HomeAngkringJangan Remehkan Orang Lain

Jangan Remehkan Orang Lain

0 0 likes 748 views share

Dikisahkan, ada seorang yg hidup bergelimang dosa meninggal di pinggiran kota Bashrah. Perilaku buruknya membuat tetangganya acuh tak acuh dengan kematiannya. Sehingga istrinya tidak mendapati orang yg mau membantu membawa jenazahnya ke masjid dan pemakaman. Terpaksa istrinya mengupahi dua orang untuk membawa jenazah tersebut.

Dibawalah jenazah tadi ke masjid. Juga tidak ada seorangpun yg bersedia menyolatinya. Orang-orang seperti pura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.
Istrinya memutuskan untuk segera membawa jenazah suaminya ke pemakaman.

Di sebuah bukit yg lokasinya bersebelahan dengan pemakaman, ada seorang ulama besar yang terlihat seperti menunggu seseorang. Ternyata beliau ingin menyolati jenazah yang akan melewati tempat tersebut. Berita ulama besar akan menyolati jenazah di tempat itu segera tersiar ke seantero Bashrah. Orang-orang berduyun-duyun untuk juga ikut menyolati, serta penasaran jenazah siapakah yg mendapat kehormatan disholati oleh ulama besar. Setelah selesai menyolati, orang-orang heran dan takjub. Ternyata jenazah yg mereka sholati adalah orang yg mereka kenal sebagai ahli maksiat. Mereka bertanya kepada ulama tsb.

“Apa yang membuat anda bersedia datang jauh-jauh ke tempat ini dan menyolati jenazah ini?”

“Ada yg berkata dalam mimpiku, “Datangilah bukit di sebelah pemakaman. Di sana kamu akan melihat jenazah yg pengiringnya hanya satu orang wanita. Sholatilah dia, karena dia orang yg mendapatkan ampunan.” jawab ulama.

 

Bertambahlah ketakjuban orang-orang yg hadir di tempat itu. Ulama tadi kemudian memanggil istri almarhum dan menanyakan keseharian suaminya dan perjalanan hidupnya. Istrinya menjawab, “Dia seperti yg sudah dikenal di kota ini. Sepanjang hari dia menghabiskan waktu untuk bermaksiat dan minum arak.”

“Coba anda perhatikan lagi, apakah ada amal kebaikan yg dia lakukan?” tanya ulama itu lagi.

“Iya setahuku tiga hal. Yang pertama, setiap dia sadar dari mabuknya pada waktu shubuh, dia mengganti bajunya, berwudhu dan melaksanakan shubuh berjamaah. Kemudian dia kembali mabuk dan berbuat maksiat.

Yang kedua, di rumahnya selalu ada dua atau satu anak yatim. Dia memperlakukan dengan baik anak yatim itu melebihi kepada anaknya sendiri.

Yang ketiga, jika dia sadar dari mabuknya di tengah gelap malam, dia menangis dan meratap, “Ya Allah, di bagian neraka jahanam mana Engkau akan menempatkan hambamu yg kotor dengan maksiat ini.”

Sang ulama kemudian pulang, karena dia sudah mengetahui dengan jelas peristiwa aneh yang terjadi di siang hari itu.

dikutip dari Ihya’ Ulumiddin.

*Jangan mudah berprasangka buruk kepada orang lain. Setiap orang punya kisah hidupnya sendiri yang kita tidak mengetahui hakikat sebenarnya.