Tag Archives: buku

Kiswah; Kodifikasi lengkap Masalah fikih, akidah, dan Amaliah.

LirboyoNet, Kediri- Telah banyak diketahui, Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, sejak dulu hingga sekarang berupaya mempertahankan tradisi literasi dalam berbagai bentuk, salah satunya dengan menerbitkan kitab dan buku-buku keislaman. Melalui Ma’had Aly Lirboyo, setiap tahunnya Pondok Pesantren Lirboyo menelurkan berbagai karya ilmiah.

Oleh karena itu, hadirnya buku “Kiswah; kodifikasi lengkap masalah fikih, akidah, dan amaliah” ini perlu mendapat apresiasi. Karya di tangan pembaca ini merupakan langkah para santri dalam merespon permasalahan-permasalahan yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Buku ini membuktikan bahwa insan pesantren dan kitab kuning tetap menjaga eksistensi perannya di tengah laju perkembangan zaman.


Buku ini menjadi menarik dan istimewa, karena ditulis dengan format tanya jawab ringkas yang mudah dicerna oleh berbagai kalangan. Bagi anda yang tidak terlalu risau dengan proses penggalian hukum, maka buku ini layak dibaca. Ibarat makanan, buku ini adalah makanan cepat saji yang bergizi dan penuh nutrisi. Meski begitu, referensi dari kitab yang dicantumkan membuktikan bahwa penulis telah bersungguh-sungguh dalam menjawab persoalan dan berusaha menyajikannya sesederhana mungkin. Referensi juga diterjemahkan demi membuat masyarakat awam juga dapat memahami apa yang disampaikan para ulama agung. Penterjemahan ini juga menegaskan kejujuran ilmiah penulisnya dan membuka pintu diskusi bagi setiap pembacanya.
Secara garis besar, buku ini terdiri dari empat bagian.

Pertama

Bagian pertama memuat permasalahan ibadah mulai dari wudu, salat, puasa, zakat dan haji.

Kedua


Bagian kedua memuat berbagai permasalahan yang berhubungan dengan keluarga. Bagian ini memberi pengetahuan tentang bersikap pada pasangan, anak, atau pun orang tua. Simak misalkan hukum orang tua mengambil kembali hadiah smartphone (hal. 345) yang wajib jika menjadi alternatif terakhir agar anak mau melakukan kewajibannya.

Ketiga


Bagian ketiga memuat hukum-hukum dalam berbisnis atau yang akrab disebut muamalah. Uniknya, jika dalam kitab fikih kategorisasi muamalah didasarkan pada jenis transaksinya, dalam buku ini kategorisasi muamalah didasarkan pada profesi pelakunya. Ada peternakan, pertanian, perniagaan, peternakan, medis, hingga pendidikan.

Keempat


Bagian terakhir memuat permasalahan sosial, meliputi hubungan kepada tetangga, teman, nonmuslim, hingga mencakup hukum-hukum yang berkaitan dengan media sosial seperti hukum share berita, mengunduh foto, tidak membalas chat dan sebagainya.
Dengan isi yang padat dan ringkas, buku ini layak menjadi rujukan. Terlebih tim penulis memberi hukum dengan dasar yang kuat, bukan sekedar menelan mentah ayat Alquran dan hadis, apalagi mengambil dari internet. Wallahua’lam.

Baca Juga:

TIGA BUKU BARU TERBITAN MA’HAD ALY LIRBOYO

Tiga Buku Baru Terbitan Ma’had Aly Lirboyo

LirboyoNet, Kediri- Telah banyak diketahui, Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, sejak dulu hingga sekarang berupaya mempertahankan tradisi literasi dalam berbagai bentuk, salah satunya dengan menerbitkan kitab dan buku-buku keislaman. Melalui Ma’had Aly Lirboyo, setiap tahunnya Pondok Pesantren Lirboyo menelurkan berbagai karya ilmiah.

Di tahun ini, Ma’had Aly Lirboyo angkatan ketiga (Autad Lirboyo) mengeluarkan tiga buku baru, yakni Menyegarkan Peradaban, Membela Indonesia, dan Sangu Urip.

  1. MENYEGARKAN PERADABAN (Upaya Mengembalikan Orientasi Pendidikan Nusantara)
    Di sinilah upaya untuk mewacanakan nilai-nilai pesantren sebagai pola pendidikan yang representatif. Dengan menggunakan pendekatan sejarah Nusantara dari sektor pendidikan, buku ini berusaha menggali nilai-nilai prinsip pendidikan Nusantara yang diulas mulai dari zaman kapitayan, hindu, budha, hingga datangnya islam dengan sistem pesantrennya. Buku ini juga menjelaskan tentang tuntutan akhir sebuah pendidikan, yakni dakwah. Fokus pada prinsip, cara dan relasi dakwah serta implementasinya sesuai arus perubahan zaman.
  2. MEMBELA INDONESIA (Mencintai, Merawat, Menjaga, dan Mensyukuri Anugerah Nusantara)
    Buku ini diawali kajian detail tentang cinta tanah air dengan mengambil nabi Muhammad sebagai tokoh utama, menjadi teladan sekaligus inspirasi para cendekiawan Indonesia dalam memahami dengan baik makna cinta tanah air. Dilanjutkan dengan pandangan-pandangan logis menjaga tanah air dg mencoba memadukan kajian fikih-argumentatif dengan tasawuf-persuasif.
    Buku ini disarikan lebih dari 150 referensi kitab klasik yang otentik untuk menjawab kenapa Indonesia harus dibela? Dengan cara apa Indonesia dibela?
  3. SANGU URIP (Bekal Hidup Masyarakat Sesuai Syariat)
    Buku ini disusun dengan sistematika berbeda dari kebanyakan buku tanya jawab keagamaan yang sudah ada. Terdapat dua bagian besar dalam buku ini; Tuntunan berisi kajian tematik seputar isu-isu keagamaan dan sosial yang dilengkapi dengan hikayat, renungan dan petuah bijak salafussholih. Rujukan berisi tanya jawab keagamaan yang disusun berdasarkan urutan bab pada kitab fikih. Dalam buku ini pembaca akan menemukan lebih dari 1500 kajian yang semuanya dilengkapi referensi dari kitab turats islami.

Informasi selengkapnya ikuti akun Instagram @autadlirboyo

Bedah Buku Fiqih Kebangsaan Meriahkan Hari Santri di Lampung Selatan

Lampung Selatan, NU Online-Jumat, 19 Oktober 2018 21:00
Sejumlah acara memeriahkan hari santri tahun ini. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lampung Selatan, Lampung mengadakan bedah buku Fiqih Kebangsaan; Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan. Buku tersebut karya para aktivis bahtsul masail Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Bedah buku dilaksanakan di rumah dinas Bupati Lampung Selatan, Jumat (19/10). Acara dihadiri ratusan peserta dari PCNU Lampung Selatan, sejumlah badan otonom seperti Ansor, Muslimat, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), hingga delegasi dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU).
Pemateri kegiatan ini adalah Ustadz M Hamim Khudori yang juga tim penulis buku.
Dalam paparannya, ustadz muda kelahiran Malang tersebut mengemukakan bahwa konsep negara di Indonesia sudah final. “Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI adalah harga mati. Hanya tugas kita adalah meneruskan perjuangan para pendahulu dalam mengisi ruang juang khususnya di dalam Nahdlatul ulama,” katanya.
Di hadapan Ketua PCNU Lampung Selatan, KH Mahfudz at-Tijani, Ustadz Hamim mengingatkan jangan sampai dengan kekuatan iman dan Islam, justru membahayakan orang lain. “Seperti orang berbadan besar, shalat berdiri haram hukumnya jika tidak mampu, terlebih di sampingnya ada anak kecil kalau ia jatuh bisa melukai atau bahkan membunuhnya,” ungkap di hadapan peserta.
Demikian pula tidak ada negara yang lebih mudah dan lebih nyaman atau setidaknya sama dalam menjalankan ibadah dan belajar ilmu agama melebihi Indonesia. “Kita berhenti ibadah dan belajar karena kemalasan saja, tidak pernah ada larangan dari pihak manapun,” tegasnya.
“Pemerintah Indonesia dengan Presiden Joko Widodo adalah pemerintah yang sah yang harus dihormati dan ikuti,” jelasnya.
Pada kesempatan itu hadir pula Wakil Rais PWNU Lampung, KH Sholeh Bajuri yang didampingi Ketua PCNU Lampung Selatan dan sejumlah kiai seperti KH Navis Ghufron, Agus Shonhaji Bukhori dan lainnya.
Tampak bergabung alumni Pondok Pesantren Lirboyo se-Kabupaten Lampung Selatan. Dalam sambutan mewakili PCNU Lampung Selatan, KH Mahfudh At-Tijani berharap bedah buku membuka wawasan dan pemahaman kepada fiqih kebangsaan. “Dan semoga akan diteruskan pada seminar berikutnya di tempat lain agar keilmuan NU semakin hidup,” tandasnya.
Kegiatan dimoderatori aktivis Pimpinan Wilayah (PW) Lembaga Bahtsul Masail NU Lampung, Kiai Mustamar Imam Mujri. Dan sukses bedah buku juga atas kerja sama sejumlah elemen lembaga dan Banom NU. (Ibnu Nawawi)

Bedah Buku “Fatwa & Resolusi Jihad”

LirboyoNet, Kediri- Peranan pesantren dalam membangun dan mempertahankan kemerdekaan bangsa adalah salah satu catatan sejarah yang tidak memiliki celah untuk membantahnya. Keberadaan fatwa dan resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari menjadi bukti konkret untuk mematahkan klaim sebagian pihak yang berusaha mengkaburkan sejarah tersebut. Namun dalam realitanya, sampai detik ini belum ada satu pun buku yang secara khusus mengupas secara rinci tentang fatwa dan resolusi jihad Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui KH. Hasyim Asy’ari tersebut. Itu lah yang melatarbelakangi penulisan buku “Fatwa & Resolusi Jihad” yang ditulis oleh KH. Agus Sunyoto, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) PBNU.

Sebenarnya, buku yang mengungkap fakta sejarah perang rakyat semesta pertempuran Surabaya 10 november 1945 tersebut sebenarnya akan dilaunching secara resmi saat peringatan Hari Pahlawan Nasional di Jakarta dan berlanjut di 20 kota lain se-Indonesia. Menjadi sebuah kehormatan yang besar, meskipun buku tersebut belum dilaunching secara resmi, kemarin (03/10), sang penulis telah membedahnya terlebih dahulu di gedung Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Acara didahului sambutan panitia pelaksana, yaitu H. Abdul Muid Shohib. Selanjutnya KH. Abu Bakar Abdul Jalil tampil untuk membuka acara selaku Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kediri yang menyelenggarakan acara tersebut.

Sesi pembahasan bedah buku yang menapaki tangga acara selanjutnya dipandu dan dimoderatori oleh Agus Muhammad Hamim Hr. Dalam sesi ini, seluruh peserta sangat antusias mendengarkan pemaparan tentang latarbelakang, urgensitas, proses penulisan, dan isi buku “Fatwa & Resolusi Jihad” secara langsung dari penulisnya, KH. Agus Sunyoto.

“Buku ini adalah buku pertama yang membahas tentang fatwa dan resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasym Asy’ari sebagai jawaban atas pertanyaan Ir. Soekarno berkenaan dengan sikap yang harus diambil ketika musuh datang menduduki Tanah Air. Karena selam ini masih banyak kalangan yang mengaburkan sejarah ini dan menganggapnya hanya sekedar dongeng warga Nahdliyin,” ungkap pria kelahiran Surabaya tersebut.

Gelak tawa para hadirin pun pecah disaat narasumber menceritakan peristiwa-peristiwa kocak dan lucu yang benar-benar terjadi dan turut mewarnai pertempuran 10 november 1945 di Surabaya.

Sebagai Pembanding, ketua Lesbumi PCNU Kota Kediri, Taufiq Al-Amin, memberikan kritik dan apresiasinya terhadap buku yang disusun sejak bulan november 2015 tersebut. Dalam pemaparannya, dia mengatakan bahwa buku “Fatwa & Resolusi Jihad” memang benar-benar menunjukkan bukti peranan pesantren dalam mengawal kemerdekaan Republik Indonesia.

“Hadirnya buku “Fatwa & Resolusi Jihad” akan membongkar paradigma akut dalam perjalanan penulisan sejarah di Indonesia,” tegasnya.

Di penghujung acara, sesi tanya jawab menjadi acara penutup. Meskipun demikian, nuansa santai dan humor yang sangat kental sebagai sebagai ciri khas warga Nahdliyin begitu mewarnai jalannya acara hingga selesai. []

[Untuk Video lengkapnya, dapat dilihat di sini]