Tag Archives: Renungan

Khutbah Jumat: Muhasabah Membuat Diri Berubah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي قَهَّرَ وَغَلَبَ. فَلَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَى وَلَا مُنِعَ لِمَا سَلَب.
فَسُبْحَانَهُ مِن إِلهٍ وَفَّقَ أَحْبَابُهُ لِمَرَاضِيهِ وَيَسَّرَ لَهُمُ المُسَبَّبَاتِ والسَّبَب.
أَحْمدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدَ مَنْ تَابَ إِلَيهِ وَهَرَب. وَأَشكُرُهُ شُكرًا يَفُوقُ عَدَّ مَنْ عَدَّ وَحِسَابَ مَن حَسَب.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ فَارِجُ الكَرَب. وَالمُنْجِي مِنَ الوَرْطَاتِ والعَطَب.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ العَجَمِ وَالعَرَب.
اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اقْتَفَى شَرْعُهُ المُطَهَّرَ وَإِلَى دِينِهِ الحَنِيفِيِّ انتَسَب.
(أَمَّا بَعدُ) فَيَا أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى. واعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهَ.

Hadirin jama’ah jumat yang berbahagia…
Marilah kita meningkatkatkan keimanan dan ketakwaan kita, kapanpun dan di manapun kita berada.
Waktu yang telah kita lewati, kejadian yang kita hadapi, kondisi yang kita alami telah meninggalkan berbagai coretan amal dalam buku catatan amal kita.
Apakah perbuatan baik kita lebih banyak daripada perbuatan buruk kita? Atau justru sebaliknya?
Sekecil apapun kebaikan maupun keburukan yang kita lakukan, pasti kita akan mendapatkan balasannya.
Allah Swt. berfirman:

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُم , فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ , وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ.

Artinya: “Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) perbuatan mereka,
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji sawipun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar biji sawipun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Oleh karena itu, kita perlu untuk berintrospeksi, mengoreksi setiap hal yang dilakukan oleh anggota tubuh kita.
Itulah yang oleh para Ulama disebut dengan muhasabah.
Sahabat Umar Radliyallahu ‘anhu memerintahkan:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا ، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ، يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَة 

Artinya: “Koreksilah dirimu sebelum kamu dihisab, timbanglah amalmu sebelum kamu ditimbang, dan persiapkanlah bekal untuk menghadapi hari pertemuan besar , hari di mana kalian dihadapkan kepada Allah Swt. dan tidak ada perkara yang samar dari kalian.”

Jama’ah jum’at rahimakumullah…
Selagi kita masih hidup di dunia ini, berarti kita masih memiliki kesempatan untuk mengoreksi diri.
Mulut kita, masihkah kita menggunakannya untuk mengucapkan hal-hal yang tidak baik?
Mata kita, masihkah kita menggunakannya untuk melihat hal-hal yang diharamkan?
Telinga kita, hati kita, farji kita, tangan dan kaki kita, masihkah kita menggunakannya untuk hal-hal yang tidak baik?

Dengan menanyakan hal-hal seperti itu pada diri kita sendiri, maka kita akan bisa menyadari hal-hal yang tidak baik yang telah dilakukan oleh anggota tubuh kita, sehingga kita bisa memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik di kemudian hari.

مَنْ كَانَ يَومُهُ خَيرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ.

“Barang siapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung.”
Imam Al-Ghazzali mengatakan dalam kitab ihya’nya:

مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ قَبْلَ أَنْ يُحَاسَبَ خُفَّ فِي القِيَامَةِ حِسَابُهُ.

“Barang siapa yang berintrospeksi sebelum diinterogasi di akhirat nanti, dia akan diringankan hisabnya pada hari kiamat yang menanti.”

Dengan membaca istighfar setiap hari, diiringi penyesalan dan tekad kuat untuk memperbaiki diri, mudah-mudahan kita mendapati akhir yang baik dalam perjalanan kehidupan kita di dunia ini.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِى القُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ  بِمَا فيهِ مِن آيَةٍ وَذِكرِ الحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا  وَمِنكُم تِلَاوَتَهُ وَإنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ.
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ. الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ. وَقُل رَّبِّ ٱغْفِرْ وَٱرْحَمْ وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّٰحِمِينَ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتكَ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوهُ مِن فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أكبَر

Baca juga: Khutbah Jumat : Supaya Amal Bisa Diterima
Tonton Juga: PENUTUPAN BAHTSUL MASAIL | FMPP XXXVI

Golden Couple: Setitik Makna Syair Gundul Pacul

Gundul-gundul pacul cul gembelengan

Nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan

Wakul gelimpamg segane dadi sak latar

Wakul gelimpamg segane dadi sak latar

Syair klasik yang telah jarang terdengar ternyata di dalamnya tidak hanya terkandung sebuah estetika dan hiburan semata. Dalam liriknya tersirat nasihat bagi seorang pemimpin. Ibaratkan sang pemimpin yaitu Ulama dan Umara adalah yang ‘nyunggi wakul’, penopang utama persatuan berbagai elemen manusia dari yang kecil sampai yang besar dari kasta rendah ke kasta tinggi.

Bedanya, Umara mengatur, mengorganisir semua. Menempatkan pada sebuah wadah formal yang mana dalam pembuatannya umara harus memperhatikan kapasitas dan kualitas tentunya. bagaimana sebuah wadah itu harus menjadi se efesien mungkin, senyaman mungkin dan terjaga keamanannya. Semua dalam lingkup kekuasaan yang sudah tertuang dalam hukum tata negara yang sah dan absolut.

Baik ulama maupun umara keduanya sama-sama menjadi tokoh masyarakat. Ulama diikuti dan disegani karena nilai keluhuran ilmunya dan pengabdian utama untuk menyyebarkan norma-norma agam berdedikasi tinggi mengumpulkan masyarakat dalam majelis non-formal untuk mendidik batiniah dengan pedoman yang bersanad sampai nabi Muhammad saw.

Tatkala ulama mampu mendidik masyarakat dengan ilmu dan barokah keikhlasan tentunya. dengan penunjang yang mendukung dari umara. Hasil ini akan memudahkan umara menata masyarakat yang telah dipondasi dengan nilai kebaikan dari agama. Saling melengkapi,saling membantu, bahu membahu menyelami masyarakat dengan berbaur, bersama mencoba mengerti kemauan masyarakat menjadi kesatuan ‘nyunggi wakul’  sehingga mendekatkan realisasi yang konkrit yaitu bangsa yang aman-damai-sentosa.

Maka dari itu, sangat dibutuhkan keduanya untuk saling terhubung, no mis komunikasi,karena harfiahnya pasangan ini adalah indikator kesuksesan golden couple  yang mana dengan adanya kerjasama yang baik dan konstan tentunya. masa jaya keemasan tak kan hanya jadi mimpi belaka.

Namun jika sang ‘nyunggi wakul’ sampai terjadi berbeda langkah, berlawanan, ibarat kaki kiri dan kanan yang tidak saling menjaga lagi maka terjadilah ‘wakul ngglimpang segone dadi sak latar’ tiang penopang jatuh, masyarakat bak nasi yang berantakan hingga jauhlah kata damai dalam ingatan!

Oleh:Rohmania Nurul F. kelas 2 Tsanawiyah PP Putri Hidayatul Mubtadi-aat asal Malang.

Nabi Kita Juga Pernah Bercanda

Nabi Muhammad SAW, sebagaimana kita, juga adalah manusia. Bedanya, beliau adalah manusia pilihan yang mengemban tugas mulia untuk menyebarkan risalah kepada seluruh umat manusia. Sebagai umumnya manusia, beliau juga memiliki sisi manusiawi. Beliau menikah, beliau berjalan di pasar-pasar, beliau bergaul dan bercengkerama dengan sahabat-sahabat beliau, beliau memiliki putra-putri yang beliau sayangi sebagaimana lazimnya kita menyayangi putra-putri kita, dan beliau juga bercanda.

Beliau yang dikenal murah senyum oleh para sahabat-sahabatnya ini sesekali juga membuat orang lain tertawa. Jauh dari gambaran orang awam tentang seseorang berpangkat rasul, yang mencurahkan seluruh hidup dalam sujud. Nabi bukan orang yang demikian, sebab sesekali beliau menyempatkan dan membagi waktu beliau untuk para keluarga dan sahabat. Hanya saja, dengan hati yang tentunya tak pernah sedetikpun melalaikan nama-Nya.

Nabi SAW pernah bercanda dihadapan para sahabat beliau. Rasulullah SAW bersabda, “tidaklah seorang nabi dan rasul kecuali indah wajahnya dan suaranya, seperti nabi kalian ini”, para sahabat sontak tersenyum. Beliau juga turut tersenyum hingga gigi geraham beliau nampak[1].

Satu yang perlu dicatat, tak ada satupun candaan Nabi yang dusta. Dalam sebuah hadis dikisahkan, diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, seorang sahabat bertanya kepada Muhammad SAW, “Wahai Rasullallah, apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Rasulullah SAW menjawab, “Benar. Hanya saja saya selalu berkata benar.”[2]

Dengan seorang lelaki beliau pernah bercanda. Ketika itu sang lelaki mendatangi Nabi. Lelaki tersebut berkata, “Bawalah aku ya Rasul.” Nabi menimpali, “aku akan membawamu diatas seekor anak unta.” Lelaki tersebut bingung dan bertanya. “Apa yang bisa aku lakukan dengan seekor anak unta?” Tentulah seekor anak unta tak akan kuat membawa lelaki tersebut diatasnya. Namun Nabi menjelaskan maksud perkataan beliau tadi, ternyata beliau sedang bercanda. “Adakah unta yang bukan anak unta?”[3]

Suatu ketika, Nabi bersabda kepada seorang wanita Anshar. “Susullah suamimu. Karena dimatanya ada putihnya.” Bingung bercampur khawatir, perempuan Anshar tersebut bergegas pulang untuk mengetahui keadaan suaminya. Perempuan tersebut mengamati dengan lekat suaminya. Apa yang sebenarnya terjadi? “Ada apa kamu kesini?” Tanya sang suami. Masih dengan perasaan khawatir, ia berkata. “Sabda Rasul, dimatamu ada putihnya.” Sang suami menyadari maksud dari sabda Rasul. Ia kemudian menyadarkan istrinya bahwa ia baru saja “dikerjai” oleh Nabi. “Memang, dimataku ada putihnya. Tapi itu bukan karena penyakit.” Tukas sang suami sembari tersenyum[4].

Lain dengan perempuan Anshor diatas, seorang nenek-nenek pernah datang menjumpai Nabi. Maksud hati minta didoakan, si nenek berkata, “Wahai Rasulallah, berdoalah mohon ampun untukku.” Nabi menjawab, “apakah kau tidak tahu, bahwa surga itu tidak dimsuki nenek-nenek?”. Mendengar sabda Nabi tersebut, si nenek kaget. Ia bahkan sampai menjerit histeris. Lalu Rasul tersenyum dan buru-buru menenangkan sang nenek. Menjelaskan apa yang sebenarnya dimaksud dengan “tidak ada nenek-nenek di surga”. “Apakah engkau tidak membaca firman Allah?” Lalu Nabi membacakan surat Al-Waqi’ah ayat ke 35. “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis penuh cinta lagi sebaya umurnya.”[5]

Kita diajarkan untuk peka menyikapi hidup ini. Pandai bersikap menghadapi masyarakat yang berbeda kultur dan sifat. Sesekali tidak masalah bercanda asal ada batasnya, untuk melipur hati. Sebab jika hati lelah, ia akan buta. Seperti apa sabda Nabi. Nabi kita juga mau bercanda kepada para sahabatnya, membuktikan kalau beliau mudah menerima kehadiran siapa saja. Lalu bagaimana dengan kita?

 

 

[1] HR. Tirmidzi

[2] HR Ahmad

[3] Abu Dawud (4998), dan at-Tirmidzi (1991) dari Anas. Shahîh Abu Dawud (4180). Musnad Ahmad Juz 4 169

[4] Rujukan Induk Akhlak Rasulullah. Hal 406.

[5] Ibid. Hal 407.

Cerdas Beramar Makruf

Jurang pemisah antara amar makruf dan tajassus nampak sangat tipis bagi orang awam. Amar makruf yang digadang-gadang dapat menjadi ladang penuai pahala, salah-salah justru menjadi dosa yang tak terasa akibat adanya tajassus. Terlalu bersemangat dan terlalu banyak prasangka pada orang lain, menjadi salah satu sebab kuat munculnya tajassus yang dilarang agama. Allah SWT berfirman,


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ   – الحجرات: 12

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka (kecurigaan), sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12)

Tajassus sendiri jika dialih bahasakan memiliki arti meneliti dan mencari-cari kesalahan orang lain, mengikuti penafsiran Sahabat Qatadah RA[1]. Hal ini juga lekat dan identik dengan amar makruf yang “kebablasan”. Dikutip dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi, saat beliau menjelaskan hadis Nabi tentang tingkatan amar makruf, beliau menukil pendapat Imam Haromain, bahwa sejatinya amar makruf yang menjadi kewajiban kita memiliki batasan-batasan. Hanya tegurlah kemaksiatan yang benar-banar kita ketahui, pesan Imam Haromain.

Tidak dibenarkan bagi orang yang hendak melakukan amar makruf untuk meneliti, menyelidiki, dan mencari-cari kesalahan orang lain. juga merepotkan diri dalam berbagai prasangka. Akan tetapi yang benar, jika mendapati ada kemungkaran yang dilakukan oleh orang lain, boleh orang tersebut bertindak.[2]

Senada dengan Imam Haromain, ulama besar Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad juga menghimbau keras untuk menghindari tajassus. Jika kita kebetulan tahu aib orang, langkah yang benar menurut beliau adalah menyembunyikannya dari orang lain. dan menasihatinya tidak ditengah khalayak ramai.

“Tidak diperbolehkan memperbanyak membahas aib-aib manusia, menyebut-nyebut kesalahan mereka, dan membuka keburukan mereka, kecuali orang tersebut orang munafik yang dimusuhi. Hal yang wajib dilakukan orang islam ketika mengetahui keburukan saudara muslimnya adalah menutupi keburukan tersebut. Dan memberi nasihat dengan lemah lembut dan kasih sayang. ‘Allah akan senantiasa menolong hambanya, manakala hambanya masih senantiasa menolong saudaranya.’”[3]

Menyambung lidah dari Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, Syaikh Muhammad Jamaludddin Al-Qasimy merangkum syarat-syarat amar makruf kedalam tiga poin penting. Pertama, apa yang dihadapi adalah kemungkaran. Kemungkaran yang dimaksud adalah sesuatu yang memang dilarang untuk dilakukan menurut kacamata syari’at. Kata-kata munkar memiliki arti yang berbeda dengan maksiat. Contoh sederhana, jika ada anak kecil yang minum minuman keras, itu termasuk tindakan munkar yang wajib diingkari, meskipun bukan termasuk maksiat. Sebab anak kecil belum terkena taklif (tuntutan hukum syari’at). Kedua, tindakan munkar haruslah nampak tanpa perlu adanya tajassus. Sebagai contoh, jika ada orang yang menyembunyikan maksiatnya didalam rumah dan mengunci rapat-rapat pintunya, kita tetap dilarang masuk tanpa ijin untuk melihat maksiat yang dia lakukan. Tidak dibenarkan pula mencari-cari kesalahan orang lain tanpa bukti nyata. Oleh agama Islam, kita senantiasa dituntun untuk berprasangka baik dan berfikir positif kepada sesama saudara muslim. Ketiga, perkara yang dihadapi bukan termasuk masalah khilafiyyah antara Imam Madzhab. Maksudnya, kita yang bermadzhab syafi’iyyah tidak dibenarkan menegur penganut madzhab lain yang melakukan sesuatu yang dilarang dalam lingkup madzhab kita[4].

 

 

[1] Lihat: Tafsir Durrul Mantsur karya As-Suyuti (7/ 567) versi Maktabah Syamilah.

[2] Al-Minhaj Syarh Shaih Muslim bin Hajjaj. Juz 2. Hal 26. Cet. Mathba’ah Mishriyyah.

[3] Nashoihu Diniyyah. Hal 253. Dar Hawi.

[4] Mau’idhotul Mukminin. Juz 1. Hal 169. Dar Kutub Islamiyyah.

Keajaiban Berkah Nabi Muhammad SAW

اللَّهُمَّ لَوْلا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا # وَلا تَصَدَّقْنَا وَلا صَلَّيْنَا
فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا # وَثَبِّتِ الأَقْدَامَ إِنْ لاقَيْنَا
إِنَّ الأُولَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا # وَإِنْ أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا

 

Ya Allah, kalau saja bukan karena engkau, niscaya kami tak akan mendapatkan petunjuk. Kami tak bersedekah, tak juga salat.

Maka limpahkanlah ketenangan kepada kami. Mantapkanlah kaki-kaki kami kala menghadapi lawan.

Para musuh telah memberontak kami, dan ketika mereka menginginkan fitnah terjadi, maka kami menolaknya.

 

Kita tak bisa membayangkan suasana di Madinah saat itu. Cuaca begitu terik, udara begitu panas menyengat, dan debu-debu beterbangan kemana-mana. Namun disepanjang parit yang baru digali itu, nampak wajah-wajah gembira. Mereka ditemani insan paling mulia, bersama-sama menggali parit (khandaq) untuk membentengi kota Madinah dari gempuran pasukan ahzâb (koalisi). Mewakili perasaan bergembira, sebuah syair disenandungkan oleh Nabi Muhammad SAW, “Ya Allah, jika bukan karena Engkau, kami tak akan mendapatkan petunjuk…”[1] Beliau bekerja tak kenal lelah.  Memindahkan tanah demi tanah tanpa mau dibantu, sampai-sampai bulu dada mulia beliau tertutup oleh butir-butir tanah yang beterbangan.

Semua orang, laki-laki baik tua ataupun muda berduyun-duyun menggali parit. Parit yang memanjang menutup akses menuju kota Madinah itu nanti akan difungsikan sebagai “tembok” untuk menghalau datangnya pasukan koalisi pimpinan kaum Quraisy. Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung. Diperkirakan akan ada sepuluh ribu orang yang menggempur Madinah. Jumlah yang lebih dari cukup untuk meluluhlantakkan kota Madinah apabila rasulullah tinggal diam.

Nabi bermusyawarah kepada para sahabatnya, strategi macam apakah yang hendaknya kita lakuakan?  Seorang muallaf baru dari negeri Persia, bermana Salman mengusulkan gagasan cemerlang.”Wahai Rasulullah,di Persia jika kami takut akan serangan kuda, kami akan menggali parit mengelilingi rumah-rumah kami. Maka mari kita gali parit untuk melindungi kita.”

Semau orang setuju atas ide sahabat Salman RA, maka sejak itu parit yang sangat panjang mulai digali. Dan saat parit mulai digali, banyak hal ajaib terjadi…

Saat menggali parti, tak semua orang mendapatkan cukup makan. Makan hanya sekian butir kurma, tapi bekerja penuh dari pagi hingga matahari menyingsing tenggelam. Sosok mulia Nabi tak luput mengalami hal yang sama. Bahkan menurut riwayat, hingga tiga hari Nabi dan para sahabat menggali parit, mereka tak menyantap sesuap hidangan apapun. Sampai-sampai, untuk menahan rasa lapar, beliau Nabi Muhammad SAW mengganjal perut beliau dengan batu yang diikat ke badan beliau.

Sahabat Jâbir bin Abdullah RA memang bukanlah orang yang kaya. Beliau bahkan hidup sangat sederhana bersama istri beliau. Namun, melihat perut mulia rasulullah tersingkap dan nampak batu disana, hati kecil beliau tergerak. Beliau tak tega dan merasa iba. Seorang rasul tak sepatutnya mengalami hal seperti ini. Beliaupun berinisiatif untuk pulang, dan menyiapkan rasul sebuah hidangan.[2]

“Wahai rasulallah, izinkanlah saya pulang ke rumah.” Kata sahabat Jâbir bin ‘Abdillah RA.

Rasulullah mengizinkan sahabat Jâbir Ra pulang menemui istrinya. Beliau bergegas menuju kediaman beliau. Kepada istrinya, beliau menceritakan apa yang telah dilihatnya.  “Aku melihat kondisi Nabi Muhammad SAW yang tak mampu lagi aku bersabar melihatnya. Adakah kau memiliki sesuatu untuk dimasak?”

“Ya, ada gandum dan domba kurus” jawab sang istri.

Tanpa pikir panjang lagi, sahabat Jâbir RA menyembelih domba kurus satu-satunya yang ia miliki. Beliau tahu, sangat tahu bahwa makanan itu hanya akan cukup untuk beberapa orang saja. Bukan masalah, asalkan  bisa menyenangkan hati rasulullah. Sahabat Jâbir RA juga membuat adonan gandum hingga menjadi makanan dalam tungku. Ketika adonan makanan tersebut hampir matang dalam bejana yang masih di atas tungku, beliau bergegas menemui Nabi. “Aku punya sedikit makanan, maka datanglah engkau wahai rasul. Ajak serta seseorang atau dua orang bersamamu.” Kata sahabat Jâbir RA lirih.

Namun rasulullah bukanlah orang yang tega bersenang-senang menyantap masakan, sementara para sahabat-sahabatnya yang lain merasakan kelaparan.

“Bagaimana mungkin bisa digambarkan Nabi Muhammad SAW membiarkan para sahabatnya bekerja keras, padahal mereka juga menahan rasa lapar, sementara Nabi bersama tiga atau empat orang sahabatnya beristirahat dan menikmati hidangan? Padahal kasih sayang Nabi kepada para sahabatnya jauh melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anak-anakanya.”[3]

“Berapa banyaknya?” tanya Nabi.

Sahabat Jâbir RA mengatakan apa adanya. Domba itu sangat kurus, dan mungkin hanya akan cukup untuk beberapa orang saja. Tapi Nabi memiliki rencana lain. “Banyak dan baik.” Sabda Nabi. “Katakan kepada istrimu, jangan angkat bejananya, dan jangan angkat adonan roti dari tungku api sampai aku datang.”

Tak disangka, Nabi berteriak lantang. Mengundang seluruh sahabat muhâjirîn dan anshâr yang menggali parit untuk ikut mencicipi hidangan dari sahabat Jâbir RA. Undangan yang membuat sahabat Jâbir RA terhenyak.

Wahai para penggali parit! Jâbir telah membuatkan hidangan! Marilah kita semua kesana!” Tak butuh aktu lama, berangkatlah seluruh sahabat yang jumlahnya mencapai ratusan menuju rumah sahabat Jâbir RA. Tak terbayangkan, hidangan satu kuali kecil akankah cukup untuk menyambut mereka semua?

Sahabat Jâbir RA tentu saja amat panik. Beliau bergegas menemui istri beliau, dan mengatakan apa yang telah terjadi. “Celakalah! Nabi akan datang beserta seluruh sahabat muhajirin, anshar, dan semua orang yang turut serta bersama mereka!”

Istri beliau menimpali dengan tenang, “adakah Nabi bertanya berapa jumlah makanan yang kau miliki?”

Tentu saja.”

“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Istri Sahabat Jâbir RA, Suhailah binti Mas’ud RA menenangkan suaminya. Tidak mungkin rasulullah bertindak tanpa perhitungan. Pasti akan ada keajaiban.

Tak berapa lama, rombongan Nabi dan para sahabatnya tiba di kediamana sahabat Jâbir RA. Jumlahnya sangat banyak. Nabi memberikan komando kepada seluruh sahabat yang datang. “Masuklah kalian semua, dan jangan berdesak-desakan.”

Nabi sendiri yang membagikan semua makanan itu. Beliau menyobek roti yang telah matang, dan meletakkan daging diatasnya. Setiap kali Nabi mengambilkan bagian untuk satu orang, beliau menutup periuk dan kuali. Demikian seterusnya. Satu demi satu sahabat yang mengantri mendapatkan makanan. Tak ada yang tak mendapatkan makanan dari sebuah kuali kecil berisi daging domba kurus, dan sedikit roti. Keajaiban benar-benar telah tejadi. Sampai antrian habis dan seluruh sahabat telah merasa kenyang, hidangan yang semula disajikan tetap utuh tak berkurang sedikitpun.

“Makanlah, dan hadiahkanlah makanan ini kepada orang-orang. Karena mereka tengah kelaparan.” Pesan Nabi kepada istri sahabat Jâbir RA.

“Aku bersumpah demi Allah, para sahabat telah makan dan pulang, tapi daging milik kami masih utuh, begitu juga adonan tepung gandum kami masih tetap bisa dijadikan roti seperti biasanya.” Kata sahabat Jâbir RA terkagum-kagum atas apa yang baru terjadi di rumahnya.

Keajaiban memang selalu datang menyertai baginda Nabi Muhammad SAW sebagai bukti kalau beliau memang orang terpilih. Beliau adalah insan paling mulia, dan namanya dikenal di seluruh langit dan bumi. Allâhumma sholli ‘alâ sayyidinâ muhammad…

 

َ

[1] Lihat Shahih Bukhari, hadis 4106. Bab Perang Khandaq. Atau Fathul Bari juz 7 hal 321 cet. Dar Ihyau Turast

[2] صحيح البخاري  5/ 108  Atau lihat Fathul Bari juz 7 hal 317-319 cet. Dar Ihyau Turast

حَدَّثَنَا خَلَّادُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَتَيْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: إِنَّا يَوْمَ الخَنْدَقِ نَحْفِرُ، فَعَرَضَتْ كُدْيَةٌ شَدِيدَةٌ، فَجَاءُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: هَذِهِ كُدْيَةٌ عَرَضَتْ فِي الخَنْدَقِ، فَقَالَ: «أَنَا نَازِلٌ». ثُمَّ قَامَ وَبَطْنُهُ مَعْصُوبٌ بِحَجَرٍ، وَلَبِثْنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ لاَ نَذُوقُ ذَوَاقًا، فَأَخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المِعْوَلَ فَضَرَبَ، فَعَادَ كَثِيبًا أَهْيَلَ، أَوْ أَهْيَمَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ائْذَنْ لِي إِلَى البَيْتِ، فَقُلْتُ لِامْرَأَتِي: رَأَيْتُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا مَا كَانَ فِي ذَلِكَ صَبْرٌ، فَعِنْدَكِ شَيْءٌ؟ قَالَتْ: عِنْدِي شَعِيرٌ وَعَنَاقٌ، فَذَبَحَتِ العَنَاقَ، وَطَحَنَتِ الشَّعِيرَ حَتَّى جَعَلْنَا اللَّحْمَ فِي البُرْمَةِ، ثُمَّ جِئْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالعَجِينُ قَدْ انْكَسَرَ، وَالبُرْمَةُ بَيْنَ الأَثَافِيِّ قَدْ كَادَتْ أَنْ تَنْضَجَ، فَقُلْتُ: طُعَيِّمٌ لِي، فَقُمْ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَرَجُلٌ أَوْ رَجُلاَنِ، قَالَ: «كَمْ هُوَ» فَذَكَرْتُ لَهُ، قَالَ: ” كَثِيرٌ طَيِّبٌ، قَالَ: قُلْ لَهَا: لاَ تَنْزِعِ البُرْمَةَ، وَلاَ الخُبْزَ مِنَ التَّنُّورِ حَتَّى آتِيَ، فَقَالَ: قُومُوا ” فَقَامَ المُهَاجِرُونَ، وَالأَنْصَارُ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَى امْرَأَتِهِ قَالَ: وَيْحَكِ جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَمَنْ مَعَهُمْ، قَالَتْ: هَلْ سَأَلَكَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: «ادْخُلُوا وَلاَ تَضَاغَطُوا» فَجَعَلَ يَكْسِرُ الخُبْزَ، وَيَجْعَلُ عَلَيْهِ اللَّحْمَ، وَيُخَمِّرُ البُرْمَةَ وَالتَّنُّورَ إِذَا أَخَذَ مِنْهُ، وَيُقَرِّبُ إِلَى أَصْحَابِهِ ثُمَّ يَنْزِعُ، فَلَمْ يَزَلْ يَكْسِرُ الخُبْزَ، وَيَغْرِفُ حَتَّى شَبِعُوا وَبَقِيَ بَقِيَّةٌ، قَالَ: «كُلِي هَذَا وَأَهْدِي، فَإِنَّ النَّاسَ أَصَابَتْهُمْ مَجَاعَةٌ»

[3] Fiqh Siroh Nabawi, Syaikh Ramadhan Buthy, hal 220. Cet Darus Salam. Cet ke 24. Tahun 2015.