Menjaga Akhlak di Mana Pun Berada: Pesan KH. M. Anwar Manshur untuk Santri Lirboyo

Setiap santri membawa identitas pesantren ke mana pun ia pergi. Tidak hanya lewat kitab yang dia baca atau ilmu yang dia kuasai, tetapi terutama lewat akhlaknya. Itulah sebabnya KH. M. Anwar Manshur selalu menekankan pentingnya menjaga akhlak, sikap, pakaian, dan perangai—terlebih saat pulang dari pondok. Ada nilai-nilai dakwah yang terselip di dalamnya, halus tetapi kuat.

Baca juga: KH. Nurul Huda Ahmad: Kunci Mendapatkan Ilmu

Beliau mengingatkan dengan tegas namun penuh kasih:

“Kalian kalau pulang dari pondok akhlaknya dijaga, jangan pulang tidak memakai peci, celanaan, yang benar kalau pulang seperti di pondok memakai peci, tunjukkan bahwa kalian benar-benar santri, itu merupakan dakwah bil hal.”

Penampilan bukan sekadar gaya; ia adalah pesan. Peci yang kita pakai dengan rapi dapat menjadi tanda bahwa seseorang membawa muru’ah santri—sekaligus dakwah tanpa kata.

Akhlak Baik sebagai Sarana Kebaikan yang Lainnya

Dengan memperlihatkan sikap yang baik, beliau menambahkan:

“Dengan menunjukkan sikap dan akhlak yang baik maka masyarakat akan tertarik memondokkan anaknya di pesantren lirboyo.”

Baca juga: KH. Ahmad Haris Shodaqoh: Melestarikan Tradisi, Mengoreksi yang Perlu Dikoreksi

Sederhana sekali: akhlak baik itu menular. Orang tua di kampung melihat keteduhan dan kesopanan santri pulang dari pondok. Lalu tanpa diminta menjadi penasaran dari mana akhlak itu berasal. Dan mereka pun terdorong memondokkan putra-putrinya.

Namun KH. M. Anwar Manshur juga memberi peringatan agar tidak merusak nama baik pondok:

“Jangan sampai melakukan sesuatu yang membuat jelek nama pondok, kalian mondok harus menunjukkan akhlakul karimah, memakai celana boleh tapi yang benar juga pecinya jangan dislempitkan, tunjukkan kalian pondok pesantren, masyarakat biar mau memondokkan anaknya, dimanapun tunjukkan akhlak yang baik.”

Baca juga: KH. An’im Falahuddin Mahrus: Santri adalah Aset Berharga Bangsa

Poinnya jelas: bukan soal celana atau peci saja, tetapi bagaimana seorang santri menampilkan kehormatan lembaga yang mendidiknya. Masyarakat menilai pesantren dari akhlak santrinya.

Sikap Tawadluk dan Menghormati Orang Lain

Di bagian lain, beliau memberikan bekal moral yang jauh lebih dalam: sikap batin seorang santri.

“Jangan sombong, tawadluk itu tidak merasa, meskipun kamu pintar tidak merasa pintar, meskipun kamu alim tapi tidak merasa alim, menghargai orang lain.”

Beliau kemudian menjelaskan makna tawaduk secara lebih lembut:

“Tawadluk itu bukan rendah akan tetapi kita merasa sama-sama tidak memiliki, sama-sama menghormati kepada orang lain.”

Baca juga: Refleksi Kejujuran Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Pesan KH. Abdulloh Kafabihi

Sikap ini membuat santri diterima di mana pun berada. Karena, tidak ada yang lebih menyejukkan selain bertemu orang yang tidak merendahkan orang lain.

Dan KH. M. Anwar Manshur melanjutkan dengan prinsip yang tak pernah berubah:

“Dimanapun tempatnya yang terpenting adalah akhlak, sepintar apaun jika tak berakhlak tidak ada harganya.”

Kalimat pendek ini mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa adab hanyalah prestasi tanpa ruh. Orang mungkin mengagumi kepintaran, tetapi yang teringat dalam pikiran orang lain adalah keluhuran budi.

Baca juga: Hubungan Orang Tua dan Anak; Pesan KH. Abdulloh Kafabihi

Menutup nasihatnya, beliau mengingatkan agar adab kita jaga sejak kaki meninggalkan pondok:

“Mulai keluar dari pondok yang baik, do’a bepergian di baca karena di jalan banyak macam-macam kendaraan.”

Setiap perjalanan membawa risiko. Tetapi lebih dari itu, membaca doa adalah bentuk kerendahan hati, seakan kita berkata: “Ya Allah, perjalanan ini Engkau yang memelihara.”

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses