Tag Archives: nikah

Kesalahpahaman Memaknai Ta’arufan

Perbincangan publik mengenai pacaran terus menuai kontroversi. Hampir semua kalangan telah sepakat bahwa pacaran adalah hal yang tidak diperbolehkan, baik dari sudut pandang agama, sosial, maupun budaya. Meskipun demikian, para pelaku pacaran yang didominasi kaum remaja terus mencari celah agar hal tersebut dapat diterima di tengah-tengah masyarakat.

Demi mengembalikan citra yang terlanjur memburuk, istilah “Pacaran Islami” kembali digaungkan. Dengan menggandeng kata “Islami”, seakan memberikan asumsi adanya legalitas dari syariat Islam mengenai hubungan itu. Dalam prakteknya, pacaran islami menggunakan istilah “Ta’arufan” yang diartikan sebagai upaya saling mengenal untuk mengetahui tentang lawan jenisnya. Mereka beralasan, ta’aruf merupakan bentuk ikhtiyar dalam mencari calon pendamping hidup yang pas sesuai dengan kriteria masing-masing. Dan pada gilirannya, praktek yang berawal dari kesalahpahaman itu tidak pernah lepas dari berbagai problematika yang meresahkan di tengah-tengah masyarakat.

Ta’aruf Sebelum Pertunangan

Apabila dikaji secara etimologi, ta’aruf memiliki arti saling mengenal. Adapun secara terminologi syariat, ta’aruf merupakan upaya pengenalan kedua calon mempelai dalam proses lamaran (khitbah). Tentu saja, pemahaman semacam ini sangat jauh dengan apa yang dipahami sebagian kalangan saat ini. Mereka mengartikan ta’aruf sebagai implementasi dari konsep pacaran islami.

Pada dasarnya, ta’aruf merupakan langkah awal dari proses khitbah. Yang mana dalam proses lamaran (khitbah) disunnahkan bagi kedua calon mempelai untuk melihat calon pasangannya. Ini merupakan anjuran langsung yang telah disampaikan Rasulullah SAW kepada sahabat Mughiroh bin Syu’bah ketika melamar seorang perempuan. Rasulullah SAW berkata kepadanya:

اُنْظُرْ إلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا الْمَوَدَّةُ وَالْأُلْفَةُ

Lihatlah dia, karena hal itu akan lebih mengabadikan kasih sayang di antara kalian berdua”. (HR. Tirmidzi)[1]

Hadis lain yang sejalan dengan hadis di atas pernah diceritakan oleh sahabat Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda:

إذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إلَى مَا يَدْعُوهُ إلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ

Ketika kalian melamar seorang perempuan, kemudian kalian mampu melihat perempuan itu atas dasar inisiatif untuk menikahinya, maka lakukanlah”. (HR. Abu Daud)[2]

Lazimnya perkara yang telah mendapatkan legalitas langsung dari syaritnya, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi dalam hal ini:

Pertama, sudah ada kemantapan dari pihak pria untuk menikahi perempuan yang dipilihnya serta ada dugaan kuat bahwa lamarannya akan diterima.[3] Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW mengatakan:

إذَا أَلْقَى اللَّهُ فِي قَلْبِ امْرِئٍ خِطْبَةَ امْرَأَةٍ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَنْظُرَ إلَيْهَ

Ketika Allah telah memberikan kemantapan hati seseorang untuk melamar seorang perempuan, maka diperbolehkan baginya untuk melihat perempuan itu”.[4]

Kedua, tidak boleh melihat bagian aurat. Hukum memandang perempuan yang hendak dinikahi merupakan kebutuhan (hajat) yang mendapatkan legalitas syariat. Maka dari itu, yang mendapatkan legalitas hanya sebatas kebutuhan itu sendiri. Dalam konteks ini, yang menjadi kebutuhan adalah melihat wajah dan kedua telapak tangannya. Melihat wajah bertujuan untuk mengetahui hakikat kecantikan calon yang akan menjadi pendamping hidupnya. Adapaun melihat kedua telapak tangan bertujuan untuk mengetahui indikasi kesuburannya.[5]

Ketiga, dilakukan sebelum proses lamaran (khitbah). Alasannya sederhana, apabila melihat perempuan yang hendak dinikahi setelah proses khitbah kemudian calon mempelai pria membatalkan lamaran dikarenakan ia telah melihatnya, maka ini akan berdampak akan menyinggung perasaan pihak mempelai wanita.[6]

Beberapa ketentuan di atas berlaku apabila proses memandang calon mempelai dilakukan oleh pria itu sendiri. Namun apabila ia enggan melakukannya sendiri, maka ada alternatif untuk mencari orang lain yang halal untuk melihat perempuan yang akan dipinangnya. Selanjutnya, utusan yang berstatus wakil tersebut menyebutkan sifat-sifat dan kriteria yang diminta oleh pihak mempelai pria secara jelas dan terperinci.[7]

Hikmah Ta’aruf dalam Khitbah

Keberadaan Ta’aruf dalam proses lamaran (khitbah) tak lain hanya bertujuan untuk memperkuat hubungan pernikahan yang akan dijalani. Karena apabila tidak ada anjuran melihat calon pasangan ini, akan dikhawatirkan terjadi penyesalan dari kedua belah pihak di kemudian hari. Dengan adanya kemantapan hati dari kedua belah pihak sebelum melangsungkan prosesi pernikahan, besar harapan akan menjadikan hubungan semakin harmonis dan menjadikan ketenangan hati dalam bahtera keluarga yang akan dibangun bersama. Prinsip ini sejalan dengan tujuan pernikahan yang telah disebutkan di dalam al-Qur’an:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram denganya.” (QS. Ar-Rum: 21) []waAllahu a’lam

 

____________

[1] Mughni al-Muhtaj, IV,207.

[2] Asna al-Mathalib, III/109, Maktabah Syamilah.

[3] Al-Iqna’, II/405.

[4] Tuhfah al-Muhtaj, VII/190.

[5] Nihayah al-Muhtaj, VI/186.

[6] Mughni al-Muhtaj, IV/208, Maktabah Syamilah.

[7] Nihayah al-Muhtaj, VI/186.

Menikah dengan Sepupu?

Assalamualaikum wr.wb

Mau tanya, pernikahan antara sepupu di perbolehkan atau tidak. Sepupu (anak dari saudara kandung ayah) (anak dari pakde saya) boleh di nikah atau tidak?
Matursuwun

Wassalamualaikum. Wr.wb

Laila

Waalaikumsalam wr wb, sebelumnya kami ucapkan terimakasih telah singgah di website kami.

salah satu syarat pernikahan adalah tidak adanya ikatan mahram diantara calon mempelai laki-laki dan perempuan, baik melalui ikatan nasab, ikatan perkawinan, dan ikatan pesusuan.

apakah mahram itu? mahram artinya seseorang yang tidak boleh dinikahi. siapakah sajakah mahram itu?

 

Kelompok yang pertama (mahram karena keturunan) ada tujuh golongan, yakni :

Ibu, nenek dan seterusnya ke atas, baik jalur laki-laki maupun wanita.

Anak perempuan (putri), cucu perempuan, dan seterusnya, ke bawah baik dari jalur laki-laki-laki maupun perempuan.

Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu.

Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu.

Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu.

Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah ataui seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah, baik dari jalur laki-laki maupun wanita.

Putri saudara laki-laki (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita.

 

Kelompok yang kedua ada tujuh golongan juga, sama persis seperti di atas, namun hubungannya karena sepersusuan (yakni satu ibu susuan, dengan minimal disusui 5x sampai kenyang).

 

Adapun kelompok yang ketiga, maka jumlahnya 4 golongan, sebagai berikut :

Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas,

Istri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah

Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas,

Anak perempuan istri dari suami lain (rabibah), cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib (anak lelaki istri dari suami lain), .

dengan demikian, sepupu bukanlah termasuk mahram sehingga boleh untuk dinikahi. kiranya demikian.

 

 

Wassalaamualaikum Wr. Wb.

 

 

Referensi: Hasyiyah Al-Bajuri ala Fathil Qorib, vol II/110, cetakan Al-haramain.

 

Pesan Agama untuk Calon Mempelai

Sebagai makhluk yang dalam fithranya di beri syahwat, yang tidak bisa di hilangkan, hanya saja bisa di arahkan,  manusia di tuntut untuk menyalurkannya pada jalur yang benar dan di restui oleh syara’, yakni Nikah. Aturan agama bukanlah untuk mempersulit keperluan penganutnya, tapi justru memberinya jalan yang terbaik. Karena manusia tidaklah mengerti sepenuhnya apa yang terbaik bagi kehidupannya, baik dunia maupun akhirat, oleh karenanya di perlukan bimbingan syariat, yang pembuatnya tak lain adalah Sang Maha Tahu kebaikan makhluk dan tanpa ada keperluan apapun. Mengenai hal ini, keturunan, merupakan hal pokok yang amat di pedulikan, karenanya langkah untuk menghasilkannya tidak boleh keluar dari pengajaran Agama. Dengan menikah, selain seseoarang itu telah berada pada “posisi aman”, ia juga telah menolong agama dan menghinakan setan. Kerusakan seseorang pada umumnya bersumber pada dua hal, perut dan kemaluan. ketika kebutuhan perut telah terselesaikan, ia akan beranjak pada keperluan kemaluannya, sesuai apa yang di isyaratkan oleh Nabi saw : “Jika seorang hamba menikah, berarti ia telah menyempurnakan separuh agamanya, maka hendaklah bertaqwa kepada Allah Swt. pada separuh sisanya.” (HR Baihaqi). Nabi mengingatkan agar berhati-hati separuh hal selainnya kemaluan, yakni perut dan hal- hal lain yang berhubungan dengannya, sudah maklum adanya, bahwa meski secara kasat-mata apa yang di ambisikan sesorang tida bersangkutan dengan urusan perut, akan tetapi kalu di telisik lebih lanjut pasti muaranya sama. Untuk mengontrol syahwat yang bergejolak, Nabi memberikan resep peredamnya, yakni dengan berpuasa. Dengan kondisi lapar, gejolak syahwat bisa lebih tertekan. Ada banyak tujuan mulia yang bisa kita jadikan sebagai pijakan utama ketika menghendaki untuk menikah. Di antaranya untuk menghasilkan keturunan, dengan mempunyai keturunan seseorang bisa menuai kebaikan darinya kelak, semisal untuk mencari ridla Rosulullah saw. Karena beliau Nabi, di hari kiamat nanti akan membanggakan jumlah ummatnya yang banyak di hadapan Nabi-nabi yang lain, sehingga dengan banyak keturunan, kita turut andil  dalam “mensukseskan acara” Beliau, sebagaimana perintah Nabi untuk memperbanyak keturunan yang sudah tidak asing kedengarannya. Tujuan lainnya, yakni berharap doa dari anak terhadap orang-tuanya yang telah meninggal   sebagaimana keterangan yang mengatakan bahwa amal seseorang akan terputus ketika meninggal, kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang manfaat dan anak yang saleh yang mendoakan terhadap orang tuanya. Cucu tercinta Nabi, sayyidina Hasan Ra. Adalah sosok yang paling sempurna serupanya dangan baginda nabi. Sabda Nabi : “ Hasan itu lebih serupa denganku dalam sisi fisik dan akhlaknya.” Beliau mempunyai jumlah istri yang sangat banyak, sampai dalam kisaran 200 !! hingga dalam satu kali keadaan beliau bisa langsung menceraikan 4 istrinya sekaligus, atau sebaliknya, langsung menikahi 4 orang perempuan. Jangan di artikan beliau hanya mementingkan syahwat, tapi lebih karena ingin memperbanyak keturunan.   Selanjutnya, dengan mempunyai keturunan, orang tua di harapkan  akan bisa mendapat syafaat (pertolongan) anaknya saat si anak mati ketika masih kecil. Seperti yang di terangkan dari sebuah hadis, bahwa nanti, di akherat, anak-anak orang muslim, yang meninggal masih dalam kondisi belum dewasa, akan di perintahkan langsung masuk surga tanpa ada hisab amal, tapi ternyata, mereka, anak-anak itu tidak mau, malah bertanya pada Malaikat penjaga perihal orang tuanya, setelah di jawab bahwa orang tua mereka masih ada urusan dengan amal-amalnya waktu di dunia dulu, bocah-bocah tadi malah menjerit tak keruan, lantas Allahpun memerintahkan MalaikatNya untuk mencari dan membawa orang tua anak tadi untuk masuk surga bersama sang anak. Hal ini kiranya bisa di jadikan sebagai penghibur untuk sepasang suami-istri yang sedang di rundung kesedihan ketika anak yang di tunggu lama lalu hadir membawa penenang hati, tapi malah umurnya tidak panjang. Bahwa nanti di hari kiamat anaknya bisa menolonya dari kesusahan-kesusahan yang datang menimpanya. Tujuan lainnya yakni untuk meredam syahwat, pasti menjadi agak masygul  kedengarannya. Kok bisa tujuan menikah adalah untuk meredam syahwat, padahal Nikah sendiri itu untuk menghasilkan anak, sedang hal ini tidaklah akan bisa terjadi kecuali pada orang-orang yang mempunyai syahwat atau gairah seks,artinya orang tersebut tidak impoten. Keberadaan di sunnahkannya menikah bukanlah terletak pada syahwat belaka, artinya sepirit menikah dari sudut obyek dan pelakunya tidaklah hanya melulu tentang syahwat, tapi lebih ke tujuan fundamen terdahulu di atas tadi, yakni melestarikan keturunan. Maka dari itu tidaklah mengheran jikalau syariat tetap mengatakan sunnah hukumnya menikah bagi orang yang tidak mempunya “keperkasaan” di hadapan perempuan, atau impoten. Karena penyakit ini sifatnya sudah di luar kuasa kita untuk mengusahakannya, nyatanya orang yang demikian ini hanya bisa membangkitkan  syahwat dengan saja dengan hasil yang masih belum menentu.bahkan tidak hanya orang yang kehilan kejantanan saja yang tetap di sunnahkan menikah, tapi orang yang tidak punya kelaminpun sama di sunnahkan. Dari sini Nabi sudah mengisyaratkan pentingnya sebuah keturunan guna menjadi tujuan pokok untuk menikah, beliau bersabda : “ sebaik-baiknya perempuan-perempuan kalian ialah yang (bisa) mempunyai banyak keturunan juga mencintai suaminya.” Atau  dalam teks yang lain beliau menyinggung masalah perempuan yang tidak bisa menghasilkan keturunan “ perempuan yang hitam dan jelek tetapi mampu mempunyai keturunan banyak itu lebih baik ketimbang perempuan yang cantik tapi mandul.” seseorang yang berkeluarga akan lebih bisa memejamkan matanya, menajaga syahwatnya, bahkan sebagian ulama, sebelum berbuka puasa, menjimak istrinya dulu. dengan tujuan agar ibadahnya menjadi mebil tenang.  

Sejarah Baru: Pemberangkatan Guru Bantu

LirboyoNet, Kediri – Sejarah baru tertoreh di gedung Lajnah Bahtsul Masail (LBM), Sabtu (30/07). Untuk pertama kalinya, Pondok Pesantren Lirboyo secara resmi menebar santri-santrinya. Mereka ditugaskan untuk berkhidmah. Ratusan daerah menjadi titik tujuan. Bagi beberapa pesantren maupun madrasah, bisa jadi para santri yang mereka minta ini menjadi berkah. Bagi para santri, program wajib khidmah ini menjadi ajang untuk mengharapkan barokah.

Sebenarnya, keputusan untuk membuka diri bagi pesantren dan madrasah luar untuk meminta guru bantu, baru diketok palu bulan Rabiul Awal lalu. “Setelah itu, (para pengurus) rapat secara maraton. Kita cari formula terbaik bagaimana program ini bisa berjalan. Alhamdulillah, akhirnya bisa terlaksana di tahun ini juga,” papar KH. Atho’illah Sholahudin Anwar pagi itu.

Ada banyak pertimbangan dalam memutuskan hal ini. Diantaranya, santri yang tidak mempunyai tanggungjawab khidmah, baik di pondok maupun sekolah, seringkali terlihat resah. Eman sekali jika potensi mereka yang mereka miliki tidak disalurkan dengan baik.

Khidmah adalah salah satu cara untuk mengoptimalkan potensi itu. Apa yang santri dapatkan di pondok, akan dapat berguna dan tercerna ketika dileburkan dalam khidmah di tengah masyarakat. Maka wajar jika program ini langsung dijalankan bagi santri mutakhorijin (alumnus) periode 1436/1437 H. ini.

Faktanya, program guru bantu sebenarnya bukanlah program yang murni baru bagi Ponpes Lirboyo. Bertahun-tahun lalu, sudah dimulai berdakwah mingguan di daerah-daerah membutuhkan. Semisal, setiap hari Kamis, tidak kurang dari 30 santri diterjunkan ke pelosok desa yang tersebar di Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Di Jumat paginya, puluhan santri lain juga ditugaskan untuk mengajar di beberapa sekolah di Kota Kediri. Hanya saja, program ini lebih dikembangkan lagi. Bukan hanya masyarakat Kediri yang merasakan alunan dakwah para santri. Kini, madrasah-madrasah di Sumatera dan Kalimantan pun ikut mencicipi ilmu para santri Ponpes Lirboyo.

Memang, program yang terhitung mendadak ini membuat banyak santri kaget. Imam Masyhuri, santri asal Riau yang mendapat tugas khidmah di Gurah, Kediri mengakui hal itu. “Saya sempat shock setelah tahu akan ada kewajiban khidmah. Apalagi saya ditempatkan di Madrasah Ibtidaiyah di Gurah. Hehe. Gawatnya, yang saya pegang adalah kelas dua,” imbuhnya. Memang belum terbayang susahnya. Namun itulah santri. Harus siap sedia diletakkan di manapun.

Beberapa waktu lalu, setelah dibukanya program guru bantu ini, terutama setelah terdengar di berbagai pelosok Nusantara,  ‘jatah’ santri segera habis dalam waktu tidak begitu lama. Padahal, masih banyak pesantren maupun madrasah yang mengantri untuk mendapatkan guru bantu. Walhasil, mereka harus bersabar menanti tahun depan.

Meningkatnya kebutuhan pesantren-pesantren akan hadirnya guru bantu juga terlihat dari ‘ketidaksabaran’ mereka. Beberapa santri diberangkatkan terlebih dahulu ke daerah di mana mereka akan ditempatkan. Itu terjadi pada bulan Ramadlan lalu. Karenanya, acara ini hanya bisa mereka ikuti lewat media sosial dan kabar dari kawan-kawan.

“Yang paling penting adalah, kalian menjaga akhlakul karimah. Bagaimanapun alimnya seseorang, nek ora nganggo akhlakul karimah ora ono regane (kalau tidak berakhlakul karimah, tidak ada harganya),” dawuh KH. M. Anwar Manshur saat memberikan mauidlah hasanah.

“Ojo reno-reno. Ga usah dolanan arek wedok. Nek seneng ditari pisan nang wongtuwone. Pengen rabi ditembung pisan. Timbang plirak-plirik. (jangan macam-macam. Tidak usah pacaran. Kalau suka, bicara dengan orangtuanya. Ingin nikah dibicarakan saja. Daripada melirik kesana-kemari)” sambung beliau, diiringi tawa renyah para santri dan penjemputnya. Perlu diketahui, salah satu syarat untuk meminta guru bantu adalah menjemput mereka di Lirboyo. Walhasil, pagi itu banyak ustadz dan utusan dari masing-masing lembaga pendidikan hadir di gedung LBM.

“Berangkat dan niatlah berdakwah dan nasyrul ilmi. Dakwah paling ampuh adalah dakwah bil fi’li. Itu yang paling mancep di hati masyarakat. Tunjukkan kedisiplinan kalian. Jalan di depan kalian sudah tergelar sayap-sayap malaikat karena ridla atas langkah dakwah kalian,” pungkas beliau.

Semoga apa yang menjadi harapan santri, para penjemput, para pemangku lembaga pendidikan, lebih-lebih para masyayikh Ponpes Lirboyo, akan senantiasa terwujud dan bendera kalimatillah dapat berkibar di mana-mana. Amin.][