HomeAngkringAbu Bakar As-Shiddiq dan Soul Stone

Abu Bakar As-Shiddiq dan Soul Stone

Angkring 0 9 likes 1.3K views share

Ada satu hadis populer yang belakangan ini sering menghiasi timeline media sosial kita. Terutama ketika banyak orang telah jengah melihat media sosial semakin keruh oleh debat kusir dan perselisihan tidak ada ujung.

من كان يؤمن بالله و اليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت

Sesiapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berbicara yang baik, atau diam saja. (HR. Bukhari)

Ketika kita membaca hadis ini lebih panjang dengan menariknya ke belakang, ternyata matan dari rangkaian hadis ini cukup mengherankan. Alih-alih menyuruh kita untuk meningkatkan kadar keimanan dengan terus menerus beribadah dan memanjangkan sajadah, hadis ini menunjukkan ada fakta dan kenyataan lain—selain ibadah mahdah di atas sajadah—yang harus dibaca sebagai katalis akan kadar keimanan kita.

Hadis di atas didahului oleh dua rangkaian kalimat “man kaana yu’minu”. Pertama, Rasulullah menyuruh kita untuk menghentikan perbuatan yang menciderai hati orang lain. “Man kaana yu’minu” kedua mengingatkan kita untuk berbuat baik terhadap orang-orang di dekat kita.

من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فلا يؤذ جاره. ومن كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليكرم ضيفه

Sesiapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya. Sesiapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.

Rangkaian hadis ini memberi indikasi yang kuat bahwa hubungan personal antara seorang hamba dengan tuhannya tidaklah cukup dengan pengakuan iman kepadaNya. Tidak bisa seseorang dengan ibadahnya yang rajin, genap shalat berjamaah lima waktu, berpuasa Senin-Kamis, shalat tahajud tiap malam, lalu mengaku sebagai makhluk yang dikasihiNya lantaran ibadah-ibadah yang dilakukannya itu. Tidak. Justru pengakuan itu hanya akan dianggap main-main jika ia mengabaikan hubungan sosialnya.

Dan pemegang peran penting dalam interaksi sosial adalah empat pintu yang ada di wajah kita: dua bibir dan dua rahang. Banyak sekali kisah sukses yang diawali oleh saling bicara dan kontinuitas dalam berkomunikasi. Tetapi betapa banyak pula kisah menyedihkan yang bermula dari ujaran-ujaran kebencian, ghibah, dan adu domba  yang keluar dari mulut kita.

Belum lagi kita bisa memanfaatkan dengan benar empat pintu itu, persoalan berinteraksi sosial kini bertambah, seiring dunia elektronik juga mengizinkan kita untuk berkomunikasi hanya dengan jemari kita. Kita mungkin sedang mengatupkan mulut di dalam kamar. Sendirian. Hening. Tak ada suara yang keluar dari mulut kita selain hembusan nafas. Namun jempol kita berulah. Kalimat-kalimat kebencian meluncur tepat ketika kita menekan tombol “post”, “share”, “retweet”.

Kita barangkali harus menengok apa yang terjadi di masa lalu. Kita bisa ambil suri tauladan yang dengan susah payah dilakukan para sahabat Nabi. Sahabat Abu Bakar as-Shiddiq ra. salah satunya. Selain kawan karib Rasulullah, beliau adalah khalifah yang bijak. Kalam-kalamnya ditunggu oleh para penggawa pemerintahan Madinah. Namun, seringkali beliau menaruh batu di mulutnya untuk mempersedikit bicara.[1] Real stone. Benar-benar batu. Beliau lebih menghendaki memberi penderitaan pada mulut agar sedikit bicara, daripada mengeluarkan kalimat-kalimat yang boleh jadi akan menyakiti orang-orang di dekatnya.

Tentu kita tidak akan mencontoh dengan mengulum batu kali sepanjang hari. Atau mengikat batu bata di jemari. Tapi paling tidak, kita harus menemukan cara untuk menahan jemari kita mengetik kalimat-kalimat yang tidak dikehendaki Nabi. Dan cara paling ringan ialah menahan diri.

Maka kita hendaknya kembali melatih nafsu dan anggota badan kita untuk menahan diri dan membersihkan hati. “Belajarlah diam,” ujar seorang bijak. “Belajarlah diam sebagaimana engkau belajar berbicara. Karena kalam akan memberimu petunjuk. Dan diam melindungimu.”

Bulan Ramadan ini sangat bisa untuk kita jadikan sebagai momentum menahan diri dari berkomentar buruk dan memposting hal-hal yang bisa menyakiti hati orang lain. Sangat bisa.][


[1] Abu Qasim Abd al-Karim al-Qusyairi, Risalah Qusyairiyah, (Beirut: Dar Al-kotob Al-Ilmiyah,2001), hlm. 159.