Dalam kehidupan, adab haruslah selalu kita tempatkan lebih tinggi daripada ilmu. Maka dari itu para santri akan selalu mendapat pengajaran adab sejak hari pertama berada di Pondok Pesantren.
Ibadah Harus dengan Adab dan Akhlak
Bahwa ilmu tidak akan menetap di hati, bagi orang yang kotor adabnya. Hal inilah yang KH. Abdulloh Kafabihi ingatjan dalan salah satu acara rutinan Majelis Sholawat Kubro.
Dalam sebuah acara tersebut, beliau menjelaskan, “Kalian di sini mencari ilmu, urusannya akhirat. Kalian di sini ibadah. Dan ibadah supaya diterima oleh Allah harus dengan adab. Adab dan akhlak.”
Baca juga: Agus Abdul Mu’id Shohib: Mengamalkan Ilmu: Menjaga Ilmu
Dawuh tersebut mengingatkan kembali terhadap para santri: bahwa setiap langkah kita di pondok bukan sekadar rutinitas pembelajaran belaka, tetapi merupakan rangkaian ibadah yang harus kita jaga kesuciannya.
KH. Abdulloh Kafabihi kemudian memberikan contoh sederhana, “Misalkan saja kita masuk masjid, ini kan ada aturan-aturannya. Ketika masuk masjid, kemudian salat terus tidak ngobrol. Sebab ngobrol di masjid itu mengobrol masalah dunia, itu khoto’, itu maksiat. Jadi kalian supaya tahu diri.”
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Menjaga Rohim di Tengah Perbedaan
Dengan bahasa yang lugas khas beliau, beliau ingin menanamkan kesadaran terhadapan para santri bahwa adab haruslah senantiasa kita lakukan. Di masjid yang notabenya adalah tempat ibadah (akhirat) maka sudah sepantasnya untuk tidak berbicara sembarangan, yakni pembahasan duniawi.
Tertib di Dalam Pesantren
Tidak berhenti di situ, beliau menjelaskan mengenai kenapa kita harus taat terhadapa tata tertib yang ada. “Maka dari itu supaya kalian di pondok mau tertib ya. Di pondok ada aturan-aturan ini untuk kemaslahatan kalian.”
KH. Abdulloh Kafabihi mengajak para santri untuk tidak memandang aturan sebagai beban, melainkan batas untuk menjaga keselamatan mereka. Karena banyak aturan-aturan yang sejatinya menjaga para santri agar fokus dalam pembelajaran. Seperti pembatasan dalam bermain, waktu tidur dan jam belajar.
Baca juga: Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf: Saya itu Santri Lirboyo
Karena itu, wajar bila pelanggaran memiliki konsekuensi. Beliau menegaskan, “Dan aturan-aturan itu supaya ada perhatian, maka bilamana ada pelanggaran maka ada takzir. Sebab bilamana larangan itu tidak ada takzir maka akan terabaikan. Maka akan dilanggar.”
Takzir bagi beliau bukanlah hukuman dalam arti sempit, melainkan bagian dari pendidikan—cara pesantren menjaga agar santri tetap berada di jalur yang benar.
Dari dawuh KH. Abdulloh Kafabihi ini dapat dipahami bahwa pesantren adalah tempat menempa diri, bukan hanya tempat belajar untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk membangun kepribadian yang berakhlak dan beradab.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
