadist ini menjadi bukti, bahwa perintah Shalat adalah kewajiban yang datang dengan tanpa perantara, melainkan langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad. Namun di kelanjutan hadist, dijelaskan bahwa Nabi Musa AS meminta bahwa shalat 50 waktu itu terlalu memberatkan umat nabi Muhammad dan membuat Nabi SAW meminta keringanan.

Dan kejadian Nabi meminta keringanan ini terus terjadi berulang kali hingga akhirnya Allah menetapkan Shalat 5 kali.

Hal ini menunjukkan dua makna besar:

1. Shalat adalah ibadah yang berat namun vital

2. Allah menginginkan kemudahan, bukan kesulitan, bagi hamba-Nya

Baca Juga: Pernikahan Adalah Ibadah

Mengapa Shalat Begitu Istimewa?

Keistimewaan shalat sendiri terletak pada beberapa hal:

1. Shalat adalah Mi’raj-nya orang beriman

Berbeda dengan ibadah lain, Secara Filosofis Shalat adalah ibadah yang menghadapkan seorang hamba kepada sang penciptanya. Sebagaimana Rasulullah ﷺ naik menghadap Allah melalui Mi’raj, seorang mukmin pun “menghadap” Allah melalui shalatnya.

2. Shalat menjadi tolok ukur keimanan

Rasulullah ﷺ bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ.

Artinya :“Rasulullah ﷺ bersabda: “Tanda pembeda (perjanjian) antara kita (kaum Muslimin) dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Maka siapa pun yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah melakukan kekufuran.”[² Abū ‘Īsā Muḥammad bin ‘Īsā at-Tirmiżī, al-Jāmi‘ al-Kabīr (Sunan at-Tirmiżī), ditahkik dan ditakhrij oleh Basyyār ‘Awwād Ma‘rūf. 365. juz. 4]

Hadist ini menjelaskan bahwa shalat bukan ibadah pelengkap, tetapi penentu identitas keislaman seorang Muslim. Dan ketika kita melupakan dasar seorang muslim, Yakni Shalat. Apa yang bisa kita buktikan ketika kita mengaku seorang muslim?

3. Shalat menjadi amalan pertama yang dihisab

Rasulullah ﷺ bersabda:

 إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

Artinya :“Sesungguhnya amal pertama yang akan diperiksa (dihisab) dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik dan benar, maka sungguh ia beruntung dan berhasil. Jika shalatnya rusak, maka sungguh ia gagal dan merugi.”[³ Abū ‘Īsā Muḥammad bin ‘Īsā at-Tirmiżī, al-Jāmi‘ al-Kabīr (Sunan at-Tirmiżī), ditahkik dan ditakhrij oleh Basyyār ‘Awwād Ma‘rūf. hal. 437 juz. 1]

Baca Juga: Mensyukuri Hujan sebagai Rahmat dari Yang Maha Kuasa

Pesan Spiritual Isra’ Mi’raj

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa:Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa:

  • Shalat adalah sarana komunikasi langsung antara makhluk dan Khaliq
  • Kedekatan dengan Allah tidak dicapai dengan fisik semata, tetapi dengan ketaatan

Baca Juga: Shalat Rawatib: Jumlah, Keutamaan, dan Tata Caranya

Penutup

Isra’ Mi’raj bukan hanya peristiwa sejarah yang kita peringati setiap tahun tanpa memahaminya, melainkan peringatan abadi tentang betapa agungnya shalat. Jika shalat Allah wajibkan langsung di langit, maka meremehkan Shalat adalah bentuk kelalaian besar, dan menjaganya adalah tanda kesadaran iman yang hidup.

Shalat bukan beban, tetapi jalan pulang. Tempat seorang hamba kembali menata dirinya di hadapan Tuhan.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses