Tag Archives: shalat

TATA CARA SHALAT JENAZAH SEKALIGUS DOA & ARTINYA LENGKAP

Tata Cara Shalat Jenazah | lirboyo.net
Pulasara atau merawat mayit mulai dari memandikan, mengkafani, menshalati hingga mengubur masing-masing adalah fardlu kifayah hukumnya. Akan menjadi gugur kefarduan itu jika sudah ada seseorang yang melaksanakannya.
Sehingga sangat penting diadakan edukasi tentang hal ini di tengah masyarakat. Meski telah dibentuk perangkat daerah yang khusus menangani masalah jenazah, namun tak menutup kemungkinan dalam sebagian kasus tidak ditemui perangkat yang menangani. Sehingga mau tidak mau orang di sekitar mayit lah yang terbebani kewajiban untuk merawatnya.

Kali ini kita akan berfokus pada pelaksanaan shalat jenazah saja yang dalam praktiknya, terkadang masih banyak yang merasa kebingungan dengan tata caranya. Selain mengingat shalat tersebut tidak setiap hari kita lakukan kaifiyahnya pun memiliki perbedaan dengan shalat secara umum, yang tidak ada adzan dan iqamat, tidak ada rukuk dan sujud.
Mengenai salat jenazah, sebagian ulama mengatakan bahwa salat ini hanya dimiliki umat Nabi Muhammad saw. Artinya umat-umat nabi sebelum beliau bisa jadi belum disyariatkan untuk mendirikan salat jenazah. Inilah salah satu keistimewaan menjadi umat beliau.
Sebelum melaksanakan shalat, terlebih dahulu harus dipastikan bahwa mayit sudah dimandikan.

Posisi Imam Shalat Jenazah

Apabila jenazah ada di lokasi pelaksanaan shalat (hadir), posisi berdirinya imam tergantung jenis kelamin mayit. Jika mayit laki-laki, maka posisi imam berada sejajar dengan kepala mayit. Sedangkan jika mayit perempuan, posisi imam sejajar dengan pinggang.
Sedang jika mayit tidak di lokasi (ghaib) maka tidak ada ketentuan seperti saat mayit ada di lokasi pelaksanaan solat sebagaimana di atas.

Rukun Shalat Jenazah

Rukun mendirikan shalat jenazah ada tujuh, yang merupakan satu kesatuan dan harus dilaksanakan secara berurutan. Jika tidak maka hukum shalat yang didirikan tidak sah.

1. Niat

Niat dalam shalat jenazah tidak berbeda dengan niat shalat fardlu, ringkasnya lafal niat shalat jenazah sebagaimana berikut :

Bacaan Niat Shalat Jenazah Laki-laki

اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ إِمَامًا| مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Latin: Usholli ‘ala hadzal mayyiti arba’a takbirotin fardho kifayatin imaman/ma’muman lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya niat sholat atas jenazah ini empat kali takbir fardu kifayah, sebagai imam/makmum hanya karena Allah Ta’ala.

Bacaan Niat Shalat Jenazah Perempuan

اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ اِمَامًا| مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Latin: Usholli ‘ala hadzihil mayyitati arba’a takbirotin fardho kifayatin imaman/ma’muman lillahi ta’ala
Artinya: “Saya niat shalat atas jenazah perempuan ini empat kali takbir fardu kifayah, sebagai imam/makmum hanya karena Allah Ta’ala.”

Bacaan Niat Shalat Ghaib

Jenazah Laki-laki

أُصَلِّيْ عَلَى المَيِّتِ الغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلهِ تَعَالَى

Latin : Ushalli ‘alāl mayyitil ghā’ibi arba‘a takbīrātin fardha kifāyatin lillāhi ta‘ālā.
Artinya : “Aku menyengaja shalat jenazah gaib empat takbir fardhu kifayah karena Allah SWT.”

Jenazah Perempuan

أُصَلِّيْ عَلَى المَيِّتًةِ الغَائِبَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلهِ تَعَالَى

Latin : Ushalli ‘alāl mayyitatil ghā’ibati arba‘a takbīrātin fardha kifāyatin lillāhi ta‘ālā.
Artinya : “Aku menyengaja shalat jenazah gaib empat takbir fardhu kifayah karena Allah SWT.”

Atau bagi makmum, lebih mudah lagi dengan niat seperti ini :

أُصَلِّيْ عَلَى مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ الْإِمَامُ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلّهِ تَعَالَى

Lafal niat yang terakhir ini mutlak. Bisa digunakan untuk mayit laki-laki maupun perempuan, dengan mayit hadir maupun ghaib.

2. Berdiri bagi yang mampu.

Bisa dengan duduk dan turun lagi pada posisi yang dikuasai bagi yang tidak mampu. Hendaknya, makmum membagi barisannya menjadi tiga shaf, mengingat Nabi saw. pernah bersabda :

مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ ثَلَاثَةُ صُفُوفٍ فَقَدْ أَوْجَبَ

Artinya: “Barangsiapa yang dishalatkan tiga shaf, maka dia wajib (mendapatkan surga) “. (HR: Tirmidzy, no. 1028)

3. Takbir 4 kali

4. Membaca Al-Fatihah setelah takbir pertama (Takbiratul Ihram)

Sunnah membaca doa Iftitah sebelum Al-Fatihah jika kondisi mayit tidak dikhawatirkan akan membusuk.

5. Membaca Shalawat setelah takbir kedua

Minimalnya membaca shalawat sebagaimana berikut :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعاَلَمِيْنَ

Lebih sempurnanya membaca shalawat Ibrahimiyyah :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعاَلَمِيْنَ للَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Latin : Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa muhammaddin wa ‘alaa aali sayyidinaa muhammad, kamaa shallaita ‘alaa sayyidinaa ibraahim wa’ala aali sayyidinaa ibraahim, wa baarik ‘alaa sayyidinaa muhammad, wa ‘alaa aali sayyidinaa muhammad, kamaa baarokta ‘alaa aali sayyidinaa ibraahim, wa’ala aali sayyidinaa ibraahim fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid
Artinya, “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan untuk Nabi Muhammad. Dan juga limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat dan keselamatan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Di seluruh alam semesta, sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Maha Agung.”

6. Mendoakan Mayit Setelah Takbir Ketiga

Minimalnya doa terhadap mayit seperti di bawah ini :

Jenazah Laki-laki

اَللَّهُمَّ اغُفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

Jenazah Perempuan

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَأ وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا

Jika menghendaki lebih panjang bisa menggunakan doa seperti berikut :

Jenazah Laki-laki

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِلْمَاءِ وَالشَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْاَبْيَضُ مِنَ الدَّ نَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارً اخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَادْخِلْهُ الجَنَّةَ وَاعِذْهُ مِنْ عَدَابِ الْقَبرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Latin :”Allahummaghfir Lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Aa’fu ‘anhu Wakrim Nuzulahu Wa Wassi’ Madkhalahu, Waghsilhu Bil Maa i Wats-tsalji Walbarodi Wa Naqqihii Minal khathaa Ya Kamaa Yunaqqats-Tsawbul Abyadhu Minad Danas. Wa Abdilhu Daaran khairan Min Daarihii Wa Ahlan Khairan Min Ahlihii Wa Zawjan Khairan Min Zawjihi, Wa Adkhilhul Jannata Wa A ‘Idzhu Min ‘Adzaabil Qobri Wa Fitnatihi Wa Min ‘Adzaabin Naar.

Jenazah Perempuan

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهِاَ وَاعْفُ عَنْهاَ وَاكْرِمْ نُزُلَهَا وَوَسِّعْ مَدْخَلَهاَ وَاغْسِلْهَا بِلْمَاءِ وَالشَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْاَبْيَضُ مِنَ الدَّ نَسِ وَابْدِلْهاَ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهاَ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهاَ وَادْخِلْهاَ الجَنَّةَ وَاعِذْهَا مِنْ عَدَابِ الْقَبرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Latin : Allahummaghfir Lahaa Warhamhaa Wa ‘Aafiha Wa’fu ‘anhaa Wakrim Nuzulahaa Wa Wassi’ Madkhalahaa, Waghsilhaa Bil Maa i Wats-tsalji Walbarodi Wa Naqqihaa Minal khathaaya Kamaa Yunaqqats-Tsawbul Abyadhu Minad Danas. Wa Abdilhaa Daaran khairan Min Daarihaa Wa Ahlan Khairan Min Ahlihaa Wa Zawjan Khairan Min Zawjihaa, Wa Adkhilhal Jannata Wa A ‘Idzhaa Min ‘Adzaabil Qobri Wa Fitnatihi Wa Min ‘Adzaabin Naar.

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah, lepaskanlah kedua orang tuaku. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, bersihkanlah kedua orang tuaku dengan air yang jernih dan sejuk, dan bersihkanlah kedua orang tuaku dari segala kesalahan seperti baju putih yang bersih dari kotoran. Dan gantilah tempat tinggalnya dengan tempat tinggal yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkannya juga. Masukkanlah kedua orang tuaku ke surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnahnya, dan siksa api neraka.”

7. Salam Setelah Takbir Keempat

Sebelum salam disunnahkan membaca doa berikut:

Mayit Laki-laki:

اللّـٰهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ

Latin : “Allahumma laa tahrimna ajrahu wa laa taftinna ba’dahuu waghfir lanaa wa lahuu.
Artinya: “Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan beri fitnah (cobaan) bagi kami sepeninggalnya. Ampunilah kami dan ampunilah dia.

Mayit perempuan

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهَا وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهَا

Latin : Allaahumma laa tahrimnaa ajrahaa wa la taftinna ba’dahaa waghfir lanaa wa lahaa.

Artinya: “Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan beri fitnah (cobaan) bagi kami sepeninggalnya. Ampunilah kami dan ampunilah dia.”

Kemudian salam ke arah kanan dan kiri dengan posisi masih berdiri dengan lafal salam yang lengkap
“Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.” []

# Tata Cara Shalat Jenazah
# Tata Cara Shalat Jenazah

Baca juga:
MEMBALIK POSISI JENAZAH KETIKA DISALATI

Simak juga:
Rahasia Sukses Dunia & Akhirat

# Tata Cara Shalat Jenazah
# Tata Cara Shalat Jenazah

Kapan saja Disunahkan Membaca Qunut dalam Shalat

Kapan Saja Disunahkan Membaca Qunut dalam Shalat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya Azizah, ingin bertanya tentang pada waktu kapan saja disunahkan membaca do’a qunut pada waktu sholat?

Admin| Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Do’a Qunut merupakan bacaan yang senantiasa dilakukan Nabi Muhammad SAW ketika beliau melaksanakan sholat shubuh. Namun, do’a qunut juga dianjurkan dibaca selain shalat subuh, yaitu ketika terjadi sebuah tragedi besar yang menimpa manusia.

Qunut ini dinamakan sebagai qunut nazilah atau qunut petaka. Ketika terjadi sebuah bencana, qunut ini sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk dibaca. Hal ini sebagai wujud rasa kepedulian seorang Muslim kepada saudara seiman ketika sedang ditimpa musibah.

Namun perlu digaris bawahi bahwa bacaan qunut nazilah ini hanya dapat dikerjakan ketika melaksanakan ibadah sholat fardlu saja, tidak pada shaat sunnah.

baca juga: Mengusap Wajah Setelah Qunut
baca juga: Instruksi Qunut Nazilah Untuk Palestina
baca juga: Instruksi Qunut Nazilah Dan Hizib Nashar

Keterangan demikian bisa ditemukan dalam kitab Muhadzzab karya dari imam Abu Ishaq Ibrohim bin ‘Aly bin Yusuf As-Syairozi yang kemudian dikupas secara terperinci dalam kitab Al-Majmu’ Syarkh Muhadzzab sebagaimana berikut:

وَأَمَّا غَيْرُ الصُّبْحِ مِنْ الْفَرَائِضِ فَلَا يُقْنَتُ فيه من غير حاجة فان نزلت بالمسملين نَازِلَةٌ قَنَتُوا فِي جَمِيعِ الْفَرَائِضِ لِمَا رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَقْنُتُ إلَّا أَنْ يَدْعُوَ لِأَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ عَلَى أحد كَانَ إذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمْدَهُ قَالَ ربنا لك الحمد وذكر الدعاء

“Membaca do’a qunut tidak dianjurkan diselain sholat shubuh tanpa ada alasan tertentu, namun disaat terjadi sebuah musibah yang dihadapi oleh orang-orang Muslim, maka dianjurkan untuk membaca do’a qunut dalam semua sholat fardlu sebagaimana riwayat yang berasal dari sahabat Abu Hurairah”

tonton juga: Rahasia Sukses Dunia & Akhirat | KH. Abdullah Kafabihi Mahrus
tonton juga: Prasangka Buruk Salah Satu Penyebab Su’ul khatimah

Kapan Disunahkan Membaca Qunut dalam Shalat
Kapan Disunahkan Membaca Qunut dalam Shalat

Membangunkan Orang yang Belum Salat

Membangunkan Orang yang Belum Salat

Assalamu’alaikum wr. wb.

Admin yang saya hormati, saya ingin menanyakan tentang kewajiban salat seseorang yang tidur sebelum melaksanakannya, apakah kita yang sedang terjaga wajib membangunkannya?
Sekian, terima kasih.

Fajar, Madiun.

Admin – Wa’alaikumsalam wr. wb.

Memang sering kita jumpai hal semacam ini, teman atau siapa pun yang tidur sebelum melaksanakan salat. Pada dasarnya, orang yang tengah tidur termasuk orang yang tidak terkena taklif (tuntuntan) untuk mengerjakan kewajiban dari syariat yang dibebankan kepadanya.

Kalau kita perinci, tidurnya orang yang belum melaksanakan salat ada dua kemungkinan, pertama dia tidur saat waktu salat telah masuk, kedua sebaliknya. Dan kedua kondisi ini memiliki porsi hukum yang berbeda dari kalangan ulama, selain juga ada beberapa kondisi lainnya yang menjadi pertimbangan.


وَأَمّا إِيْقَاظٌ النَّائِمِ الّذِيْ لَمْ يُصَلِّي فَالْأَوْلَ وَهُوَ الْذِي نَامَ بَعْدَ الْوُجُوْبِ يَجِبٌ إِيْقَاظُهٌ مِنْ بِابِ النَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأَمَّا الَّذِي نَامَ قَبْلَ الْوَقْتِ فَلَا لِأنَّ التَّكْلِيْفَ لَمْ يَتَعَلَّقْ بِهِ لَكِنْ إِذَا لم يُخْشَ عَلَيْهِ ضَرَرٌ فَالْأَوْلَى إِيْقَاظُهُ لِيَنَالَ الصَّلَاةَ فِى الْوَقْتِ.

Membangunkan orang sedang tidur yang belum melaksanakan salat (maka ada dua kondisi) yang pertama yakni orang tidur setelah masuknya waktu, maka membangunkannya itu wajib dalam rangka nahi munkar.

Kondisi kedua yakni orang tidur sebelum masuk waktu, maka tidaklah wajib untuk membangunkannya. Sebab taklif untuk menjalankan kewajiban syariat terlepas darinya. Tetapi jika tidak dikhawatirkan akan terjadi dlarar (hal yang tidak diinginkan), maka sebaiknya dibangunkan,agar salat bisa didirikan di dalam waktunya.”

Perinciaan:

Jika seseorang tidur sebelum masuk waktu, maka sunah dibangunkan. Sedangkan ketika tidurnya setelah waktu salat tiba, bagi kita yang mengetahui tidurnya setelah masuk waktu, wajib membangunkannya. Dengan catatan, tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan saat membangunkan. Entah menimpa diri kita maupun orang yang kita bangunkan.

Hukum sunah akan menjadi lebih ditekankan jaka mengingat waktu yang tersisa untuk mendirikan salat sudah hampir habis.

(تنبيه) يُسَنُّ إِيْقَاظُ النَّائِمِيْنَ لِلصَّلَاةِ لاَسِيَمَا عِنْدَ ضَيْقِ وَقْتِهَا فَإِنْ عَصَى بِنَوْمِهِ وَجَبَ عَلَى مَنْ عَلِمَ بِحَالِهِ إِيْقَاظُهُ

“Disunahkan membangunkan orang yang tidur untuk mendirikan salat, terlebih ketika waktu hampir habis, sedang jika orang tersebut tidur dalam keadaan maksiat (tidur setelah masuk waktu), maka bagi yang mengetahui status kemaksiatannya wajib membangukan.”

Sekian, allahu a’lam.[]

Simak juga: Keutamaan Membaca Dalailul Khoirot | KH. Ahmad Idris Marzuqi
Baca juga: Hukum Tidur di Masjid

Mengusap Wajah Setelah Qunut

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ketika selesai melantunkan doa Qunut, sering kali sebagian orang mengusap wajah dengan kedua tangannya dan ada pula yang tidak melakukannya. Sebenarnya bagaimana yang sebaiknya kita lakukan? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 (Husnul M.- Tuban, Jawa Timur)

______________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Salah satu perkara yang sering dilakukan sebagian masyarakat adalah mengusap wajah setelah melaksanakan doa Qunut. Pada dasarnya, hal tersebut tidak disunahkan. Maka maklum saja ketika sebagian masyarakat yang lain tidak melakukannya. Sebagaimana penjelasan Sayyid Bakr Syato ad-Dimyati dalam kitabnya yang berjudul I’anah At-Thalibin berikut:

وَلَا يُسَنُّ مَسْحُ الْوَجْهِ وَغَيْرِهِ بَعْدَ الْقُنُوْتِ بَلْ قَالَ جَمْعٌ: يُكْرَهُ مَسْحُ نَحْوِ الصَّدْرِ.

Tidak disunnahkan mengusap wajah atau selainnya setelah doa Qunut. Bahkan para ulama lain mengatakan makruh untuk mengusap dada atau sesamanya.”[1]

Senada dengan penjelasan tersebut, dalam redaksi lain juga dijelaskan:

لَا يُشْرَعُ مَسْحُ الْوَجْهِ أَوِ الصَّدْرِ بِالْيَدَيْنِ بَعْدَ الْقُنُوْتِ لِعَدَمِ الدَّلِيْلِ عَلَى ذَلِكَ، قَالَ الْبَيْهَقِيُّ فِيْ سُنَنِهِ : فَأَمَّا مَسْحُ الْيَدَيْنِ بِالْوَجْهِ عِنْدَ الْفِرَاغِ مِنَ الدُّعَاءِ فَلَسْتُ أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ فِيْ دُعَاءِ الْقُنُوْتِ

Tidak disyariatkan mengusap wajah atau dada menggunakan kedua tangan setelah doa Qunut, karena tidak ada dalil yang mendasarinya. Imam Al-Baihaqi berkata dalam kitab Sunan Al-Baihaqi: Adapun mengusapkan kedua tangan pada wajah setelah merampung bacaan doa, maka aku tidak menemukan satu pun dari ulama salaf (yang melakukannya) dalam doa Qunut.”[2]

Apabila sudah terlanjur melakukan, itu tidak menjadi persoalan. Karena tidak berpengaruh terhadap keabsahan salat yang ia lakukan. Bahkan imam An-Nawawi menjelaskan sebagian ulama pengikut Madzhab Syafi’i ada yang tetap menganjurkan untuk tetap mengusap wajah setelah doa Qunut.[3] []waAllu a’lam


[1] Hasyiyah I’anah At-Thalibin, I hal. 186

[2] Shahih Fiqh As-Sunnah Wa Adillatuhu, vol. I hal. 393

[3] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, vol. III hal. 501

Hukum Salat Ketika Terjadi Tsunami

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Akhir-akhir ini, Indonesia sedang dilanda bencana alam. Bagaimana ketika di tengah pelaksanaan salat terjadi bencana alam semisal tsunami, gempa bumi, atau yang lainnya. Apakah yang harus kita lakukan, melanjutkan salat atau boleh memutusnya? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Ridwan– Makasar)

___________________

Admin-

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Ketika seseorang telah masuk dalam salat, ia memiliki kewajiban untuk menyelasaikan salatnya hingga selesai. Namun apabila di tengah-tengah shalat terjadi bahaya yang dapat mengancam jiwa ataupun hartanya, maka diperbolehkan baginya menghindar ataupun lari dari bahaya tersebut. Adapun halat yang ia lakukan tetap harus dilanjutkan dengan cara salat Syiddatul Khauf, yaitu salat dengan semampunya, meskipun dengan cara berlari atau sesamanya.

Dalam kitabnya yang berjudul Nihayah az-Zain, syekh Nawawi Banten pernah menjelaskan:

وَمِثْلُ شِدَّةِ الْخَوْفِ فِي ذَلِكَ دَفْعُ الصَّائِلِ وَالْفِرَارِ مِنْ سَبُعٍ أَو نَارٍ أَو عَدُوٍّ أَوْ سَيْلٍ أَو نَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا يُبَاحُ الْفِرَارُ مِنْهُ لَكِنْ إِنْ أَمِنَ فِي أَثْنَائِهَا وَجَبَ عَلَيْهِ الِاسْتِقْبَالُ وَلَا يَعُوْدُ إِلَى مَكَانِهِ الْأَوَّلِ بَلْ يُتِمُّهَا فِي الْمَكَانِ الَّذِي انْتَهَى سَيْرُهُ إِلَيْهِ وَمِثْلُ ذَلِكَ مَنْ خُطِفَ مَتَاعُهُ أَو شَرَدَتْ دَابَّتُهُ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَلهُ السَّعْيُ خَلْفَ ذَلِكَ لِتَحْصِيْلِهِ وَكَمَا يُبَاحُ لِهَؤُلَاءِ تَرْكُ الِاسْتِقْبَالِ يُغْتَفَرُ لَهُمُ الْأَفْعَالُ الْكَثِيرَةُ إِذَا اقْتَصَرُوْا عَلَى قَدْرِ الْحَاجَةِ

Sama dengan salat Syiddatul Khauf dalam hal tersebut (tidak menghadap kiblat) ialah membela diri dari penjahat, lari dari serangan binatang buas, bencana banjir atau sesamanya yang tergolong bencana yang diperbolehkan untuk lari dari bencana tersebut. Namun apabila di tengah pelaksanaan salat ia merasa aman atas dirinya, maka ia berkewajiban menghadap kiblat dan tidak diperbolehkan kembali ke tempat semula, melainkan ia melanjutkan salatnya di ambang batas pelariannya. Sama dengan permasalahan tersebut, ialah ketika hartanya dirampas atau hewan tunggangannya kabur. Maka boleh bagi pemiliknya yang tengah melaksanakan salat untuk lari mengejarnya demi menyelamatkan hartanya tersebut. Selain kebolehan untuk tidak menghadap kiblat, keadaan seseorang yang seperti itu boleh melakukan banyak gerakan (di luar gerakan salat), selama gerakan tersebut masih sesuai kedar kebutuhannya.”[1]

Dari penjelasan syekh Nawawi Banten tersebut dapat disimpulkan bahwa seseorang yang salat kemudian di tengah pelaksanaan salatnya terjadi bencana yang dapat mengancam jiwanya, maka diperbolehkan baginya tetap melanjutkan salat dengan cara berlari untuk menyelamatkan diri. Selain itu ia mendapatkan dispensasi atas perkara-perkara yang ada dalam keadaan darurat, seperti tidak menghadap kiblat atau banyak gerakan di luar gerakan shalat.

[]waAllahu a’lam

 

[1] Nihayah az-Zain, hal. 53, CD Maktabah Syamilah