Tag Archives: iblis

Khutbah Jumat: Mewaspadai Musuh Abadi Manusia

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدُ لِلهِ أَنْعَمَ بِنِعْمَةِ الإِيمَانِ وَالإِسلَام. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
أللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ الكَرِيمِ وَالرَّسُولِ الْعَظِيمِ سَيِّدِنَا وَمَولَانَا محمدٍ سَيِّدِ المُرسَلِين.
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أجمَعِين. أمَّا بَعد. فَيَا عِبَادَ اللهِ. أوصِيكُم وَنَفسِي بِتَقوَى اللهِ وَطَاعَاتِهِ لَعَلَّكُم تُفْلِحُونَ.

Kaum Muslimin Rahimakumullah…

Pada kesempatan kali ini, marilah kita semua menelaah kembali salah satu firman Allah dalam surat al-Fathir ayat 6 yang berbunyi:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Artinya: Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Dari ayat tersebut, Allah Swt. memperingatkan kepada kita semua untuk selalu waspada terhadap setan. Hal itu karena ia benar-benar merupakan musuh abadi manusia yang akan terus menggoda, membujuk serta menyesatkan sampai kelak hari kiamat.

Berbicara tentang setan, sudah barang tentu memori kita juga akan menuju pada makhluk bernama iblis. Ia adalah nenek moyang setan. Iblis adalah makhluk yang pertama kali berani menentang perintah Allah saat diperintah untuk sujud kepada Nabi Adam As. Dijelaskan oleh firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 34:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan ia adalah termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Akibat kecongkakan iblis akhirnya Allah mengusirnya dari surga, sebab tidak sepatutnya makhluk sombong seperti itu berada dalam surga. Iblis pin mengajukan permohonan untuk bisa hidup sampai hari kiamat, agar ia beserta keturunannya bisa menyesatkan manusia di muka bumi. Tujuan iblis tidak lain adalah mencari teman sebanyak-banyaknya untuk diajak bersama masuk neraka. Hal ini sebagaimana  dijelaskan dalam surat al-A’raf ayat 12 sampai 16:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (12
قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ (13
قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ (14) قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (15
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16

Artinya: “Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab ‘Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah’. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”. Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,”

Dalam ayat yang lain yakni surat al-A’raf ayat 27 Allah berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ

Artiya: Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.

Ayat tersebut memberikan pengertian bahwa setan itu tidak mempunyai tubuh sebagaimana manusia yang kasat mata. Selain itu juga mengingatkan bahwa tipu muslihat atau godaan setan itu sangat halus merasuki pikiran manusia.

Adapun jalur yang paling sering dilalui setan dalam menggoda dan menyesatkan manusia adalah hawa nafsu dan syahwat yang memang sudah dimiliki manusia. Seringkali manusia hanyut terbawa oleh hawa nafsunya, melakukan sesuatu yang dapat merugikan diri sendiri atau merugikan orang lain. Yang demikian itu, karena kewatakan dari nafsu itu sendiri. Nafsu tidak mau direndahkan, nafsu tidak mau berkekurangan, nafsu pantang menerima kekalahan apalagi mengalah. Nafsu selalu rakus, ingin untung sendiri dengan cara merugikan yang lainnya, serta nafsu selalu menganggap rendah terhadap segala akibat.

Kaum Muslimin Rahimakumullah…

Allah Swt. memuji orang-orang yang berjuang memerangi hawa nafsunya atau biasa disebut Rasaulullah sebagai Jihadul Akbar. Dan Allah juga berjanji akan memasukannya ke dalam surga, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya di surat an Nazi’at ayat 40 dan 41:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ (41

Artinya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”
Sebaliknya, Allah Swt juga mencela orang-orang yang lebih suka menuruti, tunduk dan patuh pada hawa nafsunya. Yaitu orang-orang yang merasa seolah-olah hawa nafsu itulah Tuhannya. Ini sabagaimana dinyatakan Allah dalam surat al-Jatsiyah ayat 23:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً

Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah akan membiarkannya tersesat sekalipun dia berilmu. Dan Allah juga mengunci pintu pendengarannya dan hatinya serta meletakkan tutup tebal atas mata hatinya.”

Berdasarkan ayat di atas, jelaslah bahwa meskipun orang itu berilmu dapat pula tersesat manakala ia menuruti hawa nafsunya dan telinganya tidak mau menerima kebenaran. Hatinya bagai tidak berperasaan dan mata hatinya buta tertutup oleh keserakahan dan ambisinya yang meluap-luap. Ini semua disebabkan karena hawa nafsunya telah dirasuki oleh bisikan-bisikan setan yang memang telah bersumpah akan selalu menyesatkan manusia dari jalan Allah Swt.

Kaum Muslimin Rahimakumullah…

Demikianlah gambaran musuh abadi kita, yaitu setan serta orang-orang yang akan dibujuk untuk menjadi teman dan pengikutnya. Untuk membendung atau membentenginya, tak ada jalan lain kecuali kita harus banyak berdzikir, mendekatkan diri kepada Allah Swt, serta tetap berjuang memerangi hawa nafsu. Kita yang harus menguasai hawa nafsu, bukannya hawa nafsu yang justru menguasai kita.

Dengan menguasainya, hawa nafsu yang dimiliki manusia dapat diredam dan dikendalikan sehingga kita terhindar dari bisikan-bisikan setan. Pada akhirnya hawa nafsu tersebut menjadi hawa nafsu yang mutmainnah, nafsu yang tenang dan stabil.
Mudah-mudahan rahmat Allah senantiasa menaungi hidup kita sehingga kita bisa selamat dan berbahagia fid-dunya wal-akhiroh, aamiin.

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ. الشَّيطَانُ يَعِدُكُمُ الفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالفَحْشَاءِ, وَاللهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنهُ وَفَضْلًا, وَاللهُ وَاسِعٌ عَليم.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِى القُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ  بِمَا فيهِ مِن آيَةٍ وَذِكرِ الحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا  وَمِنكُم تِلَاوَتَهُ وَإنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ. وَأَقُولُ قَولِي هذَا فَاستَغفِرُوا اللهَ إنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أكبر

Baca Juga:
Khutbah Jumat: Menyaring Berita, Menjernihkan Suasana
Dengarkan Juga:
SUDAHKAH ANDA NGEDEP DAMPAR HARI INI?

Kisah Hikmah: Obrolan Iblis dan firaun

Suatu kali iblis pernah mendatangi Firaun, ia mengetuk pintu. Mendengar itu, firaun menimpali,
“Siapa itu?”
“Saya,” Jawab Iblis
“Saya siapa?” Lanjut Firaun penasaran
“Loh, katanya mengaku tuhan. Kalau kamu tuhan seharusnya kamu tahu siapa di balik pintu ini,” Jawab iblis sedikit terkekeh
“Sudah! Masuk saja hai, mahluk pendosa!” Jawab Firaun geram
Setelah Iblis masuk Firaun mengawali pembicaraan,
“Blis, sebenarnya ada tidak mahluk yang lebih buruk dari kita? Dari diriku dan dirimu.” Tanya Firaun.
“Saya punya seorang teman yang selalu menuruti apapun yang saya katakan -Iblis mulai bercerita- maka aku berkata padanya, ‘Mintalah apapun dariku, aku akan mengabulkannya’
ia menjawab, ‘Tetanggaku memiliki seekor sapi, aku ingin engkau membunuhnya!’
‘Wah, tidak bisa seperti itu’ Jawabku, lalu aku memberinya penawaran,
‘Bagaimana kalau engkau kuberi sapi saja?’
‘Tidak!’ Jawabnya
‘Sepuluh ekor sapi untukmu!’ Kembali aku menawarkannya
‘Tidak! Aku hanya ingin engkau membunuh sapinya saja!’ Jawabnya.
Tahukah engaku wahai Firaun, dari peristiwa itu aku tahu bahwa ternyata ada mahluk yang lebih buruk dari kita berdua, yaitu seorang pendengki.” Jelas Iblis pada Firaun.

sumber: kitab al-Hussad Bainana karya Agus H. Said Ridlwan

Rencana Iblis Saat Hari Raya

Rasulullah SAW pernah bersabda:

اِجْتَهِدُوْا يَوْمَ الْفِطْرِ فِي الصَّدَقَةِ وَأَعْمَالِ الْخَيْرِ وَالْبِرِّ مِنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالتَّسْبِيْحِ وَالتَّهْلِيْلِ فَإِنَّهُ الْيَوْمُ الَّذِيْ يَغْفِرُ اللهُ تَعَالَى فِيْهِ ذُنُوْبَكُمْ وَيَسْتَجِيْبُ دُعَائَكُمْ وَيَنْظُرُ اِلَيْكُمْ بِالرَّحْمَةِ

Bersungguh-sungguhlah di hari raya Idul Fitri untuk bersedekah dan melakukan amal kebaikan seperti salat, zakat, tasbih, dan tahlil. Karena sesungguhnya pada hari itulah Allah SWT mengampuni dosa kalian, menerima doa kalian, dan melihat kalian dengan kasih sayang”.

Dari hadis tersebut, Rasulullah SAW begitu menekankan akan pentingnya berbuat kebaikan di hari raya Idul Fitri. Secara substansial, anjuran tersebut ditujukan agar umat Islam tidak hanya terlena dengan kemeriahan dan euforia. Karena pada hari raya Idul Fitri, iblis justru memanfaatkannya sebagai kesempatan berharga yang tak boleh dilewatkan untuk membujuk manusia ke dalam jurang kemunkaran.

Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih, Rasulullah SAW pernah menceritakan:

Setiap pagi di hari raya idul Fitri, golongan iblis selalu mengadakan perkumpulan bersama keluarganya. Di setiap perkumpulan yang ada, perbincangan soal manusia tak pernah mereka lewatkan.

Wahai kekasihku, apakah yang membuat marah. Katakanlah, agar aku bisa menghilangkan rasa marahmu,” ucap salah satu iblis.

Tidak ada.” jawab salah satu keluarga iblis. Kemudian ia melanjutkan jawabannya, “Akan tetapi karena Allah telah mengampuni umat Islam di hari raya ini, maka aku perintahkan kepada kalian agar membuat mereka terlena. Bujuklah mereka agar berfoya-foya dengan kesenangan, syahwat, dan minuman keras. Karena dengan begitu Allah akan memurkai mereka”.

 

______________

Disarikan dari kitab Dzurrotun Nashihin, hal. 263, cet. Al-Haromain