Tag Archives: islam dan barat

Islam dan Barat : Tak Terpisah Perang

Hubungan Barat dan Islam.

Islam dan Barat dalam sejarahnya telah memberikan sumbangsih sangat besar dalam peradaban Eropa.sudah seharusnya ketegangan kedua peradaban ini tidak menjadi konflik seperti perang dan sebagainya. Warisan peradaban Islam di Spanyol yang dibangun oleh Dinasti Umayyah di sana telah memberikan batu loncatan untuk peradaban Eropa saat ini. Dalam banyak bidang keilmuan yang berkembang di Barat, ulama-ulama Islam telah banyak menghiasi peradaban Eropa.

Tentu dunia Barat sangat berterimakasih kepada Muhammad bin Musa al-Khawarizmi yang telah mengenalkan kepada dunia dasar-dasar algoritma, juga kepada Ibnu Rusydi dan Ibnu Khaldun yang telah mengenalkan mereka kepada pendekatan filsafat yang dibangun sebelumnya di masa Plato dan Aristoteles dan sederet intelektual muslim lainnya.

Sejarah juga telah menceritakan bagaimana Islam dan Barat saling memberikan sumbangsih satu sama lain. Kedua peradaban ini hanya terpisahkan oleh laut Mediterania. Peradaban yang di bangun umat Islam di Kairo tentu sangat dekat jaraknya dengan peradaban Barat yang dibangun di Prancis kala itu.

Mengenai peradaban Islam dan Barat yang agaknya selalu dipertentangkan oleh sebagian orang, Alquran menjawabnya dengan dogma bahwa perbedaan adalah sebuah hal yang tak bisa terelakkan dalam kehidupan manusia. Karena pada hakikatnya manusia telah diciptakan dengan bermacam-macam warna kulit dan bahasa yang berbeda-beda. Karena itulah, perbedaan peradaban Islam dan Barat tidak seharusnya menjadi alasan kebencian dalam motif apapun, termasuk islamophobia yang saat ini sedang berkembang di Barat. Justru adanya perbedaan inilah yang harusnya merekatkan hubungan keduanya.

Baca Juga : Islam yang Ketinggalan

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Qs. Ar-Rum: 22)

Di balik semua perbedaan itu, Alquran dari jauh hari juga telah menjelaskan pentingnya pertemuan berbagai suku bangsa agar mampu saling mengenal satu sama lain. Hingga tidak ada lagi pertikaian di antara mereka.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Qs. Al-Hujurat: 13)

Dari sini, kita memahami Alquran telah mengarahkan umat Islam menuju perdamaian dan kasih sayang dengan segala umat beragama.

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. Al-Mumtahanah: 8)

Tidak hanya itu, Alquran juga telah melarang kita untuk mencaci-maki agama lain agar mereka pun tak balik mencaci agama Islam.

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-An’am: 108).

Alquran juga melarang umat Islam untuk merusak tempat beribadah umat agama lain, terlebih umat Nashrani dan Yahudi. Karena di dalam tempat peribadatan Nashrani dan Yahudi, juga banyak disebut nama Allah.

“….Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Maha Perkasa.” Qs. Al-Hajj : 40.

Alquran juga membatasi peperangan sebagai upaya terakhir dalam mempertahankan diri. Kita bisa teliti kembali di mana Alquran banyak memakai lafadz قاتلوا dari asal kata قتل. Di dalam ilmu tashrif, adanya tambahan alif (ا) di sini bermakna musyarakah,atau perbuatan yang dilakukan sebagai balasan dari perbuatan yang sama. Yang artinya umat Islam tidak diperbolehkan memulai sebuah peperangan kecuali dalam rangka mempertahankan diri dari ancaman musuh.

Bahkan bila memang peperangan sebagai pilihan terakhir harus terjadi, Alquran membatasi umat Islam agar tidak berlebihan dalam melaksanakannya.

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al-Baqarah: 190)

Ayat-ayat di atas menunjukkan betapa perdamaian adalah cita-cita tertinggi dalam Islam. Inilah mengapa Allah mengutus nabi Muhammad sebagai rahmat bagi alam semesta. Sebagai utusan yang membawa pesan dan ajaran penuh kedamaian.

Namun, sebagian orang yang menahbiskan diri sebagai pelaku ajaran Islam murni, menganggap peperangan terhadap kaum yang berbeda iman sah-sah saja. Hal ini dipercayai mereka, karena ada satu ayat yang—menurut kacamata mereka—melegalkan apa yang mereka yakini itu.

“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Al-Anfal: 39).

Ada kekeliruan yang sangat fatal dalam memahami ayat ini dengan kacamata itu. Ayat ini justru sejatinya adalah perintah untuk berdamai dengan siapapun. Adapun teks perintah berperang, itu semata seruan agar perang diarahkan hanya untuk kepentingan menghilangkan terjadinya fitnah. Sementara maksud fitnah dalam ayat ini adalah “larangan dari oknum manapun bagi seseorang yang ingin memeluk agama Islam dengan damai.” Dari pengertian fitnah ini lahirlah sebuah pemahaman yang arif: bahwa kebebasan memeluk agama adalah ajaran yang ditekankan dalam Islam. Tak terkecuali, orang-orang di luar Islam yang ingin memeluk agama Islam.

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 256)

Penulis, M. Tholhah al Fayyadl, mutakharrijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo.