Adilnya Kaisar China yang Tuli

Tiap penguasa membutuhkan penasehat moral. Untuk menjaga kebeningan hatinya dalam menjalankan pemerintahannya. Sebagaimana kebiasaan para raja terdahulu, mereka memanggil ulama, sufi, ahli zuhud, atau golongan semacamnya untuk memberikan nasehat moral itu. Maka pada suatu masa, seorang ahli zuhud (zahid) diundang untuk datang ke istana seorang khalifah. Ia diminta untuk memberikan asupan bagi jiwa sang raja yang tengah kering.

Sang zahid kemudian memulai nasihatnya dengan bercerita. Ia mengisahkan perjalanannya ke suatu negara jauh. Kerajaan Cina.

Ketika ia sedang mengembara di sana, sang kaisar dari kerajaan itu tertimpa musibah. Telinganya tuli. Dia tak bisa mendengar apa-apa. Sampai kemudian sang ahli zuhud ini mengetahui bahwa pada suatu malam, sang kaisar ini merintih. Dia menangis. Mengadu pada tuhannya.

“Tuhanku, demi Dirimu. Tidaklah aku menangis karena kehilangan pendengaranku. Aku menangis karena aku telah dzalim kepada rakyatku. Kepada mereka yang berhenti di depan pintuku. Mereka meminta pertolonganku, tapi aku tak mendengar permintaan mereka.” Sang kaisar mengeluh, karena ia merasa tak bisa menjalankan amanah sebagai penguasa dengan cara sebaik-baiknya.

“Tetapi aku bersyukur, masih Engkau sisakan penglihatan yang sehat untukku.”

Ia kemudian memanggil juru bicaranya. Menyuruhnya memberitahukan kepada seluruh rakyatnya, bahwa “Siapa saja yang hidupnya teraniaya, hendaklah berpakaian berwarna merah.”

Tentu saja ini sebagai upaya sang raja untuk peduli terhadap rakyatnya. Tak bisa gunakan telinga untuk mendengar, ia gunakan matanya untuk menyerap kesusahan rakyatnya. Karenanya, ia kemudian berkeliling ke penjuru negaranya. Ia menaiki gajahnya, tunggangan yang hanya digunakan pembesar kerajaan pada zaman itu. Setiap orang yang ia lihat memakai baju merah, ia memanggilnya. Menyelesaikan setiap keluhan mereka. Ia ingin memastikan keadilan ditegakkan di depan matanya dari setiap perselisihan di antara rakyatnya.

“Lihatlah wahai Amirul Mukminin,” sang zahid menghentikan kisahnya. “Betapa belas kasihnya pemimpin kafir itu kepada para hamba Allah.” Ia memungkasi nasehat hari itu dengan permohonan yang indah, “Sementara engkau adalah seorang mukmin yang mewarisi sifat-sifat kenabian, maka bagaimana engkau akan menunjukkan belas kasih kepada rakyatmu?”

Al-Tibr al Masbuk fi Nashihati al Mamluk. Hujjah al-Islam Muhammad al-Ghazali. DKI. Lebanon. Hal. 20.

Baca juga: Berkah Pernikahan.

Simak juga: Momen Mengharukan KH. M. Anwar Manshur dan Habib Ali Al-Jufri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.