Tag Archives: Moderat

Islam Adalah Kepatuhan

Fiqh secara khusus, dan syari’at islam secara umum adalah derivasi praktikal dari Alquran dan hadis. Kita sebagai pemeluk agama islam tidak serta merta mampu melepaskan kesinambungan itu secara mutlak. Sebab bagaimanapun juga, fiqh membutuhkan Alquran dan hadis sebagai harga mati untuk acuan pertama.

Kitapun dalam bersyari’at butuh akan bimbingan Nabi Muhammad SAW. Dan beliau sebagai pembawa syari’at, mutlak membutuhkan wahyu dari Allah SWT, sang pemilik alam semesta. Artinya, agama bukan produk sembarangan. Tidak bisa asal gagasan dan opini menciptakan adanya kebenaran mutlak di mata umat manusia, pada hakikatnya.

Tapi kemudian, perlu digaris bawahi jika ulamalah yang merumuskan adanya hukum baru. Mereka memakai gagasan ijtihad menggunakan akal. Mengurai benang kusut, dan menghasilkan suatu kodifikasi yang juga dipraktikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semacam solusi bagi permasalahan aktual yang tidak tertulis secara langsung dalam Alquran dan hadis. Sebuah tuntunan hidup, yang muaranya juga tak pernah lepas dari Alquran dan hadis.

Nabi Muhammad SAW dahulu memuji sikap sahabat Mu’adz bin Jabal RA ketika hendak didelegaskan  berdakwah ke negri Yaman. Sahabat Mu’adz RA yang diberi amanat dan mandat menyebarkan islam ini ditanyai oleh Nabi, “bagaimana kamu nanti memberikan keputusan?” Sahabat Mu’adz menjawab. “dengan apa yang tertera dalam kitabullah.” Nabi kembali bertanya,“jika tidak terdapat dalam kitabullah?” Sahabat Mu’adz RA melanjutkan, “dengan apa yang ada dalam sunnah Rasulillah.” Nabi pun kembali bertanya, “Jika tidak terdapat di dalam sunnah?” Sahabat Mu’adz RA memberikan jawaban yang menggembirakan Nabi, “Aku berijtihad dengan pendapatku.”

Beliau memuji sahabat Mu’adz RA yang lebih dahulu merujuk kepada Alquran dan hadis sebelum memutuskan masalah lewat pendapatnya sendiri. Pendapat yang tentunya tak lepas dari garis pemikiran Alquran dan hadis. “Alhamdulillah, yang telah memberikan taufiq kepada utusannya Rasulullah.”[1] Sabda Nabi.

Islam sejatinya adalah kepatuhan secara mutlak. Ada semacam kaidah umum yang dipelopori oleh ulama, bahwa al-dîn mabniyy ‘alâ al-ittibâ’. Agama berpondasi diatas kepatuhan terhadap firman-Nya. Mushannif kitab Al-Asyâ’irâh fî Mîzâni Ahl Al-Sunnah mengemukakan ulama’ ahlussunnah tentang poin penting dalam islam, bahwa, ”adapun ahli sunnah, mereka mengatakan bahwa pondasi dalam agama adalah mengikuti tuntunan Nabi, sedangkan akal hanya mengikuti pondasi ini. Andaikan saja pokok agama adalah akal, maka makhluk tak akan lagi membutuhkan wahyu dan para Nabi, hakikat perintah dan larangan akan sirna, dan siapapun orang akan mengatakan apa yang mereka mau. Dan andaikan saja agama berpondasi pada akal, sudah barang tentu tidak diperbolehkan bagi kaum mukminin untuk menerima sesuatu sebelum mereka memikirkannya.”[2]

Kita bisa meraih konklusi dari beberapa kejadian-kejadian yang terjadi di masa Nabi Muhammad SAW. Sebuah contoh kecil adalah tentang salat dhuha, yang lebih baik jika dikerjakan hanya empat rakaat saja, dari pada bila kita kerjakan dua belas rakaat. Bilangan yang lebih banyak justru keutamaannya tidak lebih besar daripada bilangan yang lebih kecil.  Padahal logikanya, kalau kita melaksanakan salat dengan kuantitas lebih banyak, akan mendapatkan lebih banyak pula fadhilah. Kuncinya, adalah dulu Nabi sdelalu melaksanakan salat dhuha ini sebanyak empat rakaat saja. Memang beliau pernah hingga delapan atau dua belas rakaat, tapi yang sering beliau lakukan adalah empat. Kita juga bisa melihat pendapat ulama yang mengatakan bahwa melempar jumrah sambil mengendarai unta lebih baik dari pada dengan berjalan kaki. Padahal logikanya jika kita berjalan kaki, kita akan lebih merasa kepayahan. Artinya ada esensi lebih dalam taraf ibadah kita. Namun dulu menurut riwayat, Nabi melempar jumrah dengan menunggang unta. Maka hal ini lebih utama dengan alasan ittiba’ menurut segelintir ulama.

Kita bisa menangkap esensi dari perkataan sayyidina ‘Ali KRW.

وعن علي رضي الله عنه ، أنه قال : لو كان الدين بالرأي لكان أسفل الخف أولى بالمسح من أعلاه ، وقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح على ظاهر خفيه .
رواه أبو داود ، وللدارمي معناه

Dari sahabat ‘Ali RA, beliau berkata, “andaikan saja agama hanya bermodalkan akal, niscaya bagian bawah muzah[3] lebih patut untuk dibasuh dari pada bagian atasnya. Sedangkan aku melihat Rasulullah SAW membasuh bagian atas kedua muzah beliau.” (HR. Abu Dawud)

Imam Abu Hanifah sendiri mengatakan, “andaikan saja aku berpendapat (berijtihad) hanya dengan akal, pastinya aku akan mewajibkan mandi sebab kencing (bukan sebab keluarnya mani seperti dalam hadis Nabi), karena air kencing jelas najisnya. Mewajibkan wudhu sebab keluarnya mani sebab air mani hukumnya najisnya masih diperselisihkan. Dan aku akan memberikan harta warisan hanya separuh bagian dari perempuan untuk kaum laki-laki, sebab kaum perempuan lebih lemah[4].”

Tapi agama bukanlah masalah akal atau naluri. Agama adalah masalah kepatuhan. Demikianlah syari’at, ia menguji kita akan sebearapa besar nilai kepatuhan yang kita persembahkan kepada-Nya.  Dan Ia lah yang berhak menilai kita atas seberapa besar himmah dan rasa peduli kita akan firman-Nya. Pada awal-awal islam mulai tumbuh di negri Mekah, Allah “menguji’ keimanan kaum Quraisy akan berita adanya hari akhir, dan kehidupan setelah mati. Sesuatu yang ditentang habis-habisan oleh kaum musyrik. Namun kaum yang beriman tetap percaya.

Fiqh barulah contoh kecil dari agama dan syari’at. Masih banyak lingkup lain yang menggaris bawahi kaidah syari’at mabniyy ‘ala ittiba’. Seperti dunia tasawwuf sebagai contoh lain.

Pelajaran dan pesan penting yang ingin penulis sampaikan adalah dalam masalah agama, kita jangan mudah gegabah dan buru-buru mengambil keputusan dan kesimpulan. Harus lebih dulu memperhatikan betapa luasnya samudara agama islam. Jangan-jangan yang kita ketahui  baru segenggam atau bahkan hanyalah setetes dari lautan tersebut, lalu kita sudah berani berfatwa dan dengan mudahnya berani menyalahkan orang lain. Seolah kebenaran mutlak hanya ada pada hal yang kita tahu saja.

Dahulu para ulama dan sahabat berebut untuk menolak berfatwa. Mereka takut akan jawaban yang dikemukakan. Kelak jika dimintai pertanggung jawaban apa yang akan mereka katakan dihadapan zat Yang Maha Besar? Tapi hari ini, banyak dari kita yang dengan mantap dan percaya diri berebut untuk berfatwa dan menjadi pemimpin, meskipun sejatinya belum begitu bisa dikatakan layak secara kualitas.

Semoga saja kita termasuk yang mengikuti generasi salaf salaih yang doanya tercantum dalam Aquran,

آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ – آل عمران:53

“Kami beriman atas apa yang Engkau turunkan, dan kami mengikuti Rasul. Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas keesaan Allah).” (QS. Ali Imran: 53)

 

[1] عَنْ مُعَاذٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص بَعَثَ مُعَاذًا اِلَى اْليَمَنِ فَقَالَ: كَيْفَ تَقْضِى؟ فَقَالَ: اَقْضِى بِمَا فِى كِتَابِ اللهِ. قَالَ. فَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِى كِتَابِ اللهِ؟ قَالَ: فَبِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ. قَالَ: فَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ص؟ قَالَ: اَجْتَهِدُ رَأْيِى. قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَ رَسُوْلَ رَسُوْلِ اللهِ. الترمذى 2: 394

[2] Al-Asyâ’irâh fî Mîzâni Ahl Al-Sunnah. Hal 68

[3] Alas kaki mirip sepatu yang biasa dipakai orang Arab.

[4] Dalam hukum fiqh, laki-laki mendapatkan jatah warisan dua kali lipat jatah perempuan. Dengan rumus al-dzakaru mislu haddzil unsayain.

Implementasi Metode Pemikiran Aswaja

Sejarah kehidupan yang telah dibangun oleh manusia telah menghasilkan peradaban, kebudayaan, dan tradisi. Tiga hal tersebut merupakan perwujudan karya dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan dan tuntutan kehidupan yang dihadapinya dalam lingkup wilayah tertentu. Suatu bangsa yang membangun kebudayaan serta peradaban akan selalu cocok dan sesuai dengan nilai-nilai tradisi serta prinsip sosial yang dianut. Semuanya akan terus mengalami perubahan, baik kemajuan atau kemunduran, yang mana perubahan tersebut secara dominan ditentukan atas dasar relevansinya dengan kehidupan masyarakat setempat.

Peradaban Islam merupakan peradaban dunia yang dibangun atas dasar nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan. Sejarah mencatat, bahwa dengan modal itu pula peradaban Islam mampu mengalahkan dua kekuatan besar yang dibangun atas dasar kekuatan materi, yakni Persia dan Romawi. Oleh sebab itu, warisan peradaban Islam yang yang berupa nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan tersebut secara konsisten dapat diamalkan dan dikembangkan oleh generasi-generasi berikutnya.

Salah satu faktor penentu perkembangan peradaban Islam adalah golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah atau yang biasa disebut Aswaja, pada mulanya merupakan ajaran yang masih memegang teguh prinsip kemurnian syariat sejak zaman Nabi dan berlanjut ke masa-masa selanjutnya. Fokus utama dalam keaswajaan sering cenderung terhadap masalah akidah dan fikih. Sehingga pemahaman atas Aswaja saat itu masih sempit. Namun perkembangan zaman yang semakin maju telah menyeret paham keaswajaan bukan hanya menjadi sebuah paham doktrinal bagi para penganutnya, akan tetapi sudah berkembang menjadi sebuah pandangan hidup yang dikenal dengan istilah Manhaj Al-Fikr. Dengan begitu, kontribusi keaswajaan semakin merata dalam menjiwai dan mewarnai semua aspek kehidupan.

Metode pemikiran (Manhaj Al-Fikr) Aswaja adalah sebuah metode dan prinsip berfikir dalam mengahadapi berbagai permasalahan keagamaan, sosial kemasyarakatan, dan kebangsaan. Secara garis besar, hal tersebut terbagi dalam 4 prinsip:

Moderat (Tawassuth)

Tawassuth merupakan sebuah sikap tengah atau moderat.  Sikap moderat tersebut berdasarkan firman Allah SWT:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (QS. Al-Baqarah: 143). Dalam Tafsir Al-Qurthubi, redaksi Wasathon dalam ayat tersebut diartikan dengan sifat adil atau sifat tengah. Penafsiran seperti ini berdasarkan penjelasan langsung dari Rasulullah SAW sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Thurmudzi.[1]

Dalam konteks pemikiran dan amaliyah keagamaan, prinsip moderat yang diusung oleh Aswaja sebagai upaya untuk menghindar dari sikap ekstrem kanan yang berpotensi melahirkan paham fundamentalisme atau radikalisme, dan menghindari  sikap kebebasan golongan kiri yang berpotensi melahirkan liberalisme dalam ajaran agama. Dan dalam konteks berbangsa dan bernegara, pemikiran dan sikap moderat seperti ini sangat urgen dalam menjadikan semangat untuk mengakomodir beragam kepentingan dan perselisihan serta jalan keluar untuk meredamnya.

Berimbang (Tawazun)

Tawazun merupakan sikap berimbang dan harmonis dalam mengintegrasikan serta mensinergikan pertimbangan-pertimbangan untuk mencetuskan sebuah kebijakan dan keputusan. Sikap seperti ini berdasakan firman Allah SWT:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan” (QS. Al-Hadid: 25).

Kalau diaktualisasikan dalam ranah kehidupan, dengan prinsip tersebut Aswaja memandang realitas kehidupan secara substantif. Sehingga menjadikan Aswaja tidak mau terjebak dalam klaim kebenaran dalam dirinya ataupun memaksakan pendapatnya kepada orang lain yang mana hal tersebut merupakan tindakan otoriter dan pada gilirannya akan mengakibatkan perpecahan, pertentangan, maupun konflik.

Netral (Ta’adul)

Ta’adul merupakan sikap adil atau netral dalam melihat, menimbang, menyikapi dan meyelesaikan segala permasalahan. Dengan artian, sikap ini adalah bentuk upaya yang proporsional yang patut dilakukana berdasarkan asas hak dan kewajiban masing-masing. Sesuai firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Maidah: 8).

Kalaupun keadilan menuntut adanya kesamaan dan kesetaraan, hal tersebut hanya berlaku ketika realita individu benar-benar sama secara persis dalam segala sifatnya. Namun, apabila dalam realitanya terjadi keunggulan (tafadhul), maka keadilan menuntut perbedaan dan pengutamaan (tafdhil). Bahkan penyetaraan antara dua hal yang jelas terjadi tafadhul adalah tindakan aniaya yang bertentangan dengan prinsip keadilan itu sendiri.

Toleran (Tasamuh)

Tasamuh merupakan sikap toleran yang bersedia menghargai terhadap segala kenyataan keanekaragaman dan perbedaan, baik perbedaan dalam segi pemikiran, keyakinan, suku, bangsa, agama, tradisi, budaya dan lain sebagainya. Pluralitas dan multikulturalitas merupakan sebuah keniscayaan yang sepatutnya disadari. Kemajemukan  yang melandasi semua aspek kehidupan manusia tentu saja tidak pernah terlepas dari sebuah latar belakang, sebab, maupun tujuan. Dalam Alquran disebutkan:

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Namun soal akidah dan ibadah dalam Islam tidak ada toleransi. Dalam melakukan ibadah tidak boleh dicampur dengan kegiatan yang di luar agama, dan juga tidak boleh dicampur dengan keyakinan yang berasal dari luar agama Islam, tidak boleh bersama-sama dalam melakukan ibadah dengan agama selain Islam. Karena agama Islam menegaskan “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Perlu disadari bahwa betapa penting peranan toleransi antar elemen umat dan masyarakat. Hal tersebut tak lain demi terciptanya kedamaian dan mobilisasi ketahanan suatu negara sebagai wadah dalam membumikan syariat dan manivestasi nyata tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

Jika dicermati secara intensif, doktrin-doktrin Aswaja sebagai paham dengan metodenya yang komprehensif baik dalam bidang akidah (Iman), syariat (Islam), dan akhlak (Ihsan), dapat diambil sebuah kesimpulan berupa metodologi pemikiran (Manhaj Al-Fikr) yang moderat (tawassuth), berimbang (tawazun), netral (ta’adul), dan toleran (tasamuh). Sehingga pemahaman Aswaja hanya terbatas dalam kajian akidah dan fikih sudah bisa ditepis. Dengan beberapa prinsip itu pula Aswaja sangat mudah diterima dan diterapkan di dalam masyarakat serta ikut berperan dalam memajukan kehidupan yang penuh perdamaian dalam wahana kebangsaan dan kenegaraan bersama tradisi, peradaban, dan kebudayaan lain. []waAllahu A’lam.

 

[1] Tafsir Al-Qurthubi, juz 2 hal 153.

Tafsir Modern VS Klasik dalam Problematika Umat

Alquran dalam pandangan Islam adalah intisari dari semua pengetahuan. Bukan sekedar pengetahuan metafisis-religius yang berisi petunjuk moral dan hukum agama yang menjadi pedoman kehidupan, akan tetapi Alquran juga mengandung beberapa tingkatan pengertian dan pemahaman sesuai dengan karakter dan tingkat keilmuan pribadi sang pemaham. Terkadang sebuah kepentingan, situasi, serta kondisi juga ikut andil dalam memahami pesan yang disampaikan Allah melalui Alquran.

Dari beberapa faktor di atas, pemahaman Alquran yang merupakan sebuah sumber hukum primer dan menjadi sentral untuk menciptakan produk hukum (fikih) menjadi semakin tidak karuan. Mungkin benar ungkapan Jalaludin Rumi yang menyatakan: “Alquran adalah ibarat pengantin wanita dari Timur Tengah yang memakai cadar dan menyembunyikan wajahnya darimu. Bila engkau membuka cadarnya tapi tidak mampu mendapat kebahagiaan, itu mungkin disebabkan oleh tata cara membukamu yang telah menipu dirimu, sehingga keanggunan wajahnya tampak jelek bagimu.” Ungkapan Rumi ini seakan mewakili kebingungan para kiai sepuh melihat figur muda yang dengan keterbatasan ilmu dan kurangnya tanggung jawab secara ilmiah, begitu bersemangat dalam berpendapat.

Semoga keanekaragaman tafsir yang ada tidak sampai masuk dalam sabda Nabi Muhammad SAW. yang berbunyi: “Barang siapa yang menafsiri Alquran dengan tanpa melalui pendekatan keilmuan, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka.”

Ahmad Shawi Al-Maliki mengelompokkan guru yang belum mencapai derajat mufassir dalam tiga kelompok, sekalipun latar belakang keilmuan dan kemampuan berbeda. Di antaranya ada yang lebih cenderung tekstual, ada yang terlalu kontekstual, dan ada juga mufassir yang memadukan antara keduanya.

Golongan pertama (cenderung tekstual) memiliki metode pemahaman Alquran melalui beberapa hal:

  1. Penjelasan langsung dari Nabi (al-manqul)
  2. Pendapat dari mufassir yang sudah diakui keilmuannya.
  3. Asbabun nuzul (sebab turunya ayat)
  4. Ma’ani al-Harf (kandungan arti huruf)
  5. Aujuh al I’rab (bentuk-bentuk perubahan kalimat)

Golongan ulama kedua (cenderung kontekstual) mempunyai gaya pemahaman yang agak berani. Mereka lebih mengandalkan pemahaman melalui akal dan pikiran. Padahal banyak ulama berpendapat bahwa akal dengan keterbatasannya hanya mampu mengarahkan hukum (al-mubdi), dan tidak
bisa memproduksi hukum (al-wadi). Sehingga dari pendapat kedua ini mengundang kontroversi antar ulama.

Golongan yang terakhir adalah mufassir yang memadukan dua metode di atas (aljamu). Golongan ulama inilah yang paling berhati-hati dalam berpendapat dibandingkan dengan dua golongan ulama di atas. Sebagian dari ulama ini adalah Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin Al-Suyuti.

Uraian di atas mungkin sudah bisa menjadi bahan untuk mengetahui sebuah pendapat, dari golongan manakah dia.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Baru-baru ini mencuat beberapa pemahaman Alquran modern dengan mengusung metode penafsiran barat dengan nama hermeneutika. Hermeneutika, kalau kita telaah secara letterlijk jelas bukan bahasa islami. Apalagi mengarah kepada konsep islami, sekalipun juga banyak dikaji dan diajarkan sebagai kurikulum khusus di sebagian lembaga Islam. Katakanlah seperti Nasr Abu Zaid, Hassan Hanafi, Fazlul Rahman, Muhamed Arkoun, Amina Wadud, Muhsin dan yang seirama dengan mereka yang kemudian diamini serta agak ‘diimani’ oleh beberapa cendikiawan muslim di Indonesia. Upaya peniruan terhadap tradisi dan filsafat barat jelas menjadi faktor terpenting pemikiran mereka.

Ini semua merupakan hal yang lazim disaat sebuah budaya dan kemajuan segala aspek kehidupan mendominasi dan menjadi harapan negara-negara berkembang. Istilahpun berkembang di masyarakat dengan nama ke barat-baratan bagi segala sesuatu yang diambil dari gaya budaya yang dominan, yaitu budaya Barat. Hal yang demikian ini pernah terjadi disaat konsep budaya Islam mendominasi beberapa negara non Islam, seperti Spanyol. Spanyol pernah kalah perang budaya melawan budaya Arab yang sedang mendominasi negaranya, sehingga banyak orang-orang Eropa yang meniru tradisi Arab (mozarabic culture).

Dengan wajah baru dan metode baru, kaum intelektual Indonesia memberikan konsep agama yang juga baru sesuai dengan tuntutan realita. Sehingga mereka membuat hukum fikih yang sesuai dengan negara Indonesia atau dengan nama fikih ke-Indonesiaan. Mungkin nantinya ada fikih ke-Araban, dan fikih ke-Amerikaan. Perbedaan daerah, golongan, dan budaya -menurut mereka- juga merupakan peluang berbedanya formulasi fikih yang dicetuskan.

Mungkin kita perlu sedikit menelaah pertanyaan ulama bahwa hukum itu akan berbeda melihat perbedaan zaman, tempat, ruang, situasi, dan waktu. Realita menunjukkan bahwa sebagian hukum yang dicetuskan Imam Syafi’i di Mesir sangatlah berbeda dengan sebagian hukum yang dicetuskan di Iraq. Inilah yang melatarbelakangi munculnya istilah qaul qadim dan qaul jadid.

Seharusnya telaah kita berangkat dari mengapa Imam Syafi’i punya dua pendapat yang berbeda dalam menyikapi keadaan negara yang berbeda? Mungkin kita juga perlu menelaah hukum yang bagaimana yang bisa berubah dan hukum mana pula yang tidak bisa berubah? Dan yang terpenting lagi apakah semua hukum yang dicetuskan Imam Syafi’i di Iraq berbeda dengan yang di Mesir? Jadi, intinya tidak semua hukum bisa berubah dengan hanya melihat perbedaan tradisi dan lingkungan yang ada.

Ciri khas dan karakter ayat yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. di kota Mekah memang sedikit berbeda dengan ayat yang diturunkan di kota Madinah. Karakter ayat makiyyah banyak menjelaskan tentang ketuhanan dan ayat madaniyah lebih terfokus pada tatanan legal formal. Akan tetapi, sekali lagi jangan disalah artikan bahwa perbedaan ayat di atas dilatarbelakangi oleh situasi, kondisi sosial, dan budaya yang berbeda, sehingga timbul kefahaman yang jauh dari kebenaran bahwa hukum agama Islam adalah “hasil perjumpaan wahyu dengan nilai-nilai budaya lokal.” Ironis sekali kalau hukum yang bersumber dari Alquran dan lebih dijelaskan melalui ucapan dan perbuatan Rasulullah SAW. sebagai qudwah seluruh alam adalah potret dari budaya lokal.

Hukum Islam dilihat dari sisi tarikh tasri’ (sejarah pembentukan dan penerapan syari’at) memang tampak berbeda dengan rumusan al-aimmah al-arba’ah, padahal berangkat dari sumber yang sama, yaitu nash Alquran dan sunnah. Mungkin dalam hal ini para mujtahid punya cara pandang dan pendekatan yang berbeda dalam mehahami nash Alquran dan sunnah dengan perbedaan qa’idah ushuliyyah dan qa’idah fiqhiyyah mereka. Jadi, setiap hukum yang mereka rumuskan sebagai legitimasi dan solusi permasalahan agama di masyarakat tetap berlandaskan nash Alquran dan sunnah dengan didukung qa’idah ushuliyyah dan qa’idah fiqhiyyah. Silahkan mengembangkan dan mengamati fikih dengan pandangan yang berbeda. Akan tetapi tetap berpedoman pada kajian yang jelas dan bersumber dari literatur kitab yang jelas, sehingga bentuk kajian hukum itu akan menjadi sesuatu yang diterima, bukan ditolak, sebagaimana sabda Nabi: “Barang siapa melakukan suatu aktivitas (agama) yang tidak pernah dilakukan dan tidak termasuk ajaran kami, maka ia ditolak.

Demikian bentuk pemikiran ulama dalam memproduksi hukum. Sehingga bisa membawa ‘buletin’ pemikiran Islam kepada zaman keemasan, telah mampu membawa Islam dalam kancah peradaban dunia pada masanya. Dan hukum yang dirumuskan juga menjadi rahmatan lil ummah, tidak malah menimbulkan kebingingan umat.[]

Penulis: Muhammad Zainuri, mantan Perumus Lajnah Bahtsul Masail PP. Lirboyo (LBM P2L)

Fatwa Transnasional

Permasalahan fatwa bukanlah duduk perkara yang sederhana, perlu rihlah ilmiah dan “tempaan kedisiplinan” yang panjang sebelum orang bisa bergelar mufti. Perlu pendidikan formal keagamaan yang lama dan berlarut-larut sampai orang bisa dijadikan rujukan. Menguasai disisplin fiqh, ushul fiqh, kaidah fiqh, dan maqashid syar’iyyah adalah bawaan mutlak. Mufti sudah setara jabatan ajaib yang tak bisa disandang sembarang orang di zaman sekarang. Seorang mufti dituntut tidak hanya memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni, dia juga harus pandai-pandai memaca situasi dan kondisi masyarakat. Memanfaatkan khilafiyyah fiqhiyyah, selisih pendapat tentang hukum-hukum fiqh sebagai modal untuk memfatwakan jawaban permasalahan yang paling “masuk akal” untuk dimasyarakatkan ditengah masyarakat awam.

Jika dulu, di masa kejayaan Dinasti Abbasiyyah, pemerintah memiliki sistem kehakiman yang sangat terorganisir dengan baik, disetiap distrik wilayah minimal ada satu qodhi, hakim yang mengurus dan memutuskan beragam gejala dan aduan-aduan yang terjadi di masyarakat. Lalu dibawah lisensi yang lebih luas, ada qodhi qudhoh, hakim agung yang “mengepalai” para “bawahan”nya. Meski dengan format yang formal, hakim suatu daerah tidak harus menunggu jawaban dari “atas” untuk mengetok palu. Namun sekarang sejarah sudah berganti, tatanan negara kebanyakan sudah berubah menjadi sistem demokrasi, dan sistem hakim islami ala kitab kuning seperti dulu tidak lagi ditemukan, khususnya di negri kita.

Dalam kondisi darurat tidak ada mufti, atau hakim, bila terjadi problematika, masyarakat bertanya dan minta langsung diputuskan hukumnya kepada tokoh masyarakat setempat. Kyai, atau sebutan semacamnya. Sadar atau tidak, diam-diam kita secara diam-diam sudah menjadi “mufti”.

Memanfaatkan Khilafiyyah

Implikasi wajib dari definisi fiqh syar’an, makna kitab kuningnya, “Ilmu tentang tentang hukum-hukum syari’ah ‘amaliyyah yang digali dari dalil-dalil tafshily” adalah pasti terjadi khilaf dan beda pendapat dalam menyikapi hukum fiqh. Silang pendapat ini wajar karena setiap ulama terkait memiliki sikap dan cara pandang sendiri dengan dalil yang sedang dihadapinya. Belum lagi kapasitas intelektual ulama tersebut juga akan berbeda dengan ulama lain, tanpa maksud membanding-bandingkan. Otomatis, hasil “sama dengan” dari hasil “perkalian, pertambahan, dan pengurangan” ditambah pertimbangan ini dan itu, mashlahah mursalah, atau ‘amal ahlul balad, Madinah misalakan, akan menelorkan kompleksitas yang menguntungkan -sebenarnya- bagi umumnya masyarakat. Jika disikapi dengan benar. Jawaban yang beragam untuk satu pertanyaan akan menguntungkan kaum awam. Disinggung dalam oleh Imam Sya’rani[1], “Maka cobalah kau buktikan -saudaraku-! Apa yang telah aku paparkan kepadamu, bahwa dalam setiap satu hadis dan hadis pembanding lainnya, atau setiap pendapat ulama, dan pendapat pembandingnya, akan kamu temukan dalam tiap-tiap detilnya, di satu sisi memberatkan, dan di sisi lain meringankan. Dan tiap-tiap diantaranya memiliki tokoh-tokoh tersendiri untuk diamalkan. Dan satu hal yang tak mungkin terjadi adalah, ada dua pendapat dalam satu kasus yang sama-sama memberatkan atau sama-sama meringankan. Bahkan tak jarang kita temukan dalam satu permasalahan ada tiga pendapat sekaligus, atau bahkan lebih banyak. Orang yang cerdas akan bisa menempatkan setiap pendapat pada porsinya. Mengamalkan pendapat yang memberatkan atau meringankan semampunya.” Klaim bahwa fiqh adalah samudra tanpa batas oleh beliau Imam Sya’rani, kita dapat menemukan jaminan dari beliau bahwa setiap permasalahan -kecuali yang memang mujma’ ‘alaih– pasti terjadi khilafiyyah. Dan memang benar, apa yang kita baca saat ini dalam karya-karya ulama’ mutaakhirin[2] adalah hasil seleksi ketat dari banyak sekali pendapat-pendapat dalam satu kasus pada era sahabat dan tabi’in yang sudah diteliti dan di tarjih. Mana yang paling kuat, itu yang kemudian diistilahkan sebagai Ashoh, paling absah. Ada juga istilah Rôjih, yang kuat, untuk pendapat yang paling akurat kebenarannya, atau minimal mendekati. Atau istilah Adzhar, yang paling jelas tendensinya, dan lain sebagainya. Lalu pandai-pandai kita untuk memanfaatkan samudra khilafiyyah itu dengan  memaknainya secara positif. Dan luasnya samudra fiqh tidak lantas “membolehkan” kita untuk mengamalkan semua referensinya. Maka dari itu dibutuhkan seleksi. Bagi kita yang memang mampu untuk melakukan pendapat yang berat, maka seyogyanya kita lakukan, dan sebaliknya, jika yang hanya mampu kita lakukan hanya yang “ringan” maka dengan terpaksa kita lakukan. Etika semacam ini diterangkan lebih lanjut oleh beliau Imam Sya’rani[3]Tidak diperkenankan untuk ‘turun pangkat’ dari tingkatan ‘azimah[4] menuju tingkatan rukhshoh[5]keuali jika tidak mampu”.

Etika Berfatwa

Teori-teori diatas kitab kuning sebelum “difatwakan” adalah teori mentah. Kita masih butuh memasaknya dan membumbuinya kembali dengan satu teori tambahan; membaca situasi. Karena memang, kadang satu pendapat tidak lantas bisa diterima di satu daerah, namun bisa diterima di daerah lain, mengingat perbedaan kultur, budaya, dan adat istiadat. Maka andaikan kita bukan penganut madzhab Syafi’iyyah, kita juga perlu mempertimbangkan mashlahah mursalah. Tentu merupakan tindakan gegabah, terlalu terburu-buru memfatwakan permaslahan tanpa mempertimbangkan kondisi lingkungan. Meski berpedoman dengan fatwa yang pernah ada sebelumnya, tindakan ini kurang bisa dibenarkan. Perlu adanya ijtihad baru, untuk bahkan untuk satu permasalahan lama jika terjadi di lain daerah. Karena sebenarnya, yang paling tahu akan kondisi masyarakat yang kita tempati bukanlah tokoh masyarakat yang berada di daerah lain. tak perlulah jauh-jauh ke luar kota, jika masih ada yang bisa kita tanyai dan mintai pertimbangan didaerah kita sendiri. Dr. Musthafa Tseritic, yang menjadi ketua ilmuwan di Bosnia dan Eropa Timur mengatakan “Kita harus tahu dalam konteks apa fatwa sebelumnya itu dikeluarkan. Karena fatwa itu buka (sesuatu) yang disucikan. Akan tetapi fatwa adalah upaya manusia dalam posisi tanggung jawab untuk menjawab tuntutan yang terjadi pada zamannya. Jawaban itu memnungkinkan untuk diubah sesuai dengan wilayah dimana kaum muslim itu menemukan masalahnya sendiri. Dan kondisi kita saat ini bukan pembuat sejarah, bukan pemimpin sejarah, dan kita berharap dapat berubah dari sekedar pengikut atau mengungkapkan sejarah menuju pembuat sejarah[6]”. Dr. Musthafa dapat membaca masalah yang terjadi sekarang, bahwa tokoh-tokoh masyarakat -untuk tidak lancang kami sebut mufti-, kurang peka dengan lingkungannya, meskipun memiliki kapasitas intelektual dan pengalaman ilmiah yang baik. Seperti search engine, ketika terjadi menjawab masalah yang terjadi, diambilkannya jawaban yang paling mendekati. Atau pendapat terkuat. Meskipun teorinya benar, memakai pendapat yang paling absah, kadang itu justru bukan merupakan sebuah solusi, karena watak dan karakter orang berbeda, lingkungannya pun berbeda. Tidak bisa kita pukul rata. Lebih lanjut Dr. Musthafa mengatakan “Ada hukum yang mengatur umat islam, yang berbeda dari hukum lainnya yang mengatur orang lain. itu artinya bila seorang muslim sesuai dengan apa yang diterapkan agamanya, dia menjadi lebih manusiawi. Dan setiap kali suatu bangsa sesuai dengan agama, maka akan menjadi pembuat dan pemimpi sejarah. Dan setiap kali menyimpang dan menjauhi agamanya, mereka akan menjadi pengekor sejarah orang lain dan membenci sejarahnya sendiri.” Isu fatwa transnasional memang rasanya mengurangi rasa nasionalisme kita menurut beliau. tidak peduli akan sejarah, dan lebih senang menerapkan fatwa dari negara asing, bukannya produktif membuat fatwa sendiri, yang secara otomatis akan menjadi tatanan kehidupan sosial-masyarakat. Dalam silaturahim di Ponpes Lirboyo beberapa waktu lalupun, Dr. Khalid Zahri seorang pakar turats dari Maroko menganolagikan bahwa dulu, ketika Imam Syafi’i pindah dari Baghdad dan menetap di Mesir, beliau tidak lantas membawa fiqh orang Iraq ke Mesir. Fiqh lama beliau di Iraq, yang selanjutnya dikenal dengan  qoul qadim direvisi dengan fiqh baru, yang kata Dr. Khalid, lebih selaras dengan fiqhnya orang mesir. Apa yang sekarang kita kenal dengan qoul jadid.

Kita harus lebih jeli, masyarakat ketika bertanya berarti mereka membutuhkan jawaban yang solutif, sesuai dengan kondisi saat itu, dan “pantas” -sesuai bahasa Imam Sya’rani- untuk diamalkan sesuai dengan kekuatan dan kemampuan mereka.[]

[1] Mizanul Kubra Hal: 03 Cet. Darul kutub Islamy

[2] Istilah untuk mereka yang hidup setelah abad ke empat hijriyyah.

[3] Ibid. Hal. 14. -Kami tidak mengutip redaksi aslinya.

[4] Istilah yang beliau pakai untuk pendapat yang memberatkan.

[5] Istilah yang beliau pakai untuk pendapat yang meringankan.

[6] Disampaikan dalam pertemuan muslim Bosnia di Sarajevo.

Pesan dan Harapan KH. A. Idris Marzuqi

Harapan saya, setelah Pondok Pesantren Lirboyo mencapai usia satu abad ini mudah-mudahan para keluarga tetap menjaga keharmonisan dan keberlangsungan pondok. Selain itu, semoga mereka mampu menjaga apa yang diwariskan oleh sesepuh dahulu. Yang dimaksud warisan di sini berupa ilmu pengetahuan, bukan bentuk fisik pondok.

Salah satu alasan mengapa Lirboyo tetap mempertahankan metode salafiyahnya hingga saat ini adalah, karena ini merupakan wasiat yang selalu disampaikan dari generasi ke generasi, agar para penerusnya tetap mempertahankan metode salaf. Tetapi, berkat ilmu yang bermanfaat, banyak alumni yang dulunya hanya menguasai satu bidang ilmu setelah mengabdi di masyarakat mereka terkenal ahli dalam berbagai bidang.

Nasehat yang selalu saya tekankan kepada para santri adalah agar berusaha sekuat tenaga menamatkan jenjang pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo. Kunci kesuksesan belajar di Lirboyo selain mempeng adalah harus menamatkan madrasah. Meskipun ketika mondok itu seperti belum bisa apa-apa, insyaallah setelah menamatkan madrasah ada nilainya tersendiri. Yang kedua, setelah tamat harus lebih memprioritaskan memperjuangkan ilmu dulu. Jika lebih mengutamakan bekerja dan mengabaikan mengamalkan ilmu, maka akan menemukan hasil yang jauh dari maksimal. Ketika belajar di Lirboyo, jangan pernah sekali-kali merasa putus asa, apapun yang terjadi. Ketiga, jangan sekali-kali mengandalkan kecerdasan otak, namun andalkanlah rajin dan tekun mengaji, insyaallah jika sudah di rumah walaupun tidak ada niatan mendirikan pesantren, pasti ada saja orang yang hendak mengaji.

Dari berbagai pengalaman yang ada, mendirikan pondok itu tidak semudah mendirikan pabrik atau perusahaan. Kalau ingin mendirikan perusahaan misalnya, ada dana miliaran sudah bisa mencukupi dan perusahaan bisa berjalan dengan lancar. Tetapi kalau mendirikan pesantren, tidak bisa demikian. Kalau diberikan dana miliaran untuk membangun pondok, memang berwujud bangunan megah tetapi santrinya belum tentu berkembang.

Mendirikan pesantren itu harus dimulai dari nol, seperti Mbah Abdul Karim yang babad tanah Lirboyo dan memulainya dari langgar atau surau kecil dengan berbekal seadanya. Untuk mendirikan pesantren itu butuh modal kesabaran, keuletan dan keikhlasan. Di samping itu pendirinya harus berasal dari orang pesantren. Bpk. Hamzah Haz pernah membangun pesantren megah di luar jawa, dia meminta guru bantuan dari berbagai daerah. Dan yang dikirim ke sana salah satunya santri Lirboyo, setelah santri Lirboyo mengabdi di sana ternyata sering terjadi beda pemahaman. Ahirnya ia keluar dari pondok itu dan mendirikan sendiri pondok di sana, dan sampai sekarang mampu berkembang dan bertambah besar.

Disarikan dari Buku “Pesantren Lirboyo : Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda”.