Artikel berikut akan membahas tentang bahaya dan hukum menyebarkan berita hoax, terutama dalam suasana politik seperti sekarang ini. Karena terkadang seseorang sangat mudah termakan berita hoax yang sengaja disebar karena kepentingan politik. Entah untuk meruntuhkan lawannya atau sebagainya. Cerdas dalam memilih berita adalah sebuah keharusan supaya tidak terjerumus dalam persepsi yang salah.
Bahaya Berita Hoax
Seiring dengan perkembangan media sosial yang masif, penyebaran berita palsu atau yang akrab kita kenal dengan sebutan Hoax, kian tak terkendali. Terutama dalam situasi politik seperti saat ini.
Pandai dan bijaksana dalam menyaring berita dari media sosial merupakan suatu keharusan supaya tidak terjerumus dalam persepsi yang salah (hoax). Begitu juga dalam menyebarkan berita, harus selektif dan tidak menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya.
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا (83)
“Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan (kemenangan) atau ketakutan (kekalahan), mereka menyebarluaskannya. Padahal, seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ululamri (pemegang kekuasaan) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan ululamri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah engkau mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)”.
Konteks dari ayat tersebut menjelaskan kedunguan orang-orang munafik yang menyebarkan berita hoax tanpa mencari tahu kevalidannya dengan tujuan untuk mengacaukan suasana. Ayat tersebut juga menyayangkan tindakan mereka yang tidak meminta keterangan pasti terlebih dahulu kepada rasul dan sahabat yang terpercaya yang sudah pasti mengetahui kebenarannya. Sehingga, kaum muslimin dapat dengan pasti mengetahui kebenarannya serta tidak menelan khabar tersebut dengan mentah-mentah.[1]
Menelaah Berita yang Kita Dengar
Muhammad Sayyid Tanthowi dalam Tafsir al-Washitnya menjelaskan bahwa sebagaimana keterangan ulama sudah seharusnya bagi setiap orang untuk tidak menyebarkan berita kecuali mengetahui kevalidannya dan berita tersebut tidak menimbulkan bahaya bagi Masyarakat.[2]
Rasulullah Saw. bersabda sebagaimana riwayat Imam Muslim;
كَفَى بِالْمَرْءِ كِذْبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سُمِعَ
“Cukuplah sebuah kebohongan, orang yang membicarakan setiap yang ia dengar” HR. Muslim.
Dalam hadist tersebut nabi memperingatkan bahaya menceritakan setiap apa yang didengar sama seperti sebuah kebohongan. Sebab merupakan keniscayaan bahwa informasi yang kita dengar tidak semua benar. Hal ini menandakan bahwasannya jika menyebarkan informasi yang kita dengan namun tidak mengetahui kebenarannya maka hal ini bisa kita katakan menyebarkan berita hoax.
Akan tetapi melihat syarat dosa berbohong haruslah keluar dari orang yang tahu bahwa ia sedang berbohong, maka secara hukum, orang yang menceritakan setiap yang ia dengar tidak sama hukumnya dengan keharaman berbohong.[3]
Namun, hal ini sangatlah perlu untuk kita ketahui. Apalagi di masa-masa politik seperti ini. Hal ini sangat rawan menimbulkan kerusuhan. Karena terkadang demi kepentingan politik penyebaran berita yang tidak dapat dipastikan kebenarannya sangat marak terjadi. Kita boleh bermain politik namun jangan sampai merusak hubungan baik yang telah terjalin karena sebuah berita hoax.
Hukum Menyebarkan Berita Hoax
Terkait hukumnya Al-Munawi dalam Faid al-Qodir mengatakan;
فَعَلَيْهِ أَنْ يَبْحَثَ وَلَا يَتَحَدَّثُ إِلَّا بِمَا ظَنَّ صِدْقَهُ فَإِنْ ظَنَّ كِذْبَهُ حَرُمَ وَإِنْ شَكَّ وَقَدْ أَسْنَدَهُ لِقَائِلِهِ وَبَيَّنَ حَالَهُ بَرِئَ مِنْ عُهْدَتِهِ وَإِلَّا اُمْتُنِعَ أَيْضًا وَمَحَلُّ ذَلِكَ مَا إِذَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ لُحُوْقُ ضَرَرٍ وَإِلَّا حَرُمَ وَإِنْ كَانَ صِدْقًا بَلْ إِنْ تَعَيَّنَ الْكِذْبُ طَرِيْقًا لِدَفْعِ ذَلِكَ وَجَبَ
“Wajib bagi setiap orang untuk meneliti khabar yang ia dengar. Tidak boleh baginya menyampaikan khabar kecuali menduga kebenarannya. Ketika menduga bahwa khabar tersebut tidak benar maka haram menyampaikannya. Dan jika ragu akan kebenarannya akan tetapi ia menyebutkan pemilik khabar dan menjelaskan keadaanya maka ia terlepas dari tanggungan. Jika tidak demikian maka tidak boleh. Kebolehan menyampaikan khabar tersebut selama tidak mendatangkan bahaya. Jika dapat mendatangkan bahaya maka haram meskipun beritanya benar. Bahkan jika berbohong satu-satunya jalan untuk menolak bahaya tersebut maka berbohong hukumnya wajib.”[4]
Syarat Menyampaikan Berita
Sehingga secara terperinci hukum menyampaikan berita yang didengar adalah haram kecuali terpenuhi beberapa syarat:
- Punya dugaan terkait kebenaran berita, misalkan mendapat berita dari sumber terpercaya.
- Tidak mengandung konten yang haram seperti ghibah, namimah (adu domba), ifsaussirri (menyebarkan rahasia) dan lain-lain.
- Tidak berdampak keharaman seperti menimbulkan keresahan masyarakat.
- Jika terdapat keraguan atas kebenaran berita maka boleh membagikan berita dengan menyertakan sumber asal berita tersebut sepanjang tidak terdapat konten yang haram serta tidak berdampak keharaman sebagaimana perincian di atas.
Sekian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi as-sahawab.
Baca Juga; Pajak dalam Perspektif Syariat Islam di Indonesia
Subscribe; Pondok Lirboyo
Sumber dan Referensi
Bahaya Berita Hoax
[1] Muhammad Sayyid Tanthawi, at-Tafsir al-Washit li al-Qur’an al-Karim, Dar an-Nahdloh: Kairo-Mesir, Hal. 236, jilid 3.
والمعنى: أن هؤلاء المنافقين وضعاف الإيمان كان من شأنهم وحالهم أنهم إذا سمعوا شيئا من الأمور فيه أمن أو خوف يتعلق بالمؤمنين أشاعوه وأظهروه بدون تحقق أو تثبت، بقصد بلبلة الأفكار، واضطراب حال المؤمنين، ولو أن هؤلاء المنافقين ومن يستمعون إليهم ردوا ذلك الخبر الذي جاءهم والذي أشاعوه بدون تثبت، لو أنهم ردوه إلى الرسول ﷺ وإلى كبار الصحابة البصراء في الأمور: لعلمه أى لعلم حقيقة ذلك الخبر الذين يستنبطونه أى: الذين يستخرجونه ويستعملونه ويتطلبونه وهم المنافقون المذيعون للأخبار منهم أى: من الرسول وأولى الأمر. أى: لو أن أولئك المنافقين وأشباههم الذين يستخرجون الأخبار ويذيعونها بغير تثبت سكتوا عن إذاعتها وردوا الأمر في شأنها إلى الرسول وإلى كبار أصحابه، لو أنهم فعلوا ذلك لعلموا من جهة الرسول ومن جهة كبار أصحابه حقيقة تلك الأخبار، وما يجب عليهم نحوها من كتمان أو إذاعة.
Menelaah Berita yang Kita Dengar
[2] Muhammad Sayyid Tanthawi, at-Tafsir al-Washit li al-Qur’an al-Karim, Dar an-Nahdloh: Kairo-Mesir, Hal. 237, jilid 3.
ومن الأحكام والآداب التى أخذها العلماء من هذه الآية الكريمة وجوب عدم إذاعة الأخبار – خصوصها فى حالات الحرب – إلا بعد التأكد من صحتها ومن عدم إضرارها بمصلحة المسلمين .وفى ذلك يقول الإِمام ابن كثير : قوله – تعالى – { وَإِذَا جَآءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأمن أَوِ الخوف أَذَاعُواْ بِهِ } إنكار على من يبادر إلى الأمور قبل تحققها فيخبر بها ويفشيها وينشرها ، وقد لا يكون لها صحة
[3] Muhammad ibn ‘Allan as-Shiddiqiy as-Syafi’i, Futuhat ar-Rubbaniyyah ‘ala al-Adzkar an-Nawawiyyah, Jamiyyah an-Nasr wa at-Ta’lif al-Azhariyyah, Hal. 163, Jilid 7.
(قوله كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع) الباء زائدة في المفعول وكذبا منصوب على التمييز وأن يحدث مؤول بالتحديث فاعل كفى أى كفى المرء من حديث الكذب تحديثه بكل ما سمعه وذلك لأنه يسمع في العادة الصدق والكذب فإذا حدث بكل ما سمع فقد كذب لإخباره بما لم يكن وقد قدمنا أن مذهب أهل الحق أن الكذب الإخبار عن الشيء بخلاف ما هو ولا يشترط التعمد فيه لكن التعمد شرط في كونه إثما فيكره الحديث بكل ما سمع لذلك فإن قلت جاؤ في رواية أخرى كفى بالمرء إثما أن يحدث بكل ما سمع وهو يقتضي حرمة ذلك فكيف قالوا بكراهتيه قلت المعنى أن كل من حدث بكل ما سمع وقع في الكذب وهو لايشعر فعبر عن الكذب بالإثم تجوزا لكونه ملازما له غالبا وقرينة التجوز ما عرف من القواعد أن لا إثم في الكذب إلا مع التعمد.
Hukum Menyebarkan Berita Hoax
[4] Abd ar-Ra’uf ibn Taj al-‘Arifin, Faid al-Qodir Syarh al-Jami’ as-Shogir, al-Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra: Mesir, Hal. 556 jilid 4.
( كفى بالمرء إثما أن يحدث بكل ما يسمع ) يعني لو لم يكن للرجل إثما إلا تحدثه بكل ما يسمعه من غير بينة أنه صدق أم كذب يكفيه من الإثم لأنه إذا تحدث بكل ما يسمعه لم يخلص من الكذب إذ جميع ما يسمع ليس بصدق بل بعضه كذب فعليه أن يبحث ولا يتحدث إلا بما ظن صدقه فإن ظن كذبه حرم وإن شك وقد أسنده لقائله وبين حاله برئ من عهدته وإلا امتنع أيضا ومحل ذلك ما إذا لم يترتب عليه لحوق ضرر وإلا حرم وإن كان صدقا بل إن تعين الكذب طريقا لدفع ذلك وجب ( د ك عن أبي هريرة )
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
