Dzikir Di Kala Susah

Siapa sih yang nggak ingin hidupnya tenang dan jauh dari masalah? Setiap orang beriman pasti berharap Allah SWT memudahkan segala urusannya. Nggak jarang juga muncul pertanyaan, “Ada nggak ya amalan yang bisa bikin hidup terasa lebih ringan dan terhindar dari berbagai kesulitan?” Ternyata, jawabannya bisa sesederhana memperbanyak dzikir. Iya, cukup dengan rutin mengingat Allah, hati pun jadi lebih tenang, dan jalan hidup terasa lebih lapang.

Baca juga: Kuliah Umum: Peran Ma’had ‘Aly dalam Membangun Peradaban Islam dan Kebangsaan Indonesia

Dzikir

Dzikir merupakan amalan ringan di lisan namun sangat berat di timbangan amal dan penuh keberkahan. Salah satunya adalah dzikir yang mencakup dua kalimat agung adalah:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

Kalimat ini merupakan gabungan dua dzikir besar yang memiliki keutamaan luar biasa menurut hadits-hadits sahih dan amalan para ulama salaf.

Baca juga: Hati-Hati Menulis Lafadz Suci di Undangan!

Makna Dzikir

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kalimat pembuka yang mengandung permohonan berkah dari Allah. Sebagai bentuk permohonan pertolongan sebelum memulai suatu amal atau aktivitas.

Imam Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa “Bismillah” bermakna memulai dengan menyebut nama Allah agar berkah dan mendapat taufik.

وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Kalimat ini disebut Kalimatul Hawqalah, menunjukkan pengakuan total atas kelemahan manusia tanpa bantuan Allah. Ini adalah bentuk tawakkal dan ketundukan hati yang dalam.

Baca juga: Refleksi: Guru Madin Didenda, Menakar Peran Orang Tua sebagai Madrasah Pertama

Keutamaan Dzikir Ini dalam Hadits

1. Kalimat yang Tersimpan di Bawah ‘Arsy

Rasulullah ﷺ bersabda:

ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلا بِاللَّهِ، فَقَال: «يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ، قُلْ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلا بِاللَّهِ، فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الجَنَّةِ» أَوْ قَال: «أَلا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الجَنَّةِ؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلا بِاللَّهِ»

“Beliau (Nabi ﷺ) mendatangiku sementara aku sedang mengucapkan dalam hati: Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh, lalu beliau bersabda: ‘Wahai Abdullah bin Qais, ucapkanlah: Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh, karena sesungguhnya ia adalah salah satu perbendaharaan dari perbendaharaan surga.’ Atau beliau bersabda: ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu satu kalimat yang merupakan perbendaharaan dari perbendaharaan surga? Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.'”Kalimat ini bukan sekadar doa, tetapi mengandung pengakuan ubudiyah dan tauhid yang tinggi. [Zakariyā bin Muḥammad bin Aḥmad al-Anṣārī, Minḥat al-Bārī bi-Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī al-Musammā Tuḥfat al-Bārī, ditahkik dan ada tambahan catatan oleh Sulaimān bin Duriayʿ al-ʿĀzimī (Riyadh: Maktabah al-Rusyd li al-Nasyr wa al-Tawzīʿ, tanpa tahun), cet. 1.]

2. Pelindung dari Gangguan dan Kesulitan

روينا في «كتاب ابن السني» [رقم: ٣٣٨]، عن علي ﵁، قالقال رسول الله ﷺ لعلي: «يا عَلِيُّ! ألا أُعَلِّمُكَ كلماتٍ، إِذَا وَقَعْتَ فِي وَرْطَةٍ قُلْتَها»؟ قلتُ: بلى! جعلني الله فداك؛ قال: «إذَا وَقَعْتَ فِي وَرْطَةٍ فَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَلا حَوْلَ ولا قوة إلا بالله العلي العظيم: فإنَّ اللَّهَ تَعالى يَصْرِفُ بها ما شاءَ مِنْ أنْوَاعِ البَلاءِ».

“Kami meriwayatkan dalam Kitab Ibnu as-Sunni [no. 338], dari Ali RA, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ali:
‘Wahai Ali! Maukah aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat, yang jika engkau terjatuh dalam kesulitan (kesempitan), engkau mengucapkannya?’Aku menjawab: ‘Tentu, semoga Allah menjadikanku tebusan bagimu!’
Maka beliau bersabda:
‘Jika engkau terjatuh dalam kesulitan, maka ucapkanlah :Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil-‘aliyyil-‘aẓīm, maka sesungguhnya Allah Ta‘ala akan menyingkirkan dengan kalimat itu berbagai macam bala (musibah) sesuai dengan kehendak-Nya.'” [Abū Zakariyā Muḥyiddīn Yaḥyā bin Syaraf al-Nawawī, al-Adzkār, cet. 1 (Beirut: al-Jaffān wa al-Jābī – Dār Ibn Ḥazm li al-Ṭibā‘ah wa al-Nasyr, 1425 H/2004 M)]

Baca juga: Khutbah Jumat: Niat, Pondasi Segala Amal

Tanda orang yang beruntung

Dalam kitabnya, Syaikh adz-Dzahabi menjelaskan:

الَسَعِيْدٌ: كَانَ إِذَا سُئِلَ عَنْ شَيْءٍ، لاَ يُجِيْبُ حَتَّى يَقُوْلَ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، هَذَا رَأْيٌ، وَالرَّأْيُ يُخْطِئُ وَيُصِيْبُ.

Orang yang beruntung adalah: “Apabila ia (seseorang) ditanya tentang suatu perkara, ia tidak langsung menjawab hingga mengucapkan: Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), kemudian ia berkata: Ini hanyalah pendapat, dan pendapat itu bisa salah dan bisa benar.“[ Shamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi, Siyar A‘lām an-Nubalā’, cet. ke-3 (Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1405 H/1985 M).]

Baca juga: Agus Ibrahim A. Hafidz; Sholawat sebagai Nutrisi Ilmu

Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shayyib menjelaskan bahwa dzikir ini sangat bermanfaat untuk memperkuat jiwa dan mendekatkan pertolongan Allah.

وَهَذِهِ الْكَلِمَةُ لَهَا تَأْثِيرٌ عَجِيبٌ فِي مَعَانَاةِ الْأَشْغَالِ الصَّعْبَةِ، وَتَحَمُّلِ الْمَشَاقِّ، وَالدُّخُولِ عَلَى الْمُلُوكِ، وَمَنْ يَخَافُ، وَرُكُوبِ الْأَهْوَالِ.
وَلَهَا أَيْضًا تَأْثِيرٌ عَجِيبٌ فِي دَفْعِ الْفَقْرِ، كَمَا رَوَى ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا عَنْ اللَّيْثِ بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ مَعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ أَسَدِ بْنِ وَدَاعَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مِائَةَ مَرَّةٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ لَمْ يُصِبْهُ فَقْرٌ أَبَدًا».
وَكَانَ حَبِيبُ بْنُ مَسْلَمَةَ يَسْتَحِبُّ إِذَا لَقِيَ عَدُوًّا، أَوْ نَاهَضَ حِصْنًا قَوْلَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ. وَإِنَّهُ نَاهَضَ يَوْمًا حِصْنًا فَانْهَزَمَ الرُّومُ، فَقَالَهَا الْمُسْلِمُونَ وَكَبَّرُوا، فَانْصَدَعَ الْحِصْنُ. .

Artinya: Kalimat ini memiliki pengaruh yang luar biasa dalam menghadapi pekerjaan yang berat, menanggung kesulitan, menghadapi para raja, orang-orang yang ditakuti, serta dalam menghadapi situasi genting dan menakutkan.

(1) Ia juga memiliki pengaruh yang luar biasa dalam menolak kemiskinan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dari al-Layts bin Sa‘d, dari Mu‘awiyah bin Ṣāliḥ, dari Asad bin Wada‘ah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mengucapkan lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh sebanyak seratus kali setiap hari, maka ia tidak akan tertimpa kemiskinan selamanya.” (2)

Ḥabīb bin Maslamah menyukai untuk membaca kalimat ini ketika berhadapan dengan musuh atau saat mengepung benteng. Suatu hari, ia mengepung sebuah benteng lalu pasukan Romawi melarikan diri. (3)Maka kaum Muslimin pun mengucapkan kalimat tersebut dan bertakbir, lalu benteng itu retak dan hancur. (4)[ Abū ‘Abdillāh Muhammad bin Abī Bakar bin Ayyūb Ibn Qayyim al-Jauziyyah, al-Wābil aṣ-Ṣayyib wa Rāfi‘ al-Kalim aṭ-Ṭayyib, cet. ke-5 (Riyadh: Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm; Beirut: Dār Ibn Ḥazm, 1440 H/2019 M) hal. 187]

Baca juga: Doa untuk kedua orang tua

Kapan waktu yang baik untuk membaca Dzikir Ini?

1. Saat keluar rumah

2. Saat merasa lemah, sakit, atau menghadapi masalah

3. Saat memulai suatu aktivitas penting

4. Saat merasa tidak berdaya atau butuh pertolongan Allah

5. Sebelum tidur atau ketika terbangun di malam hari

Penutup

Dzikir بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ adalah kalimat singkat yang sarat makna. Ia merupakan bentuk permohonan rahmat, perlindungan, dan pengakuan bahwa segala daya dan kekuatan hanya milik Allah.

Mengamalkannya setiap hari merupakan tanda ketawakalan dan keyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya tempat bergantung. Maka biasakanlah lisan untuk berdzikir dengannya, dan tanamkan maknanya dalam hati. Wallahu ‘alam

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses