Rahmat Allah pada Ahli Maksiat: Harapan di Balik Dosa

orang taubat orang taubat dari dosanya

Dalam sebuah hadis yang riwayat Abu Hurairah, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu. Ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa. ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram. dan (perutnya) ia kenyang dengan makanan haram, maka bagaimana mungkin doanya Allah kabulkan?”
(HR. Muslim)

Hadis ini menggambarkan bahwa kesungguhan dalam berdoa tidak serta-merta menjamin terkabulnya doa apabila ada penghalang yang besar: yaitu perkara haram yang melekat pada diri seseorang. Dalam hal ini, bukan hanya perbuatan dosa, namun juga sumber makanan, minuman, hingga pakaian yang berasal dari jalan yang tidak halal bisa menjadi penghalang terkabulnya doa.

Dalam beberapa kisah, kita menemukan peringatan yang lebih tegas lagi. Salah satunya berasal dari dialog antara Nabi Musa ‘alaihis salam dan Allah ﷻ. Syahdan, Nabi Musa melihat seseorang yang lama berdoa kepada Allah dengan penuh pengharapan. Lalu ia bertanya, “Wahai Tuhanku, apakah Engkau mengabulkan doanya?” Allah menjawab:

“Wahai Musa, jikalau ia menangis (merengek meminta Allah kabulkan doanya) sampai badannya rusak dan mengangkat tangannya sampai langit, tidaklah Aku kabulkan doanya.”
Nabi Musa bertanya lagi. “Mengapa demikian, wahai Tuhanku?”
Allah menjawab, “Karena di perutnya ada perkara haram, di punggungnya dan di rumahnya juga.”

Lebih jauh, Rasulullah ﷺ juga memberikan resep agar doa mudah untuk Allah kabulkan. Beliau bersabda:

“Halalkanlah makananmu, maka doamu akan Allah kabulkan. Demi Dzat yang Muhammad ada dalam genggaman-Nya, jikalau seseorang menelan barang haram maka 40 hari ia tidak akan Allah kabulkan doanya. Siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari perkara haram maka neraka pantas untuknya.”
(Hadis marfu’)

Dalam riwayat al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, dari sahabat Jabir bin Abdullah, disebutkan pula sabda Rasulullah ﷺ:

“Malaikat Jibril, Allah tugaskan untuk menampung keperluan (hajat-hajat) hamba Allah. Ketika orang mukmin berdoa, Allah berfirman: ‘Wahai Jibril, tampunglah (jangan langsung dikabulkan) keperluan hamba-Ku ini, karena Aku mencintainya dan mencintai suaranya.’

Dan ketika orang kafir—dalam riwayat lain: orang maksiat—berdoa, Allah berfirman: ‘Wahai Jibril, berilah hajat itu (langsung), karena Aku membencinya dan benci suaranya.’”

Baca juga: Shalat dan Istikharah dalam Menentukan pilihan.

Sebuah Harapan: Rahmat Allah pada Ahli Maksiat

Walaupun hadis-hadis dan kisah-kisah di atas menunjukkan bahwa maksiat dan perkara haram dapat menjadi penghalang doa, bukan berarti Allah tidak akan pernah mengabulkan doa ahli maksiat, bahkan orang kafir sekalipun. Sebab pada akhirnya, Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Kita pun melihat kenyataan bahwa tidak sedikit orang yang bergelimang dosa atau bahkan tidak beriman, tetap mendapatkan berbagai kenikmatan duniawi seperti kesehatan, kekayaan, kekuasaan, atau kedudukan tinggi. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Jawabannya dapat kita temukan dalam dialog lainnya antara Nabi Musa ‘alaihis salam dan Allah ﷻ. Nabi Musa bertanya:

“Ya Tuhanku, ketika ahli puasa, ahli shalat dan orang yang berjihad di jalan-Mu itu berdoa, bagaimana sambutan-Mu?”
Allah menjawab:
“Akan Aku katakan: Labbaika (Aku penuhi panggilanmu).”
Nabi Musa kembali bertanya, “Bagaimana jika ahli maksiat yang berdoa?”
Allah menjawab:
“Akan Aku katakan: Labbaika, Labbaika, Labbaika (tiga kali).”

Nabi Musa pun heran, mengapa justru dijawab tiga kali oleh Allah. Maka Allah menjawab kebingungan itu dengan firman-Nya:

“Karena ahli maksiat bersandar kepada kemurahan dan kasih sayang-Ku, sedangkan selainnya bersandar pada amal perbuatannya sendiri.”

Jawaban ini sungguh dalam. Ia menegaskan bahwa kasih sayang Allah bukan hanya milik orang-orang saleh, tetapi juga terbuka bagi siapa saja yang berharap kepada-Nya dengan penuh kerendahan hati. Bagi ahli maksiat, pintu harapan tetap terbuka selama ia kembali bersandar pada rahmat Allah, bukan pada keakuan atau amal semata.

Baca juga: Cara Menirakati Anak yang Mondok.

Akhir Kata: Menyandarkan Harapan pada Pilihan-Nya

Sebagian ulama berkata:

“Jika doaku terkabul, maka aku senang. Jika tidak terkabul, aku makin senang. Karena yang pertama adalah pilihanku, sedangkan yang kedua adalah pilihan-Nya.”

Ungkapan ini mengajarkan bahwa pengabulan doa bukanlah ukuran tunggal keberhasilan dalam berdoa. Yang paling penting adalah tetap bergantung kepada Allah dalam segala keadaan—baik dalam amal saleh maupun dalam taubat dari maksiat. Karena Allah tak pernah menutup pintu bagi hamba yang kembali.

Referensi: Jawahir al-Lu’lu’iyyah Syarh Arba’in an-Nawawiyyah.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

One thought on “Rahmat Allah pada Ahli Maksiat: Harapan di Balik Dosa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses