Menangkal Disrupsi Informasi Melalui Kitab Kuning di Era Digital

Menangkal Disrupsi Informasi

“Diam adalah jawaban terbaik untuk semua pertanyaan. Tersenyum adalah reaksi terindah dalam semua situasi”.
Begitulah seharusnya kita. Namun tidak untuk manusia spesialis millenial. Hadirnya internet dan maraknya pengguna gawai menjadi alarm—menandakan bahwa kita, telah memasuki era disrupsi. Era di mana kekacauan mulai merambah luas. Media informasi baik di internet maupun media cetak, sampai saat ini terus berkembang mengikuti arus perubahan zaman. Tak dapat dipungkiri, jika informasi sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat awam maupun kaum berpendidikan.

Dari arah sini, terdapat benang merah yang dapat ditarik yaitu—sangat dibutuhkannya berita informasi yang benar—baik secara lisan, media cetak, atau internet. Karena faktanya internet atau media sosial menjadi pilar utama dalam perkembangan berita palsu. Santri sebagai penerus perjuangan para ulama yang selalu menebarkan citra baik, sepatutnya dapat selalu mengaktualisasikan bagaimana perkembangan informasi yang terjadi dalam masyarakat. Bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok semata, namun sebagai upaya menanggulangi dan meminimalisir dampak negatif arus perubahan yang mengkibatkan disrupsi ini. Demi menyemerbakkan rasa damai dalam setiap jiwa insan.

Dalam tinjauan hasil riset Kapolda Sulawesi Tenggara menjelaskan, bahwa saat ini jumlah pengguna internet atau media sosial terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Bahkan, Kementrian Komunikasi dan Informasi mencatat, jumlah pengguna di Indonesia telah mencapai 132.7 juta orang. Data tersebut juga menyebutkan, “ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu.” Kominfo menuturkan, bahwa internet sudah salah dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya dengan cara menyebarkan konten negatif yang menimbulkan keresahan dan saling mencurigai antar masyarakat.

Mengabsahkan Kitab Kuning

Saat ini, generasi santri millenial mengalami tantangan yang sangat berat. Dengan keadaan pola pengajaran yang tetap menggunakan Kitab Kuning (turats karangan ulama terdahulu), mereka harus bisa mengimbangi arus perubahan sosial yang meliuk-liuk dengan begitu deras. Karena jika tidak, mereka hanya akan menjadi generasi penonton, bahkan korban dari kemajuan teknologi yang terus berkembang dari revolusi industri 4.0 hingga menuju revolusi society 5.0.

Sebagai warisan khazanah Islam, keberadaan Kitab Kuning yang sampai saat ini masih dijadikan sebagai kurikulum wajib dari semenjak puluhan abad lalu, tak pernah mencecap rasa kadaluwarsa dari negara yang mayoritas Islam ini untuk terus dinikmati. Di dalamnya, mencangkup kajian ilmiah dari para intelektual Muslim tentang ilmu tauhid, tasawuf, fikih, tata bahasa arab (nahwu), hadist, ahlak, serta keilmuan lainnya. Sebagai aktualisasi dalam ilmu pengetahuan melalui penciptaan yang sanadnya sampai kepada Rasulullah Saw., Kitab Kuning menjadi salah satu alat untuk menangkal adanya disrupsi informasi atau sering disebut hoaks.

Namun sangat miris sekali, jika ada anggapan perihal Kitab Kuning terbelakang dan tidak relevan.

One thought on “Menangkal Disrupsi Informasi Melalui Kitab Kuning di Era Digital

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.