Tag Archives: nabi muhammad

Nama Muhammad Pernah Dilarang oleh Umar bin Khattab

Alasan Abdul Muthalib memberi nama cucunya yang baru lahir dengan nama “Muhammad” adalah ia ingin cucunya itu dipuji semua orang. Beberapa sumber mengatakan hal yang serupa. Dalam sumber lain dinyatakan bahwa nama Muhammad ini akhirnya membuat para kaum kafir Quraisy bingung dalam menghadapi dakwah nabi Muhammad saw.: mereka membencinya, namun faktanya mereka malah memanggilnya dengan “yang terpuji.”

Muhammad al Bushiri, penyair ulung itu, menjadikan nama “Muhammad” benar-benar keramat. Ia melantunkan kekeramatan itu dalam nadzam Burdahnya

فإن لي ذمةً منه بتسميتي

محمداً وهو أوفى الخلق بالذمم

Sesungguhnya aku punya jaminan (di hari kiamat) yakni namaku “Muhammad”

Dan ia (Nabi Muhammad) adalah makhluk paling sempurna dalam menepati janji (memberikan syafaatnya di hari kiamat)

Tentu ia tidak serta merta mengeramatkan nama itu tanpa dasar. Setidaknya, ada beberapa hadis yang mengungkapkan betapa mulianya nama Muhammad. Pertama, hadis yang disebut Hakim dalam kitab Al-Tarikh-nya,

إذا سميتم الولد محمدا فأكرموه وأوسعوا له المجلس ولا تقبحوا له وجها

 “Jika kalian memberikan anak-anak kalian nama ‘Muhammad’, maka muliakan mereka dan lapangkanlah tempat duduk mereka dalam majelis. Dan jangan kalian hinakan wajah mereka (jangan hinakan atau caci maki mereka dengan kata-kata ‘semoga Allah jelekkan wajah kalian’ atau sejenisnya).”

Kedua, hadis yang diriwayatkan al-Suyuthi di dalam kitabnya, Jami’ as-Shaghir.

إذا سميتم محمدا فلا تضربوه ولا تحرموه

 “Jika kalian memberikan nama ‘Muhammad’ (pada anak-anak kalian), maka janganlah kalian pukul mereka (kecuali karena hukum had dan mengajarkan adab), dan janganlah kalian larang mereka (muliakan dan berbuat baiklah pada mereka).”

Demi kemuliaan nama “Muhammad” ini, khalifah Umar bin Khattab bahkan pernah berang kala ia mendengar ada seseorang mencela nama Muhammad. Muhammad bin Yazid bin Khattab, nama orang yang dicela itu, melakukan suatu perbuatan buruk, sehingga orang-orang mencelanya, “Wahai Muhammad, semoga Allah menghukum perbuatan (buruk) mu.”

Muhammad bin Yazid tinggal di Kuffah, 1.200-an kilometer berjarak dari Madinah, tempat Umar memerintah. Sang khalifah setelah mendengar kisah celaan terhadapnya, ia menyuruhnya untuk segera menghadap ke Madinah. Dengan pengorbanan tenaga dan waktu demikian—jarak ribuan kilometer di masa transportasi sebatas unta itu tentu saja menuntut pengorbanan banyak hal—menunjukkan bahwa ini bukan masalah yang sederhana bagi sang khalifah.

Khalifah Umar memuntahkan amarahnya justru kepada Muhammad bin Yazid bin Khattab. Bukan kepada sang pencela. Jelas karena perbuatan buruknya itu sama sekali tidak dapat ditoleransi. “Aku takut nama Nabi Muhammad dicaci maki karena ulahmu.”

Saking hormatnya sang khalifah kepada nama Muhammad, sejak peristiwa itu ia melarang penduduk Kuffah memberi nama anak-anak mereka nama Muhammad. Ia takut penduduk Kuffah akan serampangan mencaci seseorang yang bernama Muhammad. Wallahu a’lam.

Referensi:

Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim al-Naisaburi, Al-Tarikh.

Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin, Jalaluddin al-Misri as-Suyuthi asy-Syafi’i al-Asy’ari, Jami’ as-Shaghir.

Syaikh Ali Al-Qari, Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih.

Buah Tangan Isra’ Mi’raj

Sudah menjadi sebuah realita bahwa al-Qur’an sebagai kitab suci agama Islam memuat seluruh ajaran dan tatanan syariat yang ada di dalamnya, tak terkecuali salat. Seperti salah satu firman Allah SWT:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43).

Namun tidak sebatas itu, Allah SWT memanggil Rasulullah SAW secara langsung dalam rangkaian perjalanan alam semesta yang tercakup dalam peritiwa Isra’ Mi’raj untuk menyampaikan perintah salat kepada umat islam. Karena hikmah yang paling besar yang dapat dipetik dari peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut adalah mengenai syariat salat. Hal ini sangat berbeda dengan disyariatkannya ibadah-ibadah yang lain, yang mana keseluruhan syariat tersebut sudah dicukupkan melalui malaikat Jibril AS sebagaimana yang telah ada dalam al-Qur’an atau dalam hadis Rasulullah SAW.

Etika Salat

Kualitas keimanan seseorang dapat diketahui dengan komitmennya terhadap pengamalan ajaran Islam, baik yang berhubungan dengan tuhannya maupun yang berhubungan dengan sesama makhluk. Salat merupakan bentuk peribadatan tertinggi seorang muslim, sekaligus merupakan simbol ketaatan totalitas kepada Allah SWT. Karena di dalam salat, terdapat bentuk upaya interaksi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dari sinilah titik terang keberadaan salat sebagai barometer seorang muslim untuk mengukur sebatas mana kekuatan agamanya. Dalam sebuah hadis dijelaskan:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

Inti (pokok) segala perkara adalah Islam, dan tiangnya adalah salat,” (HR. Thurmudzi)

Sebagai tiang agama, maka harus ada makna dan nilai bagi setiap orang Islam dalam melaksanakan salat, sebagaimana uraian sang argumentator Islam, Al-Ghozali, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin:

Pertama ialah Hudhurul Qolbi (menghadirkan jiwa). Ketika melaksanakan salat diharuskan konsentrasi penuh semata-mata mengahadap Allah SWT dan mengharap ridho-Nya. Segala sesuatu yang bersifat keduniaan harus dilupakan sejenak. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,” (QS. Al-Ma’un :4-5)

Kedua ialah Tafahhum, yakni menghayati semua hal yang dikerjakan dalam salat, baik yang berupa bacaan maupun gerakan anggota badan. Karena di dalamnya tersimpan makna pernyataan kesiapan dan kepasrahan kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku,” (QS. Thaha :14).

Ketiga ialah Ta’dzim, artinya sikap mengagungkan Allah SWT sebagai Dzat yang disembah serta adanya kesadaran secara totalitas bahwa manusia merupakan sesuatu yang sangat kecil dan hina di hadapan-Nya.

Keempat ialah Khouf wa Roja’, yakni rasa takut hanya kepada Allah SWT disertai dengan harapan untuk selalu mendapatkan rahmat dan rido-Nya.

Kelima ialah Haya’, yaitu rasa malu kepada Allah SWT karena apa yang dipersembahkan kepada-Nya sama sekali belum sebanding dengan rahmat dan karunia yang telah diberikan-Nya kepada manusia.[1]

Dengan mampu menghadirkan makna dan nilai-nilai ibadah yang menjadi “buah tangan” dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, maka diharapkan akan ada hubungan timbal balik antara ibadah ritual salat dengan sesuatu yang ada di dalamnya. Dan pada gilirannya sesuai dengan berjalannya waktu, semuanya akan dapat menghiasi kehidupan pribadi setiap muslim dan akan membias dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. []waAllahu A’lam.

 

[1] Ihya’ Ulumuddin, juz 1 hal 162.