Hukum Kurban Online

hukum kurban online

Dalam tulisan ini, redaksi Lirboyo.net menyoroti tentang fenomena yang sedang tranding, yaitu mengenai tentang hukum dari kurban online. Memandang zaman sekarang banyak sekali inovasi sebagai maksud untuk mempermudah jalan ibadah. Banyak sekali pihak yang menyediakan layanan ini. Sebut saja BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional). Badan resmi yang bentukan pemerintah yang memiliki tugas dan fungsi menghimpun dan menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) pada tingkat nasional.

Berikut adalah ilustrasi proses kurban online:

Ilustrasi Kurban Online

  1. Pilih hewan kurban

Dalam tahap ini, mudhahi (orang yang berkurban) memilih hewan kurban. Terdapat pilihan domba atau kambing dengan bobot 27-29 kg seharga Rp. 2.500.000, domba atau kambing dengan bobot 23-26 kg seharga Rp. 2.200.000, dan seterusnya;

  1. Lakukan pembayaran

Setelah memilih hewan kurban, mudhahi melanjutkan proses kurban online dengan melakukan pembayaran. Metode pembayaran yang berlaku adalah transfer melalui bank atau pihak lain yang telah bermitra dengan BAZNAS, seperti Shopee, Indomaret, Alfamart, dan lain-lain;

  1. Proses penyembelihan

Setelah pembayaran sukses, hewan yang telah dipilih, disembelih oleh pihak BAZNAS;

  1. Pendistribusian daging kurban

Daging dari hewan sembelihan kemudian oleh pihak BAZNAS akan mendistribusikannya kepada pihak yang membutuhkan;

  1. Pengiriman sertifikat dan pelaporan

Tahap terakhir adalah pihak BAZNAS mengirimkan sertifikat kepada mudhahi beserta laporan yang menunjukkan berjalannya seluruh rangkaian kurban.

Penjelasan Hukum Fiqh Kurban Online

Hukum pelaksanaan kurban dengan praktik semacam ini adalah sah dan merupakan bentuk perwakilan kurban meski tanpa menyertakan ijab kabul akad antara wakil yakni BAZNAS dengan orang yang berkurban (wakalah mu’athoh). Pihak yang melayani kurban online posisinya sebagai wakil dari seseorang yang berkurban. Ini mirip dengan praktik yang marak dilakukan orang-orang Nusantara terdahulu, yakni mewakilkan pembelian hewan kurban di Makkah untuk selanjutnya disembelih dan dibagikan di sana.”

Berikut keterangan Syaikh Abu Bakar as-Syatho dalam I’anah at-Tholibin:

(سئل) رحمه الله تعالى: جرت عادة أهل بلد جاوى على توكيل من يشتري لهم النعم في مكة للعقيقة أو الأضحية ويذبحه في مكة، والحال أن من يعق أو يضحي عنه في بلد جاوى فهل يصح ذلك أو لا؟ أفتونا. (الجواب) نعم، يصح ذلك، ويجوز التوكيل في شراء الأضحية والعقيقة وفي ذبحها، ولو ببلد غير بلد المضحي والعاق كما أطلقوه فقد صرح أئمتنا بجواز توكيل من تحل ذبيحته في ذبح الأضحية، وصرحوا بجواز التوكيل أو الوصية في شراء النعم وذبحها، وأنه يستحب حضور المضحي أضحيته

“Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi, pengarang syarah Ibnu Hajar dalam al-Mukhtashar (Minhaj Al-Qawim) bahwa beliau ada orang bertanya tentang kebiasaan penduduk Jawa yang mewakilkan kepada seseorang untuk membelikan hewan ternak bagi mereka di Makkah, untuk aqiqah maupun kurban, dan menyembelihknya di Mekah. Padahal orang yang diaqiqahkan atau disembelihkan qurban berada di Jawa. Sahkah hal itu? Berilah fatwa kepada kami. Jawab: “Ya hal itu sah. Boleh mewakilkan orang lain untuk membelikan qurban atau aqiqah dan penyembelihannya, meski di luar negara orang yang berqurban dan aqiqah.” (Ianah Ath-Thalibin 2/381)

Aturan Fiqih Madzhab Syafi’i

Dalam aturan fiqih Madzhab Syafi’i, menyembelih hewan kurban di mana pun hukumnya boleh, contohnya perantau. Ia boleh berkurban di tempat domisili atau mewakilkan kepada orang lain untuk melaksanakan kurbannya di kampung halaman.

Adapun yang menjadi perselisihan ulama adalah memindahkan penyaluran daging kurban dari tempat penyembelihannya (naql al-udhhiyah). Misalnya, seseorang menyembelih kurban di kota A, kemudian menyalurkannya di kota B. Menurut sebagian ulama, praktik semacam ini tidak boleh, sedangkan menurut sebagian lainnya memperbolehkan.

Penjelasan dalam Kitab Hasyiyah ‘ala al-Ghurar al-Bahiyyah

Sebagaimana penjelasan Syekh Ibnu Qasim al-Ubbadi dalam Hasyiyah ‘ala al-Ghurar al-Bahiyyah:

(قَوْلُهُ: وَوَاجِبٌ إنْ مَلَكَ الْفَقِيرُ إلَخْ) قَالَ فِي الرَّوْضِ وَنَقْلُهَا عَنْ بَلَدِهَا كَنَقْلِ الزَّكَاةِ. اهـ.وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ وَإِنْ نَازَعَ الْإِسْنَوِيُّ فِيهِ فَالْمُرَادُ بِالْفَقِيرِ فَقِيرُ بَلَدِهَا وَيَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ الْمُرَادَ بِبَلَدِهَا بَلَدُ ذَبْحِهَا وَقَدْ ظَنَّ بَعْضُ الطَّلَبَةِ أَنَّ شَرْطَ إجْزَاءِ الْأُضْحِيَّةَ ذَبْحُهَا بِبَلَدِ الْمُضَحِّي حَتَّى يَمْتَنِعَ عَلَى مَنْ أَرَادَ الْأُضْحِيَّةَ أَنْ يُوَكِّلَ مَنْ يَذْبَحُ عَنْهُ بِبَلَدٍ آخَرَ وَالظَّاهِرُ أَنَّ هَذَا وَهْمٌ بَلْ لَا يَتَعَيَّنُ أَنْ يَكُونَ الذَّبْحُ بِبَلَدِ الْمُضَحِّي بَلْ أَيُّ مَكَان ذَبَحَ فِيهِ بِنَفْسِهِ أَوْ نَائِبِهِ مِنْ بَلَدِهِ أَوْ بَلَدٍ أُخْرَى أَوْ بَادِيَةٍ أَجْزَأَ وَامْتَنَعَ نَقْلُهُ عَنْ فُقَرَاءِ ذَلِكَ الْمَكَانِ أَوْ فُقَرَاءِ أَقْرَبِ مَكَان إلَيْهِ إنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ فُقَرَاءُ فَلْيُتَأَمَّلْ

“Berkata Imam Ibnu al-Muqri dalam kitab al-Raudl: memindah kurban dari daerahnya hukumnya seperti memindah zakat (haram). Ini adalah pendapat yang menjadi pegangan, meski Imam al-Asnawi menentangnya. Maka penjelasan orang fakir adalah orang fakir di tempat kurban. Seyogianya perlu tahu bahwa yang maksud daerah kurban adalah daerah tempat penyembelihan kurban.”

“Sebagian pelajar menyangka bahwa syarat mencukupinya kurban adalah dengan penyembelihan di daerah domisili mudlohhi, sehingga tercegah bagi orang yang ingin berkurban mewakilkan penyembelihan kurban kepada orang lain di luar daerah. Yang jelas, anggapan ini adalah kekeliruan, bahkan penyembelihan kurban tidak harus di daerahnya domisili mudlahhi, pelaksanaan kurban sah dan mencukupi di mana pun tempatnya, baik disembelih sendiri atau diwakilkan kepada orang lain di daerahnya atau di daerah lain atau bahkan di hutan. Dan tercegah memindah daging kurban dari orang fakir daerah penyembelihan atau orang fakir daerah tetangga terdekat bila di daerah penyembelihan tidak ada orang fakir”. (Syekh Ibnu Qasim al-Ubbadi, Hasyiyah ‘ala al-Ghurar al-Bahiyyah, juz 5, hal. 170).

Sekian yang bisa kami sampaikan tentang hukum kurban online, semoga bermanfaat. Waallahu a’lam bi as-shawab. Jangan lupa untuk dukung youtube dan media sosial Pondok Lirboyo, agar semakin berkembang dan maju.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.