Dalam salah satu mau‘izhah dalam acara SIBES MHM, Romo KH. M. Anwar Manshur menyampaikan wejangan mendalam tentang amanah mengajar, warisan keilmuan pesantren, dan pentingnya mempertahankan mazīyah (keistimewaan) Lirboyo. Dawuh beliau penuh keikhlasan dan ketawadhuan—nilai inti yang menjadi nafas pesantren sejak era Mbah Sepuh.
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Santri dan Kiai, Penjaga Negeri Indonesia
Beliau membuka dengan permohonan yang sarat makna:
“Saya mohon kepada kalian, ini merupakan tugas yang berat, saya minta keikhlasannya. ilmu yang sudah dicapai diminta untuk disampaikan kepada orang lain, kalian ikut membantu membimbing santri-santri mbah sepuh.”
Dawuh ini menegaskan bahwa mengajar bukan sekadar kewajiban, tetapi amanah yang menuntut kelapangan dada. Ilmu tidak boleh berhenti di diri sendiri; ia harus mengalir kepada generasi berikutnya sebagai bentuk khidmah kepada pesantren dan Mbah Sepuh.
Mengajar dan Pendidikan Harus Bersama-sama
Beliau menambahkan:
“Pendidikan itu sangat berat dan tidak bisa dilakukan oleh satu orang harus dilakukan bersama-sama.”
Baca juga: Agus Abdul Mu’id Shohib: Sholawat kepada Nabi Muhammad
Inilah konsep takaful tarbawi—pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Tidak ada satu tokoh yang bisa memikul semuanya sendiri. Pesantren besar berdiri karena kerja sama hati dan jiwa para pengasuh, asatidz, dan santri.
Romo KH. Anwar kemudian menyampaikan tentang identitas khas Lirboyo:
“Lirboyo itu yang dikenal adalah Alfiyah dan Qoidahnya, tahun 60-an teman saya menjadi pengurus di pondok lain tetapi saat di Lirboyo hanya masuk kelas 4 pelajarannya Tashrifan.”
Baca juga: KH. Nurul Huda Ahmad: Barokah Ikhtiar Santri dan Kedalaman Tikror
Maziyah Lirboyo memang terletak pada ketekunan ilmu alat: Alfiyah, Jurumiyah, dan Tashrifan. Di tempat lain seseorang sudah dianggap tinggi. Tetapi di Lirboyo ia kembali merendah dan belajar dari dasar lagi. Ini menunjukkan kedalaman metodologi, bukan kekurangan.
Maziyah Pondok Lirboyo
Beliau menegaskan lagi:
“Maziyahnya lirboyo itu harus kita pertahankan itu merupakan ilmunya Mbah Sepuh dan itu ahline Mbah Sepuh.”
Maziyah bukan sekadar kebiasaan, tetapi warisan. Menjaganya berarti menghormati sanad ilmu yang Mbah Sepuh dan para pendiri bawa.
Baca juga: KH. Anwar Manshur: Mendidik, Bukan Sekedar Mengajar
Romo mencontohkan ketawadhuan ulama terdahulu:
“Mbah Anwar cucunya Kiyai Kholil menempati serambi selatan, ikut mengaji selama sebulan kepada Mbah Karim, beliau itu sudah Kiyai, hanya karena mencari tashrifan dan alfiyah beliau ikut mengaji. jika itu baik, kitabnya juga baik itulah yang dipertahankan.”
Seorang kiai besar masih merasa perlu mengaji dasar. Inilah akhlak ilmiah para ulama: tidak merasa sudah selesai. Jika kitabnya baik dan sanadnya mapan, maka ia patut dipertahankan turun-temurun.
Kemudian beliau menyampaikan rasa syukurnya:
“Yang sangat penting sekali adalah saya bersyukur kepada Allah SWT sekarang saya bisa ikut mengajar di Lirboyo, semoga dipilih diharapkan Allah menjadi orang yang baik. Yufaqqihu fiddin.”
Baca juga: Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf: Saya itu Santri Lirboyo
Ini adalah puncak kerendahan hati. Seorang kiai sepuh yang ilmunya sudah sangat luas masih menyebut mengajar sebagai karunia dan seleksi dari Allah.
Beliau meneruskan nasihatnya:
“Banyak orang yang mondok tetapi tidak mengajar, ini yang berkehendak adalah Allah SWT. kalian pulang kerumah mencari lima orang akan kesulitan, disini murid yang menunggu begitu banyak, kalian harus bersyukur telah dilatih mendidik anak kecil.”
Baca juga: Agus Abdul Mu’id Shohib: Kisah Anak Kecil dan Dua Bata Merah
Mengajar adalah anugerah. Tidak semua santri mendapatkan kesempatan seperti itu. Pesan beliau: jangan remehkan murid kecil—karena justru lewat mereka Allah melatih kesabaran dan keikhlasan seorang calon pendidik.
Dan dawuh ini disampaikan secara jelas dalam momentum resmi: Romo KH. M. Anwar Manshur menyampaikan dalam (Sidang Besar) Sibes MHM.”
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

One thought on “KH. Anwar Manshur: Keikhlasan Mengajar dan Warisan Ilmu”