Khutbah Jumat: Refleksi dari Cerita Mimbar Rasulullah

Khutbah Mimbar

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ. وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ. وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

Jamaah Sidang Jumat Rahimakumullah,

Setiap pekan kita berkumpul di tempat ini, melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk peradaban yang melelahkan. Kita datang membawa pundak yang berat oleh urusan duniawi, membawa pikiran yang penat oleh target-target materi. Kita begitu sibuk menghitung angka keuntungan, begitu cemas mengalkulasi kerugian, hingga tanpa kita sadari… di dalam dada ini, ada sebuah lampu spiritual yang perlahan-lahan meredup. Ada sebuah hati yang mulai mengeras nan tambah gersang, membeku dalam rutinitas yang hampa akan makna.

Kita sering merasa aman. Kita merasa selamat hanya karena telah menunaikan ibadah yang tampak di permukaan. Namun, pernahkah terdetik di dalam benak kita sebuah ketakutan: Bagaimana jika di saat kita merasa sedang menumpuk pahala, di saat yang sama kita sebenarnya sedang melangkah menuju kebangkrutan jiwa yang nyata? Bagaimana jika tanpa sadar, kita sendiri yang telah menutup rapat pintu-pintu surga yang sebenarnya telah terbentang di hadapan kita?

Baca juga: Khutbah Jumat Perihal Bulan Muharam

Jamaah Jumat Rahimakumullah…

Mari kita bawa imajinasi dan hati kita melintasi lorong waktu. Mari kita mendarat di atas hamparan pasir Madinah, memasuki keheningan Masjid Nabawi pada suatu siang yang syahdu. Rasulullah ﷺ, manusia yang paling mulia, kekasih sejati pemilik alam semesta, melangkah dengan anggun menaiki anak tangga mimbarnya.

Namun, Jumat itu bukanlah Jumat biasa. Ada atmosfer yang mendadak bergetar hebat. Saat kaki suci beliau menginjak anak tangga yang pertama, lisan beliau yang mulia bergerak lirih mengucapkan: “Aamiin”. Ketika beliau menapakkan kaki ke tangga yang kedua, kembali terdengar ketegasan suara beliau: “Aamiin”. Dan saat beliau sampai di puncak tangga yang ketiga, untuk terakhir kalinya beliau mengulang: “Aamiin”.

Para sahabat tercengang. Mereka saling berpandangan dalam keheranan. Selesai shalat, rasa penasaran itu tak lagi tertahankan. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, sungguh kami mendengar engkau melafalkan sesuatu yang tidak pernah kami dengar sebelumnya. Mengapa engkau mengucapkan amin sampai tiga kali?”

Rasulullah ﷺ kemudian memandang para sahabat dengan tatapan yang dalam, seraya bersabda,

“Sesungguhnya Jibril ‘Alaihis Salam baru saja menampakkan diri kepadaku. Dia datang membawa tiga kalimat doa—tiga kalimat kutukan dari langit—dan dia memerintahkanku untuk mengaminkannya.”

Baca juga: Khutbah Jumat: Mereka yang Mendapat Predikat Haji Mabrur

Jamaah Jumat Rahimakumullah…

Apa yang diminta oleh Jibril untuk Rasulullah aminkan?

أتاني جبريل، فقال: يا محمد من أدرك رمضان ولم يغفر له فأبعده الله، فقلت: آمين، ومن أدرك والديه أو أحدهما فدخل النار فأبعده الله، فقلت: آمين قال ومن ذكرت عنده فلم يصل عليك فأبعده الله، قلت: آمين

Di anak tangga pertama, Jibril berkata: “Celakalah, hinalah, dan terjungkal dalam kehinaan, seorang hamba yang mendapati bulan suci Ramadan, namun hingga bulan itu pergi berlalu, ia belum juga mendapatkan ampunan dari Allah!” Bayangkan! Pintu gerbang ampunan Allah buka selebar-lebarnya, namun ia melewatinya begitu saja.

Di anak tangga kedua, Jibril kembali berdoa: “Celakalah, hinalah, dan menjauh dari rahmat Allah, seorang hamba yang mendapati kedua orang tuanya—atau salah satunya—telah berusia lanjut dalam sisa umur mereka, namun keberadaan orang tua itu tidak mampu membuatnya masuk ke dalam surga!”

Orang tua kita semua adalah jembatan emas menuju surga. Menyia-nyiakan mereka di masa senjanya adalah bentuk kebangkrutan yang paling menyedihkan!

Dan di anak tangga yang ketiga—inilah tamparan keras bagi detak jantung cinta kita kepada Baginda Nabi. Jibril berseru dengan getaran yang menghentak: “Celakalah, hinalah, dan merugilah seseorang, yang ketika namamu (wahai Muhammad) disebut di dekatnya, namun ia enggan, ia abai, dan ia malas untuk berselawat kepadamu!”

Rasulullah ﷺ—manusia yang sepanjang hidupnya terselip kesedihan memikirkan keselamatan kita, manusia yang kelak di padang mahsyar akan berteriak “Ummatii.. Ummatii..”—pada hari itu, beliau mengangkat kedua tangannya dan mengatakan, “Aamiin”. Beliau mengaminkan kecelakaan bagi umatnya yang enggan berselawat!

Baca juga: Khutbah Jumat: Hak Penting Yang Harus Kita Berikan Kepada Istri

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah…

Mengapa ancaman ini begitu dahsyat? Mengapa lisan kita yang membisu saat mendengar nama Nabi ternilai sebagai dosa yang sangat mengerikan? Rasulullah ﷺ membongkar hakikat sifat tersebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan An-Nasa’i:

البخيل من ذكرت عنده فلم يصل علي

“Orang yang paling bakhil, manusia yang paling pelit di atas muka bumi ini, adalah orang yang ketika namaku disebut di hadapannya, ia tidak mau berselawat kepadaku.”

Para ulama kita, dari empat mazhab besar—Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali—merenungkan hadis ini dengan tubuh yang gemetar. Sebagian besar dari mereka menegaskan: wajib hukumnya berselawat setiap kali nama Nabi Muhammad ﷺ terkumandangkan. Mengapa? Karena di sanalah letak ujian ta’dzim (keagungan) dan adab kita.

Ketika nama sang pembawa syafaat terdengar oleh kita, lalu kita tetap sibuk memandang layar gawai kita, kita tetap asyik bercengkerama dengan obrolan duniawi kita, dan membiarkan lisan kita membeku tanpa selawat… di situlah tanda bahwa ego kita telah meninggi. Di situlah bukti bahwa hati kita telah mengeras bagai batu. Kita telah menjadi manusia paling kikir, yang berutang budi atas hidayah Islam kepada Rasulullah, namun teramat pelit hanya untuk menggerakkan bibir mengucap selawat.

بَارَكَ اللهُ ِليْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jumat Rahimakumullah…

Mimbar Jumat hari ini tidak hadir untuk menjatuhkan kita dalam keputusasaan. Khutbah yang singkat ini mengudara untuk mengetuk pintu hati kita yang barangkali sedang tertidur dalam kelalaian. Peringatan tentang tiga aamiin Rasulullah adalah sebuah alarm agar kita segera memutar kemudi kehidupan kita, berhijrah dari hamba yang kikir menuju hamba yang kaya akan cinta.

Maka, sebelum malaikat mencatat kita sebagai manusia paling bakhil, sebelum langkah kaki kita tersesat dari jalan menuju surga, mari kita pulang dari masjid ini dengan membawa tiga komitmen nyata, amalan praktis yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak:

Baca juga: Khutbah: Keistimewaan Hari Jumat

Pertama, Bangun Refleks Selawat di dalam Jiwa

Mulai detik ini, latih lisan kita agar memiliki refleks spiritual yang cepat. Setiap kali telinga kita menangkap nama “Muhammad”, “Nabi”, atau “Rasulullah”, potong semua aktivitas verbal kita. Hentikan ketikan jemari kita. Basahi bibir dengan kalimat agung: Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.

Kedua, Dekap Orang Tua dengan Kelembutan

Jika hari ini ayah atau ibu kita masih bernapas, demi Allah, Anda sedang menatap pintu surga yang nyata di dalam rumah Anda. Buang ego Anda. Telepon mereka, kunjungi mereka, cium tangan mereka. Rawatlah mereka di usia senjanya dengan ketulusan yang paripurna, karena di balik keriput wajah mereka, ada ridha Allah yang sedang menanti kita.

Ketiga, Persiapkan Jiwa Menyambut Ramadan

Jangan biarkan Ramadan mendatang hanya menjadi ritual musiman yang datang dan pergi tanpa bekas. Persiapkan iman kita dari sekarang, agar ketika fajar Ramadan terbit, kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi yang keluar dari dalamnya tanpa membawa selembar pun surat pengampunan.

Mari kita jadikan hari Jumat yang mulia ini sebagai tonggak sejarah baru, titik balik untuk merajut kembali tali cinta yang sempat mengendur kepada Baginda Nabi ﷺ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْواتِ. رَبَّنا هَبْ لَنا مِنْ أَزْواجِنا وَذُرِّيَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنا لِلْمُتَّقِينَ إِمامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses