HomeAngkringBuah Tangan Isra’ Mi’raj

Buah Tangan Isra’ Mi’raj

0 3 likes 121 views share

Sudah menjadi sebuah realita bahwa al-Qur’an sebagai kitab suci agama Islam memuat seluruh ajaran dan tatanan syariat yang ada di dalamnya, tak terkecuali salat. Seperti salah satu firman Allah SWT:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43).

Namun tidak sebatas itu, Allah SWT memanggil Rasulullah SAW secara langsung dalam rangkaian perjalanan alam semesta yang tercakup dalam peritiwa Isra’ Mi’raj untuk menyampaikan perintah salat kepada umat islam. Karena hikmah yang paling besar yang dapat dipetik dari peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut adalah mengenai syariat salat. Hal ini sangat berbeda dengan disyariatkannya ibadah-ibadah yang lain, yang mana keseluruhan syariat tersebut sudah dicukupkan melalui malaikat Jibril AS sebagaimana yang telah ada dalam al-Qur’an atau dalam hadis Rasulullah SAW.

Etika Salat

Kualitas keimanan seseorang dapat diketahui dengan komitmennya terhadap pengamalan ajaran Islam, baik yang berhubungan dengan tuhannya maupun yang berhubungan dengan sesama makhluk. Salat merupakan bentuk peribadatan tertinggi seorang muslim, sekaligus merupakan simbol ketaatan totalitas kepada Allah SWT. Karena di dalam salat, terdapat bentuk upaya interaksi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dari sinilah titik terang keberadaan salat sebagai barometer seorang muslim untuk mengukur sebatas mana kekuatan agamanya. Dalam sebuah hadis dijelaskan:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

Inti (pokok) segala perkara adalah Islam, dan tiangnya adalah salat,” (HR. Thurmudzi)

Sebagai tiang agama, maka harus ada makna dan nilai bagi setiap orang Islam dalam melaksanakan salat, sebagaimana uraian sang argumentator Islam, Al-Ghozali, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin:

Pertama ialah Hudhurul Qolbi (menghadirkan jiwa). Ketika melaksanakan salat diharuskan konsentrasi penuh semata-mata mengahadap Allah SWT dan mengharap ridho-Nya. Segala sesuatu yang bersifat keduniaan harus dilupakan sejenak. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,” (QS. Al-Ma’un :4-5)

Kedua ialah Tafahhum, yakni menghayati semua hal yang dikerjakan dalam salat, baik yang berupa bacaan maupun gerakan anggota badan. Karena di dalamnya tersimpan makna pernyataan kesiapan dan kepasrahan kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku,” (QS. Thaha :14).

Ketiga ialah Ta’dzim, artinya sikap mengagungkan Allah SWT sebagai Dzat yang disembah serta adanya kesadaran secara totalitas bahwa manusia merupakan sesuatu yang sangat kecil dan hina di hadapan-Nya.

Keempat ialah Khouf wa Roja’, yakni rasa takut hanya kepada Allah SWT disertai dengan harapan untuk selalu mendapatkan rahmat dan rido-Nya.

Kelima ialah Haya’, yaitu rasa malu kepada Allah SWT karena apa yang dipersembahkan kepada-Nya sama sekali belum sebanding dengan rahmat dan karunia yang telah diberikan-Nya kepada manusia.[1]

Dengan mampu menghadirkan makna dan nilai-nilai ibadah yang menjadi “buah tangan” dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, maka diharapkan akan ada hubungan timbal balik antara ibadah ritual salat dengan sesuatu yang ada di dalamnya. Dan pada gilirannya sesuai dengan berjalannya waktu, semuanya akan dapat menghiasi kehidupan pribadi setiap muslim dan akan membias dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. []waAllahu A’lam.

 

[1] Ihya’ Ulumuddin, juz 1 hal 162.