Tag Archives: Amalan

Amalan di Malam Nisfu Sya’ban

Dalam rangka menggapai seluruh keutamaan yang ada pada malam Nisfu Sya’ban (15 sya’ban), banyak sekali dari umat Islam tidak melewatkan kesempatan emas itu dengan menghidupkan malam tersebut melalui berbagai macam aktivitas ibadah kepada Allah SWT.

Adapun kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat tradisioanlis adalah dengan cara berkumpul di mushalla atau masjid setelah salat maghrib. Secara berkelompok, mereka membaca surat Yasin sebanyak tiga kali dan diiringi dengan doa Nisfu Sya’ban di setiap akhir bacaan surat Yasin. Mengenai tata cara (kaifiyah) amaliah ini  dijelaskan secara terperinci dalam kitab Kanzunnajah Was Surur. Dalam kitab yang dikarang oleh Syech Abdul Hamid yang berasal dari Kudus tersebut, dipaparkan hendaknya bacaan surat Yasin pertama memohon agar diberikan umur panjang, bacaan surat Yasin kedua memohon agar terhindar dari segala macam bahaya, bacaan surat Yasin ketiga memohon agar tidak memiliki ketergantungan terhadap orang lain atau dalam versi lain diberikan kelancaran rizki.[1]

Yang menjadi tendensi hukum tradisi dan amliah tersebut adalah sebuah hadis yang menceritakan bahwa sayyidah ‘Aisyah pada suatu malam kehilangan Rasulullah SAW. Ia pun bergegas mencari Rasulullah SAw, dan ‘Aisyah menemukan suami tercintanya di Baqi’, nama komplek pemakaman bagi para sahabat Nabi dan para pejuang. Di tempat itu, Rasulullah SAW sedang menengadahkan wajahnya ke langit dengan mata sendu, terkadang pula meneteskan air mata. Mengetahui istrinya datang, Rasulullah SAW berkata:

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَنْزِلُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ مِنَ الذُّنُوبِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban, Tuhan menurunkan (rahmatnya) ke langit dunia. Dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang jauh lebih banyak dari jumlah bulu domba bani Kalb,” (HR. Turmudzi, Ahmad, dan Ibnu Majah).[2]

Menurut sumber informasi yang lain, Rasulullah SAW mengatakan;

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ

“Sesungguhnya Allah menampakkan diri pada malam Nisfu Sya’ban, dan mengampuni mereka yang meminta ampun dan menyayangi mereka yang ingin disayang, dan mengacuhkan mereka yang mendengki,”.

Dalam menyikapi tradisi salat-salat malam Nisfu Sya’ban para ulama masih berbeda pendapat. Adapun Imam an-Nawawi berkomentar bahwa hal tersebut termasuk Bid’ah Qobihahdan hadis yang dipakai menjai dasaradalah hadis Maudlu’ (palsu) . Namun berbeda lagi dengan Al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin dan beberapa ulama lain yang mengatakan hal tersebut justru merupakan sebuah kesunnahan. Dalam silang pendapat ulama yang mengemuka ini, Al-Kurdi hadir dengan statemennya yang mengatakan bahwa perbedaan pendapat ini dipengaruhi atas dasar penilaian status hadis dari sisi sanad dan macam ritual yang disyariatkan pada malam Nisfu Sya’ban tersebut.[3]

Diakui ataupun tidak, selalu saja ada pengingkaran atas tradisi yang sudah menjamur di masyarakat. Namun, dengan menggunakan konsep dalil secara umum saja sudah mampu merobohkan pengingkaran dan segala tuduhan tersebut. Sedangkan, terkait dengan berbagai aktivitas ibadah seperti membaca al-Qur’an, salat sunah, istighfar dan semacamnya sudah dijelaskan oleh berbagai redaksi dalil yang masyhur baik itu dari al-Qur’an ataupun Hadis. Semuanya berlaku secara mutlak terkecuali pada waktu yang telah ada nash-nash pelarangannya.

Dan pada akhirnya dapat dipahami bahwa kegiatan keagamaan untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan berbagai kegiatan lain yang bernilai ibadah merupakan perkara yang selaras dengan syariat.[]. waAllahu a’lam.

 


[1] Kanzunnajah Was Surur, hlm 48, Maktabah Dar Al-Hawi.

[2] Faidl Al-Qodir, II/316.

[3] Hasyiyah I’anah At-Thalibin, I/312, Maktabah Darul Fikr.

Ayo Bertawassul

Tidak dapat dipungkiri, banyak umat Islam resah dengan keberadaan kelompok-kelompok ekstremis Islam yang selalu menjatidirikan kelompoknya. Cara dakwah yang mereka lakukan selalu mengedepankan fanatisme golongan (Ta’asshub Al-Ijtima’iyah), sehingga sikap tersebut membuat umat Islam gerah.

Pelbagai tuduhan, hujatan, dan lontaran kata-kata kasar sering kali keluar dari kelompok tersebut. Dengan mudah, mereka memberi cap-cap (stigma) buruk dengan sebutan ahlu bid’ah, khurafi, penyembah kubur, gerakan sempalan sesat, kepada tokoh dan gerakan Islam yang bukan kelompoknya. Mereka kerap mencela, bahkan menista ulama besar dan gerakan Islam di luar kelompoknya. Anehnya,  ketika pendapat mereka dikritik gerakan Islam lain karena hujjahnya yang sangat lemah, mereka tidak rela bahkan menyerang balik habis-habisan para pengkritiknya.

Sebetulnya, hal tersebut dapat diselesaikan apabila mereka mau menelaah ulang kitab-kitab para pendahulunya, contohnya adalah Ibnu Taimiyah yang menjadi tokoh sentral mereka. dengan demikian mereka akan sadar bahwa Ibnu Taimiyah sendiri tidak terlalu ekstrem seperti pengikutnya sekarang. Dalam masalah Tawassul misalnya, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa praktek Tawassul merupakan diantara sunnah (amal kebiasaan) para Rasul dan orang-orang Salafus Shalihin. Kaum Wahabi berpendapat sebaliknya. Mereka mengatakan perbuatan itu sebagai bid’ah, khurafat, dan pengkultusan yang ujung-ujungnya adalah syirik.

Sekilas Tentang Tawasul

Secara bahasa Tawassul artinya mengambil perantara. Adapun Tawassul secara istilah diartikan sebagai salah satu cara berdoa kepada Allah Swt dan salah satu dari beberapa pintu tawajuh kepada Allah Swt dengan menggunakan Wasilah (perantara), adapun yang dituju dari Tawassul ini adalah Allah semata.

Ada beberapa dalil tentang diperbolehkannya Tawassul baik dalil Al-Qur’an, As-Sunnah maupun Hadis Atsar. Diantaranya adalah firman Allah Swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah. Dan carilah perantara untuk sampai kepada-Nya. Dan berjihadlah kamu di jalan-Nya, mudah-mudahan kamu dapat keuntungan.” (QS. Al-Ma’idah: 35).

Sayid Muhammad bin Alawi Al-Maliki memberikan komentar, bahwa yang dimaksud dengan kata Al-Wasilah dalam ayat ini adalah setiap sesuatu yang dijadikan pendekatan atau perantara kepada Allah Swt. Lebih lanjut ia menjelaskan: “Seperti yang kamu ketahui bahwa lafadz al-wasilah pada ayat di atas bersifat umum yang memungkinkan artinya berwasilah dengan dzat-dzat yang utama seperti para Nabi, orang-orang soleh, baik dalam masa hidup mereka maupun sudah mati. Bisa juga memungkinkan diartikan berwasilah menggunakan amal-amal saleh dengan menjalankan amal-amal saleh itu dan dijadikan perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt,”.

Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman:

وْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Jika mereka telah berbuat aniaya pada dirinya (berbuat dosa), lalu mereka datang kepadamu (wahai Muhammad) dan meminta ampunan kepada Allah Swt, kemudian Rasul memohonkan ampunan untuk mereka, tentulah Allah Swt Yang Maha Menerima Taubat dan yang Maha Penyayang akan menerima tobat mereka,” (QS. An-Nisa’: 64).

Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan sebuah hadis tentang legalitas Tawassul yang dilakukan oleh sahabat Umar bin Khattab ketika melakukan salat Istisqa’, yaitu:

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ اِذَاقَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعِبَاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ الَّلَهُمَّ اِنَا كُنَّا نَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا وَاِناَّ نَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِعَمَّ نَبِيِّناَ فاَسْقِناَ قاَلَ فَيُسْقَوْنَ (رواه البخارى،٩٥٤)

“Dari Anas bin Malik Ra, beliu berkata: Apabila terjadi kemarau, sahabat Umar bin a-Khathab bertawasul dengan sahabat Abbas bin Abdul Muththalib, kemudian berdoa “Ya Alloh kami pernah berdoa dan bertawasul kepada-Mu dengan perantara Nabi kami, kemudian engkau menurunkan hujan. Dan sekarang kami bertawasul dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan.” Sahabat Anas berkata: Maka turunlah hujan kepada kami.” (HR. al- Bukhori:954).[1]

Mengomentari hal ini, Syaikh Abdul Hayyi al-Amrawi dan Syaikh Abdul Karim Murad menyatakan bahwa pada hakikatnya Tawassul yang dilakukan Sayyidina umar Ra dengan Sayyidina Abas Ra merupakan tawasul dengan Nabi Saw (pada waktu itu telah wafat), disebabkan posisi sahabat Abbas Ra sebagai paman Nabi Saw.[2]

Dalam kitab Iqtidha’ As-Shirath al–Mustaqim, Ibnu Taimiyyah (700-774 H) pun pernah berkata: “Tak ada perbedaan antara orang hidup dan mati seperti yang telah diasumsikan sebagian orang. Sebuah hadis sohih menegaskan: Telah diperintahkan kepada orang – orang yang memiliki hajat di masa khalifah Ustman untuk bertawassul kepada Nabi setelah beliau wafat. Kemudian, mereka bertawassul kepada Rasul, dan hajat mereka pun terkabul. Demikian diriwayatkan oleh at–Thabrani,”.[3]

Sesungguhnya Tawassul dan minta syafa’at (pertolongan) kepada Nabi atau dengan keagungan dan kebesarannya, termasuk diantara sunnah (amal kebiasaan) para Rasul dan orang-orang Salafus Shalihin. Adapun kaitannya dengan ayat-ayat Al–Qur’an yang sering digunakan untuk mengharamkan Tawassul seperti ayat–ayat di bawah ini:

اَلَا للهِ الدَّيْنِ الْخَالِصُ وَالَّدِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُونِهِ اَوْلِياَءَ مَانَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوناَ اِلىَ اللهِ زُلْفَى (الزمر:٢٣ 

 

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang – orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat–dekatnya.” (QS. Al–Zumr: 23).

Setelah memperhatikan ayat tersebut dengan cermat, Syaikh Abdul Hayyi al–‘Amrawi dan Syaikh Abdul Karim Murad menyatakan, “Perkataan para penyembah berhala “Kami menyembah mereka (berhala – berhala itu) supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat–dekatnya. Ayat ini menegaskan bahwa mereka menyembah berhala untuk tujuan tersebut. Sedangkan orang yang bertawassul dengan para Rasul atau orang alim itu tidak menyembah mereka. Tetapi karena dia tau bahwa orang yang ditawassuli tersebut memiliki keutamaan di hadapan Allah Swt dengan kedudukannya. Dan karena kelebihannya itulah kemudian ada orang yang melakukan tawassul dengan mereka.”[4]

Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki juga memberikan komentarnya tentang ayat–ayat yang digunakan dalil untuk mengharamkan tawassul. Bahwa ayat–ayat tersebut ditujukan bagi orang–orang musyrik yang menyembah berhala, tentunya berbeda dengan orang yang bertawassul yang hanya menjadikan sesuatu sebagai perantara menuju Allah Swt. Sekian, waAllahu a’lam[]

____________

[1] Al-Tahdzir min al-Ightirar, hlm. 125

[2] Ibid, hlm. 6

[3] Iqtidha’ As-Shirath al–Mustaqim, hlm. 266, cet. Darul Hadis.

[4] Al-Tahdzir min al-Ightirar, hlm. 113

Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan mulia yang terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Dari beberapa malam di dalamnya, malam Nisfu Sya’ban memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam. Pada malam yang bertepatan dengan tanggal 15 Sya’ban tersebut, Allah SWT menetapkan segala keputusan yang berhubungan dengan urusan manusia, baik yang berhubungan dengan kematian, rizki, perbuatan baik maupun buruk. Semua urusan tersebut merupakan ketentuan Allah SWT hingga datangnya bulan Sya’ban di tahun berikutnya.

Allah SWT sudah berfirman dalam Alqur’an;

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,”(QS. Ad-Dukhon: 3-4).

Yang dimaksud ‘malam yang diberkahi’ dalam redaksi ayat tersebut masih terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang berpendapat bahwa malam yang dimaksud adalah malam Lailatul Qodar dan sebagian yang lain berpendapat bahwa malam itu adalah malam Nisfu Sya’ban.

Dalam kitab Tafsir Al-Baghowi, sahabat ‘Ikrimah berkata, “Malam yang diberkahi tersebut adalah malam Nisfu Sya’ban. Pada malam tersebut ditetapkanlah segala urusan untuk masa satu tahun dan orang-orang yang hidup dihapus (daftarnya) dari orang-orang yang meninggal,”. [1]

Mengenai hal tersebut, Rasulullah SAW pernah menyinggung dalam sebuah hadis;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” تُقْطَعُ الآجَالُ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَنْكَحُ وَيُولَدُ لَهُ، وَلَقَدْ خَرَجَ اسْمُهُ فِي الْمَوْتَى

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; ajal seseorang ditentukan dari bulan Sya’ban ke bulan Sya’ban berikutnya, sehingga ada seseorang bisa menikah dan melahirkan, padahal namanya sudah tercantum dalam daftar orang-orang yang meninggal,”.[2]

Selain kaitannya yang sangat erat dengan proses penentuan segala urusan umat manusia. Malam Nisfu Sya’ban juga berkaitan dengan penutupan catatan amal di tahun tersebut. Segala amal yang diperbuat oleh manusia dilaporkan tanpa terkecuali, baik yang dalam periode harian, mingguan, bahkan tahunan. Laporan harian dilakukan oleh malaikat pada siang dan malam hari. Laporan amal mingguan dilakukan malaikat setiap hari Senin dan Kamis. Adapun periode tahunan dilakukan pada malam Lailatul Qodar dan malam Nisfu Sya’ban.[3]  Rasulullah SAW bersabda;

أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سُئِلَ عَنْ إكْثَارِهِ الصَّوْمَ فِي شَعْبَانَ فَقَالَ: إنَّهُ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Sesungguhnya rasulullah SAW ditanyai ketika Beliau memperbanyak melakukan puasa di bulan Sya’ban. Beliau menjawab; Sesungguhnya bulan sya’ban adalah bulan diangkatnya amal. Maka Aku senang amalku diangkat sementara Aku dalam keadaan berpuasa,”. 

Sebagai salah satu malam yang memiliki peran urgen dalam keberlangsungan umat manusia, Allah SWT juga menjanjikan besarnya ampunan yang diberikan-Nya pada malam itu. Muadz bin Jabal, sahabat Nabi, pernah mengatakan;

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Allah memperhatikan kepada semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Maka Dia memberi ampunan kepada semua makhluk-Nya, kecuali kepada orang musyrik dan orang yang bermusuhan” (HR. At-Thobroni dan Ibnu Hibban).[4]

Amalan di Malam Nisfu Sya’ban

Dalam rangka menggapai seluruh keutamaan yang ada pada malam Nisfu Sya’ban, banyak sekali dari umat Islam tidak melewatkan kesempatan emas itu dengan menghidupkan malam tersebut melalui berbagai macam akitvitas ibadah kepada Allah SWT.

Adapun yang sering dilakukan masyarakat tradisioanlis adalah dengan cara berkumpul di musholla atau masjid setelah waktu maghrib. Secara berkelompok mereka membaca surat Yasin sebanyak tiga kali dan diiringi dengan doa Nisfu Sya’ban di setiap akhir bacaan surat. Mengenai tata cara masalah ini sudah dijelaskan secara gamblang dalam kitab Kanzunnajah Was Surur. Dan dalam Kitab tersebut dipaparkan, hendaknya bacaan surat Yasin pertama diniati agar diberikan umur panjang, bacaan surat Yasin kedua diniati agar terhindar dari mara bahaya, bacaan surat Yasin ketiga diniati agar tidak memiliki ketergantungan terhadap orang lain.[5]

Adapun salah satu tendensi hukum tradisi tersebut adalah ketika sayyidah ‘Aisyah pada suatu malam kehilangan Rasulullah SAW. Ia pun bergegas mencarinya, ‘Aisyah menemukan suami tercintanya di Baqi’, nama komplek pemakaman bagi para sahabat Nabi dan para pejuang. Di tempat itu, Rasulullah SAW sedang menengadahkan wajahnya ke langit dengan mata sendu, terkadang pula meneteskan air mata. Mengetahui istrinya datang, Rasulullah SAW berkata;

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَنْزِلُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ مِنَ الذُّنُوبِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban, Tuhan menurunkan (rahmatnya) ke langit dunia. Dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang jauh lebih banyak dari jumlah bulu domba bani Kalb,” (HR. Turmudzi, Ahmad, dan Ibnu Majah).[6]

Menurut sumber informasi yang lain mengatakan;

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ

“Sesungguhnya Allah menampakkan diri pada malam Nisfu Sya’ban, dan mengampuni mereka yang meminta ampun dan menyayangi mereka yang ingin disayang, dan mengacuhkan mereka yang mendengki,”.

Dalam menyikapi salat-salat malam Nisfu Sya’ban para ulama masih berbeda pendapat. Adapun Imam An-Nawawi dalam al-Majmu’ berkomentar bahwa hal tersebut termasuk Bid’ah Qobihah. Namun berbeda lagi dengan Al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin dan beberapa ulama lain yang mengatakan hal tersebut justru merupakan sebuah kesunnahan.

Dalam silang pendapat ulama yang mengemuka ini, Al-Kurdi hadir dengan statemennya yang mengatakan bahwa perbedaan pendapat ini dipengaruhi atas dasar penilaian atas status hadis dari sisi sanad dan macam ritual yang disyariatkan pada malam Nisfu Sya’ban tersebut.[7]

Diakui ataupun tidak, selalu saja ada pengingkaran atas tradisi yang sudah menjamur di masyarakat. Namun, dengan menggunakan konsep dalil secara umum saja sudah mampu merobohkan pengingkaran tersebut. Sedangkan, terkait dengan berbagai aktifitas ibadah seperti membaca Alqur’an, salat sunah, istighfar dan semacamnya sudah dijelaskan oleh berbagai redaksi dalil yang masyhur baik itu dari Alqur’an ataupun Hadis. Semuanya berlaku secara mutlak terkecuali pada waktu yang telah ada nash-nash pelarangannya.

Dan pada akhirnya dapat dipahami bahwa kegiatan keagamaan untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan berbagai kegiatan lain yang bernilai ibadah merupakan perkara yang selaras dengan syariat.[]. waAllahu a’lam.


[1] Tafsir Al-Baghowi, juz 7 hal 228.

[2] Fath Al-Mun’in Syarh Shahih Muslim, juz 5 hal 41.

[3] Hasyiyah Al-Jamal, juz 2 hal 350.

[4] Tuhfah Al-Ahwadzi, juz  3 hal 366.

[5] Kanzunnajah Was Surur, hal 48, Maktabah Dar Al-Hawi.

[6] Faid Al-Qodir, juz 2 hal 316.

[7] I’anah At-Thalibin, juz 1 hal 312, Maktabah Darul Fikr.

Keutamaan Membaca Basmalah

Bagi kalangan Syafi’iyah, basmalah atau bismillah, adalah bagian dari dari surat Al-Fatihah yang wajib dibaca saat melakukan salat. Diluar salat, banyak sekali faedah yang tersembunyi dibalik lafad basmalah. Di sunnahkan bagi kita untuk membaca basmalah ketika hendak melakukan pekerjaan apapun. Selagi pekerjaan itu baik, maka kita disunnahkan untuk membacanya.

Di ceritakan bahwa ada seorang istri yang mempunyai suami yang munafik. Sang istri ini mempunyai keistiqomahan membaca basmalah. Hampir disetiap perbuatannya selalu ia awali dengan membaca basmalah.

Karena suaminya seorang munafik yang tidak suka jika istrinya membaca basmalah, maka suatu ketika suaminya memikirkan sebuah rencana dan ia berkata: ”Akan aku lakukan sesuatu agar istriku melupakan kalimat yang selalu diucapkannya (basmalah)”. Kemudian ia memberikan sebuah kotak kepada istrinya dan berkata: ”Simpanlah kotak itu”. Sebagai seorang istri yang baik, ia pun mematuhi apa yang diperintahkan suaminya. Ia menyimpan kotak itu dan menutupinya serapi mungkin.

Lantas tanpa sepengetahuan istrinya, sang suami mengambil kotak itu. Ia mengambil isinya dan membuang kotaknya ke dalam sumur yang kebetulan letaknya di dalam rumah. Si suami sengaja hendak menjebak istrinya. Ia berpura-pura mencari kotak itu dan menanyakan kepada istrinya. Seketika itu juga si istri langsung mendatangi tempat dimana dulu ia menyimpan kotak itu sambil mengucapkan bismillah. Sesat itu juga, Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril untuk turun dan mengambil kotak itu serta mengembalikannya ke tempat semula. Sang istri pun lantas memberikan kotak itu kepada suaminya.

Setelah kejadian itu, sang suami langsung takjub dan seketika itu juga ia bertobat. Cerita ini hanya sebagian kecil dari hikmah membaca basmalah. Masih banyak lagi hikmah-hikmah dan fadilah basmalah.