Cerpen: Purnama Tanpa Bintang

Malam kian dingin. Bintang-gemintang menghilang satu-satu. Kabut mulai menyelimuti pedukuhan kecil itu. Rumah anyaman bambu di ujung dukuh begitu lenggang. Suara malam bersahutan riuh dengan ku-ku­ burung hantu dari rumpun bambu di belakang rumah.             Sarindi terbangun. Titik-titik keringat di dahinya satu-dua mulai meleleh. Wajah ayunya pucat dengan pandangan nanar. Baru satu jam dia terlelap,…

Lanjutkan