960 views

Setan Dibelenggu Saat Bulan Puasa, Benarkah?

Diantara keistimewaan bulan Ramadhan adalah terbukanya surga, tertutupnya neraka dan terbelenggunya setan. Sebagaimana hadist berikut:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغَلَّقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia terhalang mendapat sesuatu yang besar.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

Keterangan tersebut sudah tak terhitung lagi berapa kali disampaikan. Namun karena masih sedikit yang menyampaikan keterangan lebih lanjut tentang hadist terkait, banyak yang masih mempertanyakan perihal keutamaan bulan Ramadhan tersebut. Contohnya mengenai terbelenggunya setan. Meskipun sudah memasuki bulan Ramadhan masih banyak orang yang melakukan kemaksiatan, padahal setan yang medorong mereka terjerumus dalam kemaksiatan telah terbelenggu di dalam jurang neraka yang terdalam.

Baca Juga: Tunda haid Demi Puasa Ramadhan

Sebelumnya, mungkin masih ada temen-temen yang belum mengetahui mengenai perbedaan antara dorongan hawa nafsu dan dorongan setan. Maka sedikit akan kami jelaskan tentang perbedaan keduanya. Karena, dalam pembahasan ini kita perlu mengetahui perbedaan antara dorongan hawa nafsu dan dorongan setan.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia Kata Nafsu merupakan Nomina (kata benda) yang memiliki beberapa arti. Diantaranya adalah keinginan (kecenderungan, dorongan) hati yang kuat. Contoh: ‘karena kecewa, nafsunya untuk belajar mulai berkurang’. Sementara kata setan merupakan Nomina (kata benda) yang memiliki arti roh jahat (yang selalu menggoda manusia supaya berlaku jahat). Dari keterangan tersebut bisa kita simpulkan bahwa dorongan hawa nafsu itu bersifat internal (dari diri sendiri) sementara dorongan setan itu bersifat eksternal (dorongan dari setan).

Mengutip pendapat dari imam al-Junaidi, imam al-Athor menjelaskan perbedaan dari dorongan hawa nafsu dan dorongan setan. Hawa nafsu seseorang ketika sudah menginginkan sesuatu maka selamanya ia akan berusaha untuk menghasilkannya, ketika gagal dihari ini maka dilain waktu ia akan mencobanya kembali sampai keinginannya terwujud. Dorongan itu hanya bisa dihilangkan dengan terus memeranginya. Sementara setan apabila gagal menjerumuskan manusia dalam satu keharaman maka ia akan beralih kepada keharaman yang lain. Gagal mendorong seseorang untuk berzina maka setan akan menggodanya untuk sekedar memandang perempuan. Berikut penjelasan beliau:

(قَوْلُهُ: فَإِنَّهُ مِنْ الشَّيْطَانِ) فَرَّقَ الْجُنَيْدُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – بَيْنَ هَوَاجِسِ النَّفْسِ وَوَسَاوِسِ الشَّيْطَانِ بِأَنَّ النَّفْسَ إنْ طَلَبَتْكَ بِشَيْءِ أَلَحَّتْ فَلَا تَزَالُ تُعَاوِدُ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ حَتَّى تَصِلَ مُرَادَهَا وَتَفْعَلَ مَقْصُودَهَا اللَّهُمَّ إلَّا أَنْ تَدُومَ صِدْقُ الْمُجَاهَدَةِ ثُمَّ إنَّهَا تُعَاوِدُ وَتُعَاوِدُ أَمَّا الشَّيْطَانُ إذَا دَعَاهُ إلَى زَلَّةٍ وَخَالَفْتَهُ يَتْرُكُ ذَلِكَ وَيُوَسْوِسُ بِزَلَّةٍ أُخْرَى لِأَنَّ جَمِيعَ الْمُخَالَفَاتِ لَهُ سَوَاءٌ وَإِنَّمَا يُرِيدُ أَنْ يَكُونَ دَاعِيًا أَبَدًا إلَى زَلَّةٍ مَا وَلَا غَرَضَ لَهُ فِي تَخْصِيصِ وَاحِدَةٍ دُونَ وَاحِدَةٍ

“Imam al-Junaidi membedakan antara obsesi nafsu dan godaan setan. Bahwa nafsu ketika terobsesi terhadap sesuatu maka dorongannya akan terus ada walaupun sudah lama sampai obsesinya tercapai dan terlaksana. Kecuali semangat untuk memeranginya terus ada setiap kali obsesi nafsu itu muncul. Adapun setan ketika ajakanan untuk melakukan kesalahan tidak disetujui maka ia akan meninggalkan ajakannya itu dan mengajak untuk melakukan kesalahan yang lain. Karena semua kesalahan dimata setan adalah sama. Tujuannya setan hanyalah satu yaitu terus mengajak melakukan kesalahan apapun itu. Setan tidak memiliki kepentingan untuk mengkhususkan satu masalah tidak yang lainnya.”

Baca Juga: Cahaya Syaikh Yusuf Makasar

Dengan bekal pemahaman yang demikian kita akan dengan mudah memahami apa yang disampaikan al-Manawi terkait hadist terbelenggunya setan dibulan Ramadhan. Beliau menjelaskan bahwa maksud dari terbelenggunya setan dibulan Ramadhan adalah ketidakberdayaan setan untuk menggoda manusia dikarenakan dibulan puasa orang-orang dengan semangatnya menjalankan puasa di siang hari dan berbondong-bondong ke masjid di malam hari untuk jama’ah tarawih, mengikuti tadarusan dan ibadah yang lain. Cahaya dari ketaatan itulah yang menghalangi setan untuk mendekat dan menggoda manusia. Kalaupun ditemukan ada orang-orang yang masih saja melakukan kemaksiatan, itu dikarenakan dorongan nafsu pribadi mereka yang sudah terbiasa melakukan kemaksiatan. Kesimpulan tersebut sebagaimana terekam dalam karangan beliau Faid al-Qodr:

(وَسُلْسِلَتْ) لَفْظُ رِوَايَةِ مُسْلِمٍ صُفِدَتْ (الشَّيَاطِيْنُ) شُدَّتْ بِالْأَغْلَالِ لِئَلَّا يُوَسْوِسُوْا لِلصَّائِمِ وَآَيَةُ ذَلِكَ تَنَزُّهُ أَكْثَرِ الْمُنْهَمِكِيْنَ فِيْ الطُّغْيَانِ عَنْ الذُّنُوْبِ فِيْهِ وَإِنَابَتُهُمْ إِلَيْهِ تَعَالَى وَأَمَّا مَا يُوْجَدُ فِيْهِ مِنْ خِلَافِ ذَلِكَ فِيْ بَعْضِ الْأَفْرَادِ فَتَأْثِيْرَاتٌ مِنْ تَسْوِيَلَاتِ الْمَرَدَّةِ أَغْرَقَتْ فِيْ عُمْقِ تِلْكَ النُّفُوْسِ الشَّرِيْرَةِ وَبَاضَتْ فِيْ رُؤُوْسِهَا

“(Di bulan Ramadhan) Setan-setan diikat dengan belenggu supaya tidak menggoda orang yang berpuasa, hal ini terbukti dengan bersihnya orang-orang yang selalu berbuat lalim dari dari kelalimannya dan mereka pun kembali kepada Allah Swt. adapun realita yang berbeda dari hal itu disebagian orang maka itu adalah dampak dari nafsu pribadi yang berada dalam hati yang mempengaruhi fikiran”

Maka dari itu dengan datangnya bulan ramadhan kita hendaknya bisa mengubah kebiasan buruk yang selama ini kita lakukan dengan cara lebih giat lagi menjalankan kewajiban-kewajiban dibulan ramadhan ini. Sekian waallahu a’lam bisshawab.

Kunjungi juga: Live Pengajian Kitab al-adzkar Bersama KH. Anwar Manshur.

6

One thought on “Setan Dibelenggu Saat Bulan Puasa, Benarkah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.