KH. Ma’ruf Zainuddin: Hakikat Mencari Ilmu dan menjaga hati dalam khidmah

Mempelajari Ilmu

Dalam salah satu sidang kwartal LBM pada Jumat, 26 Januari 2018 M, KH. Ma’ruf Zainuddin menyampaikan wejangan penuh makna tentang hakikat mencari ilmu dan menjaga hati dalam khidmah.

Baca juga: Dawuh KH. Abdul Kholiq Ridlwan: Waktu Seperti Pakaian

Beliau menegaskan:

“Ilmu itu dengan dipelajari, tidak bisa hanya dibayangkan saja.”

Kalimat sederhana ini mengandung teguran halus bagi pencari ilmu yang merasa cukup dengan mendengar atau sekadar membaca sekilas. Padahal, ilmu itu harus diusahakan dengan sungguh-sungguh, ditempuh dengan sabar, dan ditekuni dengan rendah hati.

Kewajiban Pengurus

KH. Ma’ruf Zainuddin melanjutkan, menjadi seorang pengurus atau abdi di pesantren bukan sekadar menjalankan tugas administratif. Ia adalah bagian dari proses pendidikan ruhani, sebab:

“Jadi pengurus itu sudah seharusnya menata hati.”

Makna Qalbun Salim

Beliau lalu mengutip firman Allah Swt. dalam surah asy-Syu’ara ayat 88-89:

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ

“Hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”

Baca juga: KH. Abdullah Kafabihi: Ridho Allah dan Ridho Orang Tua

Menurut beliau, yang dimaksud dengan qalbun salīm (hati yang selamat) adalah hati yang bersih dari kesombongan, kedengkian, riya’, dan segala penyakit batin yang dapat mengotori keikhlasan.

Jangan Genngsi dalam Mencari Ilmu

Beliau juga mengingatkan para santri agar tidak gengsi dalam mencari ilmu:

“Ngaji itu jangan gengsi.”

Baca juga: Agus Ahmad Kafabihi: Hujan dan Cinta

Karena hakikat seorang penuntut ilmu adalah merendahkan diri di hadapan kebenaran, bukan meninggikan gengsi di hadapan manusia. KH. Ma’ruf berkata:

“Orang yang ingin mendapatkan ilmu itu harus merendahkan diri serendah-rendahnya.”

Melihat Sejarah: Melihat Sepion

Dalam dawuh terakhirnya, beliau menutup dengan nasihat ringan namun sarat makna:

“Melihat sejarah itu penting, seperti halnya melihat sepion. Tapi jangan terlalu sering juga, nanti nabrak.”

Kiasan ini mengajarkan keseimbangan: menghormati masa lalu, tapi tidak terjebak di dalamnya. Belajar dari sejarah, namun tetap menatap masa depan.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses