Tidak semua manusia berada pada tingkat keimanan yang sama. Ada yang kuat imannya, ada pula yang masih lemah dan mudah terpengaruh keadaan sekitar. Dalam salah satu dawuhnya, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menjelaskan bahwa manusia secara umum dapat dibagi menjadi dua: dho‘iful iman (orang yang lemah imannya) dan qowiyyul iman (orang yang kuat imannya).
Beliau memberikan dawuh:
“Orang itu dibagi menjadi dua, satu dhoiful iman, dua qowiyul iman. Kalau dhoiful iman itu karena ilmunya masih minim. Ini bilamana tidak bertempat di komunitas orang baik, maka dia menjadi buruk.”
Baca juga: Tradisi Keluarga Bani KH. Abdul Karim Menyikapi Para Santri
Dawuh ini menunjukkan bahwa lemahnya iman sering kali bukan karena seseorang tidak ingin baik, melainkan karena kurangnya ilmu dan lingkungan yang tidak mendukung. Iman yang lemah sangat mudah dipengaruhi suasana dan lingkungan sekitar.
Mondok untuk Menyelamatkan Iman
Beliau kemudian dawuh:
“Jadi kalau orang itu imannya lemah, maka orang harus mondok supaya menjadi baik.”
Kalimat ini sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Pesantren bukan hanya tempat belajar kitab atau menghafal pelajaran agama. Pesantren adalah lingkungan pembentuk jiwa. Di dalamnya seseorang dibiasakan hidup bersama orang-orang saleh, disiplin ibadah, menjaga adab, serta dibimbing agar dekat kepada Allah.
Baca juga: Makna Kebaikan yang Tidak Istiqomah Menurut Imam Ghazali
KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus juga menyampaikan kutipan dari ayat Al Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Beliau juga memberikan arti sebagaimana berikut:
“Wahai orang-orang yang beriman. Supaya kamu takut kepada Allah. Dan beradalah kalian bersama orang-orang yang baik, orang-orang yang jujur, orang yang takwa.”
Baca juga: Sifat Lemah Lembut sebagai Tanda Rahmat Allah
Ayat ini menjadi dasar penting dalam dunia tasawuf dan pendidikan ruhani. Menurut dawuh beliau, para ulama sufi zaman dahulu menjadikan ayat tersebut sebagai landasan untuk mendirikan ribat atau rubath, yaitu tempat pembinaan spiritual yang mirip dengan pesantren pada masa sekarang.
“Ayat ini dibuat dasar oleh orang-orang sufi. Sehingga orang sufi zaman dahulu mendirikan rubat atau ribat, ya. Seperti pondok pesantren. Jadi kalau orang itu imannya lemah, maka orang harus dipesantren supaya menjadi baik.”
Maka hal ini juga menjadi penanda bahwa orang akan mengikuti perkumpulannya. Ibaratnya jika temannya menuju masjid, ia akan ikut ke masjid. Jika temannya gemar maksiat, ia pun mudah terseret pada maksiat.
Mondok adalah Suluk Menuju Akhirat
Dalam dawuh berikutnya, beliau menjelaskan:
“Orang dipesantren itu, orang ngaji itu berarti suluk fil akhirat. Menghadapi akhirat. Menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”
Mondok bukan sekadar mencari ijazah, gelar, atau kemampuan berbicara agama. Hakikat mondok adalah suluk, yaitu perjalanan ruhani menuju Allah dan persiapan menghadapi akhirat.
Baca juga: Merawat Pakaian, Sandal, dan Kitab di Pesantren
Karena itu para ulama dahulu rela meninggalkan kampung halamannya bertahun-tahun demi mencari ilmu dan tinggal bersama guru-guru saleh. Mereka memahami bahwa ilmu tanpa pembinaan jiwa sering kali hanya melahirkan kepintaran, tetapi belum tentu melahirkan ketakwaan.
Taubat Adalah Pintu Awal Perjalanan
Beliau menutup dawuhnya dengan penjelasan penting:
“Dan orang menghadapi kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ini syaratnya harus taubat.”
Taubat adalah gerbang awal menuju Allah. Tidak ada perjalanan spiritual tanpa taubat. Sebab hati yang penuh dosa sulit menerima cahaya ilmu dan hidayah.
Karena itu kehidupan pesantren selalu dekat dengan istighfar, wirid, mujahadah, dan pembinaan akhlak. Semua itu bukan sekadar tradisi, melainkan cara membersihkan hati agar siap menerima ilmu yang bermanfaat.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
