Hikmah Kurban

Hikmah Kurban dari Beberapa Aspek Kehidupan

Hikmah Kurban dari Beberapa Aspek Kehidupan

Ibadah kurban memiliki beberapa hikmah dan pesan moral yang ada di dalamnya. Dalam konteks ini, hikmah kurban terbagi ke dalam tiga aspek, yakni sejarah, spiritual, dan sosial.

Pertama, aspek sejarah

Syariat ibadah kurban mengingatkan kembali kepada umat Islam akan peristiwa agung Nabi Ibrahim AS. dan putranya, Nabi Ismail AS. Lewat sebuah mimpi, Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah SWT. untuk menyembelih putranya, sebagai tebusan dari nazar yang pernah beliau ucapkan.

Rekam sejarah tersebut mempunyai hikmah dan uswah (suri tauladan) bagi umat Islam. Bagaimana bentuk kepatuhan dan kesetiaan seorang hamba terhadap Tuhannya. Karena kalau bukan didasari atas keimanan dan kesetiaan, sulit rasanya membayangkan Nabi Ibrahim AS. rela memenuhi perintah untuk menyembelih putra yang telah lama diidam-idamkannya.

Di samping itu, dalam peristiwa sejarah tersebut terdapat sebuah praktek demokrasi dalam pengambilan keputusan yang telah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim AS. Sebelum menjalankan perintah Allah SWT., Nabi Ibrahim AS. terlebih dahulu mengajak dialog dan memberikan kesempatan pada Nabi Ismail AS. untuk memikirkannya secara matang atas perintah tersebut. Kendati sebenarnya Nabi Ibrahim as. mempunyai otoritas mutlak dalam mengambil keputusan, namun ia memilih melakukan pendekatan dialogis dan persuasif agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Kedua, aspek spiritual

Tak dapat dipungkiri, Ibadah kurban adalah ibadah yang dianjurkan dalam syariat Islam sebagaimana yang telah tercantum di dalam Alquran dan hadis. Karena sejatinya, setiap umat islam yang melaksanakan ibadah kurban tidak memiliki tujuan apapun kecuali menjadikan ibadah tersebut sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. serta mengharapkan rida dan ampunanNya. Selain itu, ibadah kurban memiliki hikmah spiritual dalam pembiasaan diri untuk bersikap ikhlas dalam melaksanakan amal ibadah.

Untuk itu, tidak heran betapa besar pahala dan balasan yang telah Allah SWT. janjikan bagi mereka yang melaksanakan ibadah kurban. Salah satunya sebagaimana yang telah dijelaskan Rasulullah SAW. dalam hadis:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ

“Tiada amal ibadah manusia pada hari Nahr (hari menyembelih kurban) yang lebih disenangi oleh Allah SWT. kecuali mengalirkan darah (menyembelih binatang kurban). Sesungguhnya hewan kurban datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, dan kuku kakinya. Dan sesungguhnya darah binatang kurban akan jatuh (ke dalam tempat diterimanya amal) oleh Allah sebelum darah tersebut jatuh ke bumi.” (HR. At-Turmudzi)

Ketiga, aspek sosial.

Dalam fikih, ibadah kurban tergolong ibadah Ghoiru Mahdhoh. Dengan artian bahwa ibadah tersebut tidak hanya menitikberatkan pada hubungan seorang hamba kepada Tuhannya, melainkan juga mempertimbangkan hubungan antara hamba tersebut dengan masyarakat di sekitarnya. Selain memberi manfaat sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah SWT., ibadah kurban juga memberi manfaat pada sesama umat Islam terutama terhadap golongan fakir miskin dan kaum yang lemah (dhuafa’).

Melihat hal tersebut, tidak terasa aneh bahwa dalam kajian fikih mengenai pendistribusian daging kurban dirumuskan dalam beberapa pemilahan. Pemilahan tersebut mencakup pendistribusian bagi orang-orang yang termasuk kategori kaya hanya sebatas ith’am (legalitas konsumsi). Namun untuk golongan fakir miskin lebih leluasa baik dalam hal menjual atau mengkonsumsi ataupun yang lainnya, karna pemberian pada kelompok ini berstatus tamlik (pemberian hak milik).

Akhir kata, ibadah kurban sebagai salah satu syiar agama Islam merupakan ibadah yang mengajarkan umat untuk senantiasa mendekatkan diri pada Allah SWT. seraya mengikuti jejak historis Nabi Ibrahim AS. dan nabi Ismail AS. yang menjadi lambang ketaatan dan kesetiaan seorang hamba pada perintah Tuhannya serta ibadah yang mampu menarik kekuatan hubungan sosial dengan umat islam yang lain. Dengan mengetahui beberapa aspek tersebut, diharapkan umat islam semakin tekun dan bersemangat dalam menjalankan perintah anjuran berkurban dan mampu menerapkan dan mengamalkan substansi dan tujuannya dalam kehidupan sehari-hari. []wAllahu a’lam

Referensi:

Ali ash-Shobuni, Mukhtasar Tafsir Ayat al-Ahkam, (Kediri: Dar al-Mubtadiin, tt.) hlm. 187.
Syuhabuddin al-Qulyubi, Hasyiyah Al-Qulyubi (Surabaya: Al-Haramain, tt.) IV/251.
Zakaria al-Anshari, Fath al-Wahhab, II/189, CD. Maktabah Syamilah.
Al-Mawardi, Al-Hawi al-Kabir, IV/186, CD. Maktabah Syamilah.
Utsman al-Khaubawy, Dzurroh an-Nashihin, hlm.136.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.