Kerabat Nabi yang Wafat di Bulan Ramadhan

Oleh: Muhammad Fihri

Wafatnya Khadijah

Sayyidah Khadijah wafat di Kota Mekah sekitar 3 tahun sebelum peristiwa hijrah. Beliau merupakan wanita pertama yang beriman kepada Baginda Nabi Muhammad Saw.

Kewafatan Sayyidah Khadijah juga terjadi pasca tiga hari wafatnya Abu Thalib—Paman Nabi Muhammad. Lebih tepatnya pada bulan Ramadhan. Beliau dikebumikan langsung oleh Sang Suami di Hajun, dan pada saat itu belum disyariatkannya shalat jenazah.

Sayyidah Khadijah wafat pada umur 65 tahun.[1]

Wafatnya Aisyah

Ketika umur Sayyidah Aisyah menginjak 67 tahun—tepatnya pada bulan Ramadhan, beliau jatuh sakit, dan itu terjadi pada Tahun 58 H.

Meskipun demikian, tatkala ada yang menanyakan perihal keadaan beliau, beliau selalu menjawab: “Baik, Alhamdulillah”. Dan setiap ada orang yang menjenguknya, selalu saja beliau menampakkan wajah sumringah seakan tidak terjadi apa-apa.

Tatkala Abdullah bin Abbas datang untuk menjenguk, beliau selalu menolaknya. Akhirnya kemenakan beliau turun tangan agar Ibnu Abbas bisa menjenguk.

“Berilah izin kepadanya untuk bisa menjengukmu, sungguh ia lebih baik daripada anakmu sendiri”

“Tinggalkanlah aku” jawab Aisyah. Namun kemenakannya itu tak henti-hentinya melobi Aisyah agar memberi izin untuk dijenguk oleh Ibnu Abbas. Dan pada akhirnya, Beliau memberikannya izin.

Ketika Ibnu Abbas datang menjenguk, ia lalu berkata:

“(sekarang) hanya engkaulah yang menyandang gelar Ummu al-Mu’minin karena keberuntunganmu. Sungguh nama itu lahir sebelum aku lahir. Dan engkau adalah wanita yang sangat dicintai Baginda Nabi Saw. maka, tidaklah Beliau mencintai seseorang kecuali dengan tulus. Cinta itu tidak akan pernah memisahkan antara engkau dan beliau kecuali terpisahnya jasad dengan ruh. Tatkala kalungmu jatuh pada malam itu, justru Allah menjadikan kaum Muslimin pilihan daripada lainnya (Munafiq). Saat itu, Allah menurunkan surat Tayammum, dan turun (pula) ayat-ayat Al-Quran yang lainnya. Dan tidaklah ada masjid, kecuali di sana membacakan ayat-ayat itu pada malam hari maupun siang hari.”

“Tinggalkan aku wahai Ibnu Abbas, justru aku lebih suka melupakan kejadian itu” Jawab Aisyah.

Setelah itu, selang beberapa waktu sebelum ajal menjemputnya, Beliau pun berpesan:

“Janganlah engkau semayamkan aku bersama mereka (Baginda Nabi dan kedua Sahabatnya), tapi semayamkanlah aku di pemakaman Baqi’ bersama sahabat-sahabatku”.[2]

Wafatnya Fathimah

Ketika Sayyidah Fathimah jatuh sakit, ia berkata kepada Asma’ binti ‘Umais:

“Apakah kamu tidak melihat sesuatu yang sedang menimpaku, maka janganlah kamu meletakkanku di ranjang yang terang-terangan seperti ini”

“Tidak, demi umurku, tetapi aku sedang membuat keranda seperti yang aku lihat di Kota Habasyah” Jawab Asma’

“Perlihatkanlah keranda itu kepadaku” Kemudian Asma’ segera mengirim ranjang itu untuk dijadikan keranda. keranda inilah yang pertama kali dibuat untuk menghantarkan jenazah ke pemakaman.

Setelah itu, Sayyidah Fathimah tersenyum, dan Asma’ mengenang peristiwa itu dengan berkata:

“Tidaklah pernah aku melihat senyumannya kecuali pada hari itu”

Setelah itu Sayyidah Fathimah menghembuskan nafas terakhirnya pada umur 29 tahun. Tepatnya malam Selasa tanggal 3 Ramadhan Tahun 11 Hijriyyah.

Beliau meninggal pada masa Khalifah Abu Bakar, lebih tepatnya 6 bulan setelah Baginda Nabi wafat.

Sebelum wafat, beliau sempat berwasiat kepada Sang Suami—Sayyidina Ali krw untuk memandikan jenazahnya kelak bersama dengan Asma’ binti ‘Umais, dan keduanya memandikan beliau tatkala wafat.[3]

Wafatnya Ruqayyah

Adapun peristiwa wafatnya Sayyidah Ruqayyah (putri Baginda Nabi)—menurut pendapat yang shahih—itu terjadi ketika Sayyidina Utsman RA. (suami Beliau) tidak mengikuti perang Badar atas perintah Rasulullah karena untuk menjaga Sayyidah Ruqayyah yang sedang sakit.

Sedangkan peristiwa perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan Tahun kedua Hijriyyah.[4]


[1] Adz-Dzuriyyah at-Tahirah, hal. 39-41.

[2] Sirah as-Sayyidah ‘Aisyah Ummi al-Mu’minin, hal. 201

[3] Adz-Dzuriyyah at-Tahirah, hal. 110-111.

[4] Al-Isti’ab fi ma’rifat al-Ashhab, hal. 1841.

Ikuti kami: @pondoklirboyo

Baca Juga: Kisah Awal Bulan Ramadhan Dijadikan Bulan Puasa dalam Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses