318 views

Penyimpangan Hizbut Tahrir: Sanggahan Telak Pendekar Aswaja

Penyimpangan Hizbut Tahrir: Sanggahan Telak Pendekar Aswaja

Hizbut Tahrir atau disebut juga dengan Partai Pembebasan adalah partai politik bertaraf internasional yang bertujuan untuk menegakkan kembali kekhalifahan Islam atau negara Islam dunia di bawah satu bendera. Hizbut Tahrir. Digagas oleh Muhammad Taqiyuddin An-Nabhani (1909-1977) seorang aktivis politik yang banyak dipengaruhi pemikirannya oleh visi-misi pendiri Ikhwanul Muslimin di Mesir pada tahun 1928 yakni Hassan Al-Banna.

Taqiyuddin An-Nabhani tumbuh dewasa dan matang dalam ketidakpuasan atas keputusan politis Turki modern yang menghapus sistem Khilafah Islamiyyah, sehingga pembentukan kembali khilafah sebagai sebuah negara super power yang dimiliki umat Islam di seluruh dunia menjadi agenda besarnya. Tujuan akhir Hizbut Tahrir mengarah pada pemerintahan Islam global.

Di Indonesia sendiri, menjelang tahun 1990-an, ide-ide Hizbut Tahrir mulai menyebar ke berbagai lapisan masyarakat, baik melalui dakwah para kader di masjid, perkantoran, pabrik dan perumahan, juga melalui penerbitan buku, dan buletin Islam al-Wa’ie yang membahas tema-tema khusus serta menjadi acuan dalam berbagai diskusi, seminar, bahkan aksi unjuk rasa. Ketika memasuki era reformasi, kesempatan geliat kelompok ini semakin luas dan menemukan momentumnya.

Hingga pada akhirnya, pemerintah Indonesia melalui PERPPU No. 02 tahun 2017 tentang ormas, secara resmi membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia. Pelarangan serta peringatan akan bahaya ideologi Hizbut Tahrir ini tidak hanya berlaku di Indonesia, beberapa negara seperti Malaysia, Suriah, Turki, Libya, Arab Saudi, Rusia, Denmark, dan Jerman juga memberlakukan peraturan yang serupa. Bahkan, di Yordania yang merupakan negara asal berdirinya Hizbut Tahrir, sampai sekarang masih menstatuskan organisasi Hizbut Tahrir sebagai organisasi terlarang.

Syekh al-Harari[1] (1910-2008) -salah seorang pendekar Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang membentengi akidah Aswaja dari gempuran Wahabi- dalam karyanya yang berjudul Al-Gharah Al-Imaniyyah Fi Radd Mafasid At-Tahririyyah ini, menuturkan delapan sanggahan argumentatif yang disampaikan terhadap kelompok yang gencar mengusung ide khilafah. Berikut sanggahan-sanggahan beliau:

Pertama, Sanggahan terhadap pengingkaran qadla dan qadar. Kedua, Sanggahan terhadap statemen mereka bahwa Nabi mungkin berbuat dosa. Ketiga, Tentang pemakzulan seorang pemimpin melalui majelis syura atau MPR. Keempat, Sanggahan terhadap keharusan berbaiat terhadap khalifah. Kelima, Sanggahan terhadap legalitas melakukan perjalanan untuk berbuat mesum. Keenam, Sanggahan terhadap legalitas melakukan tindakan mesum seperti mencium dan memegang perempuan. Ketujuh, Keserampangan dan kecerobohannya perihal ijtihad. Di mana menurut pandangan kelompok ini, ijtihad bisa dilakukan oleh siapa saja. Kedelapan, sanggahan terhadap kerancuan pemetaan territorial. Mereka beranggapan bahwa status negara yang ditempati oleh umat Islam di seluruh dunia saat ini adalah Dar al-Kufr (negara kafir) selagi belum mendirikan negara dengan format khilafah.

Alhasil, meski kitab ini relatif tipis dan ringkas, namun tidak mengurangi bobot keilmuan yang terkandung di dalamnya. Sehingga kitab ini layak untuk dimiliki oleh siapapun yang ingin mempelajari lebih jauh mengenai penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh organisasi yang menamakan dirinya dengan Hizbut Tahrir.[]


[1] Beliau bukan saja hafal al-Qur’an pada usia 7 tahun tetapi juga hafal kutubus sittah (6 kitab utama hadis) dan berbagai kitab hadis lainnya lengkap dengan sanadnya saat berusia 18 tahun. Al-Harari kemudian melanjutkan pelajarannya dengan menguasai disiplin ilmu fikih mazhahib al-arba’ah (empat mazhab). Ditambah lagi dengan penguasaannya terhadap 14 qiraat al-Qur’an. Tidak diragukan lagi, komplit sudah keilmuannya. Al-Harari  juga kerap disebut-sebut sebagai pembela Aswaja yang paling gigih, ia merupakan pendiri kelompok Ahbasy yang kemudian para pengikutnya menyebar ke seantero dunia termasuk Indonesia.

Judul Kitab: Al-Gharah Al-Imaniyyah Fi Radd Mafasid At-Tahririyyah (Serangan Keimanan: Sanggahan Terhadap Penyimpangan Ideologi Hizbut Tahrir)
Penulis: Abdullah Al-Harari Al-Ahbasy
Cetakan: Pertama, Tahun. 2018 M.
Penerbit: Kediri; Maktabah MasyaAllah
Dimensi: 44 Halaman; 14,5 x  21 cm.

Peresensi: A. Zaeini Misbaahuddin Asyu’ari (Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Marhalah Ula Smt. VI Asal Purwakarta, Jawa Barat. Pecinta Khazanah Turats dan Pegiat Literasi).

baca juga: Resensi Kitab Minhaj At-Thalibin
tonton juga: GRAND FINAL LOMBA ILMIAH ISLAMI 2022 | LOMBA PILDACIL

Penyimpangan Hizbut Tahrir
Penyimpangan Hizbut Tahrir

5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.