Antara Santri dan AI

Antara Santri dan AI

Judul: Antara Santri dan AI

Oleh: Muhammad Alfan*

Saling Berperang atau Jihad Bersama

Beberapa tahun ke depan, tepatnya pada tahun 2050, Pilot, Dokter, Guru, Petani dan kebanyakan pekerja akan kehilangan lapangan pekerjaannya. Begitulah ramalan Yuval Noah Harari dalam 21 Abad untuk 21 Abad. Keterampilan kognitif[1] yang dimiliki secara individual tidak akan mampu mengalahkan Artifical Intelligence (kecerdasan Buatan, yang biasa disingkat AI) yang mana data dan informasinya terakumulasi dalam satu jaringan dari selururh dunia.

Seorang Pilot di dunia kemiliteran telah tergantikan oleh drone. Komandan pasukan tidak perlu khawatir kehilangan pilotnya, ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Begitu juga dengan santri, saat ini saja kita sudah memiliki beberapa aplikasi berguna seperti Maktabah Syamilah dan Maktabah Bahtsu. Meskipun saat ini hanya sebatas kumpulan data kitab dan rumusan musyawarah, aplikasi tersebut dapat berkembang dengan baik. Mungkin saja akan lahir aplikasi yang tidak hanya mengumpulkan data rumusan, melainkan juga dapat membuat sebuah rumusan dengan hasil dan pendekatan yang lebih akurat. Bila itu terjadi, kemungkinan terburuknya eksistensi santri akan tersingkirkan.

Dalam konteks pendayagunaan teknologi dan internet, sebagian kalangan santri konservatif membaca teks kaidah dar al-Mafasid muqaddam ‘ala jalb al-Masalih (menangkal keburukan lebih diutamakan ketimbang mengambil suatu maslahat) dengan pengertian “lebih baik tidak menggunakan internet daripada harus menanggung keburukan di dalamnya”. Ketika interpretasi kaidah ini digunakan dengan optimal, seseorang mungkin dapat saja terlepas dari keburukan internet. Tetapi, yang menjadi soal adalah apabila kaidah ini diamalkan oleh seorang santri dengan setengah-setengah. Gayanya menjauhi internet di keramaian samabil menyuarakan kaidah di atas. Namun, ketika ia sedang sendiri, dibukanya internet untuk memuaskan diri. Dibanding teman-temannya, dialah orang yang paling terbawa arus negatif dari internet. Pengamalan kaidah secara setengah-setengah ini dapat ditemukan dalam berbagai model.

Internet merupakan pisau bermata dua, ia membawa banyak sekali manfaat tetapi ia juga membawa madharat. Dalam levelnya yang sekarang, wajar bila sebagian santri mencoba menjauhi internet. Meskipun keburukan yang disebabkannya berawal dari kurangnya pengetahuan santri akan skill dan keterampilan yang dapat diperoleh dari internet. Seandainya, mereka mengetahui (dan diajarkan sedikit kegiatan seperti Web Development Creator, Content Creator, Blogger dsb.) niscaya mereka akan mendapati besarnya manfaat internet. Hubungan antara manusia modern dengan internet sama dengan hubungan antara manusia primitif dengan binatang liar di alam. Prinsipnya sederhana: memakan atau dimakan. Jadi, orang yang memanfaatkan internet tidak akan oleh makhluk yang bernama internet, sebagaimana yang terjadi pada kebanyakaan oarang tak terkecuali santri.

Namun, bila kita saksikan perkembangan internet yang dinamis, ramalah Harari di atas mungkin akan lebih cepat terwujudkan. Ketika itu terjadi, di mana AI telah merajalela dan menyingkirkan banyak lapangan pekerjaan termasuk dakwah santri, kira-kira apa yang sebaiknya dilakukan? Hemat penulis, semua santri perlu membaca ulang kaidah dar al-mafasid dengan pespektif baru. Bukan lagi meninggalkan internet itu lebih baik, tetapi sebaliknya menerima internet meskipun terdapat sedikit mudarat. Dibandingkan dengan meninggalkan internet untuk kemaslahatan pribadi tetapi fitnah dalam agama mulai mewabah. Maksud dari fitnah agama di sini adalah membiarkan masyarakat menggantungkan hidup beragama kepada AI tanpa ada kontrol dari santri sebagai sosok ahli agama.

Berperang melawan AI

Terutama dalam kecerdasan kognitif, jelas bodoh jika kita mencoba menghancurkan atau menghilangkan AI. Sebaliknya, kita perlu berjihad bersama AI. Para ahli agama, dalam hal ini santri, bisa menjadi muhaqqiq dari rumusan yang diberikan oleh AI atau menjadi editor jika terjadi kesalahan ketik dalam rumusan. Seperti kata Harari, keberadaan AI sebenarnya dapat membawa lebih banyak lapangan pekerjaan. Pilot drone dapat beroprasi karena ada 30 orang yang mengawasinya.

Tetapi, tentu saja itu dapat terjadi ketika memiliki kapasitas yang mumpuni dalam mengoprasikan AI. Maka dari itu, pembacaan kaidah dar al-mafasid dengan perspektif baru, bukan keharusan di masa mendatang. Melainkan sebuah kewajiban yang perlu dilakukan saat ini juga sebagai persiapan dalam pengembangan tekhnologi. Kita tentu tidak ingin orang Barat, Wahabi, atau kelompok radikal yang sering menyelewengkan teks-teks ulama salaf menciptakan aplikasi atau bahkan AI. Supaya hal itu tidak terjadi, kita sebagai santri yang perlu bergerak –dengan bentuan dari instansi terkait- dalam pengembangan teknologi hari ini dan memegang kendali utama terhadap AI dikemudian hari.

*Penulis yang berasal dari alamat Kec. Cipatat, Kab. Bandung Barat bisa ditemui di kamar HMC 27 (Al-Aziziyah).

[1] Berhubungan dng atau melibatkan kognisi; 2 berdasar kpd pengetahuan faktual yg empiris. (KBBI)

 

Kesimpulan

Yuval Noah Harari dalam “21 Lessons for the 21st Century” meramalkan bahwa banyak pekerjaan, termasuk pilot, dokter, dan guru, akan digantikan oleh kecerdasan buatan (AI) pada tahun 2050. AI akan memiliki keunggulan kognitif karena data global yang terakumulasi. Untuk santri, aplikasi seperti Maktabah Syamilah berpotensi berkembang dan mengancam peran tradisional mereka.

Santri konservatif sering menghindari internet dengan dalih mencegah keburukan, namun ini bisa berujung pada ketergantungan negatif pada internet. Padahal, internet memiliki manfaat besar jika dimanfaatkan dengan benar, seperti dalam bidang Web Development dan Content Creation.

Ramalan Harari bisa terwujud lebih cepat, membuat santri perlu menerima internet dan AI meskipun ada sedikit mudarat, untuk menghindari ketergantungan agama pada AI tanpa kontrol santri. Santri perlu beradaptasi dengan AI, menjadi muhaqqiq atau editor rumusan AI, dan mengembangkan teknologi bersama instansi terkait untuk memegang kendali atas AI di masa depan.

 

Baca juga:
KETIKA HABIB ALI AL-JUFRI DAN KIAI ANWAR MANSHUR BERBAGI BERKAH MELALUI AIR MINUM

Subscribe juga Youtube:
Pondok Pesantren Lirboyo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.