Tag Archives: fikih kebangsaan

Bedah Buku Fiqih Kebangsaan Meriahkan Hari Santri di Lampung Selatan

Lampung Selatan, NU Online-Jumat, 19 Oktober 2018 21:00
Sejumlah acara memeriahkan hari santri tahun ini. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lampung Selatan, Lampung mengadakan bedah buku Fiqih Kebangsaan; Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinekaan. Buku tersebut karya para aktivis bahtsul masail Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Bedah buku dilaksanakan di rumah dinas Bupati Lampung Selatan, Jumat (19/10). Acara dihadiri ratusan peserta dari PCNU Lampung Selatan, sejumlah badan otonom seperti Ansor, Muslimat, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), hingga delegasi dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU).
Pemateri kegiatan ini adalah Ustadz M Hamim Khudori yang juga tim penulis buku.
Dalam paparannya, ustadz muda kelahiran Malang tersebut mengemukakan bahwa konsep negara di Indonesia sudah final. “Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI adalah harga mati. Hanya tugas kita adalah meneruskan perjuangan para pendahulu dalam mengisi ruang juang khususnya di dalam Nahdlatul ulama,” katanya.
Di hadapan Ketua PCNU Lampung Selatan, KH Mahfudz at-Tijani, Ustadz Hamim mengingatkan jangan sampai dengan kekuatan iman dan Islam, justru membahayakan orang lain. “Seperti orang berbadan besar, shalat berdiri haram hukumnya jika tidak mampu, terlebih di sampingnya ada anak kecil kalau ia jatuh bisa melukai atau bahkan membunuhnya,” ungkap di hadapan peserta.
Demikian pula tidak ada negara yang lebih mudah dan lebih nyaman atau setidaknya sama dalam menjalankan ibadah dan belajar ilmu agama melebihi Indonesia. “Kita berhenti ibadah dan belajar karena kemalasan saja, tidak pernah ada larangan dari pihak manapun,” tegasnya.
“Pemerintah Indonesia dengan Presiden Joko Widodo adalah pemerintah yang sah yang harus dihormati dan ikuti,” jelasnya.
Pada kesempatan itu hadir pula Wakil Rais PWNU Lampung, KH Sholeh Bajuri yang didampingi Ketua PCNU Lampung Selatan dan sejumlah kiai seperti KH Navis Ghufron, Agus Shonhaji Bukhori dan lainnya.
Tampak bergabung alumni Pondok Pesantren Lirboyo se-Kabupaten Lampung Selatan. Dalam sambutan mewakili PCNU Lampung Selatan, KH Mahfudh At-Tijani berharap bedah buku membuka wawasan dan pemahaman kepada fiqih kebangsaan. “Dan semoga akan diteruskan pada seminar berikutnya di tempat lain agar keilmuan NU semakin hidup,” tandasnya.
Kegiatan dimoderatori aktivis Pimpinan Wilayah (PW) Lembaga Bahtsul Masail NU Lampung, Kiai Mustamar Imam Mujri. Dan sukses bedah buku juga atas kerja sama sejumlah elemen lembaga dan Banom NU. (Ibnu Nawawi)

Ratusan Santri An-Nuriyah Surabaya Kaji Buku Fikih Kebangsaan

Surabaya – Sabtu, 08 September 2018, Sepanjang sejarahnya, Indonesia tidak pernah sepi dari tantangan. Karenanya, penguatan wawasan kebangsaan bagi generasi muda menjadi penting dilakukan. Seperti yang dilakukan pesantren ini dengan membedah buku Fikih Kebangsaan karya tim bahtsul masail Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo).

 

Bedah buku diselenggarakan di Yayasan Pondok Pesantren Putri An-Nuriyah (YPPP An-Nuriyah) Wonocolo Surabaya. Tiga ratus lebih peserta yang mayoritas mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya terlihat antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung Jumat (7/9) malam ini.

 

Hadir sebagai pembicara adalah Ustadz Ahmad Muntaha AM sebagai salah seorang tim penyusun buku. Juga Maya Shovitri, alumnus Universitas Bremen, Jerman dan KH Agus Fahmi selaku Pengasuh An Nuriyah sebagai pembanding.

 

“Dalam konteks sekarang, pengaruh kondisi geopolitik dunia dan upaya mengimpor konflik Timur Tengah ke Indonesia menjadi tantangan yang tidak bisa diremehkan,” kata Ustadz Ahmad Muntaha. Ini bukan ilusi, karenanya penguatan wawasan kebangsaan harus terus dilakukan, lanjutnya.

 

Alumni Uinsa Surabaya ini juga menegaskan, di alam demokrasi, kritik dan oposisi terhadap pemerintah memang merupakan hal lumrah, namun demikian harus dilakukan dengan nilai akhlakul karimah. “Imam Ahmad dulu juga pernah diprovokasi dan dihasut untuk melawan pemerintah, namun beliau tegas menolaknya,” jelas alumni Pesantren Lirboyo Kediri tersebut.

 

Sementara Maya Shovitri membagikan pengalaman studi selama enam tahun di Jerman. “Meski lama hidup di negeri yang berbeda kultur, kecintaan terhadap tanah air tidak boleh luntur,” kata Kasubdir Admission dan Mobiliti/Direktorat Hubungan Internasional Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini.

 

Dirinya juga menegaskan, bahwa Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya merupakan negeri terbaik dan terindah yang layak dibanggakan.

 

Di sisi lain, KH Agus Fahmi menyinggung pentingnya menjaga tradisi dan budaya khas Nusantara. “Bahkan banyak ritual agama yang sebenarnya berangkat dari budaya masyarakat,” katanya.

 

Ia kemudian mencontohkan bagaimana kegiatan aqiqah di mana awalnya merupakan tradisi masyarakat jahiliyah yang kemudian dilestarikan menjadi ajaran agama. “Setelah sebelumnya diselaraskan dengan nilai-nilai Islam,” jelasnya.

 

Kegiatan berlangsung seru, khususnya kala memasuki sesi tanya jawab. Sejumlah pertanyaan kritis disampaikan peserta pada acara yang dimedoratori Alaika Muhammad Bagus tersebut.

 

sumber : NUonline

Urgensi Fikih Kebangsaan di Tengah Derasnya Informasi Medsos

Rangkaian haul KH. Abdurrahim ke-21 Pendiri PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kujangsari Langensari Kota Banjar Jawa Barat tahun ini cukup spesial. Selain khataman Al Qur’an bil ghaib dan pengajian akbar yang menjadi rutinitas tahunan juga diselenggarakan halaqah kebangsaan dengan membedah buku Fikih Kebangsaan karya Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL).

Rencananya bedah Fikih Kebangsaan akan diselenggarakan pada Ahad 23 September 2018 Jam 08.00 WIB sampai selesai di PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kota Banjar.

Gus Basitur Rijal selaku pihak keluarga pesantren menjelaskan: “Bedah Fikih Kebangsaan sangat penting untuk menguatkan wawasan kebangsaan bagi santri PP Citangkolo di tengah derasnya informasi di dunia maya yang sering menggerus nilai-nilai nasionalisme.”

Sementara Gus Muhammad Nailul Azmi sebagai Panitia Pelaksana menuturkan bahwa bedah buku akan diikuti 500an peserta dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, santri, undangan pesantren sekitar dan HIMASAL Kota Banjar Jawa Barat.

Dihubungi secara terpisah, Ust Ghufron anggota HIMASAL Kota Banjar yang juga menjadi fasilitator kegiatan ini mengatakan bahwa buku Fikih Kebangsaan sangat dibutuhkan untuk menjawab berbagai propaganda yang masih mempertentangkan antara semangat keagamaan dan kebangsaan.

sumber : aswajamuda.com

4300 Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang Mengkaji Fikih Kebangsaan

Tantangan merebaknya ideologi radikal dan intoleran yang menggerus generasi bangsa belum juga padam. Karenanya baru-baru ini kajian buku Fikih Kebangsaan digelar di UIN Raden Fatah Palembang.

Dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Raden Fatah Palembang (14-16/08) sebanyak 4.300 mahasiswa baru diwajibkan membaca dan membuat resume buku Fikih Kebangsaan karya HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Pondok Pesantren Lirboyo).

Rika Febriyansi Ketua Panitia menjelaskan: “PBAK yang mengambil tema ‘Mewujudkan Mahasiswa Nasionalis Kreatif Religius dan Intelektual dalam Rangka Menyongsong Bonus Demografi’ tahun ini sengaja menjadikan buku Fikih Kebangsaan karya HIMASAL sebagai media untuk mengenalkan budaya akademik, membudayakan baca tulis, memperkaya literasi dan wawasan kebangsaan di lingkungan mahasiswa baru.”

Aktifis kampus yang juga Ketua PC IPNU OKU Selatan lebih lanjut menegaskan: “Kajian Fikih Kebangsaan ini sangat penting bagai kalangan mahasiswa sebagai upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan, rasa cinta tanah air, membekali mahasiswa baru dengan pemahaman keagamaan yang proporsional dan menjauhkannya dari paham ekstrim-radikal yang menyusup ke berbagai ruang di masyarakat, tak terkecuali berbagai kampus di Indonesia.”

Mahasiswa Fakultas Psikologi Islam UIN Raden Fatah Palembang juga berharap, agar buku Fikih Kebangsaan dapat menjadi rujukan bagi mahasiswa dan masyarakat dalam meningkatkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara, serta menangkal ideolegi ekstrim radikal anti Pancasila di lingkungan kampus UIN Raden Fatah khususnya dan di kota Palembang secara lebih luas. (Windy Susilawati/Palembang)

Sumber : aswajamuda.com

 

Judul: Fikih Kebangsaan Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinnekaan
Pengantar: KH. Maimun Zubair
Mushahih: KH. Athoillah Sholahuddin Anwar, dkk.
Penyusun: Tim Bahtsul Masail HIMASAL
Editor: Ahmad Muntaha AM
Page, Size: xvi + 100 hlm; 14,5 x 21 cm
Penerbit: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL
ISBN: 978-602-1207-99-0
Harga: Rp 22.000
Pemesanan: 0856-4537-7399

Mahasiswi di PP An-Nuriyah Surabaya Bedah Fikih Kebangsaan

Meski gerakan organisasi-organisasi radikal anti Pancasila sudah dibatasi, semisal HTI yang telah dibubarkan melalui Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan, namun bukan berarti operasinya terhenti. Karenanya internalisasi prinsip-prinsip kebangsaan ke berbagai elemen warga harus terus dilakukan secara berkesinambungan.

Dalam upaya itu, Yayasan Pondok Pesantren Putri An-Nuriyah (YPPP. An-Nuriyah) Wonocolo Surabaya mengagendakan bedah buku Fikih Kebangsaan karya HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Pondok Pesantren Lirboyo) pada Jumat 07 September 2018 jam 20.00 Wib hingga selesai.

“Bedah buku Fikih Kebangsaan menghadirkan ustad muda Ahmad Muntaha AM, S.Pd., sebagai salah satu Tim Penulis yang juga aktifis bahtsul masail di lingkungan PWNU Jawa Timur”, terang Gus Alaika Bagus Muhamma, M.Pd, selaku pengurus pesantren.

Alumnus pasca sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya juga menjelaskan pentingnya penguatan wawasan kebangsaan di era sekarang:

“Mahasiswi atau Mahasantri (Mahasiswa yang juga study di pesantren-red) perkotaan saat ini sangat perlu diberikan bekal wawasan kebangsaan, sebab masih sangat banyak praktik-praktik  intoleransi di tengah kota khususnya di wilayah Wonocolo Surabaya, baik antarmahasantri dengan masyarakat maupun sebaliknya”.

Menurut Gus Alaik hal ini tidak lepas dari gerakan organisasi-organisasi radikal anti Pancasila yang secara diam-diam terus memengaruhi mahasiswa di lingkungan sekitar.

“Bedah buku Fikih Kebangsaan ini wajib diikuti oleh sekitar 350 Mahasiswi yang mayoritas sedang menempuh study di UIN Sunan Ampel Surabaya demi penguatan wawasan kebangsaan. Selain itu kajian khusus putri ini juga membuka kesempatan peserta sejumlah maksimal 50 orang dari warga masyarakat sekitar” pungkas pengurus GP Ansor Wonocolo Surabaya.

 

Sumber : aswajamuda.com