Tag Archives: akhlak

Khotbah Jumat: Meningkatkan Cinta Kepada Nabi

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صدق الله العظيم

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah..

Tidak henti-hentinya, marilah kita senantiasa sekuat mungkin selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt dengan menjalankan perintahnya serta menjauhi tiap-tiap larangannya karena hal itulah yang akan membawa kita pada kebahagian dihari penghisaban amal kelak. Tidak lupa, kita bersyukur karena telah berjumpa kembali dengan bulan bulan Rabiul Awal.

Dibulan inilah langit malam pernah terang benderang oleh lahirnya bayi bercahaya yang kelak merubah kehidupan Jahiliah bangsa Arab menjadi peradaban yang penuh nilai-nilai keluhuran nan Islami. Bulan ini adalah bulan dilahirkannya manusia termulia yaitu baginda nabi agung Muhammad saw.

Jamaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Dibulan kelahiran Nabi ini, hendaknya kita mengukur-ukur dan melihat-lihat kembali adakah dihati ini rasa cinta kepada baginda nabi atau seberapa meresap cinta kita kepada baginda nabi? Karena di akhirat nanti, kita sekalian akan dikumpulkan dengan orang yang kita cintai. Baginda Nabi bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Artinya: “Seseorang akan bersama orang yang dia cintai” (HR. Bukhari)

Demikian sabda nabi ini dimkasudkan kelak di akhirat nanti kita akan dikumpulkan beserta orang yang kita cintai

Jamaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Bagaimana cara kita meningkatkan rasa cinta kepada Nabi? Diantaranya adalah dengan mengetahui dan terus menggali kehidupan nabi. Bagaimana nabi bergaul, bagaimana nabi tidur, bagaimana nabi menghormati orang lain, bagaimana nabi menyayangi binatang dan sebagainya. Karena dari tahu itulah diantara sebab yang akan menumbuhkan rasa cinta.

Sambil terus menggali, rasa cinta juga akan timbul dengan sedikit demi sedikit kita meneladani apa yang diamalkan dan disabdakan nabi. Dari sini cinta kita kepada nabi akan mulai meresap dalam sanubari kita. Juga sebagaimana difirmankan Allah swt :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Artinya: “Sungguh, pada diri Rasulullah adalah teladan yang baik bagi kalian semua” (QS. al-Ahzab: 21)

Jamaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

semoga Allah swt melimpahkan kita cinta yang istiqomah kepada baginda nabi dan senantiasa bisa meneladani akhlak-akhlak beliau

ِبَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Dawuh KH. M. Anwar Manshur Saat Pengarahan Liburan

Sebaik-baiknya orang di dunia itu orang yang mau ngaji.

Kalian mau mengaji merupakan pilihannya Allah SWT maka dari itu kalian yang ngaji ini harus disyukuri dengan cara mempeng.

Ngaji itu harus benar-benar kangelan.

Orang yang baik di dunia itu ada dua, pertama orang yang mulang ngaji yang kedua orang yang mengaji.

Orang beribadah tidak memakai ilmu, ibadahnya tidak diterima.

Kalian adalah pilihane Allah karena kalian mau mengaji jangan berkecil hati, kalian harus mensyukuri itu, dengan cara mengamalkan ilmu yang telah kalian peroleh dan ditambahi ilmu-ilmu yang masih belum diperoleh.

Saat liburan yang masih sekolah disini, kalian di pondok saja menghafalkan pelajaran yang akan datang.

Supaya ringan, saat ramadlon kalian menghafalkan Imrithy, Alfiyyah atau maknun sampai khatam, nanti Syawal sudah enak tinggal nglalar saja tinggal ngaji sudah dapat hafalannya.

Disamping belajar pelajaran yang wajib di pondok, kalian juga pelajari ilmu kemasyarakatan, seperti mengimami tahlilan, berzanji, dibaiyyahan, belajar khotib, selagi masih di pondok.

Jika kalian memiliki ilmu yang cukup dimanapun berada kalian merasa enak, makannya yang mempeng selagi masih di pondok.

Kalian dipondok ada ngaji ada jamaah ada juga yang belajar kalau diluar godaannya macam-macam.

Gunakan kesempatan dipondok belajar macam- macam ilmu terutama situasi masyarakat, kalian pelajari.

Jangan pernah buat mainan di pondok itu daripada menyesal sendiri nantinya.

Terkadang tujuan kita mondok 15 tahun akan tetapi tiba-tiba baru 10 tahun harus pulang , kalau tidak mempeng tinggal menyesalnya saja dan menangis.

Jika dari pondok tidak bisa apa-apa nanti hanya bisa membingungkan orang saja. Namanya orang dari pondok pasti menjadi rujukan masyarakat, karena sudah dianggap belajar syari’at agama islam.

Kalian kalau pulang dari pondok akhlaknya dijaga, jangan pulang tidak memakai peci, celanaan, yang benar kalau pulang seperti di pondok memakai peci, tunjukkan bahwa kalian benar-benar santri, itu merupakan dakwah bil hal.

Dengan menunjukkan sikap dan akhlak yang baik maka masyarakat akan tertarik memondokkan anaknya di pesantren lirboyo.

Jangan sampai melakukan sesuatu yang membuat jelek nama pondok, kalian mondok harus menunjukkan akhlakul karimah, memakai celana boleh tapi yang benar juga pecinya jangan dislempitkan, tunjukkan kalian pondok pesantren, masyarakat biar mau memondokkan anaknya, dimanapun tunjukkan akhlak yang baik.

Jangan sombong, tawadluk itu tidak merasa, meskipun kamu pintar tidak merasa pintar, meskipun kamu alim tapi tidak merasa alim, menghargai orang lain.

Tawadluk itu bukan rendah akan tetapi kita merasa sama-sama tidak memiliki, sama-sama menghormati kepada orang lain.

Dimanapun tempatnya yang terpenting adalah akhlak, sepintar apaun jika tak berakhlak tidak ada harganya.

Mulai keluar dari pondok yang baik, do’a bepergian di baca karena di jalan banyak macam-macam kendaraan.

Sampai di rumah yang pertama dilakukan salaman kepada kedua orang tua, meminta maaf jika mengecewakan orang tuanya ketika di pondok.

Jika orang tua mengerjakan pekerjaan kalian minta, jangan hanya tidur saja itu tidak baik, orang tua sudah merawat kalian dari kandungan, kalian dibawa kemana-mana, kalian harus berangan-angan kalian tidak akan bisa membalas jasa mereka.

Orang tua merawat  anak itu dengan rohmah, merasa welas supaya anaknya bisa menjadi soleh solehah, kalian merawat orang tuanya ketika sakit selama 2 bulan saja pasti sudah merasa gak enak, makanya jangan sampai membantah orang tua.

Dawuhnya orang tua, kalian dengarkan jika kalian mampu laksanakan jika belum mampu kalian utarakan.

Dari pondok kalian salaman kepada orang tua berterima kasih atas biaya yang diberikan kepada kalian di pondok.

Kalian harus sadar, jangan mudah-mudah untuk meminta bekal, kalian sudah bukan kewajiban orang tua jika kalian tidak ngaji, kalian harus bersyukur telah dikirimi.

Birul walidain itu tidak membantah dan mengecewakan hati orang tua.

Yang sebelumnya mondok belum bertuturkata baik (boso kromo) kepada orang tua besok pulang harus bertutur kata baik (boso kromo).

Siapapun orang yang bisa birrul walidain hidupnya barokah.

Kalian di pondok di didik akhlakul karimah jadi kalian harus bisa menerapkan akhlakul karimah dimana saja.

Nanti ketika sudah waktunya berangkat pondok jangan telat, jika sudah waktunya segeralah berangkat ke pondok, kalian disiplin mengikuti peraturan itu sudah terlihat memulyakan para masyayikh dengan apa yang dikehendaki masyayikh.

Kalain berada di pondok itu biar kalian bisa menjadi orang baik, orang tua kalian ingin memiliki waladun solih solihah.

Di pondok yang sungguh-sungguh biar menjadi orang soleh menjadi orang yang bisa menjalani kebenaran.

 

 

 

 

 

 

Sejak Dini, Menanamkan Akhlak Sang Buah Hati

Realita  mengatakan bahwa masa kanak-kanak menjadi periode  yang sangat penting dalam siklus kehidupan manusia. Karena di masa itulah, seluruh pengetahuan dasar yang akan menjadi pondasi dirinya mulai terbangun. Karena pada hakikatnya terbangun untuk menerima kebaikan dan keburukan, bisa disimpulkan bahwa masa kanak-kanak dapat dikatakan sebagai masa yang berada di antara dua kemungkinan tersebut. Sebagai lingkungan yang pertama kali dikenal oleng sang anak, orang tua menempati posisi vital dalam mencetak karakternya. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah Saw mengatakan:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidak ada anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani ataupun Majusi.” (lihat: Shahih Al-Bukhari, VI/114, Maktabah Syamilah)

Dengan demikian, peranan orang tua sangat berpengaruh secara maksimal di masa kanak-kanak. Berbagai formulasi pendidikan yang relevan harus ditanamkan sejak dini, terutama adalah membangun karakter dengan media pendidikan akhlak. Keperibadian dan kerangka watak seorang anak yang masih bersih dan suci harus diwarnai dengan akhlak sesuai dengan tuntunan agama.

Di dalam al-Qur’an surat Luqman, tertuang berbagai gambaran jelas mengenai pendidikan akhlak kepada anak-anak. Setidaknya, dapat dirangkum dalam beberapa aspek berikut:

Akhlak Kepada Allah

Allah Swt berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman mengatakan kepada anak-anaknya untuk memberikan pelajaran: Hai anakku! janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah suatu kesalahan besar.” (QS. Luqman: 13)

Ucapan Luqman Hakim dapat dipahami bahwa ayat tersebut memberikan sebuah isyarat bagaimana seharusnya orang tua mendidik anaknya dalam ranah tauhid. Dalam konteks tersebut, orang tua mengajarkan bagaimana seharusnya sang anak untuk senantiasa mengesakan Allah Swt dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.

Selain itu, dalam ranah syariat orang tua memiliki kewajiban menyuruh mereka sholat dan senantiasa menciptakan lingkungan yang baik serta jauh dari kemungkaran. Sebagaimana ucapan Luqman Hakim dalam ayat lain:

يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Wahai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan mencegah (mereka) dari perbuatan yang munkar.” (QS. Luqman: 17)

Akhlak Kepada Orang Tua

Allah Swt berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) terhadap kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Akulah kamu akan kembali.” (QS. Luqman: 14)

Dalam ayat tersebut, Islam memberikan pendidikan kepada anak-anak untuk selalu berbuat baik terhadap kedua orang tuanya. Hal itu ditujukan sebagai rasa terima kasih dan balas budi atas perhatian, kasih sayang dan semua yang telah mereka lakukan untuk anak-anaknya. Bahkan perintah untuk bersyukur kepada orang tua yang menempati posisi setelah perintah bersyukur kepada Allah Swt menunjukkan betapa besarnya apresiasi yang diberikan oleh syariat kepada jasa yang telah dikorbankan oleh orang tua.

Akhlak Kepada Orang Lain

Allah Swt berfirman:

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي الاَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّه َ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

Sebagai manusia sosial, pada saatnya anak-anak akan berinteraksi di tengah- tengah masyarakat. Berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat tersebut, anak-anak haruslah dididik untuk tidak bersikap acuh terhadap sesama, sombong atas mereka, dan bersikap serta berperilaku congkak. Karena pada kenyataannya, perilaku-perilaku tersebut tidak disenangi oleh Allah Swt dan sangat dibenci oleh masyarakat.

Akhlak Kepada Diri Sendiri

Allah Swt berfirman:

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk–buruknya suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19)

Dalam ayat tersebut, Allah Swt memberikan gambaran bagaimana selayaknya manusia bersikap tas dirinya sendiri. Allah Swt memerintahkan untuk bersikap sederhana dalam berjalan dan memelankan suara. Yang mana hal tersebut adalah budi pekerti yang luhur. Sikap seperti itulah yang seharusnya ditanamkan oleh orang tua dalam mendidik akhlak anaknya, yang berkaitan dengan kehidupan anak itu sendiri.

Walhasil, Allah Swt telah memberikan contoh kongkret bagaimana formulasi relevan dalam mendidik akhlak anak-anak. Apabila setiap orang tua dapat menjalankannya dengan benar dan baik, besar harapan akan muncul anak-anak yang tumbuh menjadi manusia-manusia yang berakhlak luhur dan memiliki integritas karakter yang baik.

[]waAllahu a’lam

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Ponpes Lirboyo

Oleh: Tgk. Mustafa Husen Woyla, S.Pd.I*

Lirboyo awalnya adalah nama sebuah desa terpencil yang terletak di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Dulu desa ini merupakan ‘sarang’ Partai Komunis Indonesia (PKI), penyamun dan perampok. Berkat kerja keras KH. Abdul Karim, seorang yang alim berasal dari Magelang Jawa Tengah berhasil mengubah semua tatanan masyarakat Komunis dan Kejawen menjadi masyarakat yang santun dan agamis, bermazhab ahlussunanh wal jamaah, dan berorganisasikan Nahdhatul Ulama (NU) lewat pendidikan pesantren salafiah.

Dengan model pembelajaran pesantren tradisional para kiai penerus KH. Abdul Karim telah berhasil mendidik puluhan ribu santri yang berilmu yang mumpuni sejak 1910 sampai sekarang. Pesantren Lirboyo sekarang (2014-Red.) dihuni oleh 13.000 ribu santri lebih yang terdiri dari 9 unit yakni PP HM Al Mahrusiyyah, PP Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM), PP Haji Ya’qub (HY), PP Haji Mahrus HM ANTARA, PP Putri Tahfizhil Qur’an (P3TQ), PP Putri Hidayatul Mubtadi-aat Al-Qur’aniyyah (HMQ), PP Darussalam, PP Murottilil Qur’an (PPMQ), PP Salafiy Terpadu Ar-Risalah (sekarang sudah bertambah dengan diresmikannya unit PP Al Baqoroh-Red.).

Kesembilan unit tersebut berada di bawah naungan pondok induk Lirboyo, kiai sepuh KH. M. Anwar Manshur yang berada dalam satu komplek dengan luas area 19 hektare. Sedangkan Yayasan Pendidikan Islam Tribakti (YPIT) berada di luar komplek, namun tidak jauh dari PP Lirboyo. Di samping itu Lirboyo juga memiliki lembaga otonom yang diberi kewenangan mengambil kebijakan membuat manajemen secara terpisah.

Kedatangan kami ke berbagai Pesantren di Jawa Timur pada Selasa, 20 Agustus 2014 berakhir sampai 18 September 2014 merupakan Program Badan Pembinaan Pendidikan Badan Dayah (BPPD) Provinsi Aceh yang diberi nama Magang/Kaderisasi Guru Dayah ke Jawa Timur. Kami semua beranggotakan 50 orang dari berbagai dayah di 23 kabupaten/kota di Aceh dan ditempatkan 10 orang perpesantren.

Adapun yang menjadi tujuan adalah Pesantren Tebuireng di Jombang, Pesantren Lirboyo di Kediri, Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Pesantren Langitan di Tuban, dan Pesantren Asy-Syafi’iyah di Situbondo. Sementara saya dan teman-teman ditempatkan di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Belajar kitab kuning
Sekilas Ponpes Lirboyo tidak berbeda jauh dengan pesantren pada umumnya di Aceh yakni belajar kitab turats (kitab kuning Arab gundul) dan menekankan aspek penanaman karakter terhadap santri, mulai bangun tidur sampai tidur kembali. Namun ketika diperhatikan metode belajar di Lirboyo ada yang berbeda dengan dayah-dayah di Aceh.

Umumnya, dayah atau pesantren di Aceh menerapkan metode guru aktif dengan cara guru membaca dan menjelaskan isi kitab, sementara santri hanya dituntut mendengar dan bertanya jika masih kurang jelas. Di Lirboyo, para santri dibagi dalam tiga tingkatan yaitu Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah. Pembagian tingkatan ini bukan berdasarkan umur, namun berdasarkan kemampuan. Maka tidak heran ada dosen, misalnya, yang duduk di kelas 4 Ibtidaiyah.

Jadwal atau waktu belajar di Ponpes Lirboyo pagi, siang dan malam. Jika dilihat dari kalender akademik pelajaran, jumlah alokasi waktu kegiatan belajar mengajar (KBM) formal (dalam kelas) 8 jam (60 menit perjam pelajaran). Dari 8 jam tersebut hanya 2 jam digunakan oleh mustahiq (guru) untuk menjelaskan pelajaran. Selebihnya guru hanya diam mengamati jalannya musyawarah (diskusi) santri dengan mengunakan metode bahtsul masail (pemecahan masalah) yang dipimpin oleh rais (ketua) yang dipilih secara bergiliran.

Kami pernah menguji kemampuan santri dari berbagai unit dan tingkatan dengan sistem random atas daya serap santri terhadap materi ajar. Hasilnya menakjubkan, kebanyakan santri mampu menjawab dengan tepat bahkan dengan menggunakan dalil yang dikutip dari berbagai matan kitabut turats (kitab kuning).

Visi misi Ponpes Lirboyo mendidik generasi berakhlak, beramal ikhlas dan berilmu benar-benar tercapai maksimal. Capaian itu kentara terlihat setelah kami amati selama seminggu melakukan kunjungan dan dialog dengan seluruh unsur di Ponpes Lirboyo mulai pengasuh, pengurus, guru, santri dan masyarakat sekitar.

Jika kita keliling komplek Ponpes Lirboyo, dengan sangat mudah menemukan para santri sambil berjalan mulut komat-komit mengahafal pelajaran yang sudah dirangkum dalam bait syair (nadham) dan duduk berdiskusi kelompok di berbagai sudut komplek pesantren. Benar-benar terlihat lingkungan para hamba ilmu yang sudah merasakan manisnya ilmu. Ada tiga metode andalan Ponpes Lirboyo yang sangat terkenal, yaitu metode musyawarah (diskusi), metode bahtsul masail (pemecahan masalah) dan metode sorogan (membaca kitab secara mendetail di depan guru).

Keberhasilan ketiga metode tersebut terbukti dengan ribuan penghafal bait atau syair nadham pelajaran seperti matan Al-fiah ibnu Malik dan Imrithi (Nahwu), Amsilatut Tasrifiyah (Sharaf), Sulam Munawwaraq (Mantiq), Jauhar Maknun (Sastra) dan Munadhamah Baiquniyah (hadis) dan sejumlah disiplin ilmu lain serta mampu memahami dengan mendalam isi kitab kuning. Inilah satu hal yang sangat langka di zaman sekarang. Remaja belasan tahun sudah berilmu dan mampu memahami dengan kitab ulama terdahulu secara mendalam.

Estafet kepemimpinan
Ada yang luar biasa dalam hal melanjutkan estafet kepemimpinan pesantren dengan cara mewajibkan anak para pengasuh pondok untuk mengaji di pondok pesantren atau tetap meneruskan di perguruan tinggi agama Islam. Ketika sudah mempunyai kapasitas yang mumpuni untuk memimpin kelanjutan pesantren, maka anak-anak kiai (Gus) akan membentuk dewan pembina untuk menampung aspirasi anak para kiai agar terhindar perpecahan antarsesama melalui musyawarah, mengedapankan persatuan dan bersikap ikhlas.

Beranjak dari itulah Ketua Dewan Pembina Lirboyo KH. M. Anwar Manshur memberikan kewenangan kepada anak kiai mendirikan unit lembaga otonom dengan manajemen yang berbeda untuk menampung semua aspirasi santri, tuntutan masyarakat serta menjawab kebutuhan zaman dengan syarat tetap mempertahankan kelestarian nilai salafiah dan paham ahlusunnah wal jamaah. Dari itulah lahir pondok terpadu salafiah modern dan Perguruan Tinggi Tribakti dan sejumlah lembaga otonom yang sudah saya singgung di awal.

Kurikulum Lirboyo wujud konkret Kurikulum Berkarakter 2013. Dalam sejarah panjang kurikulum pendidikan Indonesia sudah 12 kali mengalami perubahan sejak 1947 sampai 2013. Setiap ganti Menteri Pendidikan, ganti pula kurikulumnya. Sementara tumbal atau kelinci percobaan penerapan kurikulum adalah siswa yang terdiri dari seluruh generasi Indonesia. Akhirnya sampailah pada 2013 dengan berbagai evaluasi dan riset menyimpulkan, ternyata model kurikulum pendidikan berkarakter sebenarnya sudah diimplimentasikan di pesantren, termasuk di Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Bahkan, lengkap dengan metode ajar modern dengan mengedapankan siswa aktif dan mendidik siswa mandiri. Jadi, tidak salah kalau guru-guru dayah di Aceh, juga menuntut ilmu sampai ke Ponpes Lirboyo.

*) Guru Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Aceh Besar. Peserta Program Magang Badan Pembinaan Pendidikan Dayah (BPPD) Aceh, ke Pesantren di Jawa Timur. Email: [email protected]

Tulisan asli artikel ini bisa dibaca di sini.

Pewaris Akhlak Rasulullah Saw

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.

إِنَّمَا  بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ  مَكَارِمَ  الْأَخْلَاقِ

Akhlak adalah faktor yang sangat penting dalam kehidupan ini untuk menjaga stabilitas perdamaian di masyarakat juga bagi perdamaian dunia. Apabila manusia berakhlak, dia akan saling menghormati, mengahargai, dan akan saling menyayangi. Di samping itu ia tidak akan semena-mena, tidak akan saling menindas.

Rasulullah Saw. merupakan pribadi berakhlak mulia nan sempurna untuk diteladani secara langsung bagi para sahabat dan pengikutnya di masa itu. Hal ini sesuai dengan Al Quran surat Al-Ahzab, 33: 21:

لَقَدْ  كَانَ لَكُمْ  فِي رَسُولِ اللَّهِ  أُسْوَةٌ  حَسَنَةٌ  لِمَنْ  كَانَ  يَرْجُو  اللَّهَ وَالْيَوْمَ  الآخِرَ  وَذَكَرَ  اللَّهَ  كَثِيرًا

“Sesunggunya pada diri Rasulullah saw. terdapat contoh tauladan bagi mereka yang menggantungkan harapannya kepada Allah dan Hari Akhirat serta banyak berzikir kepada Allah.”

Lalu siapakah figur berakhlak mulia yang bisa kita teladani dimasa sekarang?

Jangan khawatir, karena di zaman yang serba modern ini, masih banyak sekali para habaib, ulama dan kiai pesantren yang dalam praktek kehidupan mereka sungguh diselimuti dengan akhlak mulia seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. mereka adalah pewaris akhlak Rasulullah saw., Hal tersebut sangatlah berharga untuk kita dalam mengarungi keindahan hidup di dunia dan pastinya berdampak pada kebaikan kita di akhirat kelak.

Bila kita ingin hidup dengan penuh kedamaian, ketentraman, dan kesejukan, maka harus berakhlak mulia. dan bila kita ingin punya akhlak mulia, maka kita tidak boleh malu atau gengsi untuk mendekat kepada para habaib, ulama dan kiai pesantren untuk meneladani praktek kehidupan mereka.

semoga kita semua bahagia, selamat dunia dan akhirat. Amin.

Wassalam..!!!!