Tag Archives: Islami

Fadhilah Ilmu: Belajar dan Mengajar

Banyak ulama mengatakan: ketika seorang pelajar bisa mempersatukan akal, adab, dan mempunyai pemahaman yang baik, serta mempunyai Guru yang sabar, rendah hati, juga piawai dalam mengajar, niscaya sempurnalah nikmat diantara keduanya.

Disebutkan pula oleh ulama yang lain, dalam sebuah syair:

أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إلاَّ بِسِتَّةٍ × سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانِ

ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاجْتِهَادٍ وَبُلْغَةٍ × وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

Artinya: “Saudaraku, ilmu tak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara. Akan aku jelaskan dengan detail. Cerdas, mempunyai kemauan, bersungguh-sungguh, dan mempunyai biaya, memilih guru, dan waktu yang lama.

Hasan Al-Bashri pernah berkata bahwa goresan pena seorang yang alim adalah tasbih, dan berisi pengetahuan. Melihat orang alim adalah ibadah, dan tinta yang digoreskan seperti darahnya orang yang mati syahid. Ketika orang yang alim tersebut dibangkitkan dari kuburnya, orang-orang akan melihat dirinya dikumpulkan bersama para Nabi.

Begitu mulianya orang yang ahli ilmu menurut Hasan Al-Bashri. Bahkan Rasulullah SAW bersabda:

مَنِ اتَّكَأَ عَلَى يَدِهِ عَالِمٌ كَتَبَ اللّٰهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ عِتْقَ رَقَبَةٍ،  مَنْ قَبَّلَ رَأْسَ عَالِمٍ كَتَبَ اللّٰه لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَة.

Artinya: “Barangsiapa yang menjadi sandaran orang Alim, Allah menulis (pahala) disetiap langkahnya  sama dengan memerdekakan budak. Barangsiapa mencium kepala orang Alim, Allah menulis disetiap rambutnya sebuah kebaikan.”

Belajar sejenak di waktu malam lebih baik dari pada mengisi malam dengan kegiatan lain، juga lebih baik dari berdzikir.

Abu Laits mengatakan “Seseorang yang duduk (di sebuah majlis) bersama orang Alim meski tidak dapat mengingat ilmu yang didapat darinya akan tetap mendapat 7 kemuliaan; anugerah yang diperoleh para pelajar, terjaga dari dosa, turunnya rahmat saat keluar dari rumahnya, saat rahmat diturunkan di perkumpulan tersebut ia juga mendapatkannya, dituliskan pahala ketaatan selama ia mendengarkan apa yang disampaikan, saat hatinya tidak dapat memahami  apa yang disampaikan, kegundahan hatinya akan menjadi lantaran menuju ridha Allah karena satu keterangan (dalam hadits qudsi) Allah mengatakan:

اَنَا عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوْبُهُمْ مِنْ أَجْلِيْ

“Aku bersama orang-orang yang gundah hatinya karena-Ku.”, dan hatinya memunculkan keengganan melakukan perbuatan fasiq serta cenderung memikirkan ilmu.

Beliau (Abu Laits) juga mengatakan: “Orang yang bercengkrama bersama delapan golongan (dibawah ini) akan memiliki dampak tersendiri; bercengkrama bersama orang-orang kaya oleh Allah akan ditambah kecintaannya pada dunia, bercengkrama dengan orang-orang faqir dapat memunculkan rasa syukur kepada Allah, Berkumpul bersama para pemimpin dan penguasa membuat hati semakin sombong, berbaur dengan wanita bisa mengurangi keilmuan yang seharusnya didapat dan hanya akan memperbesar syahwat, bermain bersama anak-anak membuatnya lupa, bergaul dengan orang-orang fasiq hanya akan menambah keberanian untuk melakukan dosa serta menunda-nunda untuk bertaubat, berkumpul dengan orang-orang saleh akan menambah kecintaan pada keta’atan, berkumpul bersama Ulama dapat menambah pengetahuan dan pengalaman.

Baca juga: Doa dari Hadramaut

Berjabat Tangan Setelah Shalat

Sudah menjadi sebuah budaya ketika umat islam di nusantara melaksanakan ibadah shalat berjamaah di surau atau mushola, bahkan di masjid, mereka bersalaman satu sama lain. Hal ini menimbulkan pertanyaan dalam benak kita, bagaimanakah berjabat tangan di zaman Rasulullah? Apakah hal itu di sunnahkan?

Dalam sebuah hadis disebutkan perihal berjabat tangan yakni:

عَنْ الْبَرَّاء قَالَ: قَلَ رَسُوْلُ اللّه : مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ اَنْ يَفْتَرِقَا — رواه احمد وابو داوود والترمذي وابن ماجه

Artinya: “Dari Al-Barra ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah dari dua orang muslim yang bertemu lalu saling bersalaman melainkan telah diampuni dosanya sebelum mereka berpisah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab al-Jami’ as-Shaghir menyatakan bahwa hadis ini merupakan hadis yang berpredikat hadis hasan (bagus sanadnya).

Hadis di atas jika dibaca secara tekstual saja, tentu hanya menjelaskan tentang berjabat tangan secara umum saja, tidak terkhusus setelah atau sebelum shalat. Lalu bagaimana ketika bersalaman setelah shalat? Dalam sebuah hadis disebutkan:

قَالَ كَعْبُ بنُ مَالِكٍ : دَخَلْتُ المَسْجِدَ فَإِذَا بِرَسُولِ اللّه فَقَامَ إِلَى طَلْحَةَ بن عُبَيْد اللّه يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَنِى وَهَنَّأَنِى — رواه البخارى

Artinya: “Sahabat Ka’ab bin Malik berkata: ketika aku masuk masjid, saat itu Rasulullah SAW telah ada di masjid, lalu Tholhah ibn Ubaidillah bergegas berdiri menyambutku, hingga berjabat tangan dan mengucapkan selamat kepadaku.” (HR. Bukhari)

Bersalaman setelah shalat tidak ada satu pun ulama yang mengharamkannya, mereka menganggapnya sunnah, ada sebagian yang menganggapnya bid’ah. Bid’ah pun masih dalam kategori hasanah atau paling tidak mubahah. Imam an-Nawawi memberikan perincian dalam masalah ini, apabila sebelum melakukan sholat belum bersalaman maka disunnahkan untuk bersalaman setelah sholat. Tetapi jika sudah bersalaman sebelumnya, maka hukumnya hanya diperbolehkan, dan tidak termasuk kesunahan.¹

(¹ Ali Jum’ah al-Bayan limaa Yusghilu al-Adzhan)

Penyakit Hati

Al-Quran menegaskan bahwa orang-orang munafik adalah orang-orang yang hatinya sakit. Bahkan setiap hari bertambah sakit. Tidak bertambah sembuh, justru malah semakin bertambah parah. Yaitu ketika orang yang hatinya ada penyakitnya, diingatkan malah tidak mengakuinya.

Ketika ditegur oleh seseorang bahwa kita memiliki penyakit semisal; sombong, kita justru tidak mengakui itu. Berbeda dengan ketika kita diingatkan soal kesehatan jasmani. Kita akan khawatir dan berusaha untuk mengobatinya. Dengan demikian, penyakit hati adalah penyakit orang-orang munafik. Jelas dalam Al-Quran tertera sebuah ayat:

 فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah oleh Allah penyakitnya.

Ad-Dahhak mengungkapkan dari Ibnu Abbas bahwa, Fi qulubihim maradun adalah nifaq, dan fazadahumullahu maradan yakni nifaq (munafik) pula. Abdurrahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan pula bahwa fi qulubihim maradun artinya penyakit dalam masalah agama, bukan penyakit pada tubuh. Mereka yang mempunyai penyakit ini adalah orang-orang munafik, sedangkan penyakit ini adalah keraguan yang merasuki hati mereka terhadap Islam. Fazadahumullahu maradan artinya “lalu ditambah oleh Allah kekafirannya.” Selanjutnya, Abdurrahman ibnu Zaid ibnu Aslam membacakan sebuah ayat:

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ. وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

“Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 124-125).

Dari sini bisa diartikan bahwa dalam hatinya orang-orang munafik, adalah beberapa penyakit yang dia sendiri tidak sadar bahwa itu penyakit. Bahkan merasa sehat. Lalu bagaimana kita menyelamatkan hati kita? Jawabannya tentu kita harus mengenali penyakit-penyakit tersebut. Seorang yang melakukan dosa, contoh minum arak. Apakah dilakukan setiap saat? Tidak. Tetapi orang takabur, sombong, iri dan dengki, dimanapun berada mereka akan selalu begitu. Dengan demikian dosa lahir akan timbul dari penyakit hati atau dosa dari hati terlebih dahulu.

Ada lagi sebuah ayat dalam Al-Quran yang berbunyi:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-hadid: 16).

Kalau sedikit saja kita mau merenungkan, ayat diatas jangan-jangan ditujukan kepada kita. Bukan untuk mereka-mereka yang belum mengerti agama islam sama sekali. Jangan-jangan kita yang banyak penyakitnya. Jangan-jangan kita yang sudah Islam, sudah punya Al-Quran dan hadis sebagai pegangan, sudah punya Nabi Muhammad SAW yang kita jadikan teladan, tetapi tidak ada efek apa-apa bagi kita. Berarti kita mempunyai penyakit yang sangat parah.

Maka dari itu, marilah bersama-sama kita berkaca pada diri kita. Pelajari kembali Al-Quran dan hadis dengan baik. Menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan, sebagai teladan, agar kita tidak menjadi orang yang mempunyai penyakit hati yang parah. Agar tidak menjadi orang yang bermaksiat tapi kita tidak menyadarinya. Naudzubillah min dzalik.[]

Baca Juga: Ketika Habib Ali Al-Jufri dan Kiai Anwar Manshur Berbagi Berkah melalui Air Minum

Lomba Ilmiah Islami 2019

Lirboyo.Net, Kediri—Mengawali kegiatan minggu pertama dibulan Februari tepatnya pada jum’at (8/2/2019) Pondok Pesantren Lirboyo mulai melaksanakan serangkaian kegiatan menyambut Haul-Haflah Akhirussanah 1440 H Pondok Pesantren Lirboyo ke-109 diawali dengan pelaksanaan lomba ilmiah islami. Banyak materi yang dilombakan pada kegiatan ini dan pada dasarnya sama dengan tahun-tahun sebelumnya, akan tetapi ada beberapa jenis perlombaan yang baru yakni MQK Fath al Qorib dan MQK Ihya ‘Ulumuddin. “yang perlu kalian ketahui bahwa sekarang ada materi baru yang dilombakan dalam Lomba Ilmiah Islami tahun ini yakni MQK Fath al Qorib dan MQK Ihya ‘Ulumuddin yang mana pada tahun sebelumnya sudah ada lomba yang baru yaitu ngaji dampar dan Alhamdulillah banyak yang ikut”. Tutur panitia pelaksana Lomba Ilmiah Islami 2019 Agus M. Syarif Hakim.

Untuk pekan pertama Lomba Ilmiah Islami kategori yang dilombakan meliputi Musabaqoh Tartilil Qur’an, Cerdas Cermat Islami, Ngaji Dampar, Hifdzu Matan Al Ajurrumiyyah, Hifdzu Matan Taqrib. Sorak sorai para santri kian ramai saling mendukung utusan daerah atau unit masing-masing.

Bpk. M Lukman Hakim selaku panitia Haul-Haflah Akhirussanah 1440 H Pondok Pesantren Lirboyo ke-109 membuka secara simbolis agenda Lomba Ilmiah Islami sekaligus menginformasikan serangkaian agenda-agenda haul-haflah dalam beberapa minggu kedepan dan puncaknya pada tanggal 23 April 2019/18 Sya’ban 1440. Acara pembukaan Lomba Ilmiah Islami pun ditutup dengan pembacaan do’a oleh Agus H. Izzul Maula Dyilaulloh.

Kisah Hikmah: Penjaga Kebun Yang Jujur

Nuh bin Maryam namanya, ia merupakan seorang tokoh Masyarakat sekaligus kadi yang mempunyai kedudukan tinggi. Ia mempunyai seorang anak perempuan yang cantik jelita dan nyaris sempurna untuk ukuran seorang perempuan idaman. Lazimnya bunga desa, begitu banyak laki-laki yang ingin meminangnya mulai dari pengusaha, konglomerat dan orang-orang terpandang lainnya. Namun dari sekian banyak lamaran yang datang itu, tidak ada yang Nuh bin Maryam iyakan. Ia bingung, orang seperti apakah yang akan ia terima untuk putrinya itu.

Selain itu, Nuh bin Maryam juga memiliki perkebunan dan budak berkulit hitam yang bernama Abdullah. Suatu kali ia menugaskan budaknya itu untuk menjaga perkebunannya.

Selang dua bulan, Nuh bin Maryam mendatangi kebunnya. Penasaran dengan hasil perkebunannya, ia memerintahkan Abdullah untuk mengambil barang satu atau dua anggur untuknya.

Abdullah beranjak dan memetikkan anggur untuk tuannya. Namun naas, Anggur yang ia petik ternyata rasanya asam. Sang tuan pun kembali menyuruh Abdullah untuk mengambilkannya yang lain. untuk kedua kalinya, Anggur yang diambilkan Abdullah itu tidak manis.

Melihat ketidakbecusan budaknya itu, Nuh bin Maryam pun menghardiknya,

“Kenapa engkau selalu membawakanku yang masih asam, bukankah buahnya banyak?!”

“Maaf, tuan. Saya tidak tahu mana yang manis dan mana yang asam.” Jawab Abdullah seadanya.

Subhanallah! Dua bulan kamu di sini dan kamu tidak bisa membedakan mana yang manis dan mana yang tidak!”

“Sungguh, tuan. Saya tidak pernah mencicipinya sedikit pun.”

“Memang ada apa?”

Tanya Nuh bin Maryam.

“Saya tidak ingin menghianati tuan dan menyalahi perintah, sementara tuan hanya menugaskanku untuk menjaganya saja. Bukan untuk memakannya.”

Mendengar jawaban tersebut, Nuh bin Maryam terkagum-kagum akan kejujuran dan sikap amanah budaknya itu. Kemudian ia berkata,

“Keteguhan sikapmu telah membuatku tertarik. Aku hendak menuturkan sesuatu padamu, tapi harus engkau laksanakan.”

“Sudah kewajibanku untuk taat kepada Allah dan menjalankan perintahmu, tuan.”

Kemudian Nuh bin Maryam menuturkan perihal kebingungannya untuk memilihkan pasangan bagi putrinya itu.

“Aku memiliki seorang putri yang amat cantik. Sudah banyak orang yang melamarnya, mulai dari orang kaya, konglomerat sampai orang-orang terpandang. Namun hingga sekarang aku masih bingung dengan siapa ia hendak aku nikahkan. Aku ingin meminta pendapatmu tentang hal ini.”

“Tuanku, tentang hal ini, dijaman jahiliah orang-orang memilih asal, nasab, agama dan pangkat. Sementara orang Yahudi dan Nasrani lebih condong pada kecantikan dan ketampanan. Lalu dijaman Rasulullah yang dikedepankan adalah agama dan ketakwaannya, dan saat ini orang-orang lebih condong pada harta dan kekuasaan. Silahkan tuan pilih diantara kriteria itu.”

“Kalau begitu, aku memilih agama dan ketakwaan. Dan sekalian aku juga memilihmu untuk kunikahkan dengan putriku. Karena sungguh dalam dirimu ada agama dan ketakwaan.”

Mendengar jawaban tuannya yang demikian, Abdullah menjawab,

“Saya hanya seorang hamba sahaya berkulit hitam, tuanku. Yang dulu tuan beli dengan harta. Adakah pantas besanding dengan putri tuan, dan tentu saja putri tuan pun akan menolaknya.”

“Sudah, kamu ikut saya ke rumah.”

Jawab tuannya singkat.

Setelah sampai, sang kadi pun berkata kepada istrinya,

“Sungguh pemuda ini merupakan anak yang saleh dan bertakwa, aku ingin menikahkan putri kita dengannya. Bagaimana menurutmu?”

“Semuanya aku pasrahkan padamu. Tapi kalau begitu, tunggu, aku ingin menyampaikannya dulu kepada putri kita tentang rencana ini.”

Kemudian sang istri pun menemui putrinya dan menyampaikan rencana tersebut.

“Apa kehendak ibu dan ayah, aku ikut. Aku tidak ingin jadi anak yang durhaka.”

Mendengar itu, si istri pun kembali dan mengabarkannya kepada Nuh bin Maryam.

Akhir kisah, Nuh bin Maryam dengan segala keagungan dan kekayaanya menjatuhkan pilihannya pada seorang Abdullah yang hanya hamba sahaya belaka. Nuh bin Maryam lebih memilih kekayaan abadi (kesalehan dan ketakwaan) ketimbang mengedepankan kekayaan sementara (harta, pangkat dsb.)

“Sama kebun saja amanah, apa lagi sama perempuan” sederhananya seperti itu mungkin.(IM)

-Disarikan dari kitab anNawadir karya Syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qulyubi