Ketakutan Mbah Karim terhadap Uang Bisyaroh

mbah karim

Mbah Karim atau yang lebih kita kenal dengan KH. Abdul Karim pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, telah memberikan banyak sekali suri tauladan bagi kita semua. Salah satunya adalah yang telah Agus Abdurrohman Ahmad Hafidz ceritakan pada salah satu kesempatan di Majelis Sholawat Kubro yang telah menjadi rutinan setiap malam jumat pada kamis legi.

Kepandaian Mbah Karim

Ketika masih mondok KH. Abdul Karim banyak sekali teman yang yang berkonsultasi kepada beliau. Kemampuan beliau dalam memahami kitab membuat banyak santri lain datang meminta penjelasan. Namun ada satu hal yang selalu beliau lakukan: menolak setiap bisyarah yang teman-teman berikan kepada beliau.

“Mbah Karim gak mau, selalu menolak ketika diberi bisyaroh apapun dari konsultasi.”

Baca juga: Iman Lemah Harus Dijaga dengan Lingkungan yang Baik

Padahal teman-temannya mengetahui bahwa Mbah Karim hidup dalam kesederhanaan. Mereka memahami bahwa beliau bukanlah orang yang berkecukupan. Karena itu, sebagian dari mereka berusaha memberikan sejumlah uang sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih atas ilmu yang telah beliau bagikan.

Pemberian Bisyarah

Akan tetapi, setiap kali diberikan bisyarah, Mbah Karim selalu menolaknya.

Teman-temannya tidak kehabisan akal. Mereka tetap ingin membantu beliau agar lebih nyaman menjalani kehidupan di pesantren, agar kebutuhan sehari-harinya sedikit terbantu, dan agar bisa lebih fokus menuntut ilmu. Karena itu, mereka mulai menyelipkan uang secara sembunyi-sembunyi di bawah sajadah atau tikar kamarnya tanpa sepengetahuan beliau.

Baca juga: Tradisi Keluarga Bani KH. Abdul Karim Menyikapi Para Santri

“Padahal teman-temannya ini tau Mbah Karim gak punya apa-apa, pingine ya ngasih bisyaroh Mbah Karim supaya Mbah Karim lebih kerasan di pondok, lebih konsentrasi, tapi ini tetap diotlak. Ketika ditolak ini kemudian teman-temannya ini seringkali meninggalkan bisyarah itu di bawah sajadah, di bawah tikar, yang Mbah Karim gak tau.”

Hari demi hari berlalu.

Hingga pada suatu ketika Mbah Karim merasa bahwa kamarnya sudah waktunya beliau bersihkan. Beliau mulai membereskan seluruh isi kamar. Tikar digulung, sajadah dilipat, dan setiap sudut ruangan dirapikan.

“Sampai suatu saat kemudian ketika Mbah Karim itu merasa bahwa kamarnya sudah kotor, sudah waktunya dibersihkan, ini kemudian beliau mau membersihkan kamar itu terus akhirnya kan kabeh dilempiti.”

Ketakutan KH. Abdul Karim

Saat itulah beliau menemukan sesuatu yang tidak pernah disangkanya.

Di bawah tikar dan sajadah terdapat amplop-amplop berisi uang yang selama ini ditinggalkan oleh teman-temannya.

Melihat itu, Mbah Karim justru menangis.

Baca juga: Makna Kebaikan yang Tidak Istiqomah Menurut Imam Ghazali

Beliau tidak bersyukur karena mendapatkan banyak uang. Beliau tidak merasa senang karena kebutuhannya bisa terpenuhi. Yang keluar dari lisannya justru sebuah doa penuh harap dan ketakutan:

“Mbah Karim menangis, ya Allah bukan ini yang saya minta ya Allah. Sanes niki sing kulo suwun, sanes niki sing kulo suwun.”

Apa yang sebenarnya beliau takutkan? Bukan uangnya. Bukan pula karena uang itu haram atau berasal dari jalan yang salah.

Yang beliau takutkan adalah apabila perjalanan panjangnya dalam menuntut ilmu ternyata hanya berujung pada materi. Beliau khawatir jika seluruh pengorbanan, kesungguhan, dan keletihan yang telah beliau tempuh selama bertahun-tahun hanya menghasilkan sejumlah lembar uang.

Beliau takut apabila niat mencari ilmu yang semula karena Allah perlahan bergeser menjadi karena dunia.

Baca juga: Sifat Lemah Lembut sebagai Tanda Rahmat Allah

“Beliau takut, yang ditakutkan oleh beliau: pencarian ilmu sekian lama, hasilnya hanya berupa uang itu saja. Yang beliau takutkan adalah itu.”

Karena itulah seluruh uang tersebut kemudian beliau kumpulkan kembali. Sebagiannya beliau kembalikan, sebagiannya beliau berikan kepada orang lain yang membutuhkan. Beliau tidak ingin hatinya terikat oleh sesuatu yang selama ini tidak pernah menjadi tujuan hidupnya.

“Saya ingat itu kemudian uang dikumpulkan, dikembalikan lagi, disebarkan kemana-mana, diberikan kepada siapa yang mau.”

Pesan Agus Abdurrohman Ahmad Hafidz

Kemudian Agus Abdurrohman mengajak para santri untuk sebisa mungkin meniru beliau -Mbah Karim.

“Ya mudah-mudahan entah berapa persen, kita bisa mengikuti jejak beliau ini.”

Agus Abdurrohman menambahkan bahwasannya jangan sampai kita berharap bisyaroh ketika ada yang meminta kita untuk mengaji atau berdakwah.

Kisah ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para pencari ilmu, para dai, guru, maupun kiai. Bahwa menjaga niat sering kali jauh lebih sulit daripada melakukan amal itu sendiri.

Baca juga: Merawat Pakaian, Sandal, dan Kitab di Pesantren

“Dengan cara, sok nek sampean dadi kiai, ketika sampean ditanggap ngaji gak dibisyarohi, ora usah muni pie pie. Paling tidak. Pokoke diundang ngaji sampean nyanggupi iso budal. Sampean tata betul atine sampaian niat nasrul ilmi. Wes itu tok. Itu tok.”

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses