Terdapat sejarah puasa Ramadhan yang mungkin banyak kaum muslim ketahui. Yang jika kita semua mempelajari sejarah tersebut, dapat menjadi wawasan lebih dan mendapat mendulang ibrah di dalamnya.
Awal Mula Puasa Kewajiban Puasa Ramadhan
Mula-mula kaum muslim selalu berpuasa pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), dan konon Nabi Muhammad sendiri yang memerintahkannya. Namun seiring berjalannya waktu Allah mewajibkan puasa bulan Ramadhan via firman-Nya:
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, supaya kalian bertakwa”
Dari dari situ pula Nabi Muhammad meringankan anjuran puasa ‘Asyura’ dan menganjurkan lebih untuk mematuhi kewajuban puasa Ramadhan. Bersamaan dengan hal itu Rasulullah yang Mulia bersabda:
مَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَر
“Barang siapa yang menghendaki berpuasa (di hari ‘Asyura’, maka berpuasalah. Barang siapa yang ingin berbuka (tidak berpuasa), maka berbukalah”
Semenjak itulah kaum muslim fokus untuk berpuasa di bulan Ramadhan.
Baca Juga: Memperbanyak Membaca Al-Quran di Bulan Puasa
Berapa Tahun Nabi Muhammad Melakukan Puasa Ramadhan?
Imam An-Nawawu berkata dalam Al-Majmu’ (6/250): ‘Rasulullah ﷺ berpuasa Ramadhan selama sembilan tahun, karena puasa Ramadhan wajib pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah, dan Rasulullah ﷺ wafat pada bulan Rabi’ul Awal tahun kesebelas Hijriyah.’
Dalam perjalanan Ramadhan di era Nabu Muhammad. Rasulullah hanya menjumpai sembilan Ramadhan dan delapan di antaranya naqish (tidak genap tiga puluh hari), hanya satu puasa yang kamil (genap satu bulan).
Menurut pendapat Sebagian ulama (ba’dhuhum) “Adapun yang tidak lengkap (naqish) itu, ia mendapatkan pahala yang sama dengan yang lengkap (kamil)dalam hal pahala yang terkait dengan Ramadhan tanpa memperhatikan jumlah hari-harinya. Namun, apa yang terikat pada hari ketiga puluh dari pahala wajib dan sunnah pada waktu sahur dan berbuka, itu adalah tambahan yang membuat yang lengkap lebih unggul jika kita bandingkan dengan yang tidak lengkap.”
Baca Juga: Puasa Bedug, Mempunyai Dasar dalam Islam atau Hanya Sekedar Budaya?
Adakah Puasa Yang Pernah Allah Wajibkan Sebelum Ramadhan dan Mengapa Ramadhan yang Allah wajibkan?
Ada perbedaan pendapat mengenai kapan kewajiban puasa. Ulama menuturkan tiga pendapat:
Pertama, pada hari Asyura. Imam Al-Baihaqi dalam bukunya Fadhailul Awqat menyatakan bahwa pendapat yang lebih tepat adalah bahwa puasa tidak pernah wajib pada hari Asyura.
Kedua, pada Ayyam al-Bidh (tangga 13, 14 dan 15 di setiap bulan hijriyah), berdasarkan firman Allah, “Ayyaman ma’dudat” (Beberapa hari yang terbatas), yang kemudian Allah hapus dengan firman-Nya yang lebih jelas, “Shahr Ramadhan” (Bulan Ramadhan), sehingga ayat ini dianggap mansukh (dihapus).
Ketiga, awalnya orang yang mampu berpuasa syariat beri pilihan antara berpuasa atau membayar fidyah, dan puasa lebih utama, sebagaimana dalam firman Allah, “Wa ‘ala alladhina yutiquunahu fidyah” (Dan bagi orang-orang yang mampu melakukannya, boleh membayar fidyah). Kemudian, pilihan ini Allah hapus dengan firman-Nya, “Faman shahida minkum ash-shahra falyasumhu” (Barang siapa di antara kamu yang menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa).
Sebagian ulama berpendapat “Ketika Nabi Adam taubat dari memakan buah khuldi, penerimaan taubatnya tertunda lantaran masih ada bekas dari makanan tersebut dalam tubuhnya selama tiga puluh hari. Ketika tubuhnya sudah bersih dari itu, (barulah) taubatnya Allah terima. (Darinya) maka Allah wajubkan atas keturunannya untuk berpuasa selama tuga puluh hari.
Mungkin itu perjalanan Nabi Muhammad dan umatnya saat pertama kali melaksanakan puasa bulan Ramadhan. Semoga tulisan ini menjadi pelajaran dan pengetahuan baru bagi kita semua dan menjadikan kita semakin paham akan kajian-kajian Islam yang jarang terbahas di mana-mana. Aamin.
Baca Juga: Setan Dibelenggu Saat Bulan Puasa, Benarkah?
Referensi:
Al’I’lam bi Fawa’id Umdat al-Ahkam li Ibn al-Mulaqqin al-Anshori asy-Syafi’i
At-Tausyikh Syarh al-Jami’ ash-Shohih li al-Jalal as-Suyuthi
Hasyiyah al-Bujairomi li asy-Syaikh Sulaiman al-Bujairomi
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
