Makna Diturunkannya Al-Quran
Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 185 berbunyi:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى للناس
“… bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia”
Lho, bukannya Al-Quran turun selama 23 tahun secara bertahap (tidak sekaligus)? Dan bukannya Al-Quran juga tidak hanya turun pada bulan Ramadhan saja, melainkan pada bulan-bulan lain juga?
Lantas, apa sebetulnya makna dari “diturunkannya Al-Quran pada bulan Ramadhan”?
Menurut Imam Fakhr ad-Din Ar-Razi dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib mengatakan:
أَنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ جُمْلَةً إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، ثُمَّ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ نُجُومًا، وَإِنَّمَا جَرَتِ الْحَالُ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ لِمَا عَلِمَهُ تَعَالَى مِنَ الْمَصْلَحَةِ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ
“Bahwa Al-Qur’an turun pada malam Lailatul Qadar secara keseluruhan ke langit dunia, kemudian turun ke bumi secara bertahap. Dan keadaan tersebut terjadi dengan cara seperti ini karena Allah mengetahui maslahat yang terbaik dengan cara demikian.”[1]
Dasar Peringatan Nuzulul Quran
Lalu, mengapa peringatan Nuzulul Quran terealisasi pada malam ke-17?
Hal demikian karena mengacu pada Q.S Al-Anfal ayat 41.
وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۗ
“Dan kepada apa (ayat-ayat) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad) pada hari al-furqān (pembeda), yaitu pada hari bertemunya dua pasukan.”
Dalam ayat tersebut, menurut para ulama mengartikan kata “yaum al-furqan” sebagai bertemunya perkara yang haq (pasukan Muslim) dan perkara yang bathil (pasukan Quraisy) saat perang Badar.
Menurut Imam Hasan, Ibn Ishaq dan Abdullah bin Zubair berpendapat bahwa:
هِيَ لَيْلَةُ سَبْعَ عَشَرَةَ مِنْ رَمَضَانَ، وَهِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي كَانَتْ صَبِيحَتُهَا وَقْعَةُ بَدْرٍ
“kejadian itu bertepatan pada malam 17 bulan Ramadhan yang mana pagi harinya terjadi perang Badar.”[2]
Pendapat lain menegaskan bahwa pada malam 17 Ramadhan merupakan malam di mana Al-Quran diturunkan, meskipun berawal dari peristiwa pertama kali Baginda Nabi menerima wahyu pertama—bukan peristiwa perang Badar seperti yang di atas tadi—namun menuai esensi yang masih tetap sama.
Yaitu pendapatnya Imam Ibnu Katsir dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah yang menukil dari Imam al-Waqidi yang sanadnya menyambung sampai Abu Ja’far al-Baqir mengatakan:
كَانَ ابْتِدَاءُ الْوَحْيِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلَّم يوم الِاثْنَيْنِ، لِسَبْعَ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَقِيلَ فِي الرَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ مِنْهُ.
“Permulaan turunnya wahyu kepada Baginda Rasulullah saw. itu pada hari senin malam 17 bulan Ramadhan, menurut pendapat lain tanggal 24”[3]
Kesimpulan
Makna proses penurunannya Al-Quran pada bulan Ramadhan adalah Al-Quran turun ke langit dunia secara sekaligus. Namun proses turunnya ke muka bumi itu secara bertahap menyesuaikan kemaslahatan yang terbaik di sisi Allah.
Adapun dasar peringatan Nuzulul Quran itu diambil dari keterangan yang berada dalam Q.S Al-Anfal ayat 41 yang di dalamnya dijelaskan bahwa Al-Quran turun pada malam di mana besok harinya terjadi perang Badar, dan kejadian itu bertepatan pada malam 17 bulan Ramadhan.
Peristiwa Baginda Nabi menerima wahyu pertama pun juga bertepatan dengan malam 17 Ramadhan. Meskipun kedua peristiwa itu berbeda, namun menuai esensi yang sama; bahwa Al-Quran turun pada malam ke-17 bulan Ramadhan.
[1] Imam Fakhr ad-Din ar-Razi, Tafsir Mafatih al-Ghaib, V/252.
[2] Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, XX/135.
[3] Imam Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, III/11.
Ikuti kami:
Baca juga:
Kisah Nabi Muhammad Pertama Kali Melakukan Puasa Ramadhan
