HomeAngkringTerlena di Dunia Modern

Terlena di Dunia Modern

0 0 likes 244 views share

Manusia lahir di dunia dengan tanpa membawa bekal apapun, ia terlahir dengan kondisi telanjang tanpa sehelai pakaian, selanjutnya allah memberinya pakaian, harta dan segala-galanya yang dulu sekali sudah allah tetapkan akan Ia berikan padanya. Maka sudah pasti dan harus manusia itu membutuhkan tuhan untuk keberlangsungan hidupnya di dunia dan akhirat.

Selain hal-hal yang kasat mata, manusia juga butuh perkara yang sifatnya abstrak tak terlihat, namun bisa di rasa.  Ketenangan, kenyamanan, kedamaian dan sebagainya yang berhubungan dengan hati, naluri dan perasaan.

Kalau mata bisa melihat apapun yang wujud sebab ada cahaya yang menerpa obyek tersebut selanjutnya Mata mendeteksi cahaya dan mengubahnya menjadi impuls elektrokimia pada sel saraf. maka sudah selayaknya hati juga membutuhkan cahaya untuk dapat melihat dan merasakan hal yang hanya dengannya bisa di deteksi.

Manusia pada mulanya juga masih hampa akan petunjuk jalan kebenaran menuju tuhannya, sehingga ia membutuhkan pula tuntunan. Tuntunan itu yang selanjutnya akan ia jadikan sebagai cahaya penerang untuk menghindari hitam-pekat jalannya.

Dalam awal surat Al-An’am, Allah memperingatkan kita tentang bermacam-macamnya kegelapan dan kesesatan :

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَٰتِ وَٱلنُّورَ ثُمَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

 

Artinya  “Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.” ( Q.S Al-An’am : 1)

Dalam ayat ini ungkapan gelap (adz-dzulumaat) menggunakan kata jamak/banyak, sedangakan kalimat sebaliknya, cahaya (an-nuur) mufrod atau tunggal. Sehingga bisa di tarik kesimpulan secara pemahaman tekstual, bahwa kesesatan bisa timbul dari banyak hal, sedangkan kebenaran atau cayaha itu hanya satu, iman atau islam atau keyakinan.

Di zaman serba canggih ini, persoalan kehidupan semakin canggih pula, tak terkecuali persoalan kehidupan yang berkaitan dengan agama. Dan lebih runyamnya lagi semua terkemas dengan rapi. Yang sangat di khawatirkan semua itu dapat menjadi pengganjal  “menuju tuhan” dan semakin memperpekat jalan.

Contoh kecilnya, salah satu teknologi yang tidak bisa kita lepaskan adalah smartphone, betapa santri saja setiap libur panjang di mulai, jauh hari sebelumnya mereka sudah mencari tahu barang ter-update tentang smartphone. Belum lagi hal-hal lain yang termasuk kelezatan-kelezatan dunia. Dan yang membuat semakin  mempesona untuk tak mau di nikmati ternyata dunia selalu terlihat molek dalam berdandan.

Jalan Kegelapan bisa datang dari apapun yang bahkan perkara yang kelihatannya berbau surgawi sekaligus. sehingga  mari kita kurangi “kepercayaan” diri kita kepada amal-amal baik kita yang telah lalu, jangan terlena bahwa amal tersebut bisa membawa kita untuk mendapatkan surganya.

Kiranya peringatan Rosulullah tentang perhiasan dunia bisa kita jadikan sebagai pengingat :

 إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ من بعدي ما يفتح عليكم من زهرة الدنيا و زينتها 
“Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan pada diri kalian setelah peninggalanku ialah dibukakannya bunga dunia dan pernak-perniknya untuk kalian.”