Pentingnya Menjaga Persatuan Bangsa

Pentingnya Menjaga Persatuan Bangsa

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, persatuan merupakan fondasi yang sangat penting. Di negara yang kaya akan keberagaman seperti Indonesia, menjaga persatuan bangsa menjadi sebuah keharusan yang tak terelakkan.

Dengan lebih dari 17.000 pulau, ratusan bahasa daerah, dan beragam suku, Indonesia adalah bukti nyata bahwa kemajemukan bisa dirangkul dalam satu kesatuan. Namun, kemajemukan ini juga bisa menjadi sumber perpecahan apabila tidak diimbangi dengan semangat kebersamaan dan persatuan.

Baca Juga: Dawuh KH. An’im Falahuddin Mahrus: Kitab Kuning Berperan Penting dalam Pondasi Kebangsaan

Di tengah tantangan globalisasi dan kemajuan teknologi yang tak terbendung, berbagai potensi perpecahan semakin mengintai—mulai dari masalah sosial, politik, hingga budaya. Oleh karena itu, menjaga persatuan bangsa bukan hanya menjadi kewajiban, tetapi sebuah komitmen untuk melindungi masa depan generasi penerus dan membangun Indonesia yang kuat, adil, dan makmur.

Allah SWT telah berfirman dalam Alquran:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103)

Persatuan merupakan hal urgen dalam kehidupan manusia, tak terkecuali dalam hal berbangsa dan bernegara. Islam pun mengecam segala bentuk perpecahan antar anak bangsa. Karena sejatinya perpecahan dapat mengakibatkan kehancuran sebuah bangsa yang mempermudah para musuh untuk memporak-porandakan sebuah negara. (Lihat: Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsir al-Bahr al-Muhith, [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002] vol. IV hal. 499)

Baca Juga: Mendoakan Kebaikan untuk Pemimpin Bangsa

Pentingnya Menjaga Persatuan Bangsa

Pendiri (Muassis) Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, dalam Muqaddimah Qanun Asasi mengingatkan akan pentingnya menjaga persatuan bangsa. Sebagaimana ungkapan beliau:

وَمِنَ الْمَعْلـُوْمِ اَنَّ النَّاسَ لاَبُدَّ لَهُمْ مِنَ اْلاِجْتِمَاعِ وَالْمُخَالَطَةِ ِلأَنَّ الْفَرْدَ الْوَاحِدَ لاَيُمْكِنُ اَنْ يَسْتَقِلَّ بِجَمِيْعِ حَاجَاتِهِ، فَهُوَ مُضْظَرٌّ بِحُكْمِ الضَّرُوْرَةِ اِلَى اْلاِجْتِمَاعِ الَّذِيْ يَجْلِبُ اِلَى اُمَّتِهِ الْخَيْرَ وَيَدْفَعُ عَنْهَا الشَّرَّ وَالضَّيْرَ. فَاْلإِتِّحَادُ وَارْتِبَاطُ الْقُلُوْبِ بِبَعْضِهَا وَتَضَافُرُهَا عَلَى اَمْرٍ وَاحِدٍ وَاجْتِمَاعُهَا عَلَى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ أَهَمِّ اَسْبَابِ السَعَادَةِ وَاَقْوَى دَوَاعِى الْمَحَبَّةِ وَاْلمَوَدَّةِ. وَكَمْ ِبهِ عُمِّرَتِ البِلاَدُ وَسَادَتِ الْعِبَادُ وَانْتَشَرَ الْعِمْرَانُ وَتَقَدَّمَتِ اْلاَوْطَانُ وَاُسِّسَتِ الْمَمَالِكُ وسُهِّلَتِ المسَاَلِكُ وَكَثُرَ التَّوَاصُلُ اِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ فَوَائِدِ اْلاِتِّحَادِ الَّذِيْ هُوَ اَعْظَمُ الْفَضَائِلِ وَأَمْتَنُ اْلاَسْبَابِ وَالْوَسَائِلِ

“Sebagaimana diketahui, manusia adalah makhluk yang harus hidup bemasyarakat (komunal) dan berinteraksi dengan yang lain. Karena seseorang tidak akan mampu memenuhi segala kebutuhannya sendiri. Suatu keharusan baginya untuk bermasyarakat, berkumpul yang membawa manfaat bagi umatnya dan menolak kemdlaratan serta ancaman darinya. Sebab itu, persatuan, ikatan batin, saling bantu dalam suatu masalah dan kesepakatan bersama merupakan penyebab kebahagiaan dan faktor penting dalam menciptakan persaudaraan dan kasih sayang. Sungguh banyak negara-negara yang menjadi makmur, rakyat banyak yang menjadi pemimpin hebat, pembangunan merata, negeri-negeri menjadi maju, kedaulatan pemerintah ditegakkan, jalan-jalan menjadi mudah, perhubungan menjadi ramai dan masih banyak lagi manfaat dari persatuan yang merupakan keutamaan yang agung serta menjadi sarana yang paling ampuh.” (Lihat: Muhammad Hasyim Asy’ari, Muqaddimah Qanun Asasi Jam’iyyah Nahdlatul Ulama pada At-Tibyan [Jombang: Maktabah at-Turats al-Islami, t.t.) hal. 22)

Baca Juga: Fanatik Kebangsaan, Basis Militansi Santri Membela Negeri

Bahaya Perpecahan

Apabila manfaat dari menjaga persatuan bangsa sedemikian besar, maka sebaliknya bahaya dari sebuah perpecahan tidak kalah besar. Perpecahan bangsa dapat berdampak menghancurkan sendi-sendi kehidupan, baik kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Dalam lanjutan penegasannya, KH. Hasyim Asy’ari mengatakan:

ِفاَلتَّفَرُّقُ سَبَبُ الضُّعْفِ وَالخِْذْلاَنِ وَالْفَشْلِ فِيْ جمَِيْعِ اْلأَزْمَانِ. بَلْ هُوَ مَجْلَبَةُ الْفَسَادِ وَمَطِيَّةُ الْكَسَادِ وَدَاعِيَةُ الْخَرَابِ وَالدِّمَارِ وَدَاهِيَةُ اْلعَارِ وَالشَّتَّارِ. فَكَمْ مِنْ عَائِلاَتٍ كَبِيْرَةٍ كَانَتْ فِيْ رَغَدٍ مِنَ اْلعَيْشِ وَبُيُوْتٍ كَثِيْرَةٍ كَانَتْ آهِلَةً بِأَهْلِهَا حَتّى اِذَا دَبَّتْ فِيْهِمْ عَقَارِبُ التَّنَازُعِ وَسَرَى سُمُّهَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ، وَأَخَذَ مِنْهُمُ الشَّيْطَانُ مَْأخَذَهُ تَفَرَّقُوْا شَذَرَمَذَرَ فَأَصْبَحَتْ بُيُوْتُهُمْ خَاوِيَةً عَلَى عُرُوْشِهَا.

“Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman. Bahkan pangkal kehancuran dan kemacetan, sumber keruntuhan dan kebinasaan, dan penyebab kehinaan dan kenistaan. Betapa banyak keluarga-keluarga besar semula hidup dalam keadaan makmur, rumah-rumah penuh dengan penghuni, sampai suatu ketika kalajengking perpecahan merayapi mereka, bisanya menjalar meracuni hati mereka dan syaitanpun melakukan perannya, mereka porak poranda. Dan rumah-rumah mereka runtuh berantakan.” (Lihat: Asy’ari, Muqaddimah, hal. 23)

Dengan demikian, tidak ada alasan bagi seluruh anak bangsa kecuali bersatu-padu menjaga NKRI, mengawal Bhinneka Tunggal Ika, berpijak pada UUD 1945 dengan semangat Pancasila, mewujudkan kemaslahatan bersama melalui persatuan dan kesatuan bangsa. []waAllahu a’lam

Baca juga: NASIONALISME RELIGUS MANHAJ KEBANGSAAN ULAMA’ NUSANTARA

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses